
"Jer, ada yang harus gue omongin ke elo" ujar Jeri dengan nada serius.
Jero dan Tama langsung menatap ke arah sahabat mereka berdua itu. Tidak biasanya Jeri mengatakan hal seperti itu saat dia akan berbicara dengan Jero maupun Tama.
"Ada apa?" ujar Jero dengan nada penasaran mendengar cara berbicara Jeri kepada Jero dan Tama.
"Gue rencananya habis dari perjalanan dari negara F dan G ini, akan pergi ke negara I, membawa Greta" ujar Jeri memberitahukan kepada Jero dan Tama keinginannya untuk membawa Greta ke negara I.
"Membawa Greta ke negara I?" ujar Tama mengulang kembali apa yang dikatakan oleh Jeri kepada mereka berdua.
Jero dan Tama merasa heran dengan keputusan yang dibuat oleh Jeri. Mereka berdua melihat menatap tajam ke arah Jeri, meminta Jeri untuk memberikan alasan lebih kepada mereka berdua. Jero dan Tama sangat yakin kalau Jeri memiliki alasan sendiri kenapa dirinya memilih untuk membawa Greta ke negara I. Apalagi Jero dan Tama tahu kalau Greta sangat menyukai dan betah tinggal di negara I.
Jero dan Tama sama sama tidak mengerti dengan keinginan yang dikatakan oleh Jeri kepada mereka berdua. Keinginan yang dirasa cukup aneh bagi Jero dan Tama. Makanya hal itu membuat Jero dan Tama menjadi sangat penasaran.
"Membawa Greta ke negara I, kami nggak salah denger Jer?" ujar Tama mengulang kembali apa yang dikatakan oleh Jeri kepada mereka berdua. Tama nggak habis pikir kenapa ide itu tiba tiba muncul dari Jeri. Padahal selama ini tidak pernah sedikitpun Jeri mengatakan akan pindah ke negara I.
Jero dan Tama merasa heran dengan keputusan yang dibuat oleh Jeri. Mereka berdua melihat menatap tajam ke arah Jeri, meminta Jeri untuk memberikan alasan lebih kepada mereka berdua. Jero dan Tama sangat yakin kalau Jeri memiliki alasan sendiri kenapa dirinya memilih untuk membawa Greta ke negara I. Apalagi Jero dan Tama tahu kalau Greta sangat menyukai dan betah tinggal di negara ini.
"Satu pertanyaan dari gue, apa, Greta sudah setuju untuk pindah ke negara I?" ujar Jero yang sangat perlu menanyakan hal yang satu itu,
"Kenapa loe tanya itu?" ujar Jeri yang tidak paham kenapa Jero menanyakan hal itu kepada dirinya pada saat ini.
"Perlu lah, sekarang loe jawab pertanyaan dari gue," ujar Jero.
Jero bertanya hal itu karena Gretalah titik point permasalahan ini semua. Jeri terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya, Jeri tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero tersebut. Jero dan Tama menunggu Jeri menjawab pertanyaan itu.
"Kenapa lama banget? Ada apa? Jawablah" ujar Jero meminta Jeri untuk cepat menjawab apa yang ditanyakan oleh dirinya tadi.
Jeri masih diam saja. Jeri sama sekali tidak membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero sebentar ini.
"Tama, paggil Greta sana, kita harus tanya sama dia langsung sepertinya. Ini orang depan kita udah berubah jadi batu" kata Jero meminta tolong kepada Tama untuk memanggil kembali Greta ke dekat mereka.
"Tapi Jer, loe tau sendirilah dia baru ke sana. Gue nggak mau di amuk tu anak, belum lagi di amuk sama Vian, yang iya iya ajalah loe suruh gue" ujar Tama yang menolak apa yang diminta Jero untuk memanggil Greta ke tempat mereka sedang melihat pemandangan bersama dengan Vian dan Bram.
Jero dan Tama kemudian berjalan menuju tempat Greta berada. Jeri sudah tidak bisa lagi melarang keinginan kedua sahabatnya itu. Jeri sangat tahu bagaimana Jero kalau sudah memutuskan sesuatu. Jero pasti akan langsung mencari tahu dan menuntaskan secara langsung saat itu juga. Apalagi ini tidak ada urusannya dengan orang luar, orangnya ada di dekat Jero. Jadi, Jero akan menyelesaikan saat itu juga.
Jero berjalan lurus tanpa melihat ke beberapa pelayan kereta api yang menyapa dengan cara mengangggukkan kepalanya kepada Jero dan Tama.
"Tuan muda di atas kereta api ini semuanya tampan, tetapi dingin" ujar salah satu pelayan berkata kepada rekan kerjanya.
"Sedangkan wanitanya, dua nona itu sangat ramah sekali" kata pelayan yang lawan bicara dari pelayan yang mengatakan kalau tuan tuan yang ada di kapal itu tampan tetapi dingin.
Jero dan Tama yang mendengar apa yang dikatakan oleh beberapa orang pelayan itu hanya membiarkan saja tanggapan dari mereka. Jero dan Tama tidak ambil pusing dengan mereka, kedua pria itu tetap berjalan dengan gaya mereka menuju dimana Greta berada pada saat ini.
"Itu mereka Tam" ujar Jero saat melihat Vian dan Greta sedang duduk menghadap ke kaca yang ada di bagian belakang gerbong kereta api bagian belakang itu.
"Ternyata memang bagus pemandangan di sini Jer" ujar Tama yang menatap dengan pandangan penuh kekaguman saat melihat pemandangan yang disajikan oleh alam di depan mata elangnya itu.
"Ciptaan Tuhan jangan pernah diragukan Tama" ujar Jero menasehati salah satu sahabatnya itu.
"Aku tidak meragukan, sama sekali tidak pernah, aku memuji sangat memuji keindahan yang disajikan oleh alam. Benar benar indah, sangat indah" ujar Tama menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada dirinya.
Jeri sekarang sudah berdiri tepat di belakang Jero dan Tama, dia sengaja berdiri di belakang kedua sahabatnya itu. Jeri sangat yakin kalau Jero tidak akan membiarkan dirinya untuk berbicara dengan Greta saat Jero meminta konfirmasi berita kepindahan mereka ke negara I kepada Greta.
"Greta bisa bicara sebentar?" ujar Jero memanggil Greta sambil memegang kedua pundak Vian dengan kedua tangannya.
Vian tersenyum kepada Jero. Vian memegang kedua tangan Jero yang memegang tangannya dengan lembut.
"Ada apa Jer? Apa bisa di sini saja?" ujar Greta balik bertanya kepada Jero.
Greta berharap Jero mau membicarakan apa yang akan dibicarakannya dengan Greta di sini saja. Greta tidak ingin dia nanti salah paham denga Vian. Greta harus menghormati Vian dan juga Jeri. Makanya Greta menawarkan kepada Juan untuk berbincang bincang di sini saja.
"Di sini saja tidak apa apa, Vian dan Bram juga boleh dengar. Mana tau nanti mereka memiliki pandangan sendiri untuk apa yang akan gue tanyakan ke elo" ujar Jero menyetujui permintaan dari Greta untuk berbicara di tempat mereka berada sekarang tanpa harus pindah ke tempat lain.
"Baiklah. Main langsung aja ya, loe taulah gue nggak suka basa basi. Nggak seperti tu sahabat di rumah sakit elo, yang luar biasa bisa bebasa basi" ujar Jero yang sebenarnya sudah terlalu panjang memberikan pengantar untuk mulai membicarakan apa yang akan dibicarakannya dengan Greta.