
Vian terus menggenggam tangan Jero sepanjang perjalanan menuju toko bunga. Vian memberikan energi tambahan kepada Jero melalui genggaman tangan itu. Vian tidak mau Jero terlihat sangat bersedih karena semua yang telah terjadi. Vian akan selalu memberikan Jero dukungan dan semangat untuk melakukan semuanya.
Tak berapa lama, mobil berbelok masuk ke dalam parkiran toko bunga. Mereka semua kemudian turun dari mobil. Vian dan Jero bergenggaman tangan menuju toko bunga.
Bram terlihat menyeka sudut matanya saat dia masuk ke dalam toko bunga itu. Sedangkan Felix yang lebih bisa mengontrol pikirannya hanya larut dalam kesedihannya sendiri. Semua itu sangat bisa dilihat jelas oleh Vian. Perubahan dari raut wajah Jero, Felix, Bram dan Jeri saat masuk ke dalam toko bunga sangat terlihat jelas sekali.
"Sayang" ujar Vian melihat Jero yang terlihat terdiam tanpa berkata apa apa kepada siapapun.
"Aku baik baik saja sayang" ujae Jero meyakinkan Vian.
Jero semakin erat menggenggam tangan Vian. Jero seakan menggantung hidupnya di tangan Vian.
"Yakin kuat sayang?" tanya Vian yang meragukan jawaban dari Jero.
"Yakin sayang. Aku tidak apa apa" ujar Jero menatap Vian, dengan tatapan meyakinkan Vian kalau dirinya baik baik saja.
Vian tersenyum kepada Jero. Dia tau kalau Jero sedang berusaha meyakinkan dirinya, kalau dia dalam keadaan baik baik saja.
"Bang, Abang beli bunga apa?" tanya Bram kepada Jero.
"Seperti biasa. Kamu sama Felix juga beli yang biasa aja. Kita akan membawakan bunga yang sama setiap kita ke sana" ujar Jero memerintahkan kedua adiknya untuk tidak mengganti bunga yang akan mereka bawa.
"Siap Bang. Kami juga udah ambil bunga yang sama" ujar Bram sambil mengangkat bunga yang dibelinya.
"Tuan Jero, Tuan Felix, Tuan Bram" sapa seseorang yang terlihat seperti manager di toko bunga itu.
"Hay Tuan. Kami mau mengambil bunga seperti biasanya" ujar Felix memberitahukan maksud kedatangan mereka ke toko bunga itu.
"Silahkan Tuan. Tetapi sayangnya hanya itu yang ada lagi. Yang lainnya sudah habis terjual Tuan. " ujar Manager memberitahukan persediaan bunga yang ada di toko.
"Tidak masalah manager. Yang penting bunga yang kami mau ada. Kalau begitu kami jalan dulu" kata Felix.
Jero, Vian dan kedua adiknya berjalan keluar dari toko bunga. Jeri yang sudah mengambil bunga yang diinginkannya sudah berdiri di dekat mobil.
"Oke, kita lanjut ke tempat biasa." ujar Felix memberitahukan kepada empat sopir mobil limousine tujuan mereka selanjutnya.
Keempat mobil mewah hitam itu bergerak menuju tempat berikutnya. Mereka akan menuju titik awal cerita kehidupan Jero dan kedua adiknya akan di dengar oleh Vian.
"Sayang kita kemana lagi?" tanya Vian saat melihat limousine memasuki daerah yang sepi. Seketika bulu kuduk Vian berdiri.
"Ke suatu tempat dimana cerita itu akan dimulai sayang" ujar Jero tersenyum kepada Vian.
"Oh baiklah" ujar Vian, sambil menatap dan membalas senyuman Jero.
Keempat mobil kemudian berhenti di tepi jalan yang cukup sepi. Vian melihat keluar, dari dalam mobil, Vian bisa melihat kuburan yang ada di area yang luas itu.
"Sayang, bukannya ini adalah area makam?" tanya Vian memastikan kepada Jero apa yang dilihatnya.
"Benar sayang. Ini adalah area makam. Cerita akan di mulai dari sini sayang" kata Jero menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Vian.
Mereka kemudian berjalan masuk ke dalam area makam yang terlihat sangat tertata dengan rapi itu. Vian bisa memastikan kalau mereka mereka yang dikubur di sini adalah dari kalangan orang berduit semuanya.
Vian bisa menyimpulkan seperti itu karena kuburan tersebut tertata dengan sangat rapi dan indah. Benar benar kuburan yang terawat.
Mereka akhirnya sampai di makam yang hanya satu satunya yang ada di area itu. Jero, Felix dan Bram serta Jeri diikuti oleh Vian berjongkok di depan gundukan tanah yang sudah ditanami dengan rerumputan hijau.
"Mommy, kami bertiga pulang Mommy, tu di tambah dengan anak yang satu itu Mommy. Anak yang selalu memilih tinggal dengan kita karena benci dengan keluarga tempat Papi dan Maminya bekerja" ujar Jero mulai berbicara kepada kuburan itu.
Jero berbicara sambil memegang batu nisan yang bertuliskan Greta Asander Wijaya. Meninggal delapan tahun yang lalu.
"Satu lagi Mommy, mommy di atas sana pasti bisa melihat sesosok wanita cantik yang sedang bersama kami. Dia adalah Vian Bramantya Mommy. Mommy pasti ingat dengan dia." ujar Jero.
"Mommy ingatkan, waktu itu aku berjanji ke mommy untuk membawa dia bertemu dengan Mommy. Sekarang janji itu sudah aku penuhi Mommy. Jadi, Mommy di atas sana jangan sedih lagi ya. Aku cinta Mommy. Aku akan wajudkan semua keinginan Mommy" kata Jero sambil mengusap batu nisan itu.
"Sayang sini" ujar Jero mengajak Vian untuk duduk di sebelahnya.
"Ini adalah kuburan Mommy. Mommy dari dulu sangat suka dengan kamu. Kamu adalah anak sahabat Mommy. Mommy aku dan Mami kamu bersahabat baik sayang" ujar Jero memulai ceritanya.
Beberapa pengawal yang melihat kali ini Tuan mereka akan lama di makam mommy, membawa beberapa payung sangat lebar untuk melindungi Tuan dan Nona mereka dari terik mentari.
"Mereka berdua berjanji untuk menikahkan kita berdua sayang. Daddy dan Papi kamu juga setuju untuk menikahkan kita berdua dengan niat yang tulus." ujar Jero mulai membuka tabir semua rahasia yang disimpannya selama ini.
"Maksud kamu sayang? Aku benar benar tidak mengerti Jero. Ada apa dengan semua ini. Tolong ceritakan yang jelas kepada aku Jero" ujar Vian memohon kepada Jero untuk menjelaskan semuanya.
"Nanti di mansion" jawab Jero.
Jawaban yang diberikan oleh Jero semakin membuat Vian penasaran. Jero benar benar menguras emosi Vian. Vian tidak menyangka Jero akan melakukan hal ini kepada dirinya.
"Sayang" ujar Vian yang sudah kembali tidak sabaran lagi untuk mendengar apa yang akan diceritakan oleh Jero kepada dirinya.
"Sayang, aku mohon, nanti di mansion" ujar Jero dengan nada yang sudah tidak bisa dibantah lagi oleh Vian.
"Oke lah. Di mansion" ujar Vian yang terpaksa mengalah.
"Mommy, kami pamit pulang dulu ya. Besok kami ke sini lagi Mommy" ujar Jero berpamitan dengan Mommy nya yang sudah tidak ada lagi itu.
Jero kemudian mengusap dengan sedih batu nisan orang tuanya itu. Jero tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Mommy nya tidak merawat dirinya waktu kejadian itu.
"Mommy, Bram datang Mommy. Bram selalu tepati janji Bram ke Mommy untuk selalu menjaga dua abang Bram ini. Bram nggak pernah jahat lagi seperti dulu Mommy. Mommy senyum dan bahagia di sana ya. Bram janji akan menjalankan semua pesan Mommy ke Bram" ujar Bram sambil mengusap nisan seorang Ibu yang telah menganggapnya sebagai seorang anak kandung. Seorang Ibu yang telah memberikan Bram kasih sayang yang melimpah limpah.
"Mommy ini Felix. Felix masih kayak dulu Mommy dikit bicara kepada orang lain. Tapi mommy tau kan ya, kalau sama Mommy Felix akan ngomong terus nggak akan berhenti berhenti. Mommy, Felix udah berhasil melaksanakan satu tugas balas dendam itu mommy." ujar Felix dengan bangganya bercerita kepada Mommy.
Bram tiba tiba menginjak kaki Felix. Felix suda menceritakan tentang balas dendam itu.
"Mommy, Felix tau balas dendam itu nggak baik. Tapi Felix nggak mau melihat mereka hidup bahagia sedangkan kita dulunya susah. Felix nggak mau. Kita susah bukan salah kita, tapi salah mereka" ujar Felix membela keinginannya untuk balas dendam.
"Mommy jangan marah ya. Jangan ngambek lagi. Ini kami bertiga bawakan bunga kesukaan Mommy dari toko bunga milik mommy yang diambil paksa wanita itu dan sekarang sudah jadi milik mommy lagi" ujar Felix dengan bangganya bercerita kepada Mommy.
Mereka bertiga kemudian meletakkan bunga tersebut di atas kuburan Mommy.
"Mommy kami pamit" ujar mereka serempak.
Vian menatap Jero, Felix dan Bram. Mereka bertiga telihat mengusap air mata yang akan jatuh itu. Vian sangat senang kekasihnya memiliki keluarga yang saling menyayangi dan melindungi.