My Affair

My Affair
Perayaan Kemenangan 2



"Sudah sana hidangkan makan malam pengunjung kita. Jangan biarkan mereka menunggu lama. Bisa bisa mereka mengamuk semuanya nanti" ujar Manager memberikan perintah kepada semua pelayan untuk menghidangkan pesanan makanan yang dipesan oleh Bram tadi siang.


"Siap Manager" jawab semua pelayan dengan kompak


"Jangan sampai tertukar" kata manager selanjutnya


"Siap tidak manager" jawab semua pelayan.


"Jangan membuat kesalahan apapun, seperti yang dipesankan oleh CEO kepada kita semua" lanjut manager mengingatkan sekali lagi kepada pelayan apa yang dikatakan oleh CEO mereka siang tadi saat CEO menerima telpon untuk bokingan keluarga Asander yang akan makan malam dan mengadakan pesta perayaan di kafe mereka. Sebuah kerhotmatan sekaligus musibah bagi kafe tersebut.


"Siap Manager, kami akan melakukan semuanya dengan sebaik baiknya. Percayakan saja kepada kami manager. Kami tidak akan membuat malu kafe kita ini" ujar kepala pelayan menjawab perkataan yang disampaikan oleh manager kepada mereka semua.


Semua pelayan yang ada di kafe itu mengangkat baki masing masing yang diatasnya sudah tersedia menu makanan yang akan dinikmati oleh Jero berserta semua anggota keluarganya dan para pengawal yang berjumlah lebih dari tiga puluh orang itu. Para pelayan kafe yang membawa makanan berjalan dalam dua barisan memanjang, mereka terbagi ke dalam dua regu. Satu regu untuk menghidangkan makanan untuk Jero dan semua anggota keluarganya. Sedangkan satu regu lagi untuk menghidangkan makanan kepada semua pengawal yang ada di sana. Para pelayan berjalan dengan rapi dan melangkah dengan irama yang sama menuju tempat Jero dan pengawal duduk.


Manager melihat dengan rasa cemas bagaimana pergerakan pelayan dalam menghidangkan makanan yang sudah dipesan oleh Bram jauh jauh hari itu. Manager sangat cemas kalau ada salah seorang dari pelayan membuat kesalahan maka tamatlah riwayatnya sebagai manager di kafe itu.


Semua pelayan menaruh makanan yang mereka bawa dengan sangat berhati hati di atas meja panjang tersebut. Mereka sudah ditekankan oleh CEO dan Manager untuk tidak membuat kesalahan sedikitpun saat melayani tamu mereka yang datang kali ini. Tamu yang katanya adalah orang terkuat di negara E tetapi merahasiakan identitas siapa mereka sebenarnya.


Para pelayan yang telah berhasil dan sukses meletakkan hidangan yang mereka bawa kembali menuju tempat mereka tadi. Manager sudah menunggu mereka di sana dengan hati yang tidak tentram sama sekali serta detak jantung yang berdetak cukup keras dan cepat. Manager masih harus menunggu pelayan pelayan yang belum berhasil menaruh makanan yang mereka bawa, karena saking banyanya porsi yang dipesan oleh keluarga terpandang itu.


Pelayan terakhir berhasil menaruh makanan yang dibawanya dengan sangat baik. Manager langsung menghembuskan nafasnya dengan perasaan lega. Hal yang sama juga dilakukan oleh pelayan yang lainnya. Mereka juga sudah menahan nafas sejak tadi, sehingga saat rekan mereka yang terakhir bisa melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, membuat mereka semua langsung bisa lega. Mereka terbebas dari rasa malu karena tidak bisa menghidangkan pesanan tamu dengan layak dan sempurna.


Bram kemudian berdiri dari posisi duduknya.


"Baiklah sebelum menikmati hidangan yang sudah ada di depan kita semuanya, marilah sebelumnya kita berdoa mengucapkan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena masih diberikan kesempatan untuk menikmati hidangan yang terlihat sangat lezat ini. Berdoa menurut kepercayaan masing masing mulai" Bram mempimpin pembacaan doa tersebut.


"Berdoa selesai" ujar Bram kembali.


"Selamat makan, jangan ada yang berkelahi karena tidak mendapatkan makanan apa yang diinginkan. Kalau masih kurang masih bisa pesan kepada pelayan" ujar Bram memberitahukan kepada mereka untuk bisa memesan makanan yang masih mereka inginkan kepada pelayan yang berada tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Siap Tuan muda" jawab pengawal dengan kompak.


"Wow jangan norak gitulah, masak semau makanan kalian pindahkan ke piring kalian" ujar Bram saat melihat apa yang dilakukan oleh pengawalnya itu


"Kalian kayak nggak pernah makan di kafe aja" lanjut Bram melihat keributan yang terjadi di meja belakang dirinya itu.


"Maaf Tuan muda, bukannya kami norak, tetapi kesempatan yang seperti ini jarang kami dapatkan Tuan muda. Apalagi berkumpul seramai ini" ujar Josua yang menjawab keluhan dari Bram


"Bener Tuan muda. Biasanya kami memang makan di restoran yang sangat mahal, tetapi hanya berdua saja. Sedangkan kali ini, sudahlah kafe mahal makan ramai rami lagi. Ya kami manfaatkan betul momennya tuan muda" ujar Ryan melanjutkan apa yang dikatakan oleh Josua sebentar ini.


"Oke oke, terserah kalian aja. Asal jangan kelahi saja" ujar Bram yang nggak bisa cakap apapun lagi.


"Sayang mau makan pake sambal apa?" ujar Vian bertanya kepada Jero yang terlihat masih bingung mau makan nasi pake sambal apa, saking banyaknya sambal yang tersaji di depan dirinya saat ini.


"Boleh itu sayang?" ujar Jero menunjuk ke arah kepiting saos pedas manis yang ada di depannya saat itu.


"Serius mau makan itu sayang? kamu yakin?" ujar Vian bertanya kembali kepada Jero saat melihat makanan apa yang ditunjuk oleh Jero untuk dinikmati oleh dirinya.


"Nggak yakin sayang" jawab Jero dengan memelas.


Jero sangat ingin makan kepiting saat ini, tetapi dia juga tidak mau menyusahkan Vian malam nanti, atau menyusahkan kedua adiknya itu.


"Sayang, gini aja gimana. Saat kita sampai di negara I, kamu akan aku buatkan kepiting pedas manis itu. Tetapi untuk kali ini kamu makan ayam pedas manis itu aja dulu ya" ujar Vian memberikan Jero pilihan untuk apa yang akan dimakannya saat ini.


"Oke sayang, aku akan makan dengan ayam pedas manis kali ini. Nanti saat kita di negara I, kamu harus buatkan aku kepiting pedas manis" ujar Jero menyetujui permintaan yang diajukan oleh Vian kepada dirinya.


"Oke" jawab Vian yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.


Vian mengambilkan sambal yang telah dipilih oleh Jero untuk menemaninya makan nasi. Ayam pedas manis telah dipilih oleh Jero untuk dinikmati oleh dirinya. Vian melihat ke arah Jero yang dengan lahap makan ayam pedas manis itu. Setelah yakin Jero makan dengan lahap, barulah Vian juga mengambil makanan malam untuk dirinya sendiri. Vian mengambil makanan yang sama dengan Jero. Sebenarnya Vian mau kepiting dan udang saos itu, tetapi karena melihat Jero tidak bisa memakannya, maka Vian memutuskan juga utuk tidak memakan itu. Dia sangat menghargai perjuangan jero yang bisa menahan hatinya untuk tidak makan makanan tersebut. Makanan yang dilarang karena Jero bisa langsung alergi kalau terkena makanan yang berbau seafood.