
Jero membukakan pintu kamar untuk Vian. Dia menemani Vian sampai ke dalam kamar itu.
"Kamu istirahat dulu ya, aku akan membicarakan semuanya kepada Jeri dann dua adik aku itu dulu." ujar Jero sambil duduk di sebelah Vian di atas ranjang Vian.
Jero meraih tangan Vian dan menggenggamnya. Jero mengusap usap punggung tangan Vian dengan jari jarinya.
"Kamu jangan cemas dan takut lagi ya. Kita akan cari jalan keluarnya. Kalau kamu nggak mau ke rumah sakit lagi, maka nggak usah aja ke sana. Jangan semuanya dipikirkan ya." ujar Jero sambil menatap wajah cantik kekasihnya yang sekarang terlihat kuyu dan lesu karena omongan yang dilontarkan oleh mertuanya itu.
Vian menyandarkan kepalanya ke pundak Jero. Dia tidak ingin Jero meninggalkan dirinya sendirian di kamar. Tapi rasa lelahnya tidak bisa dibohongi oleh Vian.
"Kenapa?" tanya Jero saat melihat Vian hanya diam saja dan terlihat tidak berniat untuk membaringkan tubuhnya di atas ranjang besar itu.
"Aku ikut ke bawah lagi ya. Aku nggak mau ditinggal sendirian" ujar Vian yang tidak mau berpisah dari Jero.
Vian takut kalau dia tidur di kamarnya sendirian, nanti Jero pasti akan pergi dan ngamuk ngamuk kepada Juan Aleksander.
"Tapi di sini ada ranjang untuk kamu tidur. Sedangkan di ruang kerja aku hanya ada sofa. Kamu akan sakit sakit kalau tidur di sofa" ujar Jero kepada Vian yang nggak mau Vian nanti capek capek kalau tidur di sofa.
"Nggak apa apa, tidur di sofa, tapi ada kamu. Aku nggak mau jauh dari kamu" ujar Vian yang air matanya akan kembali turun.
Jero menatap Vian. Dia tidak mau Vian menangis kembali. Akhirnya dengan berat hati Jero terpaksa harus setuju dengan keinginan Vian.
"Oke, kamu ikut dengan aku kembali ke ruang kerja" ujar Jero mengalah dengan keinginan Vian.
Mereka berdua kembali menuju lantai bawah tempat ruangan kerja Jero dan yang lainnya berada. Jero, Felix dan Bram sudah menunggu Jero di sana. Mereka menunggu sambil berbincang bincang tentang apa yang bisa mereka lakukan untuk Vian.
Jero membuka pintu ruang kerja, Jeri dan kedua adik Jero melihat ke arah pintu ruang kerja yang dibuka dari luar. Terlihat di depan pintu Jero yang menggandeng Vian.
"Loh tapi kakak ipar mau istirahat? Kok balik sini lagi?" tanya Bram saat melihat Vian berada di sebelah Jero.
"Katanya dia nggak mau pisah dari aku. Makanya di milih untuk tidur di sofa" kata Jero memberitahukan kepada mereka semua kenapa Vian kembali ke dalam ruangan kerja.
"Ha ha ha ha. Aku tau Bang kenapa kakak ipar bisa nggak mau pisah dari Abang" ujar Bram menahan senyum gelinya.
Vian menatap Bram dengan tatapan menyelidik.
'Apa yang ada dalam otak Bram ya' ujar Vian dalam hatinya.
"Apa Bram?" tanya Jero penasaran.
Jero sebenarnya memang penasaran dengan keinginan Vian tadi. Pertama saat pulang ke mansion Vian mengatakan dia lelah dan mau istirahat di kamar. Nah saat Jero mengantarkan Vian ke kamar, Vian kembali berubah pikiran dan lebih memilih untuk beristirahat di ruang kerja.
"Kayaknya Kakak ipar takut kalau abang akan datang ke mansion Juan Aleksander. Abang akan ngamuk ngamuk di sana" ujar Bram menebak apa yang ada dalam otak cantik Vian itu.
"Apa benar begitu sayang?" tanya Jero kepada Vian yang terlihat terdiam mendengar apa yang diucapkan oleh Bram adalah sebuah kebenaran.
"Iya sayang. Aku nggak mau kamu ribut dengan Juan Aleksander. Aku nggak mau makin memperkeruh suasana sayang. Nanti masuk berita lagi, aku lagi yang jadi tumpuan masalahnya. Aku capek sayang" ujar Vian berkata sambil menundukkan kepalanya.
"Hay, lihat aku" ujar Jero sambil mengangkat dagu Vian dengan dua jarinya.
Vian mengangkat kepalanya, dia menatap ke arah Jero. Jero tersenyum kepada Vian.
"Aku tidak akan membuat kamu dalam masalah. Malahan aku berusaha untuk mengeluarkan kamu dalam masalah yang datang ini sayang" ujar Jero yang memang tidak ingin menambah permasalahan Vian, malahan Jero akan memikirkan yang sebaliknya.
"Kamu tidur di sofa itu ya." ujar Jero menunjuk sebuah sofa yang terlihat sangat luas dan cukup panjang untuk dipakai Vian tidur.
Vian berjalan ke sofa itu. Dia membaringkan tubuh lelahnya di sana. Jero mengambilkan selimut untuk Vian. Sebuah selimut keluaran brand ternama dengan logo H menutupi tubuh Vian.
"Istirahat ya. Jangan pikir yang aneh aneh. Aku nggak mau kamu sakit" ujar Jero mengusap dan mencium puncak kepala Vian.
Vian memberikan senyumnya kepada Jero. Dia terlihat sangat bahagia dengan perlakuan yang diberikan oleh Jero kepada dirinya. Jero kembali menuju Jeri dan kedua adiknya yang sudah duduk di sofa.
Vian yang melihat Jero sudah kembali ke sofa, memenangkan tubuhnya ke arah Jero. Vian ingin tertidur sambil menatap wajah tampan kekasih hatinya itu. Tak lama menatap Jero, Vian akhirnya tertidur. Jero melihat itu.
"Oke sekarang kita bisa mulai. Jadi, apa yang harus kita lakukan Jeri?" tanya Jero kepada sahabat terbaiknya itu.
"Kalau menurut analisa gue, sekarang ini yang jadi terget orang banyak adalah Vian, karena konferensi pers yang dilakukan oleh tua bangka itu." ujar Jeri mulai mengemukakan pendapatnya kepada Jero dan kedua adiknya itu.
"Orang orang karyawan, dokter dan suster rumah sakit bisa kita tutup mulutnya. Sedangkan orang orang yang di luar sana tidak akan bisa kita tutup mulut mereka pakai apapun." lanjut Jeri mengatakan pandangan pandangannya terhadap permasalahan ini.
"Jadi, lebih baik Vian mengurus perceraian mereka secepatnya, kalau bisa besok. Gue akan minta Vian untuk menuliskan surat kuasa menunjuk gue sebagai pengacaranya." lanjut Jeri kepada mereka bertiga yang ada di dalam ruang kerja itu.
"Nah, saat aku mengurus perceraian antara Vian dan Juan Aleksander yang akan menghabiskan waktu sangat lama itu, lebih baik kamu mengajak Vian ke negara E." kata Jeri memberitahukan apa yang harus dilakukan oleh Jero.
"Sekalian urus perusahaan di sana. Bapak dan Ibuk nggak mau balik ke negara E" ujar Jeri yang memutuskan untuk tinggal di negara ini saja lagi, mengikuti kemauan kedua orang tuanya.
"Yah, gue kira bisa liburan di sana. Kiranya kerja." ujar Jero mengeluh karena di suruh ke negara E untuk menggantikan pekerjaan Jeri.
"Enak aja liburan. Elo di sana liburan, gue kerja di sini. Enak aja loe" ujar Jeri menatap Jero dengan tatapan kesal.
"Gue nggak bisa memastikannya, tapi satu satunya jalan memang itu. Tapi, kita harus bertanya kepada Vian, apa dia membawa surat nikahnya atau tidak" ujar Jeri yang ingat kalau di negara ini saat pengajuan gugatan pernikahan dilakukan oleh salah satu pihak.
"Nah itu gue yang nggak tau. Besok lah gue tanya sama Vian apa dia sempat membawa surat surat pernikahan dia dengan Juan." ujar Jero yang memang saat mereka pergi malam itu, Vian hanya membawa tas kerjanya dan juga buku buku perkuliahan Vian.
Mereka semua kembali terdiam. Ini permasalahan yang cukup berat. Juan Aleksander tidak akan dengan semudah itu melepaskan Juan Aleksander. Mereka harus memberikan bukti bukti kalau pernikahan itu dilakukan secara terpaksa.
"Kita harus menghadirkan saksi untuk gugatan perceraian ini. Kita nggak mungkin akan memenangkan kasus kalau saksi tidak ada." ujar Jeri kembali.
"Saksi?" ujar Jero mengulang kata saksi dengan pelan.
"Hanya ada satu saksi untuk permasalahan ini yaitu keluarga Bramantya" ujar Jero menyebutkan nama keluarga Vian.
"Tapi ini jujur, gue males banget urusan dengan dia, semenjak Vian menceritakan semuanya. Keluarga itu sendirilah yang menjerumuskan anak mereka satu satunya ke jurang pernikahan itu. Pada akhirnya mereka bahagia mendapatkan uang, anak mereka mendapatkan siksaan." ujar Jero yang telinganya langsung gatal mendengar dirinya menyebut nama Bramantya.
"Ya siapa lagi Bang, Kita hanya bisa meminta tolong kepada mereka. Bagaimanapun hanya mereka satu satunya yang bisa menjadi saksi dalam pernikahan antara Juan Aleksander dengan Vian. Mau tidak mau memang harus bertemu dengan mereka" ujar Felix menjawab keluhan dari Jero.
"Tapi jujur, abang males banget." kata Jero tetap menolak untuk bertemu dengan orang tua Vian.
"Apa yang dikatakan oleh Felux adalah benar Jero. Loe atau kita semua harus bertemu dengan kedua orang tua Vian. Kita harus meminta mereka mnjadi saksi untuk Vian. Mereka harus mengatakan kalau pernikahan antara Vian dengan Juan adalah pernikahan bisnis atau pernikahan yang dilandasi dengan pemaksaan" ujar Jeri memperkuat apa yang dikatakan oleh Felix.
"Atau, kita tidak usah saja mengurus perceraian itu" lanjut Jeri melemparkan bom ke wajah Jero.
"Oke oke. Besok kita akan ke sana. Felix, kamu siap siap dengan uang tunai yang akan diminta kedua orang tua itu. Abang yakin mereka kembali akan melakukan hal yang sama kepada kita." ujar Jero memberikan perintahnya kepada Felix.
"Siap Bang." jawab Felix menjawab perintah yang diberikan oleh Jero
"Sedangkan loe berdua ikut besok saat gue mau ke rumah mereka." ujar Jero memberikan perintah selanjutnya kepada Bram dan Jeri.
"Kakak ipar apa perlu kita bawa Bang?" tanya Bram kepada Jeri dan Jero.
"Perlu, kita akan bawa Vian sekalian. Biar Vian menceritakan kepada kedua orang tuanya, apa perlakuan yang diterima oleh Vian, karena perbuatan kedua orang tuanya" kata Jeri menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Bram.
"Apakah aman kita membawa Vian ke saba, Jeri?" tanya Jero yang terdengar sedikit ragu untuk membawa Vian ke rumah kedua orang tuanya.
"Kita harus bawa Vian ke sana Jero. Bagaimanapun Vian harus membicarakan apa yang terjadi dalam kehidupannya setelah pernikahan kepada kedua orang tuanya itu" ujar Jeri menjawab keragu raguan dari seorang Jero.
"Kamu jangan ragu lagi Jero. Bagaimanapun ini semua demi kebaikan Vian. Setelah pertemuan dengan orang tuanya, kita akan langsung mengurus surat gugatan perceraian itu" lanjut Jeri memberitahukan langkah langkah yang akan dilakukannya untuk mengurus surat gugatan perceraian Vian.
"Setelah Vian membuat surat gugatannya, kalian berdua bisa pergi ke negara E. Sisanya gue yang akan mengurusnya di sini. Saat, gue membutuhkan Vian untuk hadir, elo dan Vian bisa terbang dengan jet pribadi kita ke sini" ujar Jeri melanjutkan rencana rencana yang akan dilakukan oleh dirinya untuk melaksanakan penggugatan perceraian Vian atas Juan Aleksander.
"Bram, kamu ikut dengan abang ke negara E. Serahkan JFB Grub ke Jeri. Dia tidak akan tiap hari harus mengurus gugatan cerai itu." ujar Jero membawa Bram ke negara E dan menyerahkan JFB Grub kepada Jeri untuk dipimpin oleh Jeri selama mereka berdua di negara E.
"Siap Bang" jawab Bram yang sangat suka di bawa oleh Jero ke negara E. Bram sudah lama tidak ke negara itu. Dia kangen untuk melihat makam mommy yang sudah lama tidak mereka kunjungi.
"Kenapa Gue dapat tugas lagi Jero." ujar Jeri yang tidak menyangka Jero akan memberikan tanggung jawab JFB Grub kepada dirinya.
"JFB tidak sebesar Asander Grub Jeri. Loe dilarang menolak" ujar Jero yang dengan setengah memaksa meminta Jeri untuk memimpin perusahaan JFB Grub itu.
"Huft, baiklah kalau memang harus seperti itu. Gue akan pimpin JFB Grub selama kalian berdua di negara E" ujar Jeri yang akhirnya menerima jabatan yang ditinggalkan oleh Bram itu. Dia tidak menyangka kalau dia tetap harus memimpin perusahaan.
"Felix, kamu tetap mengurus perusahaan Asander yang di sini. Apabila kamu mau juga ke negara E, kamu, abang izinkan untuk berkunjung ke sana, saat pekerjaan di sini tidak banyak dan bisa dilakukan dari negara E" ujar Jero memberikan perintah kepada Felix.
"Siap Bang. Aku akan ke sana pada hari yang sudah kita rencanakan dari jauh jauh hari. Tapi tolong saat Abang dan Bram sampai di negara E, kasih mommy bunga lili putih ya. Tolong katakan itu adalah kado dari aku." ujar Felix yang meminta Jero dan Bram untuk memberikan Mommy mereka karangan bunga lili putih.
Mereka berempat kemudian terdiam cukup lama. Jero sibuk dengan pemikirannya untuk datang ke rumah Vian. Sedangkan Jeri sibuk dengan pikirannya bagaimana dia menjalankan JFB Grub sesuai dengan permintaan Jero. Dia masih pusing dan harus belajar banyak kepada Bram selama dua hari ini untuk belajar bisnis di negara ini dan juga belajar tentang perusahaan JFB Grub itu sendiri.
Bram dalam kepalanya sudah dia susun kegiatan apa saja yang akan dilakukan oleh Bram saat sampai di negara E. Negara asal Bram sendiri. Negara yang menyimpan jutaan rahasia dari berdirinya keluarga Asander. Sebuah keluarga yang disegani di negara E, karena kekuatan yang dipunyai oleh keluarga itu. Bisnis yang dimiliki oleh keluarga itu hampir pada semua jenis. Sebut hotel maka hotel terbesar dan termewah serta terbanyak adalah milik Asander Grub. Restoran juga sama terbanyak adalah milik Asander Grub. Mall juga sama banyak milik Asander Grub.
"Oke karena sudah malam. Besok Jeri, dan Gue serta Vian akan ke rumah Bramantya. Kita akan meminta mereka menjadi saksi saat sidang perceraian antara Vian dengan Juan. Setelah itu kita akan pergi mengurus gugatan perceraian. Lusa gue, Vian dan Bram akan berangkat ke negara E" ujar Jero mengutarakan rencana yang akan dilakukan dalam tiga hari tersibuk ini.
"Semoga semuanya dilancarkan oleh Tuhan" uajr Jero.
"Aamiin" jawab Felix, Bram dan Jeri bersamaan.
"Loe tidur di sini Bang?" tanya Felix saat melihat Jero menyusun bantalan sofa.
"Yup. Nggak mungkin ninggalin Vian sendirian di sini" ujar Jero.
"kamu sana tidur. Abang tidak apa apa tinggal di sini sendirian" ujar Jero meminta Felix untuk meninggalkan dirinya dan Vian di ruangan kerja itu.
"Aku ke kamar dulu Bang" ujar Felix.
Felix keluar dari rungan kerja Jero. Dia menutup pintu ruangan itu dengan sangat pelan.
"Gue akan balaskan semuanya Vian. Gue janji. Mommy mereka sudah mulai lagi Mommy. Doakan aku, Felix dan Bram bisa mengatasi semua permasalahan ini Mommy" ujar Jero dalam hatinya.
Jero kemudian menutup matanya perlahan. Dia sangat lelah hari ini dalam menghadapi semua permasalahan yang menimpa Vian karena ulah keluarga Aleksander.