My Affair

My Affair
Penyerahan Dokumen Perceraian 3



Vian dan Jero saling memandang, mereka berdua sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jeri kepada Vian sebentar ini. Mereka berdua merasa kalau diri mereka dari tadi tidak ada melakukan hal hal yang aneh aneh. Tetapi semakin dipikir mereka semakin tidak mengetahui hal apa yang membuat Jeri dan Bram tertawa seperti itu.


"Maksudnya apaan ya Bang? Gue gagal paham?" ujar Vian yang memang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Jeri sebentar ini.


"Hahaha hahaha hahaha hahaha"


Jeri dan Bram tertawa terbahak bahak berbarengan. Hal ini semakin membuat Vian dan Jero semakin penasaran.


Vian menatap ke arah Jero. Vian merasa kalau dirinyalah yang ditertawakan oleh dua orang di depannya saat ini.


Jero yang paham dengan arti tatapan yang diberikan oleh Vian, mendadak langsung marah dan emosi kepada adik dan juga sahabatnya itu.


"Kalian berdua sudah bosan hidup?" ujar Jero bertanya dengan nada dingin saat melihat apa yang dilakukan oleh Jeri dan Bram.


"Lah baru aja bikin kagum, sekarang udah balik sangar lagi" ujar Bram. "Emang susah kalau udah bawaan dari orok" lanjutnya masih dengan nada mengejek Jero.


Vian sekarang menjadi mengerti kenapa tadi tiba tiba Jeri mengatakan hal tadi dan membuat dirinya dan Bram tertawa saat Vian dan Jero sama sekali tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Jeri.


"Haha haha haha, sekarang aku baru pahan kenapa Bang Jeri tadi mengatakan hal itu. Ternyata bukan aku sayang objeknya, melainkan kamu" Ujar


"Loe baca dululah semua dokumen. Setelah itu kalau ada yang kurang biar bisa dilengkapi oleh Vian" ujar Jero.


Jeri yang mendapatkan perintah seperti itu dari bos sekaligus sahabat terbaiknya itu, langsung saja membaca dokumen dokumen yang diserahkan oleh Vian kepada dirinya. Jeri memeriksa semuanya dengan sangat teliti, dia tidak mau melewatkan satu dokumen pun saat diperiksa.


Vian hanya bisa melihat apa yang dilakukan oleh Jeri, sedangkan Jero dan Bram sudah membahas kelanjutan pembicaraan tentang salah satu bisnis yang akan mereka buka baru kembali. Rencananya bisnis ini akan dikendalikan langsung oleh Bram.


"Gimana Bang?" ujar Vian saat melihat Jeri sudah menaruh kembali dokumen dokumen yang selesai dibacanya itu.


"Oke semua lengkap. Kamu tinggal tandatangan di surat ini" ujar Jeri memberikan selembar surat yang sudah disiapkan nya dari tadi.


Vian tanpa membaca sudah langsung menandatangani surat tersebut.


"Main tanda tangan saja. Nggak pake dibaca dulu Vi?" ujar Jeri saat melihat Vian yang langsung menandatangani surat yang disodorkan oleh Jeri kepada dirinya.


"Nggak perlu Bang, aku udah tau apa isinya. Kalau kamu menulis yang tidak tidak, maka...... kamu tau sendirilah apa akibatnya" ujar Vian sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya tetapi menambahkan kalimat berbumbu ancaman di dalam kalimat terakhirnya.


"Haha haha haha. Bener juga ya"


Jeri menyusun semua dokumen dokumen milik Vian ke dalam sebuah map.


"Kapan loe mau nganter itu ke pengadilan?" ujar Jero


"Yah yang udah tidak sabaran" goda Bram yang baru balik dari arah dapur. Bram terlihat membawa potong buah segar untuk mereka nikmati berempat.


"Besok gue anter" jawab Jeri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jadi, apa yang telah kamu lakukan terhadap istri saya?" ujar Papi bertanya kepada Mami yang sekarang terlihat menunduk sangat dalam.


Mami sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya untuk bertemu pandang dengan Papi. Mami saat ini benar benar takut dengan cara Papi menatap dirinya.


"Jawab saya Nyonya besar Aleksander, apa yang telah kamu lakukan terhadap istri pertama saya" ulang Papi dengan lebih mengeraskan lagi suaranya.


Juan yang berada di luar pintu ruang kerja, menjadi kaget luar biasa saat mendengar kalau Papi ternyata memiliki istri pertama.


"Jadi, Mami adalah........... "


"Jadi saya adalah anak.... "


Juan benar benar tidak menyangka saat mendengar semua yang dikatakan oleh Papi kepada Mami. Semua teriakan teriakan dari Papi yang membuat Juan menjadi tahu semua yang terjadi. Juan benar benar tidak menyangka kalau semua ini terjadi dan menimpa dirinya.


Juan masih setia di balik pintu ruangan tersebut. Dia sangat bersyukur kalau pintu itu tidak tertutup dengan rapat, sehingga ruangan yang sebenarnya kedap suara itu menjadi tidak kedap suara dan Juan bisa mendengar semua yang dikatakan oleh orang orang yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Jawab saya, kamu apakan istri saya?" teriak Papi kembali kepada Mami.


Nyonya besar Aleksander masih setia dengan diamnya. Dia sama sekali belum membuka suara sama sekali. Papi sebenarnya sudah tidak sabaran lagi melihat kelakuan dari Mami.


"Kenapa kamu masih saja diam. Sudah satu minggu saya menanyakan hal yang sama kepada Anda tetapi sikap Anda masih sama setiap harinya." ujar Papi yang sudah menahan emosinya dari seminggu yang lalu.


"Tolong jangan uji kesabaran saya Nyonya besar. Saya juga bisa murka kepada Anda. Dengan diam Anda seperti ini maka akan semakin membuat saya marah" lanjut Papi.


Mami masih saja diam, dia melihat dengan mata sendu ke arah Papi. Mami berharap kalau tatapan Papi sudah berubah kepada dirinya. Tetapi tatapan itu masih sama dengan tatapan tatapan sebelumnya. Papi masih terlalu marah kepada Mami.


"Hem maafkan aku sayang" ujar Mami dengan nada lemah.


Mami berharap dengan dia berkata seperti itu, Papi akan bersikap lembut kepada Mami. Sikap Papi tidak lagi seperti ini kepada Mami.


"Jangan pernah panggil aku sayang, sebelum kamu menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi" ujar Papi memberikan ultimatum kepada Mami.


"Aku tidak sudi kamu memanggil aku dengan sebutan seperti itu, karena bagi aku, setiap kata sayang memiliki makna yang sangat suci, bukan penuh kebusukan" lanjut Papi mengejek panggilan yang diberikan oleh Mami kepada dirinya.


"Jadi tolong panggil aku dengan sebutan yang pantas. Pikirkan terlebih dahulu sebelum kamu memanggil aku dengan kata kata itu" lanjut Papi.


Mami yang mendengar setiap kata yang mengandung kebencian yang dikeluarkan oleh Papi hanya bisa terdiam saja. Mami hanya bisa menunduk pasrah saja dengan semua yang dikatakan oleh Papi, Mami benar benar tidak percaya dengan apa yang di dengar oleh dirinya saat ini. Papi benar benar murka dan marah kepada dirinya. Suatu hal yang selama ini tidak pernah terjadi. Tetapi setelah pengusiran Vian dari mansion yang dilakukan oleh Juan, membuat Papi murka dan mencari tahu semua yang telah dilakukan oleh Mami kepada istri pertama Papi. Nyonya yang amat sangat baik dan disayangi oleh semua maid di mansion utama.