My Affair

My Affair
Kepanikan Mami dan Juan



"Juan, apa hasil dari percakapan kamu dengan pilot?" ujar Mami bertanya kepada Juan tentang hasil percakapan antara Juan dengan pilot sebelum mereka berdua makan malam.


Juan menghembuskan nafasnya dengan sedikit berat. Mami menatap ke arah Juan. Perasaan Mami berubah menjadi tidak enak saat melihat ekspresi yang ditampilkan oleh Juan saat ini.


"Juan, jangan membuat Mami menjadi cemas dengan ekspresi yang kamu berikan sekarang ini" ujar Mami protes melihat ekspresi yang ditampilkan oleh Juan yang membuat dirinya menjadi sangat cemas.


"Mami, tadi Pilot mengatakan kepada aku, kalau mereka memang baru mendarat di negara E" jawab Juan sambil menundukkan kepalanya dalam dalam.


"Terus kenapa kamu terlihat sangat tidak bahagia?"


"Mereka memang terbang ke negara E, tetapi tidak bersama Papi," Juan berkata sambil berbisik, dia benar benar semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Lalu?"


Mami menjadi semakin penasaran dengan isi percakapan antara Juan dengan pilot. Sehingga membuat Juan merasa semakin tidak baik baik saja.


"Yang pergi ke Negara E itu bukan Papi"


Juan berkata sambil menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, Juan tidak mengerti dengan apa yang terjadi lagi. Ini benar benar di luar eksprektasinya. Juan tidak menyangka kalau semua ini akan seperti ini.


"Jadi yang kenegara E? Para pelayan?"


Mami menebak kemungkinan yang berikutnya dari apa yang dikatakan oleh Juan Alexsander. Mami menatap kosong ke atas langit langit kamar.


"Ya Mami para pelayan. Tapi, saya sangat tidak paham, dari mana mereka mendapatkan akses untuk berangkat ke negara E memakai pesawat perusahaan"


"Itu yang membuat saya penasaran kenapa mereka bisa terbang dengan pesawat perusahaan kalau tidak ada orang dalam yang memberikan akses mereka untuk memakai pesawat" kata Juan Alexsander sambil menatap ke arah pintu keluar mansion.


"Maksud kamu mereka bisa memakai pesawat perusahaan karena diperbolehkan oleh seseorang yang ada di dalam perusahaan kita gitu?" tanya Mami mengulas kembali apa yang dikatakan oleh Juan Alexsander kepada dirinya.


"Yup Mami, yang memiliki akses untuk bisa memakai pesawat selain Papi, Mami dan Aku adalah para manager"


"Tapi siapa ya Mami yang sudah berani memberikan izin kepada mereka untuk memakai pesawat perusahaan untuk kembali ke negara E?"


Juan melihat ke arah Mami dengan tatapan penuh tanda tanya. Juan benar benar tidak mengetahui siapa yang telah memberikan izin kepada pilot untuk menerbangkan pelayan yang bekerja di mansion Juan ke negara asal mereka yaitu negara E.


Saat Juan dan Mami sibuk memikirkan siapa yang memberikan izin pesawat perusahaan untuk terbang ke negara E yang menurut Juan membawa para pelayan di dalam pesawat. Tuan besar ALexsander yang baru sampai di bandara kecil yang terletak di sebuah pulau langsung turun dengan para pelayan. Mereka menaiki beberapa mobil yang sudah disiapkan untuk mengantarkan mereka semua menuju rumah yang terletak di tengah tengah pulau tersebut.


Mobil melaju beriringan menuju mansion besar yang terletak di perbukitan yang paling tinggi di tengah tengah pulau tersebut. Spot pemandangan yang sangat cantik dapat dilihat dari mansion itu. Lautan yang membiru mengelilingi pulau yang ditumbuhi oleh pohon kelapa di sekeliling pulau, belum lagi bunga bunga berwarna warni yang tumbuh di pulau tersebut. Pulau yang hanya memiliki dua puluh lima anggota keluarga dengan penduduk rata rata adalah usia produktif. Mata pencarian para penduduk pulau adalah bekerja di pabrik pengolahan kelapa milik Tuan besar Alexsander, salah satu aset yang tidak diketahui oleh Nyonya besar Alexsander dan Juan Alexsander. Satu satunya pabrik yang ada di sana dan menjadi satu satunya mata pencarian bagi semua warga yang tinggal di pulau tersebut.


Semua penduduk tinggal di rumah yang disediakan oleh perusahaan pengolahan kelapa, mereka tinggal di rumah dengan bangunan yang sama semuanya. Semua bangunan di sana dibangun dengan bentuk yang sama yang membedakan hanya warna cat bangunan saja. Itu pun warna bukan membedakan jabatan melainkan membedakan siapa yang tinggal di sana.


Mereka semua sekarang sudah berada di dalam mansion. Mereka duduk di ruang tamu mansion. Tuan besar Alexsander duduk di salah satu sofa yang tunggal. Sedangkan para pelayan dan keluarga mereka duduk di sekitar Papi.


"Baiklah sekarang karena saya tidak tinggal di sini, maka cukup satu keluarga saja yang tinggal di sini. Siapa yang mau?" tanya Papi kepada semua pelayan yang berada di ruangan tersebut/


Mereka semua saling memandang antara satu dengan yang lainnya. Mereka sama sekali tidak bisa memutuskan siapa yang akan tinggal di situ. Mereka juga tidak bisa saling menuduh siapa yang harus tinggal di sana.


Tuan besar Alexsander menatap wajah masing masing pelayan, Wajah wajah pelayan terlihat kebingungan memilih siapa yang akan tinggal di mansion besar tersebut. Mereka sama sama ingin tinggal di sana, tetapi mereka sama sama takut untuk menunjuk tangan siapa yang akan tinggal di sana. Mereka sama sama berpikir kalau mereka tidak layak tinggal di sana dan masih ada pelayan yang lebih layak untuk tinggal di sana.


"Yah karena nggak ada yang mengajukan diri untuk tinggal di mansion, maka kita akan menentukan dengan cara mengundi siapa yang akan tinggal di mansion ini" kata Tuan besar Alexsander memberikan keputusan kepada semua pelayan bagaimana cara dirinya menentukan siapa yang akan tinggal di mansion tersebut.


"Tolong kamu ambil kertas dan pena, terus gunting kecil kecil, tulis nama siapa saja yang ada di sini, kemudian gulung. Nanti akan kita kocok untuk menentukan siapa yang akan tinggal di mansion ini."


"Bagi nama yang keluar maka dia yang akan tinggal di mansion ini. Sedangkan bagi yang namanya tidak keluar maka mereka akan tinggal di rumah para pekerja pabrik"


Tuan besar Alexsander menjelaskan kepada semua pelayan bagaimana aturan main untuk mereka menentukan siapa yang akan tinggal di mansion besar tersebut.


"Apa kalian semua paham?" tanya Tuan besar kepada semua pelayan yang ada di mansion tersebut.


"Paham Tuan besar." jawab semua pelayan dengan serempak menjawab apa yang dikatakan oleh Tuan besar kepada mereka.


'Semoga nama aku yang keluar untuk tinggal di mansion' ujar salah seorang pelayan di dalam hatinya


'semoga nama aku' doa pelayan yang lain


'hendaknya aku yang keluar. kan aku udah lama mengabdi kepada Tuan besar' ujar salah seorang pelayan yang sudah tergolong lama mengabdi kepada keluarga.


Setiap pelayan memiliki pengharapan yang sama dalam hidup mereka. Mereka sama sama ingin untuk tinggal di mansion besar tersebut. Doa yang dihaturkan kepada Tuhan mereka masing masing, memiliki tujuan yang sama.


Pelayan yang tadi diminta oleh Tuan besar untuk mengambil kertas sudah kembali. Pelayan itu juga sudah memasukkan semua nama nama ke dalam sebuah tabung yang akan digunakan oleh Tuan besar untuk mencari siapa nama pelayan yang akan tinggal di mansion tersebut.


Tuan besar Alexsander mulai mengocok tabung yang berisi nama nama pelayan tersebut. Wajah wajah tegang mulai terlihat di wajah para pelayan, mereka semua memiliki keinginan yang sama. Tetapi bagi mereka semua siapa nama yang keluar berarti memang sudah nasib mereka untuk tinggal di mansion ini.


Satu buah kertas jatuh dari dalam tabung. Tuan besar Alexsander mengambil kertas tersebut.


"Oke sudah keluar dia, mari kita buka ya" ujar Tuan Alexsander sambil mengangkat kertas yang masih tergulung dan berada di dalam sedotan tersebut.


Semua pelayan menatap ke arah kertas yang di pegang oleh Tuan besar Alexsander, mereka semua berharap kertas itu berisikan  nama mereka bukan nama rekan atau pelayan yang lain.


Tuan Alexsander meniup keluar kertas dari sedotan. Setelah itu dengan gaya yang slowmotion Tuan besar membuka kertas yang tergulung itu. Tuan Alexsander mengangkat kertas yang telah terbuka itu tinggi tinggi supaya bisa dibaca oleh para pelayan. Pelayan membaca nama yang tertulis di potongan kertas tersebut.


"Baca yang keras" ujar Tuan besar memerintah mereka semua untuk membaca kertas yang tertulis nama pelayan yang akan tinggal di mansion tersebut.


"Ima" ujar Mereka dengan sangat kompak menyebut nama pelayan yang akan tinggal di mansion besar itu.


Pelayan yang bernama Ima langsung tertunduk saat nama dirinya yang disebut oleh rekan rekannya yang lain untuk tinggal di mansion besar itu.


"Tuan besar, boleh saya mengatakan sesuatu?" ujar pelayan yang bernama Ima yang sangat tidak ingin tinggal di mansion besar tersebut.


Pelayan yang bernama Ima itu ingin tinggal di rumah kecil yang disediakan untuk pekerja yang bekerja di pabrik kelapa. Ima lebih memilih menjadi pekerja pabrik dari pada menjadi pelayan di mansion besar ini.