
Vian yang terbawa oleh nada dan irama penuh kerinduan yang dimainkan oleh Tama memakai biolanya itu, langsung saja memeluk Jero. Hal yang sama juga dilakukan oleh Greta, dua pasang kekasih itu mengambil posisi berdansa. Mereka berdua kemudian berdansa di lapangan rumput taman belakang villa. Mereka berdansa dengan sangat romantis. Dansa yang dilakukan secara mendadak tanpa ada persiapan sama sekali. Jero yang tidak pernah berdansa hanya bisa mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Vian. Hal yang sama juga berlaku kepada Jeri. Jeri yang juga tidak pintar berdansa akhirnya mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Greta.
Kelakuan dua pasang kekasih itu sontak membuat para pengawal menatap heran ke wajah wajah Jero dan Jeri. Wajah wajah yang tadi mengancam akan melenyapkan mereka kalau sesuatu terjadi kepada Felix, Bram, Tama dan Vian serta Greta, tetapi ternyata orang yang mengancam mereka itu sekarang asik berdansa tanpa memikirkan orang yang memperhatikan mereka dari tadi dan juga orang orang yang telah mereka ancam.
"Tuan muda tadi mengancam kita, sekarang dirinya berdansa dengan santainya. Mood Tuan muda sangat susah di tebak." ujar salah seorang pengawal yang tadi bertindak sebagai sopir Jero.
"Bener, gue kira Tuan muda Jeri tidak akan sekejam Tuan muda Jero, ternyata oh ternyata, lebih kejam Tuan Jeri dari pada Tuan Jero" kata pengawal yang tadi mengawal kegiatan yang dilakukan oleh Jeri dan Greta.
"Wow mereka memang tidak bisa lihat tempat" ujar Bram protes melihat apa yang dilakukan oleh dua pasang kekasih itu.
"Mereka seperti menganggap tidak ada kita di tempat ini" lanjut Bram berbicara dengan nada ntah seperti apa kepada Felix.
"Mau gimana lagi Bram. Sedangkan di taman yang jelas jelas orang ramai dan tidak dikenali aja mereka bisa melakukan itu, apalagi di sini yang mereka mengetahui siapa saja orang orang yang ada di sini" lanjut Felix menjawab keluhan dari Bram.
"Jadi ya kita nikmati ajalah Bram, apa yang mereka lakukan. Nggak usah di komplen lagi, karena tidak ada gunanya" ujar Felix melanjutkan memberikan penjelasan kepada Bram yang sedikit komplent dengan apa yang dilakukan oleh Jero, Vian, Jeri dan Greta di hamparan rumput yang seperti karpet di taman belakang villa.
"bener juga ya Bang. Ngapain dipikirin, mending kita lanjutkan memasak untuk makan malam romantis dua pasang kekasih itu" kata Bram yang mengajak Felix untuk mengolah masakan untuk menu makan malam dua pasang kekasih dan untuk mereka bertiga serta para pengawal yang sudah ikut menyukseskan acara kejutan untuk Jero dan Jeri serta kekasih mereka
Bram dan Felix kemudian menuju tempat bakar bakaran. Mereka mulai menaruh semua udang di atas pembakaran. Felix dan Bram mengoles udang udang tersebut dengan bumbu asam manis yang diolah oleh Felix. Beberapa orang pengawal yang bertindak sebagai pelayan datang untuk mengambil udang dan juga sea food yang lain untuk dihidangkan di atas meja makan, tempat dua pasang kekasih itu akan menikmati hidangan makan malam mereka.
Para pengawal yang sekarang bertindak sebagai pelayan itu menata dengan sangat bagus meja panjang tersebut. Tak lupa pula mereka menaruh sekuntum bunga mawar putih dan tulip merah di atas meja.
"Hay yang mau makan segala jenis yang di bakar ayo ke sini. Makanan sudah siap" ujar Bram memanggil para pengawal yang sudah kelaperan saat mencium aroma wangi dari sea food yang dibakar oleh Felix dan Bram.
Sedangkan Jero, Jeri, Vian dan Greta sudah duduk di meja untuk mereka berempat. Mereka mulai menikmati hidangan yang telah disajikan.
"Bram, Felix sini. Serahkan saja bakar membakar kepada pengawal pengawal itu" ujar Jero memanggil ke dua adiknya.
"Loe juga ke sini Tama. Sudah hentikan saja permainan biola kamu itu" lanjut Jero yang juga meminta Tama sahabatnya untuk duduk bersama mereka berenam.
Felix, Bram dan Tama kemudian menuju ketempat Jero dan yang lainnya duduk, tiga orang pengawal sudah menyiapkan tiga buah bangku unduk tempat duduk Felix, Bram dan Tama.
"Jadi sejak kapan kalian bertiga menyiapkan kejutan seperti ini?" ujar Jero penasaran dengan apa yang melatar belakangi kedua adik dan satu sahabatnya itu bisa memberikan kejutan yang sangat sangat tidak di sangka sangak oleh mereka berempat.
"Sejak aku menerima sebuah video" ujar Bram menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jero kepada mereka bertiga.
"video apa Bram?" ujar Jero yang tidak paham dengan jawaban yang diberikan oleg Bram sebentar ini.
"Video orang gendog gendongan Bang" jawab Bram langsung mengatakan video apa yang menjadi landasan dirinya dan yang lain memberikan kejutan seperti sekarang ini kepada Jero dan yang lainnya.
"Iya Bang tadi gue dapat kiriman video orang sedang main gendong gendongan di taman" ujar Bram memperjelas apa yang dikatakan oleh dirinya tadi kepada Jeri.
"Ooooo paham gue paham" lanjut Jeri yang sudah paham dengan apa yang dikatakan oleh Bram saat dirinya melihat ke arah wajah Jero yang sedikit cemberut mendengar apa yang dikatakan oleh Bram sebentar ini.
"udah udah uda, jangan dibahas lagi yang main gendong gendongan itu" lanjut Jero yang tidak mau lagi melanjutkan pembicaraan tentang main gendong gendongan antara dirinya denga Vian.
"Oh ya Tam, sejak kapan loe bisa main biola? Kenapa kami nggak pernah tahu ya?" kali ini Jeri yang bertanya kepada sahabatnya yang mendadak bisa bermain biola.
"Atau selama ini kami yang nggak tahu dengan bakat tersembunyi elo?" ujar Jeri bertanya kepada Tama tentang kenapa Tama bisa memainkan alat musik biola seperti tadi.
"Udah lama banget. Kaliannya aja yang nggak tahu tentang kepandaian gue yang satu itu" jawab Tama sambil bersikap acuh saja dengan pertanyaan yang diajukan oleh Jeri.
"Tapi kerenkan?" tanya Tama kepada mereka semua yang duduk di kursi tersebut.
"Keren banget Bang" jawab Bram dan memberikan dua jempolnya kepada Tama
"Luar biasa keren" kali ini Vian yang memuji permainan biola Tama yang membuat mereka berempat langsung turun ke lapangan rumput untuk berdansa menikmati alunan lagu romantis yang dimainkan oleh Tama.
"Biasa aja, gue juga belajar secara otodidak. Kebetulan tadi Bram ngomong untuk memberikan kejutan romantis kepada kalian berempat. Ya udah gue ikut dalam rencana yang di susun Bram" kata Tama menjelaskan kepada Jero dan yang lainnya.
"Nah Bram dan Felix cuma tahu kalau gue sedang ada kegiatan zoom yang nggak bisa gue tinggalin. Padahal gue sedang menghafal nada untuk memberikan kejutan kepada kalian semua"
"Akhirnya kejutan itu berhasil bukan. Sampai sampai membuat dua orang tuan muda yang terkenal tegas itu bergoyang dan mengikuti irama dengan cara berdansa" ujar Tama melanjutkan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh dirinya kepada Jero dan yang lainnya.
"Ooooo jadi Abang bohong dengan kami semua?" lanjut Bram bertanya kepada Tama.
"Sedikit" jawab Tama sambil tersenyum.
"Oh baiklah kami maafkan" kata Bram dengan nada sedikit santai dan sinis.
Mereka kemudian melanjutkan obrolan sambil menikmati bakar bakaran yang dihidangkan oleh pengawal yang sekarang sudah berubah fungsi menjadi pelayan. Mereka semua asik mengobrol, beberapa orang pengawal terlihat asik menonton pertandingan sepakbola yang terpampang di layar putih yang disediakan oleh Bram untuk mereka karoeke karoeke bareng. Tetapi ternyata layar itu sudah di sabotase oleh para pengawal untuk menonton bola. Bram kali ini mengalah dengan apa yang dilakukan oleh pengawalnya.
Tepat pukul dua dini hari, mereka semua membubarkan diri. Jero menutup kejutan itu dengan mengucapkan terimakasih atas semua yang dilakukan. Jero juga meminta maaf kepada beberapa pengawal yang tadi sempat diancam oleh Jero untuk dilenyapkan karena telah berbuat sesuatu di luar batasan yang sudah ditetapkan saat mereka melamar untuk menjadi pengawal Jero dan keluarga Asander lainnya.
Mereka semua kemudian masuk ke dalam villa. Bram sudah meminta pengawal untuk membersihkan besok pagi saja sisa sisa kejutan yang diberikan kepada Jero dan yang lainnya. Mereka semua kemudian masuk ke dalam kamar masing masing dan beristirahat untuk persiapan perjalanan menuju puncak es esok harinya.