
"Sayang ayolah sayang, aku mau membuatkan kamu sambal mangga tetapi kamu harus memenuhi syarat yang akan aku ajukan kepada kamu" ujar Vian mencoba memberikan penawaran kepada Jero untuk bisa memasukkan proposal pergi raun dengan menggunakan kereta api.
Vian benar benar memanfaatkan peluang membuat sambal mangga untuk dijadikan sebagai jalan masuk meminta jalan jalan dengan menggunakan kereta api. Vian sangat mengenal Jero, kalau dia tidak menggunakan senjata untuk maju berperang melawan Jero maka Vian tidak akan menang dan tidak akan berhasil meminta apa yang diinginkan oleh Vian saat ini.
""Emang apa yang kamu minta sayang?" ujar Jero bertanya kepada Vian tentang apa yang diminta oleh Vian kepada dirinya.
"Adalah, tapi kamu janji harus mewujudkan apa yang aku minta kepada kamu ya" ujar Vian dengan menatap ke mata Jero dengan tatapan merayu supaya Jero mau mewujudkan apa yang akan diminta oleh Vian sebentar lagi.
Jero menatap Vian dengan tatapan tajam dan penuh kecurigaan. Jero paham kalau yang diminta Vian kali ini adalah sesuatu yang aneh. Makanya dia menatap Vian dengan tatapan seperti itu. Vian yang ditatap penuh kecurigaan oleh Jero, langsung memberikan Jero senyuman penuh cinta, hal itu semakin membuat Jero yakin kalau yang diminta Vian adalah sesuatu yang aneh.
"Ais kenapa harus menatap aku seperti itu sayang, aku kan tidak melakukan tindakan kejahatan apapun ke kamu" ujar Vian yang tidak terima ditatap seperti itu oleh Jero. Tatapan Jero seperti ingin menguliti Vian saja, sehingga Vian takut kalau Jero akan mengetahui maksud terselubung dari Vian yang meminta Jero untuk mengabulkan apa yang ada dalam pikiran Vian sekarang.
"Gimana nggak menatap kamu dengan tatapan seperti itu, kamu nggak pernah seperti ini sebelumnya ke aku. Kamu selalu mengatakan secara langsung apa yang kamu inginkan, tetapi sekarang sangat berbeda, kamu seperti ingin meminta sesuatu yang sepertinya sangat sulit untuk aku wujudkan" ujar Jero sambil menatap ke wajah Vian dengan tatapan menyelidik dan seperti mencari kejujuran dalam raut wajah Vian.
"Nggak ada sulitnya yang aku minta kali ini sayang. Sangat mudah untuk kamu wujudkan. Saking mudahnya, kamu hanya perlu membayar, udah selesai masalah" ujar Vian memberikan pemaparan apa yang diinginkan oleh Vian yang menjadi sarat untuk Jero.
"Apa itu Vian. Jangan main tebak tebakan kayak gini. Capek aku Vian" lanjut Jero sambil mengusap wajahnya dengan sangat kesal.
Vian melihat hal itu langsung tersenyum bahagia. Dia sangat senang sekali bisa melakukan hal itu kepada Jero. Jero yang tau dikerjai oleh Vian merasa sangat luar biasa kesal. Tetapi dia sama sekali tidak bisa marah kepada Vian.
"Vian sayangku cintaku. Jadi apa yang harus aku penuhi syaratnya supaya kamu mau membuatkan aku sambal mangga" ujar Jero brkata dengan nada lembut kepada Vian yang sekarang terlihat sedang tersenyum manis kepada Jero.
Jero berusaha menahan hatinya untuk tidak membentak Vian. Tetapi Vian juga sangat lihai. Dia pun tidak mau menyerah untuk membuat Jero penasaran dengan apa yang diinginkan oleh Vian.
"Vian" ujar Jero dengan nada kesal dan ememlas karena Vian sama sekali tidak mengatakan apa yang diinginkannya kepada Jero.
"Jero" ujar Vian dengan nada manja yang semakin membuat Jero tidak mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Vian kepada dirinya.
"Ayolah sayang, apa yang kamu inginkan. Ngomong aja sama aku sayang, jangan seperti ini. Mana ada main kucing kucingan seperti ini" ujar Jero yang sudah benar benar hampir habis kesabarannya menghadapi Vian yang masih tetap dengan sikapnya yang tidak mau mengatakan kepada Jero apa yang diinginkan oleh Vian.
"Jawab dulu, mau nggak mengabulkannya" ujar Vian kembali menanyakan hal yang sama yang belum dijawab oleh Jero dari tadi kepada Vian.
"Tergantung apa yang kamu minta" ujar Jero sambil menatap Vian.
"Ya udah" ujar Vian mulai cemberut karena jawaban Jero tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Vian.
Felix, Bram dan Jeri serta Hendri hanya bisa melongo dan menatap ke arah Jero dan Vian dengan tatapan mohon jangan meributkan sesuatu yang tidak penting. Tetapi Jero dan Vian tidak ambil pusing akan hal itu. Mereka tetap saja tidak ada yang mau mengalah dengan antara satu dengan yang lainnya.
Vian dan Jero terus saja meributkan sesuatu yang tidak penting. Mereka sama sekali tidak ada yang mau mengalah. Masing masing tetap dengan egonya sendiri sendiri sampai sampai Felix, Bram dan Jeri pusing sendiri melihat kelakuan mereka berdua.
Saat Jero dan Vian masih meributkan tentang siapa yang akan mengalah dengan keputusan itu, tiba tiba pintu ruangan Jero terbuka dari luar. Mereka semua serentak melihat ke pintu itu, mereka penasaran siapa yang sudah berani masuk ke dalam ruangan Jero tanpa memgetuk pintu dan memberi kabar.
"Kenapa loe?" tanya Jero kepada Tama yang terlihat menahan rasa sakit di perutnya itu.
"Sakit perut gue" ujar Tama sambil melihat ke arah rantang yang masih berisi makanan yang tadi di bawa oleh Vian dari mansion.
Jero melihat kemana arah mata dari Tama. Jero mengerti sekarang kalau Tama memang sakit perut, tetapi bukan karena penyakit atau apapun. Tetapi karena melihat begitu banyak makanan yang ada di meja tersebut.
"Loe laper?" tanya Jero kepada Tama.
Tama tersenyum kepada Jero. Jero paham sekarang apa yang terjadi kenapa Tama bisa datang dengan tiba tiba dan memegang perutnya seperti orang sedang menahan rasa sakit si perutnya itu.
"Siapa yang ngasih tahu elo kalau di sini banyak makanan?" tanya Jero sambil menatap ke arah Tama yang sudah tidak memegang perutnya lagi. Drama pura pura sakit perutnya telah selesai. Padahal Tama belum masuk ke adegan pengen numpang ke kamar mandi milik Jero. Tetapi Jero yang sama sekali tidak bisa di tipu sudah mengetahui kalau Tama berbohong dengan adegan pura pura sakit perutnya itu.
"Jeri" ujar Tama yang sudah kembali dari arah belakang untuk mengambil piring tempat makannya.
Jero menatap ke arah Jeri.
"Jadi gini, dia minta gue untuk membawakan bekal sarapan yang dibuat Vian dari mansion ke rumah sakit saat mengantarkan Greta. Gue aja nggak tidur di mansion elo. Nah tadi gue kirim aja fhoto kita sedang makan bersama. gue kira makhluk ini nggak akan datang. kiranya datang juga" ujar jeri menjelaskan kepada jero kepana dia sampai mengirim pesan fhoto kepada Jeri kalau mereka sedang makan siang bersama di ruangan jero.
"Nasi dan sambalnya udah dingin Tama. Apa kamu masih mau?" tanya Vian yang memang membawa nasi lebih.
"kakak ipar kakak ipar. jelas Tama tong sampah. dia akan makan apapun walaupun dingin. kakak ipar jangan ragukan Tama." ujar Bram sambil melirik ke arah Tama yang sudah menyuap nasi yang dingin itu.
"Kakak ipar lihat aja sebentar lagi nasi itu akan habis tak bersisa" lanjut Bram mulai mengejek Tama yang memang kalau udah bertemu makanan enak tidak akan memikirkan makanan itu dingin atau panas.
Mereka kemudian mengobrol santai sambil melihat Tama yang sibuk mengunyah makanannya itu. Tama sekarang menjadi topik untuk sebagai korban penderita dari setiap ejekan orang orang yang ada di sana.
"Urusan kita belum selesai" ujae Vian tepat di telinga Jero
Jero menatap Vian. Vian tersenyum ke arah kekasihnya itu. Vian memang sengaja melakukan hal itu untuk membuat Jero penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Vian kepada dirinya.
"Sekarang ajalah sayang" ujar Jero yang sudah tidak sabar lagi ingin mendengar apa yang mau dikatakan oleh Vian kepada dirinya.
"Nanti. Tama sedang makan" jawab Vian samhil melirik ke arah Tama yang sedang menikmati makan siangnya yang sudah sangat telat itu.
"Hem. Baiklah: akhirnya Jero mengalah dengan keinginan dari Vian. Jero tidak akan bisa memaksa Vian lagi.
'Kakak ipar, lebih baik saat ada kami sampaikan keinginan kakak ipar. Kami akan bantu' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Bram kepada Vian.
Untung saja Jero tidak melihat hal itu. Kalau saja Jero melihat bisa berabe bandar besar. Jero bisa dipastikan akan mengamuk.