My Affair

My Affair
BAB 117



"Hay, kalian berdua tunggu sebentar" ujar Tuan besar Aleksander menghentikan langkah kaki Mommy dan Jero untuk terus melangkah keluar dari mansion besar itu.


Mereka berdua berhenti dan tidak berbalik untuk melihat siapa yang memanggil mereka berdua. Tuan besar Aleksander yang melihat kedua orang yang dipanggilnya berhenti tetapi tidak berbalik untuk menatap dia, membuat dirinya menjadi sangat kesal sekali.


"Satu langkah saja kaki kalian keluar dari mansion ini, maka nama kalian bukan Aleksander lagi" ujar Tuan besar Aleksander mencoba mengancam mommy dan Jero dengan mengatakan hal seperti itu. Tuan besar Aleksander berharap dengan dia memakai ancaman itu, mommy dan Jero memundurkan dan membatalkan niat mereka untuk pergi dari mansion mereka.


Jero menatap Mommy. Jero tersenyum kepada Mommy. Jero kemudian menggenggam tangan Mommy dengan sangat kuat.


"Saya tidak takut. Lagian saya juga malu memakai nama itu" ujar Jero menjawab perkataan dari Tuan besar Aleksander.


"Jangankan untuk memakai, untuk menyebutnya saja saya tidak sudi. Nama itu seperti nama petaka yang menggantung di nama saya Tuan. Jadi, silahkan saja Tuan berikan kepada calon anak Tuan itu" ujar Jero memukul telak rasa percaya diri Tuan besar Aleksander


"Oh ya Tuan besar Aleksander satu lagi. Kami tidak menghendaki harta milik keluarga tuan. Kami sama sekali tidak minat Tuan. Tuan berikan saja nama belakang itu ke calon anak Tuan besar Aleksander yang akan lahir beberapa bulan lagi." ujar Jero sambil melihat ke arah Tuan besar Aleksander dengan rasa amarah yang sudah menggunung.


Tuan besar Aleksander terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Hal itu diluar perkiraan dari seorang Tuan besar Aleksander.


"Baiklah kalau itu keputusan kalian berdua. Silahkan keluar dari mansion ini. Jangan harap harta yang saya miliki ini akan bisa kalian nikmati." kata Tuan besar Aleksander mempersilahkan mereka berdua untuk pergi dari mansion.


Rina yang mendengar Jero rela melepaskan nama besar keluarga Aleksander menjadi sangat bahagia, karena anaknya sendiri nanti yang akan berhak atas semua kekayaan dan semua fasilitas yang dimiliki oleh keluarga besar Aleksander.


Mommy dan Jero sudah berada di luar mansion. Mereka kemudian berbalik dan menatap ke arah mansion tersebut. Mansion yang dibuat untuk kebahagiaan mereka tetapi ternyata hanya memberikan duka semenjak dia berdiri dengan megahnya di sana.


"Kenapa?" tanya Mommy kepada Jero saat melihat Jero terdiam cukup lama menatap mansion itu.


"Aku akan membelinya suatu hari nanti" ujar Jero sambil tersenyum.


"Hah? Sayang jangan terlalu memaksakan diri kamu untuk bisa melakukan semuanya sendirian" ujar Mommy kepada Jero yang menatap ke arah mansion penuh petaka itu.


"Aku tidak memaksakan mommy, tapi aku akan melakukannya dan berjuang untuk mendapatkannya apapun itu Mommy" ujar Jero dengan nada sangat yakin untuk bisa melakukan semuanya.


"Mommy hanya minta kamu jangan terlalu memaksakan diri kamu ya. Bagi Mommy yang paling penting adalah kamu sehat dan tetap sekolah. Hanya itu saja. Untuk materi yang seperti ini lagi, mommy tidak butuh sayang" ujar Mommy berkata sambil melihat dan memeluk anak satu satunya yang akan menjadi tempat mommy bergantung untuk menjalankan kehidupan.


"Jero berjanji sama Mommy, Jero akan membuat mereka menerima apa yang telah mereka lakukan kepada kita berdua" ujar Jero berkata sambil memeluk mommy.


Mereka berdua saling menguatkan.


"Kita kembali ke rumah kakek ya sayang" ujar Mommy.


Untung saja waktu itu mommy tidak mengikuti perkataan Tuan besar Aleksander untuk menjual rumah milik keluarga mommy, kalau lah saat itu mommy mengikuti apa yang diinginkan oleh Tuan besar Aleksander maka bisa dipastikan untuk saat ini mereka berdua akan tidur di jalanan seperti gembel yang tidak punya tempat tinggal.


"Oke Mommy, kita kembali ke rumah kakek saja. Kita memang lebih cocok tinggal di sana dari pada di sini" ujar Jero.


Mereka berdua menunggu taksi yang tadi sudah di pesan oleh Mommy. Tak berapa lama taksi datang, mereka kemudian naik ke atas taksi itu. Taksi mengantarkan mereka menuju rumah tempat Mommy di besarkan.


Mommy membuka pintu rumah mereka. Mommy dan jero menarik koper mereka untuk masuk ke dalam rumah.


"Sayang mari kita masuk" ujar Mommy mengajak Jero untuk masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya itu.


"Ini kamar kamu ya sayang" ujar Mommy menunjukkan kamar tempat Jero akan beristirahat.


"Sedangkan yang ini adalah kamar Mommy" lanjut Mommy memberitahukan dimana kamar untuk dirinya.


"Oke Mommy" jawab Jero.


FLASH ON.


Vian mendengar semua cerita Jero dengan sangat seksama. Vian dari tadi sama sekali tidak ada membantah atau menyela apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya.


"Jadi, semenjak saat itu kami sekeluarga keluar dari mansion besar tersebut. Kami sama sekali tidak pernah kesana lagi" ujar Jero menutup kisah masa lalunya yang kelam itu.


"Jadi, intinya mertua aku sekarang adalah ayah kandung kamu dan ibu tiri kamu sayang?" tanya Vian kepada Jero.


"Ya gitu lah sayang. Mereka adalah orang tua aku sebenarnya." ujar Jero menjawab perkataan dari Vian.


"Terus, kenapa mereka tidak mengenali kamu sayang?" ujar Vian bertanya kepada Jero.


"Sebenarnya mereka mengenali aku, tapi aku tidak pernah dan tidak mau bertemu dengan mereka. Aku tidak mau mereka mengenali aku" ujar Jero menjawab perkataan dari Vian.


"Jadi...... " ujar Vian menggantung ucapannya kepada Jero.


"Jadi apa? Jadi badut?" ujar Jero menyambung perkataan dari Vian.


"Jadi, kamu dekati dan mencintai aku karena ingin menjadikan aku baru lincatan untuk balas dendam kamu?" tanya Vian dengan sangat hati hati kepada Jero.


Jero menatap ke wajah Vian. Jero tidak mau Vian memiliki pikiran serendah itu terhadap dirinya.


"Tidak sayang, aku mendekati kamu karena benar benar mencintai kamu. Aku sudah sangat lama mencintai kamu. Kamu jangan berpikiran seperti itu ya" ujar Jero sambil memeluk Vian.


Jero mengengadahkan kepala Vian untuk melihat dirinya.


"Apa kamu meragukan cinta aku ke kamu sayang?" tanya Jero kepada Vian.


Jero menatap wajah cantik kekasihnya itu yang sekarang masih berstatus istri dari adik tirinya.


"Tidak sama sekali tidak. Aku sangat yakin kalau kamu benar benar mencintai aku. Tadi aku hanya bercanda saja sama kamu" ujar Vian kepada Jero.


"Sekarang, apa kamu mau terapi dengan Greta?" tanya Jero kepada Vian.


Vian mengangguk.


"aku mau tapi kamu juga harus mau" ujar Vian meminta Jero juga mau terapi supaya tidak takut lagi naik pesawat.


"aman, kita akan terapi berdua" ujar Jero menjawab keinginan dari Vian.


"Sayang sudah malam, bagaimana kalau kita pulang lagi?" ujar Jero bertanya kepada Vian.


"sip" Vian setuju.


Erik dan Hendri datang untuk mengemasi semua barang barang yang dipakai oleh Jero dan Vina. Mereka berempat kemudian masuk ke dalam mobil.


Hendri mengemudikan mobil menuju mansion keluarga Asander. Vian masih memiliki pertanyaan pertanyaan yang lain dalam pikirannya sekarang ini. Vian berencana untuk bertanya kepada Jero nanti. Untuk sekarang Vian sudah merasa cukup menerima semua informasi yang diberikan oleh Jero kepada dirinya.