My Affair

My Affair
BAB 83



Empat buah mobil mewah terus bergerak menuju mansion utama keluarga Asander. Vian menatap jalanan yang mulai tidak ramai. Kiri kanan jalan yang terlihat adalah mansion mansion besar dengan pagar yang tinggi tinggi.


"Sayang ini komplek para orang kaya yang ada di negara ini sayang?" tanya Vian yang takjub melihat beberapa mansion yang sudah terlihat bak istana istana dalam cerita dongeng, tetapi yang dilihat Vian kali ini adalah kenyataan.


"Sepertinya begitu sayang, tapi aku juga nggak tau pasti" jawab Jero yang memang tidak mengetahui tentang mansion mansion mewah yang ada di sana. Jero juga tidak ambil perduli dengan siapa dan keluarga apa yang tinggal di situ. Bagi Jero yang tidak patut diurusnya makan tidak akan dia urus.


"Pak sopir pelan pelan" ujar Vian meminta sopir untuk pelan pelan saat melihat sebuah mansion yang sangat luas itu.


Bram melihat kearah Felix. Mereka asal lewat sini pasti menginjak pedal gas sangat dalam. Tapi kali ini Vian meminta sopir untuk pelan pelan. Hal yang berbeda dari biasanya.


Sopir menatap ke arah Bram. Bram mengangguk setuju sopir untuk memelankan mobil. Mereka berdua kemudian mengeluarkan ponsel masing masing, dan sibuk bermain dengan ponsel mereka.


"Sayang mansion ini luas sekali sayang. Paling luas dari yang lainnya. Aku kalau bisa masuk ke situ akan takjub melihatnya sayang" ujar Vian yang berkata terus terang tentang mansion yang ada di komplek itu dengan ukuran paling besar.


"Sayang, jangan lihat besarnya sayang. Kamu saat tau itu punya siapa pasti ragu untuk masuk ke sana" ujar Jero yang sama sekali tidak melihat ke arah mansion tersebut.


"Kok bisa?" tanya Vian tetap dengan melihat ke arah Jero.


"Ya bisalah, yang punya mansion itu dulunya adalah pengusaha yang sangat kaya di daerah ini. Terus dia mengusir anak dan istrinya dari mansion. Kemudian dia menikah dengan seorang maid yang ada di mansion itu" ujar Jero membuka sedikit cerita tentang mansion itu kepada Vian.


"Is menjijikkan, aku nggak jadilah masuk ke sana" ujar Vian.


"Tapi mansion nya keren sayang. Sangat hommy. Aku maulah punya mansion nuansa hommy gitu" ujar Vian memuji nuansa mansion yang dilihatnya dari ujung pagar sampai ujung pagar.


"Sayang, ini luas banget sayang mansion nya" ujar Vian yang tidak menyangka ada mansion seluas itu.


"Biasa aja mansion itu mah kakak ipar. Nggak luas luas kali. Ada yang lebih luas di ujung jalan itu. Belakangnya langsung pantai" ujar Bram memberitahukan kepada Vian tentang satu mansion yang sangat luas dan memiliki pantai pribadi di bagian belakangnya.


"Serius? Pemilik mansion itu pastilah orang kaya banget. Bisa punya pantai sendiri. Maulah makan malam di pantai privat kayak gitu. Kapan ya aku punya pantai sendiri" ujar Vian sambil menatap kosong ke arah depan.


Keempat limousine sudah berada di ujung jalan. Keempat limousine itu kemudian memasuki sebuah gerbang yang sangat indah. Gerbang itu terlihat berlogo huruf A dengan ukiran ukiran yang membuat logo itu menjadi semakin indah.


"Sayang, ini satu daerah yang lain lagi dengan deretan mansion yang ada di jalan sana?" tanya Vian saat mereka memasuki gerbang yang besar itu.


"Iya sayang, memang beda lagi." ujar Jero menjawab pertanyaan dari Vian.


Keempat limousine berhenti tepat di depan sebuah mansion yang terlihat sangat megah dan membuat nyaman.


Vian menatap ke arah mansion mewah itu. Dia melihat hawa mansion itu adalah hawa yang membawa siapa saja tinggal di dalam mansion akan merasa sangat nyaman.


"Sayang kenapa mobil kita berhenti di sini?" tanya Vian kepada Jero.


Seorang pengawal membuka ketiga pintu. Vian melihat ke arah Jero.


"Kita mau bertamu dulu sayang, baru ke mansion kamu?" tanya Vian yang kali ini penasaran kenapa keempat limousine berhenti di depan mansion orang lain.


"Hehe hehe, sorry Felix. Ini aku akan turun" ujar Vian yang kemudian keluar dari dalam limousine.


Jeri dan Felix juga keluar dari Limousine saat Vian sudah keluar terlebih dahulu. Vian menatap kearah mansion yang sangat besar itu.


"Sayang ini mansion siapa?" tanya Vian kepada Jero sambil matanya tidak lepas dari memandang mansion yang mewah dan megah itu.


"Selamat datang kembali Tuan Muda. Sudah lama sekali mansion ini tidak didatangi ke tiga Tuan Muda yang memilih untuk tinggal di negara I" ujar kepala pelayan menyambut kedatangan Jero dan kedua adiknya.


"Terimakasih Pak. Kami bertiga juga sangat senang bisa kembali ke mansion ini" ujar Felix menjawab sapaan dari kepala pelayan.


"Silahkan masuk Tuan. Makan siang sudah saya siapkan di ruang jamuan" ujar kepala pelayan.


Jero, Felix, Bram dan Jeri sudah berjalan masuk ke dalam mansion. Jero melihat Vian masih berdiri di tempatnya tadi.


"Sayang kenapa?" ujar Jero yang akhirnya kembali lagi menuju Vian.


"Jadi ini?" ujar Vian yang semakin kaget mengetahui apa yang disimpan rapat oleh Jero selama ini.


"Ya ini adalah mansion milik aku" jawab Jero sambil menatap Vian.


Vian terlihat limbung saat mendengar pengakuan dari Jero.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Jero kepada Vian, saat melihat Vian sudah tidak berdiri dengan nyaman di atas kedua kakinya.


"Sayang, apa ini kejutan terakhir untuk hari ini?" ujar Vian menatap Jero dengan tatapan memohon untuk hari ini, mansion inilah yang akan menjadi kejutan terakhir bagi Vian.


"Kalau masih ada lagi besok aja ya sayang. Aku udah nggak sanggup lagi menerimanya kalau masih ada sayang." lanjut Vian yang memegang kepalanya yang mendadak menjadi sangat sakit.


"Kamu kenapa sayang? Jangan bikin cemas" uajr Jero yang melihat Vian menahan rasa sakit di kepalanya akibat semua yang dilihat dan diketahuinya sekarang ini.


Tiba tiba bruk. Vian ambruk, hampir saja Vian terbaring di lantai yang keras itu. Jero dengan sigap langsung menangkap Vian yang jatuh pingsan.


"Vian" teriak Jero dengan sangat kerasnya.


"Bram Felix Jeri, panggil dokter" ujar Jero berteriak kepada kedua adiknya dan sahabatnya itu untuk memanggil dokter agar datang ke mansion.


"Kenapa dengan kakak ipar Bang?" ujar Bram yang membantu Jero mengangkat tubuh Vian yang ternyata berat itu.


"Felix kamu telpon dokter. Suruh mereka datang ke mansion dalam waktu lima belas menit paling lama. Lewat pecat" teriak Jero yang sudah panik melihat Vian yang jatuh pingsan karena semua yang dilihat dan didengarnya.


Jero dan Bram mengangkat Vian menuju kamar yang berada di lantai empat mansion mewah dan sangat megah itu. Mereka masuk ke dalam lift untuk menuju kamar Vian. Sedangkan Felix menghubungi dokter yang ada di rumah sakit untuk mengobati Vian.


Jeri yang melihat Vian pingsan, langsung menelpon Greta untuk datang ke mansion. Jeri tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Vian harus segera bertemu dengan Greta. Jeri tidak mau Vian terlambat mendapat pertolongan dari Greta