
Juan melihat kembali ke dalam ruang kerja Papinya itu. Dia ingin memastikan apakah posisi Mami masih berlutut di kaki Papi atau tidak. Ternyata dia melihat kalau Papi dan Mami nya sudah kembali duduk di kursi mereka semula. Mereka sudah tidak lagi dalam posisi satu berdiri satu duduk.
"Sepertinya Papi dan Mami akan memulai ceritanya. Gue harus menyimak semuanya, gue nggak mau ketinggalan cerita ini. Cerita ini sangat penting bagi gue" lanjut Juan yang sudah sangat ingin tahu apa sebenarnya kejadian yang telah terjadi di keluarga mereka ini.
Juan kembali memfokuskan dirinya, pikirannya dan juga telinganya. Dia tidak mau salah menilai apa yang terjadi. Bagi Juan sekarang yang paling penting adalah dia harus mengetahui semua cerita, baik itu cerita baik maupun cerita buruk. Juan akan mensyukuri semua cerita yang terjadi di dalam keluarga mereka.
"Silahkan kamu bercerita. Saya akan mendengarkan semuanya" kata Tuan besar Aleksander sambil melipat kedua tangannya di depan dada seperti seseorang yang sedang berada dalam keadaan marah dan kesal dengan apa yang sedang terjadi.
"Saya ada satu permintaan" ujar Nyonya besar Aleksander dengan berani mengajukan sebuah permintaan kepada suaminya itu.
"Apa?" tanya Tuan besar dengan nada dingin.
"Jangan ceraikan saya" ujar Nyonya besar mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Tuan besar yang mendengar permintaan dari Nyonya besar itu hanya bisa tersenyum simpul saja.
"Anda jangan melewati batasan Anda Nyonya" jawab Tuan besar dengan nada dingin.
"Saya masih mau mendengarkan alasan Anda buat cerita semuanya bukan berarti Anda bisa meminta hal itu dari saya." lanjut Tuan besar dengan nada mencemooh.
Nyonya besar hanya bisa menekurkan kepalanya lebih dalam lagi. Dia sudah salah meminta. Tadinya dia memang berharap kalau dia menceritakan semua yang terjadi kepada Tuan besar, maka Tuan besar akan bersedia memaafkan dirinya, ternyata hal itu sama sekali tidak terjadi. Tuan besar sama sekali tidak memaafkan dirinya.
"Jadi, apa Anda akan tetap bercerita atau memilih untuk menyimpannya sendiri? Silahkan pilih." lanjut Tuan besar memberikan pilihan yang luar biasa sulitnya kepada Nyonya besar.
"Saya akan tetap cerita, karena bercerita ataupun tidak keputusan yang Anda ambil sudah sangat bulat. Jadi, saya tidak akan membawa cerita ini sendirian"
Nyonya besar telah menentukan pilihan yang paling tepat. Dia memang sudah selayaknya dan sepantasnya untuk menceritakan apa yang terjadi kepada Tuan besar.
Nyonya besar mulai menceritakan semuanya kepada Tuan besar. Mulai dari motif dirinya sampai berniat untuk mengganggu Tuan besar dan juga bagaimana cara dirinya bisa mengusir Nyonya besar dan juga kelicikan kelicikan nya yang lain.
"Apa? Kenapa Mami bisa setega itu?"
"Jadi, aku punya saudara di luar sana, yang bernama Jero."
"Mami benar benar tega"
Juan sangat marah di luar saat saat mendengar cerita yang disampaikan oleh Papi kepada Mami. Juan sangat tidak menyangka kalau mami nya akan setega itu kepada seorang istri dan juga seorang anak.
"Gue harus masuk" ujar Juan yang sudah tidak bisa menahan dirinya lagi.
Juan membuka pintu ruang kerja Papi dengan sedikit tergesa gesa. Dia sama sekali melupakan etika untuk masuk ke dalam ruang kerja seseorang.
"Apa, kamu tida bisa mengetuk pintu itu terlebih dahulu Juan?"
"Maafkan aku Papi. Tadi aku tergesa gesa untuk masuk ke dalam sini" ujar Juan menjawab teguran yang diberikan oleh Papi kepada dirinya.
Papi mengangguk, Papi sudah tahu kenapa Juan bisa masuk ke dalam ruangan kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Walaupun Juan selalu berbuat ulah, tetapi untuk masuk ke dalam ruang kerja Papi, dia tidak pernah lupa untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Papi, apa bisa Aku bertanya kepada dia?" ujar Juan sambil menunjuk ke arah Mami dengan tangannya.
Juan masih memakai sopan santun, dia sama sekali menunjuk Mami masih memakai tangan kanan, padahal kalau menuruti egonya dia akan menunjuk Mami memakai tangan kirinya. Tetapi dia masih menghargai wanita yang di depannya ini adalah wanita yang melahirkannya ke atas dunia.
"Silahkan, tapi kamu harus ingat kalau dia adalah wanita yang telah mengandung kamu dan juga yang telah melahirkan kamu" ujar Tuan besar mengingatkan anak laki lakinya itu untuk tetap menghargai Nyonya besar yang sudah melahirkannya.
"Tanpa dia kamu tidak akan ada" lanjut Tuan besar menekankan sekali lagi. Hal ini dilakukan supaya Juan Aleksander tidak menjadi sosok anak yang durhaka dan membuat dirinya menjadi anak yang berdosa kepada ibu kandungnya.
"Juan akan ingat itu selalu Papi" jawab Juan dengan sangat yakin kalau dia pasti akan selalu mengingat kalau Nyonya besar itu adalah ibu yang melahirkannya.
"Papi tinggal dulu. Kamu berbicaralah dengan Mami kamu"
Tuan besar memberikan peluang kepada Juan untuk berbicara dengan ibu yang melahirkannya. Bagi Tuan besar Aleksander yang memiliki masalah adalah antara dirinya dengan istrinya itu, sedangkan antara Ibu dan anak itu sama sekali tidak ada permasalahan.
Tuan besar berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya itu. Dia menatap sebentar ke arah Juan dan menganggukkan kepalanya ke arah Juan. Juan membalas dengan menganggukkan kepalanya ke arah Papi.
"Jadi Nyonya besar, ada apa ini sebenarnya? Kenapa saya seperti tidak mengerti dengan semua yang terjadi?" tanya Juan yang melupakan untuk tetap memanggil Mami sesuai dengan yang dikatakan oleh Papi supaya masih tetap menghargai wanita yang telah melahirkannya.
Mami menatap ke arah Juan dengan tatapan tidak percaya kalau anak kandungnya sendiri telah memanggil dirinya dengan panggilan nyonya besar, padahal biasanya panggilannya adalah Mami.
"Apa ini Juan? kenapa kamu memanggil Mami dengan sapaan seperti itu? Kamu ini anak Mami Juan" kata Mami menatap nanar ke anak kandung yang telah memanggil dirinya dengan panggilan seperti itu.
Juan menatap tajam ke arah Mami.
"Apa masih layak seorang Ibu yang tega mengusir anak yang juga lahir dari dalam rahim seorang ibu terusir dari rumahnya sendiri?" tanya Juan dengan nada sinis.
"Apa layak seorang ibu dipanggil dengan sebutan ibu saat dia dengan tega membuat kebahagiaan seorang anak direnggut dengan paksa?" lanjut Juan masih dengan nada menyindir nyonya besar Aleksander.
"Apa layak seorang wanita dipanggil menjadi seorang ibu, saat dia sudah membuat seorang anak harus melihat ibu yang melahirkannya menderita?" lanjut Juan yang masih belum bisa menahan hatinya.
"Apa layak seorang wanita di panggil ibu saat dia sudah dengan sengaja merebut ayah dari anak itu?" kata kata selanjutnya dikeluarkan oleh Juan.
"Aku bener bener kecewa dengan Anda. Sangat sangat kecewa. Ini bener bener bukan sebuah keadaan yang bisa dikatakan wah" lanjut Juan.
Nyonya besar bisa melihat bagaimana kecewanya Juan Aleksander dari semua kata kata yang dikeluarkannya. Nyonya besar tidak menyangka Juan akan bisa berkata seperti itu.