My Affair

My Affair
BAB 24



"Hahahahahahahaha"


Juan Alexsander kemudian pergi dari hadapan Jero dengan tertawa terbahak bahak. Juan sudah berhasil menghina Jero untuk malam ini. Jero menatap kepergian Tuan Muda yang luar biasa sombong itu.


"Elo akan terima akibatnya Juan Alexsander. Elo sudah merebut apa yang bukan menjadi hak loe. Gue akan datang dan menghancurkan semuanya. Tunggu saat itu datang Juan Alexsander. Tunggulah saat itu." ujar Jero sambil menatap dingin punggung Juan Alexsander, seorang penguasa dari negara I. Seorang pengusaha muda yang diperhitungkan sepak terjangnya di dunia bisnis.


Jero memastikan kalau Juan Alexsander sudah masuk ke dalam kamarnya bersama dua wanita yang dibawanya dari club malam tersebut. Juan menutup pintu kamarnya dan mengunci pintu itu dari dalam. Jero menyaksikan semua itu dengan tatapan dingin nan membunuh. Ingin rasanya Jero langsung membunuh Juan Alexsander, tetapi bayang bayang wanita yang sangat disayanginya menghampiri Jero. Bayang bayang wanita itu seakan melarang Jero melakukan hal itu. Jero selalu membatalkan niatnya. Kalau tidak ada wanita itu, maka Jero dengan senang hati akan menghabisi nyawa Juan Alexsander.


Jero yang telah meyakinkan semua keadaan sudah aman dan terkendali. Vian sudah kembali tidur dan tidak bermimli buruk lagi. Sedangkan Juan Akexsander sudah masuk ke dalam kamarnya bersama dengan dua wanita dari club malam, mereka akan melakukan sesuatu yang asik yabg pada akhirnya akan dimanfaatkan oleh Jero.


Jero kemudian berbalik dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di belakang mansion. Jero mengambil beberapa alat alat canggih miliknya. Jero akan memanjat untuk bisa mencapai kamar Juan yang berada di lantai dua mansion. Jero memang sudah melengkapi semua peralatan canggih di kamar miliknya. kamar yang selalu terkunci dan hanya Jero yang bisa keluar masuk ke dalam kamar pribadinya itu.


Jero mulai memanjat satu persatu dinding menuju lantai dua tempat di mana kamar Juan Alexsander berada. Jero tak lupa membawa kamera yang bisa menembus kaca dan mengambil gambar dengan jelas serta suara yang bersih. Jero akan mempergunakan kamera yabg baru dibelinya sebulan yang lalu. Kamera yang sudah lama ingin digunakan oleh Jero. Tetapi belum ada moment yang pas. Saat inilah momen yang pas yang ditunggu tunggu Jero selama ini.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, Jero telah sampai di lantai dua. Tepatnya kamar Juan Alexsander. Jero sudah terlatih untuk melakukan hal itu. Jero sudah berkali kali mencoba memanjat dengan menggunakan alat canggihnya yang dibeli dengan harga selangit.


"Ah sayang. Yang kuuaatt sayang. Aku hampir sampai sayang." ujar suara Juan Alexsander yang sudah tidak tahan akan meledakkan sesuatu.


Dua wanita tersebut semakin semangat memberikan service yang memuaskan kepada Juan Alexsader. Mereka semakin menggila di sana. Mereka sudah seperti batu gilingan lado dengan anak batu gilingan.


Jero yang melihat tingkah ketiga orang itu ingin muntah di sana. Tetapi Jero menahan semua itu. Dia tidak ingin usahanya sia sia saja. Jero tetap berusaha bertahan.


"Sayang ayuk lebih kuat gouoyangnya. Aku udah nggak tuahan lagi." ujar Juan Alexsander.


Dua wanita yang menemaninya juga semakin tambah menggila. Mereka benar benar menikmati tubuh indah Juan Alexsander yang tersaji di depan mereka berdua saat ini. Moment yang belum tentu akan datang dua kali. Kenapa bisa begitu, karena Juan Alexsander terkenal hanya memakai wanita yang dikenalnya di club malam hanya satu kali saja.


"Aaaaaaahhhhhhhhhhh" teriak ketiga manusia yang sekarang seperti manusia primitif tersebut.


Jero melihat kelakuan tiga anak manusia yang benar benar bertingkah dan melakukan semuanya seperti binatang yang tidak punya adab. Seorang Jero yang sudah punya istri malahan melakukan hal itu dengan dua wanita yang baru di kenalnya.


"Sukur loe belum nyentuh Vian. Jadi, Vian terbebas dari oenyakit yang bisa menular dari elo. Kelakuan loe benar benar bejat." ujar Jero mengata ngatai Juan Alexsander dari balik pintu kaca balkon kamar Juan.


Setelah bertarung satu lawab dua, ketiga manusia primitif itu tertidur kelelahan. Mereka kemudian tertidur dengan Juan Alexsander berada di tengah tenga. Sedangkan di kiri dan kanannya dua wanita dari club malam. Jero mengambil gambar sebanyak banyaknya. Dia akan memberikan kejutan yang sangat wow kepada Tuan dan Nyonya Alexsander.


Jero kembali mengambil fhoto Juan Alexsander saat seorang wanita penghibur memeluk dirinya. Terlihat jelas sesuatu yang harus ditutup dengan rapat itu terpampang jelas dan diimpit seseorang yang bukan istri syah Juan Alexsander.


Setelah puas mengambil fhoto tersebut. Jero kembali turun. Dia langsung merapikan semua alat alat yang dipakainya tadi. Jero tidak ingin meninggalkan jejak apapun. Jero harus bermain rapi dan cantik.


Setelah memastikan semuanya sudah terlihat seperti semula. Jero kemudian kembali menuju kamarnya. Dia kemudian menggeluarkan ponsel miliknya. Jero menghubungi Felix.


Felix yang sudh tertidur nyenyak mendadak terbangun saat mendengar bunyi ponsel miliknya yang bergetar hebat. Fekix melihat siapa yang menghubunginya saat ini.


"Yah dia lagi. Ada apalagi coba." ujar Felix melihat nama yang tertera di layar ponsel miliknya.


"Hallo Jer. Ada apa?" tanya Felix lagi masih memejamkan matanya.


"Udah tidur loe?" tanya Jero dengan santai


"Gila aja loe. Jam berapa ini Jero. Udah lewat tengah malam. Gue besok harus meeting Jero." ujar Felix membabi buta menjawab pertanyaan dari Jero.


"Mana loe pakai gangguin gue lagi. Gue mau istirahat. Kalau elo enak tinggal nyupir. Lah gue besok harus nguras otak gue Jero." lanjut Felix meluapkan kekesalannya kepada Jero.


"Serah loe mau ngomel apa sama gue. Gue nggak ambil pusing. Tapi satu yang jelas. Gue ngirim beberapa fhoto dan video ke ponsel loe. Tolong edit seperti itu suasana hotel. Siap itu cetak dan kirim ke rumah laknat itu." ujar Jero


"Ke rumah mana. Rumah Juan atau rumah?" ujar Felix yang nggak mau mengatakan rumah yang satu lagi.


"Rumah laknat Felix. Loe taukan itu rumah yang mana." ujar Jero sambil menekankan setiap kata katanya.


"Oke sip. Besok gue kirim setelah gue meeting. Gue meetinf jam sembilan. Gue edit pagi. Terus pulang meeting gue cetak. Langsung gue kirim melalui anak buah kita." ujar Felix.


Felix ingin cepat cepat menutup telpon itu. Dia benar benar mengantuk sekarang ini.


"Oke Felix. Makasi" ujar Jero.


Jero menutup panggilan telponnya. Dia mengirim semua foto dan video ke email Felix. Setelah semua terkirim, Jero kemudian tidur. Dia besok pagi harus mengantarkan Vian ke rumah sakit.