
Papi diam saja lagi, Papi tidak mau memperkeruh suasana dengan menjawab perkataan Mami lagi. Papi tidak ingin menambah nambah beban pikirannya dengan kemarahan Mami karena Papi terlanjur membahas masalah masa lalu.
Juan terlihat menatap Papi dan Mami. Juan ingin menanyakan apa yang terjadi di dalam keluarganya dulu. Tetapi, Juan enggan untuk menambah keributan di dalam keluarganya lagi. Sudah cukup Papi memiliki beban karena permasalahan yang dibuat oleh dirinya, dia tidak mungkin menambah lagi.
Mereka bertiga kemudian lama terdiam, dalam pikiran mereka masing masing berkecamuk berbagai macam pemikiran. Mereka tidak menyangka kalau keluarga Aleksander memiliki musuh. Padahal setau mereka selama ini mereka tidak pernah mencari lawan atau berusaha menganggu perusahaan tertentu.
Setelah terdiam sekitar tiga puluh menit, tiba tiba ponsel milik Papi berdering nyaring. Papi melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya.
"Jeri" ujar Papi.
Mami yang mendengar nama Jeri di sebut langsung ternganga, Mami tidak menyangka kalau Papi akan menghubungi Jeri untuk minta bantuan.
'Ini tidak bisa dibiarkan, Aku harus bertanya kepada Papi, kenapa Papi minta tolong ke Jeri bukan yang lain.' ujar Mami dalam hatinya.
'Aku harus tanyakan hal ini. Ini tidak bisa dibiarkan' lanjut Mami yang sibuk dengan pikirannya sendiri tentang kenapa Papi harus minta tolong sama Jeri bukan ke yang lainnya.
Papi mengangkat panggilan itu. Papi sudah tidak sabar lagi ingin mengetahui siapa dalang di balik semua permasalahan ini.
"Hallo Jeri. Apa ada informasi untuk Papi?" tanya Papi dengan sangat ramah kepada Jeri.
Jeri, Jero dan Felix yang mendengar, Tuan besar Aleksander memakai kata sapaan Papi langsung menjulurkan lidahnha seperti orang yang ingin muntah saat mendengar kata sapaan itu.
"Oh ada Tuan besar" ujar Jeri masih memakai kata sapaan Tuan besar.
"Jangan pakai Tuan besar Nak. Panggil saja Papi" ujar Papi yang ingin Jeri tidak memandang status kepada dirinya.
"Maaf Tuan, Saya tidak bisa memanggil Anda Papi lagi. Tolong jangan paksa Saya Tuan." ujar Jeri yang mulai kesal dengan Papi karena memaksa Jeri untuk memanggil dirinya dengan kata Papi.
Tuan besar Aleksander termenung mendengar ucapan dari Jeri. Dia tidak menyangka Jeri akan mengatakan hal itu kepada dirinya.
"Baiklah Jeri, maafkan Saya karena telah memaksa kamu. Jadi, ada informasi apa yang akan kamu sampaikan kepada Saya, Jeri?" tanya Tuan Besar Aleksander.
"Maaf sebelumnya Tuan, Saya cuma mau bertanya terlebih dahulu. Apakah Tuan memiliki masalah dengan salah satu perusahaan di negara ini?" tanya Jeri kepada Tuan besar Aleksander.
"Tidak Jeri. Sama sekali tidak ada." ujar Papi menjawab pertanyaan dari Jeri dengan sangat cepat.
Jeri terdiam. Jeri memang belum tahu akar permasalahan dari tersebarnya fhoto dan video milik Juan Aleksander itu. Fhoto dan Video yang pertama kali disebarkan oleh perusahaan Wijaya Grub.
"Hem tidak. Ada ya Tuan. Apakah Anda sudah yakin seyakin yakinnya Tuan kalau memang tidak ada masalah dengan perusahaan lain?" Jeri kembali bertanya untuk meyakinkan dan meminta Tuan besar Aleksander berpikir kembali ada atau tidak masalah antara perusahaan Aleksander dengan perusahaan lain.
"Saya sangat yakin Jeri. Saya tidak pernah memiliki masalah apapun dengan perusahaan lain. Sama sekali tidak pernah" ujar Tuan besar Aleksander menjawab pertanyaan Jeri dengan penuh keyakinan.
"Kalau Tuan besar merasa tidak ada memiliki masalah dengan perusahaan lain. Bisa jadi Tuan Muda yang memiliki masalah dengan perusahaan lain." ujar Jeri asal menebak saja.
Papi menatap ke arah Juan. Juan menggeleng dengan sangat cepat. Juan memang tidak pernah membuat masalah apapun dengan perusahaan manapun. Papi juga tau semua hal itu. Papi bisa meyakinkan Jeri tentang hal itu juga.
"Tidak Jeri, Juan sama sekali tidak pernah terlibat masalah apapun dengan perusahaan manapun" ujar Tuan besar menjawab pertanyaan Jeri.
"Hem kelihatannya semakin rumit saja Tuan. Sebenarnya Saya sudah mengantongi nama orang yang telah menyebarkan video dan fhoto itu ke televisi dan media massa. Tapi, saat saya bertanya apakah Tuan besar dan Tuan muda pernah bermasalah dengan salah satu perusahaan, maka jawabannya adalah tidak. Jadi, Saya ragu apa motivasi orang ini menyebarkan video itu." lanjut Jeri mengatakan kepada Tuan besar tentang hal penyelidikannya.
"Siapa nama orangnya Jeri. Saya butuh nama orangnya, jadi nanti saya tinggal menanyakan kepada dia, ada apa dan kenapa melakukan hal ini kepada Saya." ujar Tuan besar meminta kepada Jeri untuk mengatakan siapa orang yang telah berani melakukan hal itu kepada dirinya.
"Baik Tuan besar. Orang yang telah menyebarkan berita itu ke media massa dan televisi adalah Tuan Wijaya dari perusahaan Wijaya Grub." ujar Jeri yang apa akhirnya mengatakan kepada Tuan besar siapa dalang di balik kejadian itu semua.
"Saya juga tidak tahu Tuan. Sebaiknya Tuan tanyakan kepada Tuan Wijaya apa penyebab dia melakukan hal ini kepada Tuan." ujar Jeri kepada Tuan Wijaya.
"Baik Jeri, terimakasih atas info yang kamu berikan. Saya akan menyelesaikan selanjutnya" ujar Tuan besar kepada Jeri.
"Sama sama Tuan" jawab Jeri.
Jeri kemudian memutuskan panggilan telpon itu. Felix menceritakan kepada Jeri, kenapa Tuan Wijaya sampai melakukan hal itu kepada Tuan Aleksander.
"Perusahaan Wijaya? Juan, apa kita ada menjalin kerjasama dengan perusahaan Wijaya?" tanya Papi kepada Juan.
Juan berusaha mengingat ingat, apakah pernah mereka menjalin kerjasama dengan perusahaan itu.
"Sama sekali tidak pernah Papi. Jangankan untuk kerjasama, pengajuan saja tidak pernah" ujar Juan yang sangat yakin dengan jawabannya kali ini.
"Kalau begitu, kita harus mendatangi perusahaan Wijaya. Kita harus tanya apa mau dia sebenarnya" ujar Papi dengan wajah sangat marah.
Mami yang dari tadi keluar kembali masuk ke dalam ruangan kerja Papi.
"Papi, Juan, makan siang yang sudah jauh terlewat dan bisa dikatakan sebagai makan sore sudah Mami siapkan. Mari, kita makan terlebih dahulu, nanti kita lanjutkan lagi membahas permasalahan ini" ujar Mami mengajak mereka untuk makan sore bersama.
Mereka bertiga kemudian berjalan ke meja makan. Mereka akan makan bersama setelah semua kejadian rumit yang terjadi.
"Papi, Mami, Juan pulang dulu ya. Besok pagi pagi sekali Juan akan ke sini." ujar Juan pamit kepada Papi dan Mami.
"Ingat Juan besok kamu harus sampai di sini jam tujuh pagi. Papi tidak mau menunggu Juan" ujar Papi kepada Juan.
"Siap Papi" jawab Juan.
Juan pergi meninggalkan mansion utama Aleksander. Mansion yang sangat luas dan besar. Siapapun yang datang ke Mansion itu, kalau niat berkeliling, maka harus mau menyisakan waktu mereka lebih kurang satu setengah hari untuk berkeliling Mansion.
Setelah melihat Juan telah pergi.
"Papi, bisa kita berbicara sebentat?" tanya Mami dengan nada dingin dan kaku.
"Bisa. Ada apa Mi? Sepertinya sangat serius?" ujar Papi yang dapat mengira ngira kalau apa yang akan dikatakan oleh Mami adalah sesuatu yang sangat penting.
"Duduk dulu Pi" ujar Mami mengajak Papi untuk duduk di ruang keluarga itu. Mami memilih ngobrol di sana supaya tidak tersengar oleh para pelayan di Mansion itu.
"Pertama, kenapa tadi Papi mengatakan menyesal telah mengusir mereka dari mansion? Papi menyesal telah memilih kami berdua?" ujar Mami dengan nada tinggi.
"Mami Mami, Mami masih memikirkan hal itu juga? Dengar Mami, itu adalah pemikiran saat Papi panik. Mami tidak merasakan bagaimana paniknya Papi saat ini. Harga saham perusahaan kita jatuh Mami. Jatuh ke jurang yang selama ini tidak pernah kita hadapi Mami" ujar Papi kepada Mami.
"Oke Mami paham. Terus, kenapa Jeri?" tanya Mami selanjutnya.
"Jeri? Karena Jeri satu satunya pelacak yang Papi kenal. Kalau Mami ada kenalan kenapa tidak berikan namanya ke Papi?" ujar Papi dengan sedikit emosi.
"Masih pengen lanjut bahas Mami? Kalau tidak ada lagi, maka saya mau istirahat. Saya panik. Silahkan Mami berkutat dengan rasa cemburu tak jelas itu sendirian. Papi capek menghadapi Mami" ujar Papi dengan kesal.
Papi meninggalkan Mami sendirian di ruang keluarga. Papi masuk ke dalam kamar tamu. Papi tidak mau melihat Mami yang cemburu tidak jelas itu.
Mami menatap nanar Papi yang sangat marah karena pertanyaan pertanyaan Mami yang sama sekali tidak bermutu itu. Apalagi Papi masuk ke kamar tamu, semakin membuat Mami nggak tau harus berbuat apa apa lagi. Papi ternyata benar benar marah.