
Tepat pukul lima sore Jero, Felix, Bram dan Vian pulang ke Mansion keluarga Asander. Mereka masuk ke dalam satu mobil yang sekarang dikemudikan oleh Felix menuju Mansion tempat tinggal mereka.
"Felix agak ngebut sedikit. Kakak mau bikin sambal mangga untuk Bang Jero" kata Vian yang akan membuat sambal mangga untuk Jero sesuai dengan perjanjian yang telah mereka buat di perusahaan tadi.
"Sayang aku baru ingat mangganya sudah habis gimana caranya ya Sayang ya" kata Vian yang ingat mangga yang telah diambil oleh tukang kebun tadi sudah habis tidak bersisa.
"Emang kamu tadi beli di mana? Apa hanya beli untuk sekali bikin sambal mangga aja? "kata Jero bertanya kepada Vian.
Jero memiliki pemikiran kalau Vian mendapat mangga untuk sambal mangga tadi pagi itu dari mana, Apakah dibeli atau para maid yang diminta Vian untuk membeli ke pasar.
"Di belakang Mansion. Tadi Saat Pagi Hari setelah kamu dan Felix berangkat ke perusahaan, aku berdiri di balkon kamar. Aku melihat sebuah pohon mangga yang berbuah cukup banyak, mana sedang mengkal dan cocok untuk dijadikan tambahan sambal. Nah saat itulah aku berpikir untuk membuat sambal mangga" ujar Vian mengatakan kepada Jero dari mana dia mendapatkan mangga yang digunakan oleh Vian siang tadi untuk membuat sambal mangga yang ternyata sangat disukai oleh Jero.
"Pohon mangga di belakang Mansion?" ujar Jero berkata kepada Vian dengan nada tidak menyangka kalau pohon mangga yang berada di bagian belakang mansion itu sedang berbuah dengan sangat lebatnya.
"Serius sayang, pohon mangga yang di belakang Mansion itu berbuah lebat. Ngapain pula aku bohong sama kamu tentang pohon mangga goblok kali aku sayang" kata Vian yang tidak mau Jero tidak mempercayainya tentang pohon mangga di belakang mansion yang sedang berbuah itu.
"Yang jadi masalah bukan pohon mangganya sayang, tetapi siapa yang mengambil untuk kamu, itu yang jadi masalah sekarang" kata Jero yang tidak mau Vian salah paham kepada dirinya.
"Yang nolong ngambilin tukang kebun sayang, sebenarnya tadi banyak. Tetapi aku bikin dua porsi yang satu untuk kita, sedangkan yang satu porsi lagi untuk para pelayan. Nggak mungkin kan mereka melihat aku masak sambal mangga tetapi tidak aku kasih" ujar Vian menerangkan kepada Jero bagaimana bisa mangga yang banyak diambil oleh Tukang kebun bisa cepat habis.
"Kamu ngasih para maid juga? terus apa kata mereka ke kamu sayang?" Kata Jero yang penasaran dengan tanggapan yang diberikan oleh para maid kepada Vian yang telah memberikan mereka sambal mangga dan juga ayam bumbu rujak itu. Menu yang sama antara mereka dengan para pelayan.
"Nggak ada ngomong apa-apa sayang, mereka cuma mengatakan ya, standar lah ya, terima kasih nona muda hanya itu nggak ada yang lain" kata Vian mengatakan apa yang dikatakan oleh para maid saat mereka telah mendapatkan satu ekor ayam bumbu rujak dan satu cobekan sambal mangga.
Felix dan Bram menyimak apa yang dibicarakan oleh Jero dan Vian. Mereka sama sekali tidak berminat untuk menimbrung percakapan sepasang kekasih yang sekarang duduk di kursi belakang mobil yang dikemudikan oleh Felix menuju mension utama keluarga Alexander.
"Bram nanti kamu sampai mension tolong katakan sama tukang kebun untuk mengambil buah mangga, karena kakak ipar kamu akan membuat sambal mangga sesuai dengan perjanjian yang telah kami sepakati tadi di perusahaan" kata Jero memberikan perintah kepada Bram untuk meminta tukang kebun mengambil buah mangga yang ada di kebun belakang mansion besar tersebut.
"Siap Bang nanti aku akan meminta tolong kepada tukang kebun untuk mengambil buah mangga yang ada di belakang" jawab Bram yang semangat untuk menyampaikan pesan Jero kepada tukang kebun untuk mengambil buah mangga yang berada di bagian belakang mansion.
"Oke Bang. Nanti kalau seandainya tukang kebun tidak ada atau sedang mengerjakan hal yang lain dimension. Biar aku saja yang mengambil buah mangga tersebut" kata Bram yang setuju untuk mengambil buah mangga supaya mereka tetap bisa makan sambal mangga nanti malam.
"Haha haha kamu pasti mau mengambil mangga itu karena kamu juga suka dengan sambal mangga tersebut bukan?" kata Felix yang sudah tahu apa yang ada di dalam pikiran Bram saat ini.
"Halo Padahal Abang suka juga tuh, kalau nggak takut sakit perutnya kumat pasti sudah ngabisin sambal mangga yang banyak itu sendirian." kata Bram yang tidak mau disalahkan atau tidak mau dikatakan hanya menyukai sambal mangga itu sendirian.
"Udah ah jangan pada ribut nanti sediain aja mangganya agak lima buah yang besar-besar Bram. Setelah itu nanti akan kakak bikinkan sambal mangganya" kata Vian yang menghentikan keributan hanya gara-gara buah mangga dan sambal mangga antara kakak beradik itu.
Mereka Akhirnya sampai juga di mension Jero dan Vian langsung menuju lantai tiga tempat kamar mereka berada. Mereka akan membersihkan badan terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan yang lainnya. Hal yang sama juga terjadi kepada Felix. Felix juga langsung masuk ke kamarnya untuk membersihkan badannya dan beristirahat setelah lelah bekerja selama seharian.
Lain halnya dengan Bram. Bram langsung menuju taman bagian belakang Mansion untuk mencari tukang kebun. Bram berencana untuk meminta tolong mengambil buah mangga yang ada di bagian belakang mension dimana tadi tukang kebun mengambil mangga yang diminta oleh Vian.
" Maid, apa ada melihat tukang kebun?" tanya Bram kepada seorang maid yang baru saja berjalan dari bagian belakang Mansion.
"maaf Tuan muda, Saya tidak melihat tukang kebun. Sebenarnya tadi setelah habis bekerja tukang kebun tersebut pulang ke mes belakang. Mungkin dia belum pulang kembali ke sini" jawab maid yang sama sekali tidak melihat tukang kebun di taman bagian belakang Mansion tersebut, tempat biasa tukang kebun itu bekerja sehari-hari.
"Terima kasih Maid"ujar Bram yang melanjutkan berjalan menuju taman belakang tempat pohon mangga tersebut berada.
Bram melihat kembali ada seorang maid yang sedang menyiram bunga yang ada di taman bagian belakang Mansion tersebut.
"Maid apa kamu melihat tukang kebun?" tanya Bram kepada maid yang sedang bekerja itu.
"maaf tuan muda saya sama sekali tidak melihat tukang kebun. Tadi sepertinya setelah selesai memotong rumput, tukang kebun itu kembali ke mess belakang untuk membersihkan badannya" kata maid menjawab pertanyaan dari Bram tentang keberadaan tukang kebun yang dari tadi dicari-cari oleh Bram.
Bram kemudian melanjutkan perjalanannya menuju pohon mangga yang ternyata tepat berada di belakang kamar Felix.
Bram melihat pohon yang begitu tinggi dan berbuah lebat. Bram sedikit agak takut untuk memanjat pohon tersebut tetapi karena keinginannya untuk makan sambal mangga lebih besar, sehingga membuat Bram memberanikan diri juga untuk memanjat pohon mangga yang sangat tinggi itu.