My Affair

My Affair
BAB 93



Vian kembali berlari kearah kamar. Vian langsung masuk ke dalam walking closet miliknya.Vian meraih satu sandal tipis keluaran dari rumah mode ternama. Vian juga mengambil sebuah tas mini untuk tempat dompet dan juga ponsel miliknya. Vian tidak lupa mematut dirinya sebentar di cermin. Vian tidak mau keluar mansion dengan penampilan tidak sempurna. Apalagi Vian akan berjalan dengan Jero, pria tampan dan sukses di negara E.


Vian yang sudah selesai menukar sendalnya dan juga sudah mengambil ponselnya berjalan menuju Jero yang berada di lantai satu mansion. Jero sudah menunggu Vian di sana dari tadi.


"Sayang, aku udah siap. Mari berangkat" ujar Vian dengan semangat empat lima.


"Sayang, aku kira masih lama kamu mematut matut sendal memilih mana yang cocok" ujar Jero membercandai Vian.


Vian memang agak lama pergi menukar sendalnya. Tapi yang namanya wanita mereka tidak akan merasa lama saat memilih apa yang akan mereka pakai. Bagi mereka saat itu waktu berjalan dengan lambat. Sedangkan bagi laki laki, itu adalah waktu yang cukup lama.


Vian berhenti di tengah tengah ruang tamu mansion saat melihat Jero membawa rantang bekal makanan di tangan sebelah kanannya.


"Sayang, kok bawa rantang emang mau kemana?" tanya Vian saat melihat Jero menenteng rantang.


"Kita piknik" jawab Jero dengan gaya khasnya menjawab pertanyaan Vian.


"Lah tapi mau ngungkapin sesuatu, kok jadinya piknik?" ujar Vian menatap Jero yang berubah pikiran. Vian tidak mengerti kenapa Jero bisa berubah pikiran secepat itu.


"Apa karena aku kelamaan ya sayang, sehingga kamu membatalkan niat kamu untuk melanjutkan cerita yang kemaren ke aku" ujar Vian yang mulai terlihat sedih karena kecerobohannya memilih sendal yang sangat lama.


"Nggak sayang. Kita akan tetap ke tempat itu. Siapa bilang aku menggagalkan rencana untuk melanjutkan membuka siapa aku sebenarnya kepada kamu" ujar Jero yang bisa mendengar nada panik dalam suara Vian.


Jero tidak ingin Vian berpikir macam macam saat ini. Jero ingin membuat Vian menjadi tahu siapa dirinya dan kenapa dia berjuang mati matian untuk Vian.


"Terus ngapain bawa rantang segala kayak orang mau piknik" ujar Vian yang masih juga penasaran dengan rantang yang dibawa oleh Jero saat ini.


Jero tersenyum menatap kekasihnya itu. Kekasih yang sangat penasaran kenapa dirinya membawa rantang saat ingin mengungkapkan sebuah rahasia besar tentang siapa dirinya.


"Siap ngungkapin itu baru kita pergi piknik sayang. Biar kekasih hati aku ini tidak pingsan lagi dia" ujar Jero sambil menowel hidung Vian.


Vian langsung Memberengut saat mendengar Jero mengatakan kata pingsan lagi. Vian tidak suka dikatakan seperti itu. Tetapi, Via juga tidak mau mengganggu kesenangan Jero. Jadi, Vian membiarkan saja Jero mengatakan hal itu.


Ehm ehm ehm, terdengar seseorang batuk di belakang Jero dan Vian. Mereka berdua kemudian menoleh ke belakang. Terlihat Hendri dan Erik sudah berada di belakang mereka.


"Maaf Tuan Muda, kami mengganggu Tuan Muda. Mobil sudah siap" ujar Hendri memberitahukan kalau mereka sudah bisa berangkat menuju mansion besar yang kemaren si lihat oleh Vian dan membuat Vian penasaran siapa pemilik mansion besar itu.


"Baiklah, mari kita berangkat" ujar Jero menjawab laporan yang diberikan oleh Hendri kepada dirinya.


"Maaf sebelumnya Tuan. Izinkan saya bertanya" ujar Hendri yang harus menanyakan satu hal yang penting.


"Silahkan" jawab Jero sambil menatap Hendri dan Erik bergantian.


"Apakah Kunci mansion depan akan di bawa Tuan Muda?" tanya Hendri memastikan apakah dia harus membawa kunci mansion depan atau tidak.


"Bawa saja Hendri. Saya dan Vian akan ke sana" jawab Jero yang meminta Hendri untuk membawa kunci mansion depan.


Jero kemudian berjalan menuju mobil yang berada di depan lobby mansion. Erik terlihat ingin mengambil rantang yang sudah di jenjeng oleh Jero.


"Biar saya saja Erik. Kamu tolong bawa tikar nya saja" ujar Jero meminta Erik hanya membawa tikar yang terletak di pintu masuk mansion.


Erik mengambil tikar tersebut. Dia kemudian memasukkan tikar ke dalam mobil yang dibawa oleh Hendri. Ranting bekal juga sudah dimasukkan oleh Hendri ke dalam mobil. Begitu juga dengan air minum dan perlengkapan makan lainnya yang diantar oleh maid.


"Sayang, kita mau kemana? Kenapa tadi ada perkataan mansion depan? Emang kamu punya berapa mansion?" tanya Vian kepada Jero sambil memandang wajah tampan kekasihnya itu.


"Ais kamu memang sangat sangat haus informasi sayang. Kamu memang nggak sabaran sekali jadi orang. Kamu kalau sudah tau satu hal eee eee pengen tau lanjutannya" ujar Jero sambil memegang tangan kekasihnya itu.


"Iyalah harus tau. Aku pengen tau semuanya. Aku nggak mau ada rahasia lagi" ujar Vian yang hidupnya serasa dikelilingi oleh rahasia rahasia hidup Jero.


"Syaratnya satu ya sayang" ujar Jero yang belum selesai mengatakan apa syaratnya kepada Vian.


"Nggak boleh pingsan" sambar Vian.


"haha haha haha. Bener nggak boleh pingsan" ujar Jero setuju dengan apa yang dikatakan oleh Vian.


"Itu aja terus sampe capek aku dengernya" ujar Vian sambil menatap Jero.


"Jangan marah" ujar Jero.


"Nggak" jawab Vian.


Mobil yang dikendarai Jero melambat sebelum sampai di gerbang utama mansion depan tersebut. Hendri dan Erik berhenti tepat di depan mobil yang dikendarai oleh Jero.


Hendri berjalan menuju mobil Jero.


"Buka pintunya" ujar Jero memerintahkan Hendri dan Erik untuk membuka pintu utama mansion.


Erik membuka pintu pagar besar mansion. Dua mobil masuk kedalam perkarangan mansion tersebut. Mereka semua kemudian turun dari dalam mansion.


"Sayang, kok bisa mansion ini kuncinya ada sama kamu?" tanya Vian sambil melihat Hendri membuka pintu mansion.


"Aku beli waktu mereka jual sayang" ujar Jero menjawab sambil menggandeng tangan Vian masuk berjalan menuju mansion yang sudah di buka pintunya oleh Hendri.


"Tapi, kamu harus siap siap ya. Nggak boleh pingsan. Karena saat kita masuk ruang tamu, kamu akan langsung melihat suatu fhoto yang akan membuat kamu menjadi kaget." ujar Jero memberikan peringatan kepada Vian.


Vian mencubit pinggang Jero. Dari tadi Jero meminta Vian untuk bisa menahan emosinya dan tidak kaget sama sekali saat melihat apa yang ada di dalam mansion saat Jero membuka pintu mansion.


"Itu terus nanti aku beneran pingsan lagi" ujar Vian sambil berjalan mendahului Jero.


"Aits di larang duluan" ujar Jero menahan Vian dengan cara memegang tangan Vian lama.


"Makanya jangan itu itu terus aja yang diomongin" ujar Vian sambil menatap ke arah Jero dengan tatapan mengejek Jero.


"Haha haha. Nyonya Asander ngambek dia" ujar Jero menggoda Vian.


"Sayang, jangan goda aku terus. Kamu kebangetan banget sayang. Hobbynya godain aku terus" ujar Vian sambil menggenggam tangan Jero.


"Siap sayang?" tanya Jero memastikan kesiapan Vian satu kali lagi.


"Siap sayang!" jawab Vian.


Jero membuka pintu mansion yang sudah dibuka kuncinya oleh Hendri. Vian langsung menutup mulutnya saat melihat fhoto berukuran besar terpajang di depan dinding mau masuk ke dalam mansion