
"Sayang, apa kamu sudah benar benar ingin memutuskan untuk bercerai dengan Juan Aleksander itu? Suami kaya dan tampan serta penerus satu satunya perusahaan Aleksander?" ujar Jero bertanya kepada Vian sambil menatap ke arah kekasihnya yang sekarang sedang memegang sebuah map kuning yang di dalamnya berisi semua dokumen dokumen pernikahan antara Vian dengan Juan yang sebentar lagi akan diberikan kepada Jeri di perusahaan Bram.
Vian menatap sekilas ke wajah tampan kekasih hatinya itu. Wajah yang selama ini sudah menemani hari harinya. Wajah yang selama ini sudah membuat dirinya bisa kembali menjalani kehidupan dengan normal. Wajah yang sangat tampan yang bisa menjungkirbalikkan kehidupan Vian. Wajah yang bisa kembali membuat Vian menatap masa depannya dengan caranya kembali.
"Kamu tenang saja sayang. Aku mana mau jatuh bangkrut." jawab Vian sambil mengangkat kedua alisnya.
"Hahaha hahaha" jawaban yang diberikan oleh Vian langsung membuat Jero tertawa sangat keras.
Jero sama sekali tidak menyangka kalau jawaban seperti itulah yang akan diberikan oleh Vian kepada dirinya. Dalam bayangan Jero tadi saat dia bertanya hal itu kepada Vian, reaksi yang diberikan oleh Vian adalah mengamuk dan marah marah. Ternyata sama sekali tidak, bayangan Jero sangat meleset dengan apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.
"Kenapa kamu tertawa sayang"
Vian heran dengan reaksi yang diberikan oleh Jero terhadap jawaban yang diberikan oleh dirinya tadi.
"Reaksi yang kamu berikan berbeda dengan yang ada dalam otak aku sayang. Itu yang bikin aku tertawa" jawab Jero.
Vian tersenyum, Jero menggenggam tangan Vian dengan tangan kirinya. Jero hanya menggunakan tangan kanannya untuk mengemudikan mobil. Apalagi Jero juga sudah mengaktifkan autopilot di mobilnya. Sehingga walaupun tangan kanan Jero tidak memegang setir mobil, amak mobil akan tetap melaju dalam keadaan baik baik saja.
Jero menatap ke arah Vian dengan tatapan serius. Tatapan yang sangat jarang diberikan oleh Jero kepada Vian. Tatapan itu sangat sering diberikan oleh Jero kepada rekan bisnisnya ataupun kepada staff di perusahaan.
"Apaan sih sayang, natap kayak gitu" ujar Vian protes dengan cara Jero menatap dirinya.
Vian mengusapkan telapak tangannya ke wajah Jero, hal ini membuat Jero mengubah cara dirinya menatap ke arah Vian.
"Ada apa? Kenapa natap kayak tadi?" ujar Vian kembali menanyakan hal yang sama kepada Jero.
"Kamu seriuskan sayang mau bercerai dengan Juan?"
Jero mengulang kembali pertanyaannya yang sudah beberapa kali ditanyakan kepada Vian. Vian menatap ke arah wajah kekasihnya itu. Vian sangat yakin kalau Jero memang harus diyakinkan kembali dengan apa yang dikatakan oleh Vian. Vian tidak mau Jero merasa kalau keputusan cerai yang diambil oleh Vian tidaklah sekuat apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya setiap Jero bertanya hal yang sama kepada Vian.
"Sayang, dari pada kamu berkali kali bertanya hal yang sama dan jawaban aku akan tetap sama dengan jawaban yang pertama kali aku berikan kepada kamu, lebih baik kamu sedikit lebih menginjak pedal gas mobil baru kamu ini, agar kita bisa cepat sampai di perusahaan Bram. Kamu akan lihat apa yang akan aku lakukan di sana"
Kali ini Vian tidak menjawab pertanyaan Jero dengan jawaban, melainkan Vian meminta Jero untuk lebih mempercepat laju mobil yang dikendarainya agar Jero dapat langsung mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sudah berkali kali ditanyakan oleh Jero kepada Vian.
Jero malakukan apa yang diminta oleh Vian kepada dirinya. Jero menonaktifkan mode autopilot mobilnya, dia mulai menambah kecepatan mobil tersebut agar cepat sampai di perusahaan yang dipimpin oleh Bram. Jero ingin melihat Vian melakukan apa yang dikatakannya berkali kali kepada Jero.
Vian yang melihat Jero berkonsentrasi melajukan mobilnya memilih untuk melihat ke arah luar jendela. Vian melihat begitu cepat benda benda di sepanjang jalan ditinggalkan oleh mobil yang ditumpanginya, karena Jero melajukan mobil dalam kecepatan sangat tinggi sekali. Hal ini membuat Vian tersenyum senyum sendiri. Jero sekali sekali memperhatikan apa yang dilakukan oleh Vian, tetapi dia hanya bisa tersenyum juga karena kalau dia sempat mengobrol dengan Vian maka Vian akan mengamuk. Vian akan menganggap Jero tidak fokus melajukan mobilnya. Jero tidak ingin hal itu terjadi.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, mobil yang dikemudikan oleh Jero telah masuk ke dalam kawasan gedung perusahaan JFB Grub yang sangat luas tersebut. Gedung perusahaan sepuluh lantai berdiri dengan megahnya di sana. Belum lagi taman perusahaan yang sangat indah. Ciri khas dari setiap perusahaan milik Asander Grub. Semua perusahaan baik perusahaan induk, anak cabang perusahaan pasti memiliki taman yang sangat indah di depan gedung mereka. Hal ini membuat siapa saja yang bekerja di perusahaan itu memiliki hati yang damai saat melihat hijaunya perusahaan tersebut. Begitu juga dengan para kolega bisnis, mereka menjadi sangat nyaman melakukan pembicaraan bisnis di perusahaan itu karena udara dan suasana di perusahaan itu sangat damai.
Jero memarkir mobilnya di tempat parkiran khusus petinggi perusahaan. Dia memarkir mobil tepat di sebelah mobil Bram yang terparkir rapi di sana, sebelah mobil Bram juga terparkir mobil sport keluaran terbaru dari pabrik kuda jingkrak.
"Sayang itu mobil siapa?" ujar Vian saat melihat sebuah mobil sport keluaran terbaru yang sama sekali belum pernah dilihat oleh Vian di mansion utama.
Vian bertanya saat mereka berdua sudah berada di luar mobil. Mereka berdua akan berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Bram yang terletak di lantai delapan gedung perusahaan tersebut. Jero melihat ke arah mobil yang ditanyakan oleh Vian tadi.
"Mobil yang itu?" ujar Jero sambil menunjuk mobil yang ditanyakan oleh Vian kepada dirinya tadi.
Vian mengangguk.
"Siapa lagi kalau bukan Jeri sayang. Dia satu satunya pengoleksi mobil keluaran pabrikan kuda jingkrak itu" ujar Jero mengatakan dan memberitahukan kepada Vian siapa pemilik mobil sport keluaran terbaru tersebut.
"Dia penggila mobil sport itu, dia paling sangat suka mobil pabrikan tersebut." lanjut Jero menjelaskan kepada Vian.
"Tapi kok aku nggak pernah lihat mobil dengan merk tersebut di garase kamu sayang?" ujar Vian menatap heran.
"Ya jelas nggak adalah sayang. Jeri punya sendiri mansion di dekat mansion utama. Jadi semua mobilnya di taruh di sana." jawab Jero
"Tapi kenapa dia asal ke mansion kita pakai mobil yang tidak merk itu?" lanjut Vian.
Vian sangat mengingat kalau Jeri sama sekali tidak pernah memakai mobil dengan merk tersebut ke mansion mereka.
"Haha haha haha, dia akan selalu membungkus mobilnya sayang saat pulang dari kerja. Jadi, dia ke rumah ya pakai mobil yang dibiarkannya saja di taruh di luar garase" lanjut Juan memberitahukan kepada Vian kenapa Vian tidak pernah melihat Jeri membawa mobil sport dengan merk kuda jingkrak itu ke mansion mereka.
"Sudah sayang, mari masuk. Mereka berdua sudah menunggu kita dari tadi itu" ujar Jero mengajak Vian untuk masuk ke dalam gedung perusahaan JFB Grub.
Vian mengangguk setuju dengan ajakan Jero. Jero menggenggam tangan kekasih hatinya itu. Kekasih yang sekarang masih berstatus sebagai istri seorang laki laki. Tetapi sebentar lagi status itu akan sirna karena Vian akan mengajukan gugatan cerai kepada Juan Aleksander.