My Affair

My Affair
BAB 82



Mereka semua berjalan dalam diam menuju mobil yang sudah parkir di tepi jalan masuk komplek pemakaman elit tersebut. Empat buah mobil mewah sudah berdiri berjejer di tepi jalan masuk ke makam. Beberapa pria berpakaian serba hitam dan berjas serta dilengkapi dengan memakai kaca mata hitam berdiri di samping setiap mobil. Mereka siap menunggu kedatangan Jero, Felix, Bram, Vian dan Jeri dari makam Mommy. Tempat yang paling pertama di temui oleh Jero dan kedua adiknya saat kembali ke negara E.


Hari sudah mulai terlihat mendung. Awan yang sedang mengandung hujan sudah terlihat sangat berat bergelayut di langit yang tinggi itu. Langit biru yang saat mereka datang tadi sudah tidak terlihat lagi. Sudah berubah menjadi langit mendung yang siap menurunkan dan mengeluarkan apa yang sedang dikandungnya dengan sangat berat.


Vian tiba tiba kembali menoleh ke belakang. Vian merasa dirinya dipanggil oleh seseorang untuk kembali menatap ke makam Mommy. Ntah kenapa tiba tiba Vian ingin melihat bagaimana keadaan pemakamam mommy.


Tiba tiba Vian mendadak berhenti saat itu juga. Vian melihat sesosok wanita melayang sambil melambaikan tangannya kepada Vian dan tersenyum dengan sangat cantiknya. Vian melihat wajah cantik itu sangat mirip degan orang yang dicintainya. Vian menatap lama wajah wanita itu. Wanita dengan senyum keibuan yang membuat siapa saja yang melihatnya akan merasakan kasih sayang seorang ibu yang sangat luar biasa hebatnya dan berjuang untuk ketiga putranya sehingga menjdi tiga putra yang sukses.


"Mommy" ujar Vian dengan suara yang dikira Vian pelan ternyata sangat keras dan terdengar oleh Jero dan lainnya.


Jero, Felix dan Bram serta Jeri terdiam saat Vian menyebutkan kata Mommy. Mereka melihat Vian masih menatap ke arah makam mommy. Mereka juga melakukan hal yang sama. Mereka berharap bisa melihat apa yang dilihat oleh Vian. Tetapi harapan tinggal harapan saja. Jero dan kedua adiknya serta Jeri sama sekali tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh Vian.


"Sayang kenapa?" tanya Jero sambil memegang kedua pundak Vian. Jero berharap Vian mengatakan apa yang dilihat olehnya. Mereka semua juga sangat rindu dengan sosok yang sedang dilihat Vian.


"Mommy senyum cantik sekali. Dia mirip sama kamu sayang" ujar Vian masih menatap ke arah makam itu. Posisi dimana Vian melihat sosok Mommy.


"Tadi mommy berdiri di sana. Mommy melambai kepada aku. Mommy juga tersenyum cantik" lanjut Vian mengatakan apa yang dilihatnya.


"Tau nggak sayang, posisi Mommy berdiri di sana. Mommy memakai pakaian putih." kata Vian menjelaskan di posisi mana dia tadi melihat Mommy itu.


"Kakak ipar serius nampak Mommy? Mommy cantik kan?" tanya Bram penasaran dengan apa yang dilihat oleh Vian.


"Ya sangat cantik" ujar Vian menjawab pertanyaan dari Bram.


"Padahal aku terus berdoa kepada Tuhan untuk dapat melihat Mommy walau hanya dalam bayangan aku saja. Tapi Tuhan nggak memberikan itu kepada aku. Tuhan memberikan itu kepada kakak ipar" ujar Bram yang memang selalu berdoa kepada Tuhan untuk bisa melihat Mommy nya walau hanya bayangan saja. Tetapi Tuhan belum mengabulkan permintaan Bram itu.


"Itu tandanya Mommy sangat senang kakak ipar bisa bertemu dengan mommy walaupun mommy udah di sana sangat jauh" ujar Felix berkata sambil menatap makam mommy yang sudah tertinggal di belakang.


Vian menatap Jero. Jero mengangguk meyakinkan Vian kalau yang dikatakan oleh Felix adalah benar, kalau Mommy sangat senang Vian sudah bersama dengan Jero saat ini.


"Ayuk kita ke mansion, hari sudah mulai gelap" ujar Jero yang melihat awan gelap yang mengandung hujan sudah bergelayut di atas langit. Jero tidak mau Vian kehujanan. Musim hujan yang sangat dingin sedang melanda negara E. Jadi, Jero tidak ingin Vian sakit karena terkena hujan.


Mereka berjalan cepat menuju mobil yang tidak seberapa jauh itu. Mereka harus berpacu dengan awan yang sudah mulai menurunkan hujan dengan rintik rintik.


Para pengawal membukakan pintu mobil untuk mereka semua. Mereka kembaki masuk ke dalam mobil masing masing. Saat mereka sudah masuk ke dalam mobil, hujan turun dengan sangat derasnya. Membuat makam Mommy menjadi basah.


"Kakak ipar. Mommy sangat senang dengan kedatangan kakak ipar" ujar Bram yang sangat bahagia bisa datang menemui mommy nya itu.


Mobil mulai bergerak meninggalkan area pemakaman mewah tersebut. Mobil mulai bergerak menuju mansion keluarga Asander. Vian menatap jalanan yang dilalui oleh empat limousine itu. Keempat mobil bergerak beriringan dengan kecepatan yang sama. Keempat mobil tidak ada yang saling mendahului. Mobil paling depan dan paling belakang adalah mobil yang berisi pengawal.


"Sayang, kita mau kemana lagi?" tanya Vian saat melihat mobil mulai bergerak ke daerah yang sejuk seperti daerah di pedesaan kalau di negara I. Vian menikmati pemandangan yang disajikan alam. Pemandangan yang membuat mata menjadi sejuk.


"Kita akan ke mansion keluarga Asander sayang. Mansion yang terletak di daerah sejuk. Kamu akan betah dan senang berada di mansion itu" ujar Jero mengatakan tujuan mereka kali ini. Mansion utama keluarga Asander adalah tujuan keempat limousine tersebut.


"Oh Oke. Berarti cerita selanjutnya dari sana kan sayang?" tanya Vian menatap ke arah Jero berharap Jero akan kembali melanjutkan ceritanya.


"Nggak sayang. Di situ nggak ada kenangan apa apa antara kami dengan mommy dan juga keluarga yang telah menghancurkan hidup kami." ujar Jero menatap jauh ke depan. Mansion itu di beli Jero setelah Mommy meninggal dan dia berhasil dengan bisnisnya.


"Tapi, aku akan tetap menceritakan semuanya kepada kamu di mansion. Sambil melihat fhoto yang sempat di bawa Mommy dari rumah terkutuk itu" ujar Jero yang sudah tidak sabar lagi untuk menceritakan semua kisah masa lalu keluarga Asander itu.


"Oke sayang. Tetapi aku rasa udah cukup untuk hari ini dengan kita datang ke makam mommy dan kamu menceritakan semua tentang mommy ke aku." ujar Vian yang tidak mau Jero memaksakan dirinya untuk menceritakan semuanya kepada Vian.


"Baiklah sayang. Oh ya besok kita akan ke perusahaan. Kamu ikut sama aku ya. Setelah itu baru kita akan bertemu dengan dokter Greta untuk berbagi cerita dengan dirinya" ujar Jero menjelaskan apa yang akan dilakukan mereka esok hari.


"Oke sayang. Aku siap untuk bertemu dengan dokter Greta" ujar Vian dengan semangat.


Vian tidak boleh mengecewakan Jero. Jero sudah mengorbankan semuanya untuk membawa Vian menemui dokter Greta. Sudah giliran Vian untuk membalas semuanya. Dengan cara untuk tidak menolak bertemu dengan dokter Greta.