
Juan yang terlalu lelah mencari dimana keberadaan Papi, belum lagi dengan kehilangan semua pelayan membuat Juan Laexsander saat melihat kasur langsung merebahkan badannya yang sudah sangat letih itu.
Dalam sekejap Juan Alexsander sudah berpindah ke alam mimpi. Hal yang sama juga terjadi dengan Mami di kamar bawah.
Juan Aleksander yang baru bangun tidur jam sebelas siang langsung bergegas menuju kamar mandi. Juan mandi dengan sangat cepat, dia sudah bisa dipastikan terlambat sampai di perusahaan.
"Ini bener bener gila. Masak gue bisa bangun kesiangan seperti ini. Bisa bisa kalau Papi tau gue bisa di gantung. Mana suasana belum kondusif lagi" ujar Juan Aleksander memaki maki dan menyesali kebodohan dirinya sendiri.
"Ini gara gara mereka yang bawa gue ke club tadi malam. Makanya gue nggak ke bangun. Para main yang baru itu tentu takut membangunkan gue" lanjut Juan Aleksander.
Juan Aleksander kemudian mandi dengan sangat cepat. Dia tidak bisa menikmati mandi pagi harinya seperti biasa. Sekarang dia harus berkejaran dengan waktu. Jangan sampai dia masuk kerja di shift dua. Papi bisa ngamuk dan marah besar nanti.
Tuan dan Nyonya Aleksander,baru turun dari mobil mewah yang disopiri oleh seorang sopir pribadi. Tuan dan Nyonya besar Aleksander berjalan masuk ke dalam mansion. Tuan dan Nyonya besar Aleksander sudah berada di ruang tamu mansion. Dua orang maid sudah bekerja di mansion. Maid yang di datangkan dari mansion utama untuk membantu Juan Aleksander di mansion nya.
"Apa Tuan Muda sudah berangkat ke perusahaan maid?" ujar Mami bertanya kepada salah satu maid yang sedang bekerja di dapur bersih.
Maid itu terlihat ragu untuk menjawab pertanyaan dari Nonya besar mereka. Kedua maid itu sama sama susah memilih, kalau menjawab dengan sebenarnya maka mereka akan dimarahi oleh Tuan Muda. Kalau berbohong maka Nyonya dan Tuan Besar yang akan marah.
"Maid, katakan saja. Apa Tuan Muda sudah berangkat ke perusahaannya?" tanya Mami sekali lagi mengulang pertanyaan yang sama kepada maid.
"Belum Nyonya besar. Tuan muda masih belum bangun dari tidurnya" jawab maid sambil menunduk.
Maid tidak sanggup melihat wajah Nyonya dan Tuan besar mereka yang kaget mendengar jawaban dari kedua maid tersebut.
"Sudah jam segini itu anak masih juga belum turun dari kamarnya." ujar Papi melihat ke arah lantai dua mansion.
Papi melihat pintu kamar Juan Aleksander masih tertutup rapat. Mami melihat juga ke pintu kamar Juan Aleksander yang memang tertutup rapat.
"Jam berapa Tuan Muda pulang semalam?" kali ini Papi yang bertanya kepada kedua maid tersebut.
Kedua maid saling pandang pandangan. Mereka cukup ragu untuk menjawab pertanyaan dari Tuan besar. Mereka berdua takut salah dalam menjawab pertanyaan Tuan besar itu.
"Maid, jangan sampai saya bertanya hal yang sama untuk ke dua kalinya" ujar Papi menekankan setiap perkataan yang diucapkan oleh Papi.
"Jam empat subuh Tuan Besar" jawab kedua maid dengan kompak.
"Jam empat subuh, pantesan jam segini belum bangun" ujar Papi sambil menatap kembali ke pintu kamar Juan yang tetap masih tertutup dengan rapat.
"Anak itu, sudah begitu banyak masalah yang datang, masih tetap tidak berubah. Masih juga keluar malam. Mau diapain dia lagi itu" ujar Mami yang sudah kesal juga dengan tingkah Juan Aleksander.
"Udah punya istri, masalah yang luar biasa banyak. Masih juga tidak bisa bersikap dewasa" lanjut Mami kesal dengan tingkah Juan yang masih seperti remaja yang mencari jati diri.
Juan yang telah selesai memakai pakaiannya keluar dari dalam kamar, Juan berjalan menuju meja makan. Perut Juan sudah sangat lapar, makanya dia berjalan cepat menuju meja makan. Tetapi betapa kagetnya Juan saat melihat di meja makan sudah ada Papi dan Mami. Mereka berdua menunggu kedatangan Juan Aleksander di meja makan. Papi dan Mami memasang wajah marahnya. Mereka berdua tidak menyembunyikan amarah itu sekarang.
"Wow Tuan Muda, senang sekali hidup Anda, jam segini baru bangun" ujar Tuan besar menyapa Juan Aleksander.
"Maaf Papi, semalam aku telat tidur Papi" ujar Juan Aleksander sambil duduk di kursi yang ada di sana.
"Gimana tidak akan telat tidur. Anda ke pun sampai subuh. Anda kira kami tidak tau apa yang Anda lakukan di luar sana" lanjut Papi murka kepada Juan Aleksander.
Juan menundukkan kepalanya dalam dalam. Papi ternyata mengetahui apa yang dilakukannya semalam.
"Sudah begitu banyak masalah yang menimpa keluarga ini, kamu masih sempat sempat nya pergi mabuk mabukkan dan pulang pagi. Kamu pikir perusahaan bisa dikendalikan oleh orang mabuk?" ujar Papi dengan emosinya.
"Maaf Papi" ujar Juan yang akhirnya bisa membuka mulutnya dan mengeluarkan dua kata saja.
"Maaf gampang Juan. Sangat gampang. Tapi setelah apa yang kamu lakukan saat ini. Saya benar benar kecewa. Sekarang perbuatlah apa yang mau kamu perbuat. Saya tidak akan melarang lagi" lanjut Papi yang sudah menyerahkan semuanya kepada Juan Aleksander.
"Papi, sekarang kita makan dulu ya. Sepertinya Tuan Muda ini masih lapar" ujar Mami menyindir Juan yang baru bangun tidur.
Mami yang selama ini membela Juan mati matian, sekarang sama sekali tidak perduli dengan Juan. Juan sudah keterlaluan untuk saat ini. Mami harus bisa mengambil sikap yang terbaik, agar Juan bisa menjadi dewasa setelahnya.
"Iya Mami, kita makan sekarang aja. Kasihan Tuan Muda ini sama sekali belum makan pagi. Apalagi dia belum makan sehabis mabuk semalam. Kasihan kita Mamj" ujar Papi dengan menatap kesal kepada Juan.
Juan hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia tidak mampu menatap wajah kedua orang tuanya itu saat ini. Kesalahan fatal sudah dibuatnya semalam.
Mereka bertiga kemudian sarapan bersama. Papi melihat ke sekitaran mansion. Papi seperti mencari seseorang tetapi tetap tidak ditemukan oleh mata Papi.
"Juan, apa istri kamu belum kembali dari pelariannya?" tanya Papi kepada Juan yang sedang menikmati teh hangatnya.
"Belum Pi. Aku nggak tau dia kemana sekarang Pi. Semenjak kejadian itu dia sama sekali tidak pulang lagi ke mansion ini" jawab Juan sambil melihat ke arah Papinya itu.
Juan takut raut wajah Papinya bertukar. Makanya dia memperhatikan raut wajah Papinya sesaat setelah Juan mengatakan kalau Vian tidak juga pulang ke mansion.
"Kemana Vian, Juan?" tanya Mami yang panik mendengar Vian tidak ada lagi di mansion.
"Apa semenjak dia pergi dengan sopir itu? Siapa namanya?" tanya Mami kepada Juan.
"Jero, Mi" ujar Juan menjawab pertanyaan Mami.
Mami melihat ke arah Papi. Mereka berdua sama sama terdiam.
"Apa kamu punya foto pria yang namanya Jero itu Juan?" tanya Papi yang berharap Juan punya foto Jero.
"Bentar Pi" jawab Juan.
Juan mencari file fhoto di galeri ponselnya. Dia mencari fhoto Jero di sana. Juan melihat semua fhoto fhoto itu dengan seksama dan tidak melewatkan satu fhoto pun.
"Papi, ada ini Papi" ujar Juan memberikan fhoto Jero waktu Jero melamar jadi sopir Juan.
Papi mengamati fhoto yang diberikan oleh Juan. Papi menatap lama fhoto pria yang ada di ponsel Juan. Fhoto seseorang yang telah lama menghilang dari hidup Papi. Juan melihat ekpresi dari Papi.
Mami mengambil ponsel milik Juan. Hal yang sama juga terjadi kepada Mami. Perubahan ekspresi wajah yang sangat terlihat dari Papi dan Mami.
"Papi dan Mami kenal dia?" tanya Juan memberanikan diri untuk bertanya kepada Papi dan Mami nya.
"Mami ayok pulang" ujar Papi mengajak Mami untuk balik ke mansion mereka kembali.
"Papi Mami belum jawab pertanyaan aku. Papi sama Mami kenal dia?" ulang Juan bertanya kepada Papi dan Mami nya.
"Belum saatnya kamu tau Juan. Sekarang lebih baik kamu ke perusahaan. Papi dan Mami akan pulang dulu" ujar Papi yang langsung berdiri dari duduknya.
Mami mengikuti Papi. Rasa takut dalam diri Mami membuat Mami tidak banyak bicara seperti biasanya.
Papi dan Mami kemudian masuk ke dalam mobil. Mami menatap papi yang berada di sebelahnya. Papi hanya diam saja. Papi sama sekali tidak terlihat mau membahas tentang sesuatu.
"Tidak Papi Mami jangan pergi" ujar Juan berteriak dan langsung duduk.
Juan melihat keadaan di sekitarnya. Dia masih berada di kamar. Sedangkan Papi dan Mami tidak ada di sana.
"Oh hanya mimpi. Gue kira kenyataan" ujar Juan Alexsander yang sudah kembali ke alam nyata tidak di alam mimpi lagi