My Affair

My Affair
BAB 80



Pesawat dengan dinding bertuliskan Asander Grub dan logo keluarga Asander yang terbuat dari emas itu telah mendarat dengan mulus di bandara negara U. Negara tujuan Jero dan yang lainnya. Negara yang juga menjadi tujuan Jero untuk berobat atas trauma dirinya dan Vian.


Penerbangan selama empat jam setelah transit itu berjalan dengan baik baik saja tanpa kendala apapun. Cuaca sangat bersahabat dengan pesawat mereka. Pesawat sama sekali tidak mengalami turbelensi selama di udara. Tidak ada goncangan yang kuat terjadi saat itu.


Pilot yang telah berhasil memberhentikan pesawat dengan mulus di landasan pacu, meminta pramugari untuk membukakan pintu penumpang. Tetapi sebelumnya, sesuai kebiasaan selama penerbangan mengantarkan keluarga Asander, pasti ada kata kata antara pilot dengan anggota keluarga. Pilot, co pilot dan kru kabin sudah berdiri di depan pintu keluar penumpang pesawat.


"Tuan dan Nona, selamat datang di negara U. Penerbangan dengan pesawat Asander Grub selama delapan jam berakhir di bandara ini. Kami dari pilot dan kru kabin mengucapkan selamat menikmati keindahan negara U. Negara yang sangat sangat indah untuk dinikmati, baik pemandangan maupun kulinernya. Kami berharap Tuan dan Nona bisa menikmati negara ini. Akhir kata kami dari kru pesawat Asander Grub mengucapkan sampai berjumpa di penerbangan berikutnya." ujar Pilot yang tadi menerbangkan mereka ke negara U dengan selamat dan tanpa merasakan guncangan yang sangat berarti.


Felix kemudian berdiri dari duduknya. Dia selalu ditugaskan oleh Jero untuk mengucapkan kata kata kepada pilot dan kru kabin pesawat. Kalau dalam penerbangan itu tidak ada Felix yang ada hanya Bram. Maka Jero sendirilah yang akan turun tangan mengucapkan kata kata terimakasih kepada pilot dan kru kabin.


"Saya Felix Asander mewakili keluarga Asander, mengucapkan terimakasih banyak kepada pilot, co pilot dan kru kabin untuk semua kenyamanan yang sudah diberikan kepada kami selama penerbangan delapan jam dari negara I ke negara U." ujar Felix membuka percakapannya dengan pilot dan yang lain.


"Beberapa hari ke depan Anda semua bisa bersantai dan bisa pulang ke rumah keluarga masing masing. Bisa melepas rindu dan bisa berjalan jalan dengan keluarga Anda masing masing" ujar Felix memberitahukan kepada Pilot dan Pramugari bahwasanya mereka bisa pulang ke rumah mereka untuk bertemu keluarga. Melepas rindu dengan keluarga dan mengajak keluarga untuk bermain dan liburan, tetapi tetap berada di negara U.


"Tapi, suatu saat kalau salah satu dari kami harus kembali ke negara I atau ke negara manapun itu, Anda semua saya harapkan langsung bisa berangkat saat itu juga." ujar Felix meminta semua pilot dan kru kabin selalu bersiap siap untuk berangkat kapan saja.


"Sekali lagi, kami tidak menerima penolakan apapun. Menolak berarti siap untuk angkat kakak dari perusahaan" ujar Felix mengingat kan mereka semua dengan resiko kalau ada yang menolak untuk berangkat.


"Siap Tuan Felix. Kami akan selalu siap kapan saja diminta untuk melayani keluarga besar Asander kemanapun akan pergi" jawab Pilot yang memang sudah sangat lama bekerja dengan perusahaan Asander.


"Baiklah terimakasih. Cek akun masing masing ya. Selamat liburan" ujar Bram yang kali ini membalas perkataan dari Pilot. Bram baru selesai melakukan transferan vee kepada pilot, co pilot dan kru kabin atas pelayanan yang mereka berikan selama delapan jam penerbangan.


"Terimakasih Tuan Bram" ujar mereka semua dengan kompak.


Jero, Vian dan kedua adiknya, serta sahabatnya dan dua pengawal kemudian turun dari atas pesawat. Mereka sudah di tunggu oleh empat mobil limousine yang berjejer rapi di landasan pacu pesawat.


Vian menatap keempat mobil mewah itu. Di setiap pintu terpampang logo keluarga Asander dengan kepingan emas. Vian menatap takjup kepada keempat limousine tersebut.


"Aku semakin penasaran dengan siapa kalian bertiga" ujar Vian menunjuk Jero, Felix dan Bram dan memberikan tatapan ingin tahunya kepada ketiga saudara itu.


"Haha haha haha. Jangan sedih kakak ipar. Sebentar lagi kakak ipar akan semakin penasaran melihat sesuatu yang akan ditunjukkan oleh kekasih kakak ipar yang terlihat menyedihkan waktu menjadi asisten kakak ipar" ujar Bram sambil tersenyum melihat Vian menatap Jero dengan tatapan tolong jelaskan kepada aku semuanya.


"Bram, udah jangan buat kakak ipar kamu menjadi semakin menatap Abang dengan tatapan pengen makan hidup hidup." ujar Jero menggoda Vian sambil memberikan senyuman terbaiknya.


"Jero Asander kakak pertama dari dua adik adik yang suka ngusilin aku. Tolong anda jelaskan sejelas jelasnya kepada saya siapa Anda sebenarnya. Jangan buat saya semakin bingung dan seperti orang bodoh. Anda paham" ujar Vian dengan nada serius dan sedikit mengancam Jero.


Jero kemudian menatap Vian. Dia tau Vian sedang marah dan ingin cepat mendapatkan penjelasan dari Jero.


"Sayang sabar. Aku akan jelaskan semuanya. Kita akan ke suatu tempat yang akan menjelaskan semua semuanya" ujar Jero kepada Vian.


"Serius?" tanya Vian menatap Jero, Felix dan Bram bergantian.


Vian menatap ke arah Felix dan Bram. Kedua kakak beradik itu mengangguk menyetujui dan meyakinkan ucapan yang diberikan oleh Jero tadi.


"Serius kakak ipar" jawab Felix dan Bram bersamaan.


"Oke kalau begitu. Awas boong lagi. Aku akan pulang ke negara I dan kembali jadi istri Juan Aleksander" ujar Vian mengancam ketiga kakak beradik itu.


"Emang kuat jadi istri orang itu?" tanya Felix kepada Vian.


"Nggak" jawab Vian dengan cepat.


"Tadi cuma gertak doang aja" jawab Vian sambil melihat Jero dengan tatapan anehnya.


"Nggak mempan sayang. Aku tahu siapa kamu. Kamu nggak akan mungkin mau kembali dengan sukarela ke kandang macan kayak itu" ujar Jero yang sama sekali tidak terpancing dengan ancaman Vian tadi.


"Ye aku kira kepancing" ujar Vian menatap Jero.


"Kakak ipar kakak ipar. Ngancem Bang Jero bukan gitu. Bilang aja. Aku nggak mau berobat biar aja aku seperti orang gila saat di negara I. Nah harusnya itu" ujar Bram memberikan Vian jurus untuk mengancam Jero


"Bener juga. Besok akan langsung eksekusi kalau Opa ayang ayang aku menolak melakukan apa yang aku minta" ujar Vian tersenyum penuh kemenangan karena diberikan suatu ide yang luar biasa dari Bram.


Jero menatap Bram, Bram hanya bisa menunduk saja karena dia tahu. Dia telah salah berbicara kepada Vian. Vian yang melihat Jero menatap Bram dengan tatapan membunuh, dengan seketika menginjak kaki Jero.


"Jangan marah sama Bram. Kalau marah, aku akan marah sama kamu" ujar Vian yang kembali mengancam Jero dengan kalimat kalimatnya.


"Iya iya nggak akan marah. Santai aja" ujar Jer yang pada akhirnya mengalah kesekian kali kepada Vian.


Bram tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada Vian dengan gerakan bibirnya saja. Jero senang melihat Vian menjaga kedua adiknya dengan begitu baik.


"Bang, ini limousine mau jalan atau nggak sih. Kasihan Jeri dan dua pengawal kita di belakang itu. Udah kering nungguin kita untuk jalan" ujar Felix yang melihat tiga mobil limousine di belakang sudah menghidupkan lampu besar mereka.


"Jalan Pak. Tapi ke toko bunga dulu" ujar Jero memerintahkan sopir untuk melajukan mobil menuju toko bunga.


Vian menatap Jero. Jero meletakkan jarinya di mulut Vian. Vian kemudian kembali menutup mulutnya. Dia tahu kalau Jero tidak mau ada pertanyaan apapun dari Vian.


Jero, Felix dan Bram terlihat terdiam sepanjang jalan menuju toko bunga itu. Mereka terlihat sedang menahan emosi mereka masing masing.


Vian kemudian mengambil tangan Jero. Dia menggenggam tangan kekasihnya itu. Jero menatap Vian. Vian tersenyum kepada Jero. Jero berusaha membalas senyuman Vian. Tetapi sayangnya, senyuman Jero kali ini tidak sampai ke matanya sendiri. Vian tahu mereka bertiga sedang bergelut dengan emosi mereka masing masing. Vian tidak akan mengganggu lagi. Mereka bertiga sudah berjanji akan memberitahukan semuanya kepada Vian.