
Dua bulan berlalu, maid Rina masih berusaha membujuk Daddy untuk menjadikan dirinya sebagai istri kedua Daddy. Tetapi Daddy masih belum memberikan keputusan apapun kepada maid Rina.
"Sabar sayang. Sekarang perusahaan sedang membutuhkan pikiran dan tenaga ekstra dari aku. Jadi, nanti setelah selesai semua urusan perusahaan aku akan menikahi kamu" ujar Daddy menjawab permintaan dan tuntutan dari Rina.
"Terus apa aku harus menanggung malu sendirian, perut aku makin lama akan makin membesar. Sedangkan orang orang tahu kalau aku belum punya suami. Aku nggak mau nanti dikatakan orang orang kalau anak aku tidak punya Daddy dan tidak punya nama belakang" ujar Rina dengan nada marahnya.
Rina meneteskan air matanya. Senjata paling ampuh yang biasanya dipakai oleh Rina untuk memuluskan semua yang diinginkan oleh Rina.
"Sayang, jangan menangis. Kita bisa menikah secara resmi, tapi aku harus mendapatkan tandatangan dari Mommy dulu. Mommy sampai sekarang saja tidak mau bertemu dengan aku. Bagaimana cara aku bisa bicara dengan dia." ujar Daddy yang termakan umpan air mata Rina.
"Terus kalau sampai anak ini lahir dia tetap tidk mengizinkan kamu menikahi aku, tentu anak ini tidak ada nama keluarganya" ujar Rina berteriak ke Daddy.
"Kalau seperti ini lebih baik aku pergi saja dari sini. Aku sudah tidak bisa menunggu lagi. Tiga bulan lagi anak ini akan lahir. Bagaimana bisa dia lahir tidak ada nama belakang keluarganya. Padahal Daddy nya adalah salah satu orang ternama di negara ini. Seorang pebisnis handal" ujar Rina menangis sampai terisak isak.
Rina harus memperjuangkan hak dan nama belakang anaknya. Rina tidak mau anaknya lahir ke dunia tanpa nama belakang.
"Aku nggak akan mengambil harta dari Jero atau Mommy, kalau mereka takut akan kehilangan harta itu" ujar Rina mulai memprovokasi Daddy.
Daddy yang mendengar apa yang dikatakan oleh Rina menjadi sangat kaget luar biasa.
"Maksudnya apa sayang, aku nggak mengerti sama sekali" ujar Daddy bertanya kembali kepada Rina.
"Coba jelaskan" lanjut Daddy.
Rina yang mendapatkan respon seperti itu dari Daddy membuat Rina menjadi sangat senang. Hal yang paling diharapkan oleh Rina menjadi sebuah kenyataan. Daddy penasaran dengan cerita yang dikatakan oleh Rina.
"Sebelumnya aku minta maaf ya sayang. Kalau cerita ini akan menyakitkan hati kamu. Aku sudah lama ingin menceritakannya. Tapi aku takut kalau kamu tidak percaya sama aku, atau menuduh aku mengada ngada" ujar Rina berkata sambil meneteskan air mata kesedihannya.
"Sayang ada apa? Cerita saja sayang. Aku nggak akan marah sama kamu" ujar Daddy yang sangat tidak tega melihat Rina menangis tersedu sedu seperti itu.
"Janji?" tanya Rina sambil menatap mesra kepada Daddy.
Cup. Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Rina.
"Janji" jawab Daddy.
"Jadi, hari itu tanpa sengaja saat aku pergi ke taman belakang, aku mendengar Mommy dan Jero mengobrol." ujar Rina memulai cerita yang semuanya hanya khayalan dari Rina saja.
"Mereka berdua berkata kalau mereka tidak akan pergi dari sini. Tidak akan mengizinkan aku menjadi istri kamu, karena menurut mereka aku hanya mengharapkan dan hanya menginginkan harta kamu saja" lanjut Rina menceritakan apa yang di dengarnya dalam dunia khayal.
"Itu adalah fitnah yang sangat keji sayang. Aku tidak mengharapkan harta kamu, semua kekayaan ini. Aku sama sekali tidak mengharapkannya. Mereka berdua sangat tega memfitnah aku sayang" Rina menangis tersedu sedu mengatakan hal itu kepada Daddy.
"Aku ingin dinikahi kamu, supaya anak yang lahir ini memiliki nama keluarga Daddynyadi belakang nama dia. Hanya itu saja, aku nggak ada minta yang lain" kata Rina semakin menjadi jadi membuat Dadd berada di ambang ketidak percayaan terhadap istri yang selama ini menemani dirinya dari mulai nol sampai sukses seperti sekarang.
Tangis Rina inilah yang menjadi sebuah keyakinan bagi daddy kalau apa yang dikatakan oleh Rina adalah kebenaran yang nggak bisa dibantah.
"Aku sungguh sungguh tidak mengharapkan harta sayang. Aku hanya mengharapkan anak aku yang lahir ini memiliki nama keluarga Ayahnya di belakang namanya itu saja" ujar Rina yang semakin terisak isak dan sangat mendalami aktingnya sebagai seseorang yang terzhalimi oleh orang lain.
"Mereka berdua sungguh terlalu tega memfitnah aku sayang. Fitnah yang sama sekali tidak ada buktinya" ujar Rina bertubi tubi memfitnah Mommy dan Jero.
Daddy hanya diam saja. Daddy tidak memberikan tanggapan apapun terhadap apa yang dikatakan oleh Rina. Rina melihat hal itu.
"Sayang, kamu tidak percaya sama apa yang aku katakan?" tanya Rina kepada Daddy.
"Percaya sayang. Tapi aku tidak menyangka kenapa mereka bisa menuduh kamu sampai sebegitunya. Padahal kamu adalah wanita baik baik sayang" ujar Daddy membawa Rina ke dalam pelukannya.
Rina menangis tersedu sedu. Dia sangat senang karena rencananya berhasil. Dia tidak boleh membuang kesempatan baik ini untuk mendapatkan keuntungan yang berkali kali lipat.
'Ini adalah kesempatan yang baik untuk aku' ujar Rina sambil tersenyum penuh kelicikan.
Rina melepaskan pelukan Daddy. Dia ingin mendengar apa tanggapan dari Daddy sebentar lagi tentang semua permasalahan yang dikatakan oleh Rina sebentar ini. Sebuah berita yang pastinya membuat Daddy kecewa dengan istri dan anak yang sangat dibanggakan nya dulu.
"Jadi, apa yang mau kamu lakukan terhadap mereka berdua sayang?" tanya Rina yang penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Daddy terhadap Mommy dan Jero atas laporan yang diberikan oleh Rina.
Daddy berdiri dari posisi tidurnya. Rina kaget melihat apa yang dilakukan oleh Daddy. Rina menatap wajah Daddy.
"Sayang apa yang akan kamu lakukan sayang?" tanya Rina sedikit ketakutan dengan reaksi yang diberikan oleh Daddy.
"Kamu tunggu di sini saja. Nggak usah ikut" ujar Daddy meminta Rina untuk tidak mengikuti dirinya keluar dari kamar Rina
"Tapi apa yang akan kamu lakukan sayang, jangan bikin aku jadi semakin berada di posisi yang disalahkan. Aku tidak ingin mengganggu kehidupan orang lain sayang" kata Rina sambil tersenyum bahagia dalam hatinya.
Bagi Daddy apa yang dikatakan oleh Rina adalah sebuah kebaikan. Padahal bagi Rina itu adalah sebuah siasat untuk membuat Daddy semakin cepat mengambil keputusan yang akan menguntungkan Rina ke depannya
"Sayang, aku mohon, jangan ke sana. Kamu sedang emosi sayang. Aku nggak mau kamu mengambil keputusan di saat kamu marah seperti sekarang ini" lanjut Rina seperti memberikan nasehat kepada Daddy. Padahal sebenarnya Rina memberikan kompor hangat terhadap Daddy.
"Sayang, aku mohon" ujar Rina dengan tangis harunya saat melihat Daddy tetap keluar dari dalam kamar.
Rina melihat Daddy yang semakin menjauh dari kamarnya.
"yes yes yes. Berhasil." ujar Rina bersorak kegirangan karena berhasil membuat Daddy semakin marah dan benci dengan Mommy dan Jero.
"Rasain kalian berdua. Gue mana mau berbagi dengan kalian berdua." lanjut Rina sambil tersenyum, senyum yang sangat mengerikan.