
Tuan Tuan dan Nona, pesawat sudah siap. Mari ikuti saya, kita akan menuju pesawat yang sudah siap untuk berangkat." ujar salah seorang karyawan bandara yang bertugas untuk menjaga ruangan VVIP.
Jero, Vian dan yang lainnya beranjak dari kursi mereka masing masing. Meraka berjalan mengikuti karyawan bandara menuju pesawat yang akan membawa mereka ke negara E. Negara yang akan menjadi tujuan mereka untuk mengobati Vian.
Mereka berjalan melalui garbarta menuju pesawat. Vian menatap ke sekelilingnya. Vian sudah sangat lama tidak naik pesawat. Terakhir kali waktu dia bulan madu pura pura dengan Juan Aleksander ke pulau Bali. Sebuah pulau yang sangat eksotis dan selalu dijadikan tujuan bulan madu bagi para pengantin baru. Bulan madu yang dalam pikiran setiap orang berisi kebahagiaan, tapi bagi Vian hanya berisi kehancuran semata saja. Vian sama sekali tidak merasakan apa itu bulan madu. Dia hanya tidur, makan, lihat suasana hotel dari kamar. Walaupun Vian pergi dari hotel, ya dia jalan sendiri saja. Tidak ada suami mendampingi.
Mereka kemudian masuk ke dalam pesawat. Mereka sudah duduk di kursi masing masing. Mereka memasang selt belt masing masing. Mereka siap untuk melakukan penerbangan itu. Penerbangan pertama yang dilakukan oleh keluarga Asander secara mendadak.
Vian duduk bersebelahan dengan Jero. Jero menggenggam tangan Vian. Vian pertama hanya menganggap kalau genggaman tangan itu hanya genggaman biasa saja, tapi ternyata tidak. Itu bukan genggaman biasa.
"Hay, aku tidak takut untuk melakukan penerbangan. Jangan kuat kali genggam tangannya, santai aja sayang" ujar Vian kepada Jero yang dari tadi menggenggam tangannya dengan sangat kuat. Sampai sampai Vian mrasakan tangannya hampir remuk karena genggaman Jero yang terlalu kuat.
Bram dan Felix serta Jeri yang tau siapa yang takut terbang, hanya bisa tersenyum simpul saja. Mereka tidak ada yang berani ngomong. Sampai pada akhirnya,
"Kakak ipar, yang takut itu bukan kakak ipar, tapi abang Jero sendiri yang takut untuk terbang. Makanya dia menggenggam tangan kakak ipar dengan sangat kuat." kata Bram menjelaskan kepada Vian kenapa Jero menggenggam tangannya dengan sangat kuat. Bram tidak ingin kakak iparnya itu salah mengerti dengan maksud Jero menggenggam tangannya dengan kuat.
"Haha haha haha, jadi kamu takut naik pesawat terbang sayang, kok bisa? Laki laki sekekar dan sekeren kamu ini takut naik pesawat terbang. Bram pasti bohongan ya. Mana mungkin kamu takut terbang" ujar Vian sangat puas melihat wajah Jero yang memerah karena malu. Ditambah lagi dengan pernyataan terakhir Vian yang benar benar mengandung makna ganda.
"Ais, wajah kamu puas kali nampaknya menertawakan aku sayang. Aku phobia naik pesawat terbang" jawab Jero jujur kepada Vian.
"Ada emang laki laki phophobia naek pesawat terbang? Baru tau aku sayang." ujar Vian yang baru kali ini mendengar seorang laki laki phobia naik pesawat terbang.
"Mau gimana lagi. Aku tu pernah waktu itu tanpa sadar ngebuka pintu darurat. Nah, aku diturinin sama maskapainya. Terpaksa aku pulang ke negara E naik kereta api. Makanya semenjak itu aku nggak mau naik pesawat kalau ada transportasi lainnya. Gila aja kalikan ya dari negara R aku harus jalan kaki ke negara E." ujar Jero menceritakan asal mula phobia nya.
"Cuma karena membuka pintu darurat aja kamu jadi phobia kayak gini. Ngeri juga ya. Apalagi kalau kamu hampir jatuh dari pesawat" ujar Vian dengan nada mengejek Jero. Vian sangat senang melihat Jero berwajah seperti udah rebus itu.
Vian mulai usil. Dia akan mengerjai Jero. Sebuah ide terlintas di otaknya. Vian tersenyum penuh arti. Dia akan mengeksekusi ide itu sekarang juga. Moment yang pas untuk mewujudkan ide tersebut.
"Sayang, aku pengen pup. Aku ke belakang dulu ya" ujar Vian sambil melepaskan pegangan Jero dari tangannya.
"Jangan sayang. Sebentar lagi pesawat mau take off. Kamu duduk di sini aja" ujar Jero melarang Vian untuk menuju kamar mandi.
"Lah jangan gitu sayang. Aku beneran pengen ke belakang ini" ujar Vian sekali lagi dengan wajah dibuat menahan sakit untuk pup.
"Sayang, jangan bohong. Kalau bohong idungnya ngelebar loh sayang" ujar Jero menatap Vian.
"Sayang jangan boong, nggak da gunanya juga. Kalau kamu tetap mau ke belakang aku ikut" ujar Jero akan melepaskan selt beltnya kembali.
Vian tersenyum dia memang tidak akan pernah berhasil untuk berbohong kepada Jero. Vian selalu gagal dalam hal yang satu itu.
"Yah gagal lagi" ujar Vian sambil manyun menatap Jero.
"Usaha lagi besok ya. Kali ini anda belum beruntung" jawab Jero sambil kembali menggenggam tangan Vian.
Cup. Jero mengecup puncak kepala Vian. Jero sangat senang melihat Vian dalam keadaan kesal seperti sekarang ini.
"Nggak akan bakalan menang sayang. Aku akan kalah terus. Kamu terlalu pandai membaca akting aku. Sampe lebaran ****** pun aku nggak bakalan menang lawan kamu sayangku." ujar Vian sambil menghembuskan nafasnya karena kesal kepada Jero. Berkali kali Vian mencoba mengibuli Jero, tapi berkali kali juga Vian menemui kegagalan. Kegagalan yang tetap tidak digunakan Vian sebagai pelajaran. Vian tetap juga berusaha mengibuli Jero.
"Yalah besok sekali sekali aku pura pura kena tipu, biar kamu senang" ujar Jero berusaha membuat Vian berbicara terus.
Pilot mulai melajukan pesawat. Pilot sebentar lagi akan take off.
"Mana ada orang bisa pura pura berhasil kena tipu. Kamu ada ada aja sayang. Yang iya iya ajalah" ujar Vian sambil menatap wajah Jero.
Keringat mulai membanjiri wajah Jero yang terlihat sangat pucat itu. Walaupun Jero sudah berusaha membuat Vian berbicara terus, nyatanya dia masih tetap merasakan kalau pesawat mulai mengudara.
Vian yang berada di sebelah Jero merasakan ketakutan Jero. Vian menggenggam tangan Jero dengan sangat kuat. Vian membantu menguatkan Jero. Ini adalah kali perdana Vian melihat Jero serapuh ini.
Jero merasakan kalau pesawat sudah mengudara. Dia kembali bisa melemaskan otot ototnya yang sempat menegang tadi. Jero melihat ke arah Vian.
"I'm okay" ujar Jero sambil memeluk Vian.
"No, kamu tidak oke sayang. Ini harus kita hilangkan" ujar Vian menatap Jero.
"Ya, besok aku akan cerita dengan psikiater aku" ujar Jero yang berniat untuk langsung konsultasi dengan Greta.
Pesawat mulai terbang dengan tenang. Para pramugari sesuai dengan yang diperintahkan oleh Jero, tidak ada yang duduk bergerombol untuk mengobrol. Kebetulan mereka juga hanya berdua. Jadi satu duduk di belakang yang satu lagi duduk di depan. Penerbangan akan dilakukan selama delapan jam dengan transit satu kali untuk mengisi bahan bakar pesawat.