My Affair

My Affair
BAB 119



"Nanti kita harus tanyakan sama Abang apa yang terjadi sebenarnya. Kok bisa mereka mendadak putar balik pas di depan gerbang mansion utama." ujar Bram yang sangat penasaran sekali dengan apa yang terjadi di mobil yang dipakai oleh Jero dan Vian.


Mereka berdua tidak habis pikir dengan pilihan Jero yang memutar balik mobilnya saat sudah berada di depan pintu gerbang masuk mansion keluarga Asander.


"Seharusnya tadi kita menghubungi Abang dulu, paling tidak ke dua pengawal. Ini ndak saking paniknya kita berdua, kita main langsung saja menekan tombol darurat." ujar Felix yang baru merasakan dan bisa berpikir rasional setelah dia melakukan kesalahan yang sangat fatal tadi.


"Mau gimana lagi Bang. Namanya aja orang panik. Tentu langsung saja mengambil keputusan tanpa berpikir dulu" ujar Bram yang malas menyesal setelah apa yang mereka lakukan tadi dan membuat semua orang menjadi panik gara gara itu.


"jadi sekarang ambil hikmahnya aja Bang, untuk ke depannya supaya kita lebih berhati hati dan berusaha mencerna sesuatu dengan baik terlebih dahulu sebelum kita mengambil keputusan" lanjut Bram mengatakan hal yang tidak disadari oleh Felix bisa Bram mengatakan hal itu.


Felix dan Bram saling memandang satu dengan yang lainnya. Mereka berdua sekarang menyadari kekurangan mereka. Jeri melihat kedua kakak beradik itu yang sekarang sudah tahu apa kesalahan mereka yang telah membuat semua pengawal menjadi sangat panik.


"Jadi, apa kesalahan kalian?" tanya Jeri kepada Felix dan Bram.


Sekarang posisi mereka sudah duduk seperti biasa di ruang tamu yang sudah terlihat seperti semula kembali. Jeri akan memberikan pengajaran kepada Felix dan Bram tentang apa namanya mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.


"Tidak melakukan komunikasi, tidak mencari tahu ada apa sebenarnya yang terjadi" ujar Felix menyebutkan apa kesalahan yang telah mereka berdua lakukan tadi saat menyatakan kalau mansion dan salah satu dari mereka bertiga sedang dalam keadaan terancam.


"Satu lagi, tidak berkonsultasi dengan salah satu dari Jero dan Jeri serta Tama" ujar Bram yang sangat mengingat pesan dari Jero.


Jero pernah berpesan kepada Felix dan Bram. Kalau salah satu dari mereka ada yang merasa diancam atau dalam keadaan terancam. Maka mereka yang berdua lagi harus melakukan koordinasi dengan Jero, Jeri ataupun Tama. Tetapi sayangnya tadi Bram melupakan pesan tersebut.


"Nah itu tau, makanya mulai besok jangan pernah mengambil keputusan sendiri. Analisa dulu, cari tau dulu. Kumpulin informasi dulu. Ada jelas dua bocah. Jadikan ini sebagai pelajaran untuk kalian berdua" lanjut Jeri memberikan wejangan kepada Felix dan Bram.


Jeri berharap Felix dan Bram bisa belajar dari semua kejadian yang terjadi hari ini.


"Jadi, Abang berharap dengan kejadian ini, kalian bisa belajar lagi yah. Kami bertiga tidak marah, malahan sangat senang kalian bisa lebih belajar lagi. Kalau tidak ada kejadian seperti tadi, kami tentu masih belum tau batas kemampuan kalian berdua saat menghadapi situasi sulit seperti tadi bagaimana, jadi dengan adanya kejadian tadi. Kami ternyata masih harus memberikan pelajaran kepada kalian berdua" ujar Jeri yang memang diberikan tanggung jawab oleh Jero untuk memberikan pengalaman pengalaman dan pembelajaran mengenai hal ini kepada Felix dan Bram.


"Siap Bang. Kami berdua akan kembali belajar dan berusaha untuk bisa tenang saat dalam situasi genting. Kami tidak akan gegabah lagi" jawab Felix dengan nada antusias. Bram mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Felix kepada dirinya.


Mereka bertiga kemudian duduk sambil berbincang bincang, mereka akan menunggu kedatangan Jero dan Vian yang sedang dalam perjalanan pulang menuju mansion.


"Jadi semenjak pergi tadi pagi Jero dan Vian tidak balek balek?" tanya Jeri kepada Felix dan Bram saat mereka duduk di ruang tamu.


"Yup. Sepertinya abang menceritakan semuanya kepada Vian." jawab Bram sambil melirik ke arah Jeri.


Bram kemudian kembali serius degan gawai yang sedang dipegangnya itu. Bram melihat ada sebuah keganjilan yang terjadi di perusahaan JFB Grub.


"Sepertinya ada yang mau bermain dengan gue Bang. Mereka mungkin berpikiran kalau gue adalah anak kecil yang nggak tau apa apa. Jadi, menurut mereka gue bisa dipermainkan sama mereka" kata Bram memberitahukan kepada Felix dan Jeri tentang apa yang terjadi di perusahaan yang dipimpin oleh Bram.


"Maksud kamu Bram?" ujar Jeri yang kurang mengerti dengan cara penyampaian dari Bram kepada dirinya dan Felix.


"Ada yang berusaha menjadi maling di perusahaan Bang" ujar Bram mengatakan dengan lugas apa yang terjadi di perusahaannya itu.


"Wow keren. Jadi apa yang akan loe lakuin?" ujar Jeri penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Bram kepada pengkhianat di dalam perusahaannya itu.


"Seperti biasa Bang. Gue akan buat dia jatuh miskin dan tidak bisa menghidupi keluarganya lagi. Tapi kalau khasusnya berat banget. Maka dia harus siap siap gue oper ke pulau tak berpenghuni." ujar Bram menjelaskan kepada Jeri dan Felix apa yang akan dilakukan oleh dirinya kepada orang orang yang telah berkhianat itu.


"Terus loe akan pulang ke negara I?" tanya Felix kepada Bram.


Felix menatap ke mata Bram. Dia tidak ingin adiknya itu berangkat tergesa gesa dan melakukan tindakan konyol kembali. Walaupun untuk perusahaan sebenarnya Bram tidak pernah melakukan tindakan yang tidak masuk akal. Semua dilakukan oleh Bram sesuai dengan prosedur dan kesalahan setiap karyawan yang berbuat curang.


"Rencana Bang. Tapi tunggu keputusan dari Bang Jero aja. Nanti akan gue jelaskan semua permasalahan yang terjadi di perusahaan kepada Bang Jero. Semoga aja Abang ada jalan keluar untuk masalah ini" kata Bram sambil menutup dan meletakkan gawai miliknya.


"Kok bisa ya Bram, karyawan elo ngelakuin hal serendah itu. Padahal gaji antara perusahaan Asander Grub dengan JFB Grub tidak terlalu mencolok. Malahan bisa dikatakan sama" ujar Felix yang tidak habis pikir dengan keberanian para karyawan di perusahaan Bram untuk melakukan tindakan mencurangi perusahaan dan berakibat mereka sendiri yang rugi.


"Itulah Bang. Padahal awal tahun udah ada contohnya. Mereka yang melakukan dan merugikan perusahaan gue hukum tanpa ada rasa belas kasihan. Sekarang malah diulang lagi" ujar Bram yang tidak habis pikir, dengan tingkah laku karyawannya yang sama sekali tidak mau belajar dari kejadian yang sudah menimpa rekan kerja mereka sebelumnya.


"Sepertinya pelaku ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya di buang dari perusahaan JFB Grub dan sama sekali tidak diterima oleh perusahaan lainnya" ujar Jeri menarik kesimpulan sendiri atas semua kelakuan yang diperbuat oleh para karyawan Bram yang pada dasarnya sebenarnya semua sudah sesuai dengan gaji dan kinerja yang mereka Terima. Bahkan untuk kesejahteraan perusahaan Bram lebih tinggi memberi dari pada perusahaan yang dipimpin oleh Felix.


"Bisa jadi Bang. Malahan gue berpikir kalau mereka kadang dengan sengaja banget melakukan hal itu supaya mereka mendapat perhatian dari gue. Nah sekarang mereka akan menerima perhatian itu dengan sangat baik." kata Bram dengan kilatan amarah yang terlihat dari kedua mata elangnya.


Bram benar benar marah kali ini dengan apa yang dilakukan oleh semua anak buahnya itu. Bram tidak habis pikir dengan kelakuan mereka semua. Bram padahal sudah memberikan semua yang mereka inginkan, tetapi kenyataannya mereka tetap melakukan tindakan yang paling tidak disukai oleh Bram.


"Sudah palingan loe nanti diminta pulang oleh Jero untuk menyelesaikan permasalahan itu" ujar Jeri yang sudah bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh Jero kepada Bram.


"Bisa jadi Bang. Tapi gue nggak mau gegabah Bang untuk mengambil keputusan. Gue tau kalau ini adalah permasalahan berat. Tapi gue tetap harus bertanya apa maunya Bang Jero." lanjut Bram yang tetap akan konsultasi dengan Jero tentang permasalahan yang sedang terjadi saat ini di perusahaan mereka.


"Gue setuju. Bagaimanapun juga kalian tetap harus konsultasi dan menceritakan semua permasalahan yang terjadi di perusahaan kepada Jero, karena semua perusahaan adalah milik keluarga, makanya kalian tetap harus berkonsultasi dengan Jero supaya semua bisa didiskusikan bertiga" kata Jeri memberikan pandangannya kepad Felix dan Bram tentang permasalahan yang sedang dihadapi oleh perusahaan Bram. Perusahaan yang perkembangannya sangat pesat semenjak dipimpin oleh Bram.


Seorang maid datang menghidangkan minuman dan cemilan untuk dinikmati oleh Jeri, Felix dan Bram. Mereka akan berbincang bincang ringan sambil menunggu kedatangan Jero dan Vian.