
"Juan, apa kamu sudah mendapatkan informasi lanjutan dimana keberadaan Papi sekarang?" tanya Mami yang sudah kehilangan jejak Papi selama dua hari.
"Sama sekali belum Mami. Aku sudah menyebar semua pengawal keluarga Alexsander dan juga beberapa orang pengintai bayaran. Tetapi sampai sekarang mereka masih juga belum berhasil menemukan dimana keberadaan Papi"
Juan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Mami kepada dirinya sambil menatap ke layar ponsel.
"Apa yang kamu lakukan dengan ponsel kamu? Terlihat sibuk sekali dari tadi" ujar Mami bertanya kepada Juan.
Juan dari tadi sibuk dengan ponsel dan juga laptop miliknya. Juan sama sekali tidak fokus dengan setiap pertanyaan yang diajukan oleh Mami kepada dirinya.
"Juan, apa yang sedang kamu kerjakan?" ujar Mami bertanya sekali lagi kepada Juan dengan nada yang lebih tinggi dari pada tadi.
"Apa Mi?" tanya Juan yang kaget mendengar suara Mami yang tinggi tersebut.
"Juan, kamu kemana aja dari tadi?" ujar Mami yang mulai kesal dengan Juan yang sama sekali tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Mami kepada Juan.
"Sorry Mi, dari tadi sibuk mikirin ini Mi" ujar Juan memperlihatkan apa yang sedang dikerjakan oleh dirinya kepada Mami.
Mami melihat angka angka yang ada di sana.
"Kamu melacak nomor ponsel seseorang?" tanya Mami kepada Juan Alexsander.
Juan mengangguk.
"Nomor siapa? Terus hasilnya gimana?" tanya Mami yang penasaran dengan hasil pelacakan yang dilakukan oleh Juan terhadap nomor ponsel tersebut.
"Nomor Papi Mi, tapi Papi terakhir memakai ponselnya adalah di mansion utama." jawab Juan melihat ke arah Mami.
"Maksud kamu, Papi pergi tidak membawa ponsel miliknya?" ujar Mami bertanya untuk memastikan kepada Juan.
"Ya, kelihatannya seperti itu, karena ponsel Papi terlacak terakhir kali adalah di mansion utama" jawab Juan.
"Kita harus ke mansion utama sekarang juga Juan" kata Mami.
Mami langsung masuk ke dalam kamar untuk mengambil semua peralatannya. Sedangkan Juan hanya bisa menatap kelakukan Mami yang aneh itu, kelakuan Mami yang mengerjakan semuanya dengan tergesa gesa.
"Apa yang Mami lakukan Mi?" ujar Juan saat melihat Mami melakukan semuanya dengan tergesa gesa seperti itu.
"Kita harus pulang ke mansion utama Juan. Mami yakin ada seseorang yang menghubungi Papi. Kita bisa menanyakan keberadaan Papi kepada semua orang yang kenal dekat dengan Papi" ujar Mami menerangkan kepada Juan rencana yang akan dilakukan oleh Mami.
"Mami mami" kata Juan sambil geleng geleng kepala tidak menyangka Maminya akan menarik kesimpulan seperti ini.
"Ada apa Juan?" ujar Mami yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Juan kepada dirinya.
"Mami tau password ponsel Papi?" tanya Juan kepada Mami.
"Setau Mami, ponsel Papi tidak ada pakai password" ujar Mami menjawab pertanyaan dari Juan.
"Mana ada Mami. Ponsel Papi pakai password. Malahan passwordnya adalah mata Papi. Jadi siapun tidak akan bisa membuka ponsel milik Papi" ujar Juan menjelaskan kepada Mami bagaimana keadaan ponsel Papi yang sengaja ditinggalkan Papi di mansion utama.
"Huft" ujar Mami menghembuskan nafasnya dengan berat.
Mami yang tadi sudah sangat bersemangat untuk pergi ke mansion utama mengambil ponsel Papi, menjadi tidak bersemangat lagi karena mendengar apa yang dikatakan oleh Bayu kepada Mami.
"Benar Mami. Tapi kita masih ada harapan dari para pengawal dan juga orang bayaran yang sudah Bayu kirim untuk mencari Papi" jawab Bayu sambil berjalan menuju almari pendingin untuk mengambil minuman dingin yang dibutuhkan oleh Bayu guna menyegarkan kerongkongannya.
"Semoga mereka bisa memberikan kabar baik kepada kita Bay" jawab Mami sambil menatap jauh keluar dari mansion Juan Alexsander.
Juan Alexsander kembali duduk di sebelah Mami di atas sofa empuk tersebut. Mereka berdua sama sama terdiam dan tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mencari keberadaan Papi yang tidak tahu sekarang ntah dimana posisinya
"Apa kamu sudah melacak dimana keberadaan para pelayan mansion Juan?" ujar Mami yang teringat dengan pelayan pelayan di mansion Juan yang berjumlah lebih kurang dua puluh orang itu.
"Aku nggak punya satupun nomor mereka Mami." jawab Juan yang menyesal karena sama sekali tidak mengetahui nomor ponsel dari para pelayannya itu.
"Kok bisa Juan? Jadi kalau kamu perlu mereka bagaimana caranya?" ujar Mami yang tidak mengerti dengan pola pikir Juan yang sangat tidak terstruktur itu.
"Aku akan langsung telpon ke rumah Mami. Lagian dulu aku tidak ada pikiran kalau permasalahan antara aku dengan Vian akan melebar seperti ini" kata Juan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Mami kepada dirinya.
Juan kembali terdiam, dia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya pada saat ini. Juan benar benar tidak mengerti lagi dengan keadaan yang ada. Juan benar benar dibuat tidak bisa berpikir dengan jernih untuk mencari semua solusi akan permasalahan yang sedang mereka alami ini.
"Oh ya Mami. Juan penasaran sekali, kenapa Papi sebegitunya dengan Vian ya Mi?" ujar Juan yang ntah dari mana bisa menanyakan hal itu kepada Mami.
"Maksud kamu bagaimana Juan?" tanya Mami yang tidak paham dengan maksud pertanyaan yang diajukan oleh Juan Alexsander kepada dirinya.
"Mami lihatkan bagaimana sayangnya Papi kepada Vian, sampai sampai saat kasus ini terbongkar saja, Papi lebih memilih untuk membela Vian dari pada Juan anak kandung Papi" ujar Juan mengatakan apa dasarnya dia sampai bertanya hal itu kepada Mami.
Mami terlihat berpikir karena terpengaruh oleh apa yang dikatakan oleh Juan Alexsander.
"Bener juga ya Juan, harusnya Papi lebih membela kamu karena Vian kabur dengan pria lain yang tak lain adalah sopir pribadinya. Kenapa sekarang Papi lebih membela Vian dari pada kamu ya?" ujar Mami yang terbawa arus dengan apa yang dikatakan oleh Juan kepada dirinya.
"Nah Mami ngerti kan sekarang. Makanya aku sangat heran Mami, kenapa Papi bisa melakukan hal itu. Itu yang membuat aku menjadi heran" kata Juan semakin membuat Mami atau Nyonya besar Alexsander berpikir dengan segala kemungkinan yang ada.
"Atau jangan jangan, Papi pernah memiliki hutang atau janji dengan kedua orang tua Vian, Mi?" ujar Juan membeberkan kemungkinan yang terjadi melihat bagaimana Papi perhatiannya kepada Vian dari pada kepada dirinya yang merupakan anak kandung dari Tuan besar Alexsander.
"Kalau untuk hutang, Mami nggak yakin Juan. Tapi kalau janji bisnis bisa jadi. Kamu tau sendirilah di kalangan pebisnis janji menikahkan anak anak mereka itu adalah hal yang biasa saja" kata Mami menjawab kemungkinan yang dikemukakan oleh Juan sebentar ini.
Tiba tiba di saat mereka berdua sedang terdiam dan asik dengan apa yang mereka pikirkan berdua, ponsel milik Juan berdering, Juan melihat siapa yang menghubunginya saat ini.
"Hallo? Apa sudah ada berita atau informasi yang kalian dapatkan?" tanya Juan Alexsander kepada seseorang yang menghubunginya itu.
"Maafkan kami Tuan muda. Kami sama sekali tidak mendapatkan berita atau informasi dimana keberadaan Tuan besar sekarang. Tuan besar seperti hilang di telan bumi Tuan muda" ujar pengawal yang sudah kemana mana mencari Tuan besar Alexsander.
Juan yang mendengar berita yang sama dari tadi malam, langsung memutuskan panggilan telponnya dengan pengawal tersebut.
"Gimana Juan? Terlihat dari wajah kamu, berita yang disampaikan oleh orang itu masih sama dengan yang kemaren" ujar Mami menebak hasil dari telpon yang menghubungi Juan.
"Ya Mami masih sama" jawab Juan
Nyonya besar Alexsander dan Juan Alexsander kemudian kembali terdiam. Mereka sama sam berpikir kemana lagi harus pergi mencari Tuan besar Alexsander. Mereka selama ini tidak perduli dengan semua bisnis yang dijalani oleh Tuan besar Alexsander. Sehingga saat seperti ini Mami dan Juan Alexsander menyesal tidak pernah bertanya kepada Papi dimana saja Papi memiliki usaha.
"Seharusnya kita bertanya kepada Papi ya mi, dimana saja usaha Papi"
"Bener Juan, tapi sekarang tidak ada guna lagi kita menyesali ketidakpedulian kita dengan usaha Papi. Sekarang kita berdoa saja semoga Papi pulang dalam keadaan selamat dan membawa wanita yang tidak tau diri itu" kata Mami yang masih sempat sempatnya menyumpahi Vian.
"Setuju Mami, gara gara dia, kita tidak tahu keberadaan Papi dimana" ujar Juan menyetujui apa yang dikatakan oleh Mami kepada dirinya.