
"Tapi kenapa dia menjadi sangat emosi seperti itu? Gue kan nggak ada ngomong yang salah ke dia. Terus kenapa dia menjadi main emosi seperti itu ke gue" lanjut Jero tidak mengerti dengan apa yang ada di dalam pikiran Vian saat ini. Jero heran dengan sikap Vian yang langsung memutuskan panggilan telpon mereka berdua.
"Gue telpon ajalah" kata Jero setelah melihat tidak ada panggilan berikutnya dari Vian.
Jero melakukan panggilan kepada ponsel Vian, tetapi Vian sama sekali tidak mengangkat panggilannya itu. Jero kembali mengulang menghubungi ponsel Vian, tetapi hasilnya tetap sama. Vian sama sekali tidak mengangkat panggilan telpon dari Jero.
"Huft. Dia beneran marah" ujar Jero.
"Wanita memang sulit dimengerti" lanjut Jero dengan kesal.
Jero mengambil jas kerjanya. Dia harus menemui kekasih hatinya itu. Jero sangat mengenal Vian. Vian akan langsung marah dan memakai jurus diam diaman di saat dia tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Jero.
"Hendri kita jalan sekarang" ujar Jero memerintahkan sang asisten sekaligus sopir pribadi dan pengawal Jero.
"Tapi bukannya nanti Tuan ada pertemuan dengan Tuan Bram dan Tuan Felix?" ujar Hendri mengingatkan agenda yang harus dijalankan oleh Jero untuk siang selepas istirahat siang.
"Kalau mereka perlu saya, suruh mereka datang ke rumah sakit. Saya ada perlu di sana" jawab Jero.
"Baik Tuan"
Jero berjalan di mendahului Hendri. Sedangkan Hendri terlihat menghubungi Felix terlebih dahulu setelah itu baru Bram untuk mengatakan pertemuan dengan Jero dipindahkan ke rumah sakit, lebih tepatnya di ruang kerja Vian.
"Maaf Tuan Muda, saya hanya menyampaikan pesan dari Tuan besar" ujar Hendri yang kena semprot Bram saat dia mengatakan kalau acara rapat dipindahkan ke rumah sakit.
"Ada apa Hen?" tanya Jero saat mendengar asistennya itu sampai meminta maaf ke Bram atau Felix.
"Tidak ada Tuan" jawab Hendri.
"Sini kan ponsel kamu" ujar Jero meminta ponsel milik Hendri.
Hendri memberikan ponselnya yang masih tersambung dengan Bram. Jero melihat nama yang tertulis di layar ponsel itu adalah nama Bram.
"Hallo Bram, Abang tidak bisa bertemu di perusahaan, kakak ipar kamu sedang merajuk. Jadi kita bertemu di ruang kerjanya. Tidak ada komplen Bram. Paham" ujar Jero yang sudah tidak bisa di tawar tawar lagi.
"Siap Bang" jawab Bram.
"Ini Hen?" ujar Jero yang berniat memberikan ponsel milik Hendri. Ternyata orang yang dicarinya tidak ada sama sekali di belakang.
"Kemana tu anak?" ujar Jero heran melihat Hendri yang tidak ada di belakangnya.
Hendri yang sudah menghilang semenjak Jero meminta ponselnya itu ternyata sudah menunggu dirinya di depan lobby perusahaan, sambil membukakan pintu mobil untuk Jero.
"Ini ponsel milik kamu" ujar Jero memberikan ponsel milik Hendri.
"Terimakasih Tuan" jawab Hendri.
Hendri mengemudikan mobil menuju rumah sakit. Sekarang dia sudah tahu kenapa Jero meminta untuk pergi ke rumah sakit.
'Cinta memang mengerikan' ujar Hendri dalam hatinya.
"Kamu jangan menggerutu Hendri. Kamu karena belum merasakannya. Coba kalau sudah, maka kamu akan sama dengan saya" ujar Jero yang tahu kalau Hendri pasti sedang menggerutu sekarang.
"Maaf Tuan besar, saya tidak menggerutu, cuma saya berpikir oh ternyata gini toh kalau sedang jatuh cinta" ujar Hendri yang pada akhirnya menyampaikan apa yang ada di dalam pikirannya supaya Jero tidak salah paham.
Hendri mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang, jalanan memang sedang ramai oleh kendaraan yang lalu lalang.
"Kenapa hari ini kendaraan ramai sekali Hendri? Apa anak raja sedang ulang tahun?" ujar Jero dengan santainya.
Hendri yang sedang mengendarai mobil hanya bisa tertawa kecil saja saat mendengar apa yang dikatakan oleh Jero.
"Tuan bukan anak raja yang ulang tahun, tetapi raja itu sendiri yang ulang tahun Tuan" ujar Hendri menjawab gurauan dari Jero.
"Oh pantesan rame" jawab Jero.
Jero yang sudah tidak sabaran lagi untuk sampai cepat di rumah sakit, serasa duduk di atas duri dari tadi. Dia putar terus saja melihat jam tangannya.
"Huft lama kali Hendri" ujar Jero yang sudah tidak sabaran.
Hendri hanya bisa geleng geleng kepala. Dia sudah lima kali di tegur Felix karena membawa mobil dalam kecepatan di atas normal. Tetapi Hendri tidak mungkin mengatakan kepada Felix kenapa dirinya bisa mengemudikan mobil dalam kecepatan tinggi. Bisa bisa Jero mengamuk nantinyanantinya, kalau Hendri menuruti apa yang diinginkan oleh Felix.
Akhirnya penderitaan Hendri saat ini selesai juga, mobil yang dikemudikan Hendri sudah berbelok masuk ke dalam perkarangan rumah sakit milik Jero. Rumah sakit ternama dan terluas serta terlengkap di negara ini.
"Langsung ke lobby saja Hendri. Setelah itu kamu parkir dan menyusul ke ruangan Vian"
Perintah Jero kepada Hendri sang asisten yang baru dua bulan bekerja dengan Jero.
"Siap Tuan" jawab Hendri.
Jero kemudian turun dari dalam mobil. Jero berjalan cepat masuk ke dalam rumah sakit. Jero tidak memperdulikan orang orang yang melihatnya. Pria tinggi memakai jas dongker dan juga kaca mata hitam itu berjalan dengan percaya dirinya ke dalam rumah sakit untuk menuju ruang kerja Vian.
Para pengunjung rumah sakit melihat dokter dan perawat membungkukkan kepalanya memberi salam hormat kepada Jero.
"Siapa pria itu? Kenapa dokter dan perawat membungkuk kepada pria tampan itu?" ujar pengunjung saat melihat dokter dan perawat membungkuk kepada Jero.
"Sepertinya orang yang berpengaruh" ujar rekan pengunjung yang lain.
Jero mendengar semua yang dikatakan oleh para pengunjung tersebut. Tetapi Jero sama sekali tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh mereka. Jero tetap. berjalan dengan santai dan menganggap tidak ada yang terjadi.
"Pria itu bener bener tampan" ujar yang lain.
"Sangat tampan sekali." kata yang lain.
"Gue berharap gue mendapatkan kekasih yang juga berwajah tampan seperti itu" lanjut yang lainnya.
"haha haha haha, mana ada bisa. Mimpi kali kalau kita bisa mendapatkan kekasih yang setampan itu" ujar rekan dari pengunjung yang sedang duduk duduk di kursi yang ada di Koridor tersebut.
"Pasti sangat beruntung orang yang bisa mendapatkan dirinya. Bener bener berkah mendapatkan pria tampan itu" ujar yang lainnya.
Hendri yang mendengar apa yang dikatakan oleh para pengunjung rumah sakit hanya bisa geleng geleng kepala saja saat mendengar semua yang dikatakan oleh mereka.
Hendri berjalan dengan cepat menuju ruangan Vian. Dia masih bisa melihat punggung Jero yang berjarak sekitar lima meter dari dirinya.
"huft Tuan besar kalau sudah mau bertemu dengan pujaan hatinya berjalan dengan sangat cepat sekali" ujar Hendri saat melihat Jero yang berjalan sudah sangat jauh dari dirinya.