My Affair

My Affair
BAB 42



"Perasaan gue nggak enak. Loe tau sendirikan Bang, gimana gue kalau perasaan gue udah nggak enak" ujar Bram.


"Gue tau. Semoga apa yang terlintas di otak loe bentar ini nggak terjadi kepada Jero dan Vian" ujar Felix.


Felix menambah laju mobilnya saaat melihat mobil milik Jero sedikit menjauh dari mobil dia. Felix tidak mau kehilangan jejak Jero. Jero tidak akan mengangkat panggilan kalau di telpon oleh Felix ataupun Bram saat dia sedang dengan Vian. Apalagi kalau Jero menganggap dirinya dalam posisi yang aman.


Jero memarkir mobilnya di parkiran mall, Felux juga melakukan hal yang sama, dia memarkir mobilnya yang berjarak dua mobil dari mobil Jero diparkir.


Jero dan Vian kemudian turun dari dalam mobil, mereka masuk ke dalam mall terbesar di ibu kota itu. Felix dan Bram mengikuti Jero dan Vian dari belakang. Mereka tidak cukup terlihat seperti sedang mengikuti seseorang, mereka berdua cukup menjaga jarak dengan Jero.


Jero dan Vian, kemudian melihat lihat ke dalam sebuah toko pakaian merek terkenal. Vian berencana untuk membeli sepasang pakaian kerja baru. Dia baru gajian dua hari yang lewat. Jadi Vian akan mengambil kesempatan ini untuk berbelanja keperluannya. Mumpung hari ini dia libur, jadi dia bisa puas puas untuk shoping membeli perlengkapannya yang sudah habis atau tinggal sedikit.


Jero mengikuti Vian masuk ke dalam toki tersebut. Seorang manager berniat untuk menyapa Jero. Tetapi Jero langsung memberi kode untuk tidak menyapa dirinya.


"Silahkan masuk Tuan, Nona" ujar Manager kepada Jero dan Vian.


"Model model terbaru dari brand kami ada di sebelah sini Nona, silahkan dilihat lihat" ujar Manager membawa Vian menuju tempat model model terbaru dari brand mereka diletakkan.


Vian kemudian melihat lihat pakaian tersebut. Dia melihat model sekaligus harga dari pakaian yang akan dibelinya. Vian mulai sekarang harus berhemat, agar saat dia kuliah di negara E uangnya masih lumayan banyak dan bisa menutupi kehidupannya sebelum dia mendapatkan pekerjaan di sana.


Felix dan Bram juga masuk ke dalam toko tersebut. Mereka melihat Jero yang setia menemani Vian berkeliling toko. Mereka tidak menyangka Abang mereka yang terkenal dingin dan sadis itu, bisa menemani seorang wanita berkeliling untuk berbelanja pakaian.


"Bang, ngeri juga ya kalau udah cinta mati, apa yang nggak pernah dikerjain dulu, eeee sekarang harus dikerjain. Bayangin aja sama loe, seorang Jero yang terkenal dingin, bisa bisanya berkeliling mall. Kalau semua rekan bisnis kita di negara E tau, sudahlah Bang habis kita" ujar Bram berceloteh tidak jelas kepada Felix.


"Makanya besyukur aja loe, kita masih di sini. Tapi sebentar lagi kita akan kembali ke negara E. Vian akan melanjutkan studinya di sana selama dua tahun. Jadi, antara kita berdua ada yang harus mengikuti Abang yang satu itu" ujar Felix memberitahukan kepada Bram kalau salah satu dari mereka akan pindah ke negara E saat Jero dan Vian pindah ke sana.


"Siapapun itu, kita harus siap Bang. Pusing kali." ujar Bram yang sebenarnya sangat berharap kalau dia yang akan diajak oleh Jero untuk ikut ke negara U. Bram kangen dengan kuburan Mommy mereka, dan kangen bekerja dengan Jero.


Vian telah selesai melakukan pembayaran. Jero dan Vian kemudian berjalan keluar dari toko ternama itu.


"Kemana lagi?" tanya Jero sambil berjalan di sisi Vian.


Jero sebenarnya ingin menggenggam tangan Vian. Tetapi dia tidak mungkin melakukannya karena keadaan mall yang sangat ramai pengunjung. Bisa jadi satu diantara seribu orang ini ada yang kenal dengan keluarga Aleksander, bisa di pecat Jero nanti.


"Kita ke bagian make up yuk. Aku mau membeli beberapa make up yang sudah menipis." ujar Vian mengajak Jero menuju penjual make-up.


Mereka berdua berjalan menuju toko toko yang menjual segala jenis make up. Felix dan Bram yang melihat kemana arah berjalan Vian dan Jero, hanya bisa geleng geleng kepala.


"Bang, nggak salah ne, Vian ngajak abang kita itu ke toko make up?" tanya Bram saat melihat kemana Vian mengajak Jero.


"Gimana lagi Bram. Namanya aja jatuh cinta. Taik kambing aja di sangka coklat sama orang yang sedang jatuh cinta" ujar Felix menjawab perkataan Bram.


"Elo besok akan mencoba juga, jadi jangan lihat Jero sekarang. Besok loe akan lebih parah dari yang kita lihat saat sekarang ini" ujar Felix sambil menatap geli ke arah Bram.


Vian memilih beberapa peralatan untuk makeup-nya.


"Boleh pake tapi nggak kayak ondel ondel" ujar Jero di telinga Vian berbisik.


"Sip. Lagian siapa juga yang mau kayak badut itu" ujar Vian sambil mengambil beberapa make up yang dibutuhkan olehnya.


Setelah yakin dengan semua yang dipilihnya, Vian melakukan pembayaran ke kasir. Jero berdiri di sebelah Vian. Jero sama sekali tidak mau beranjak dari Vian, saat dia memastikan kalau ada seorang pria dari tadi mengikuti dirinya.


Jero mulai waspada terhadap Vian. Dia sudah tau kalau target orang itu adalah Vian. Jero kemudian mengeluarkan ponsel miliknya. Dia terlihat mengetik dengan sangat cepat, saat Vian melakukan transaksi jual beli.


'Kalian di mall kan?' ujar Jero mengirim pesan chat kepada Bram.


'Iya Bang. Kami berada di depan toko make up. Ada apa Bang?' balas pesan chat dari Bram.


'Kalian perhatikan pria yang memakai baju kemeja kotak kotak hitam putih itu. Dia sudah dari tadi mengikuti kami berdua. Sepertinya dia menargetkan Vian' bunyi pesan chat Jero ekpada Bram.


'Coba tinggalin Vian nanti saat di luar Bang. Aku dan Felix serta beberapa anak buah kita akan memperhatikan gerak geriknya. Saat dia mulai mendekati Vian, maka kami akan langsung menangkapnya' ujar Bram memberikan saran kepada Jero.


'Oke nanti di luar gue akan menjarak dari Vian. Tapi loe semua harus jaga dia' balas Jero yang setuju dengan ide dari Bram.


"Sibuk banget sayang?" tanya Vian yang telah selesai melakukan transaksi.


"Ini teman ngirim pesan chat. Kemana lagi kita?" tanya Jero mengalihkan fokus pertanyaan Vian.


"Keliling keliling aja lagi. Nanti kalau ada yang mau kita berhenti" ujar Vian.


Jero dan Vian kemudian keluar dari dalam toko make up. Tiba tiba saat mereka sedang berjalan berdua, Jero merasakan mual di perutnya.


"Sayang, kamu tunggu di sini sebentar ya. Aku mau ke toilet dulu" ujar Jero yang mulai menjalankan rencananya dengan Bram dan Felix serta anak buah mereka yang lain.


Jero kemudian berjalan menuju toilet, dia sengaja agak menjauh dari Vian. Jero dan dua adiknya ingin menangkap pria yang dari tadi mengikuti mereka.


Saat melihat Jero menjauh dari Vian, pria itu langsung mengeluarkan pisaunya hendak menusuk Vian dari belakang. Tiga orang anak buah Felix langsung berjalan mendekati pria itu. Pas saat pria itu akan menusuk Vian, ketiga anak buah Felix menangkap dia dan membawa pria itu menjauh dari Vian.


Beberapa orang yang menyaksikan seorang pria hampir saja menusuk seorang wanita akan berteriak. Tetapi belum sempat mereka berteriak, pria tersebut sudah ditangkap oleh tiga orang anak buah Felix.


"Bawa dia ke mansion" ujar Felix memerintahkan ketiga anak buahnya itu untuk membawa pria itu ke mansion mereka.


Vian yang sama sekali tidak sadar kalau dirinya tadi akan dibunuh seseorang berjalan dengan santai saja. Jero, yang melihat semua kejadian menegangkan tadi, langsung menuju Vian.


"Hay" sapa Jero kepada Vian.


"Vian, gimana kalau kamu aku antar pulang lagi, aku ada urusan sebentar. Sampai rumah kamu langsung kunci pintu kamar saja." ujar Jero yang sudah gatal ingin mengintrogasi pria yang hampir saja mencelakai Vian.


"Kamu mau kemana?" tanya Vian sambil menatap Jero.


"Ada urusan laki laki, perempuan nggak boleh ikut" ujar Jero tersenyum kepada Vian.


Mereka berdua kemudian pergi meninggalkan mall. Dua orang anak buah Felix mengikuti dari belakang. Jero sekarang tidak mungkin membiarkan Vian dalam kondisi bahaya, makanya dia memperbolehkan Felix memberi pengawal tambahan saat dirinya dan Vian keluar dari mansion.


"Kamu hati hati di mansion ya" ujar Jero saat menurunkan Vian di depan pintu utama mansion.


"Kamu juga hati hati ya" ujar Vian.


Jero memarkir mobil yang dia pakai tadi di parkiran mansion. Jero kemudian berjalan keluar dari pagar.


"Kemana Jero?" tanya pak satpam yang sudah Jero anggap sebagai teman.


"Keluar sebentar Pak." jawab Jero yang menjawab pertanyaan satpam sambil tetap berjalan meninggalkan gerbang mansion.


Sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu Jero di depan penjual nasi goreng gerobakan. Mobil bergerak menuju mansion. Jero sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengan seseorang yang akan mencelakai Vian tadi di mall.


"kalian bisa lebih cepat lagi tidak" ujar Jero yang sangat ingin cepat sampai mansion.


"Siap Tuan" ujar sopir yang menginjak lebih dalam pedal gas mobilnya. Mereka tidak mau menerima kemarahan Jero di atas mobil.


Tidak berapa lama mobik telah masuk ke dalam kawasan mansion yang luar biasa luas itu. Mobil di berhentikan sopir tepat di pintu masuk mansion. Jero kemudian turun dari dalam mobil. Felix dan Bram telah menunggu di dalam mansion.


"Mana dia?" tanya Jero dengan dingin.


"Di ruangan Bang" jawab Felix.


Jero berjalan ke dalam ruangan itu di dampingi oleh Felix dan Bram. Jero terlihat sangat marah. Felix dan Bram sudah tau apa yang akan dilakukan oleh Jero kepada orang itu nantinya.


Jero membuka pintu ruangan. Dia langsung melihat pria tersebut sudah terikat pada sebuah kursi.


Jero kemudian duduk di kursi tepat di depan pria tersebut. Pria itu menatap garang dan marah kepada Jero.


"Kenapa kalian merusak rencana saya untuk membunuh wanita itu" ujar Pria tersebut dengan beraninya bertanya kepada Jero, Felix dan Bram.


"Siapa yang menyuruh anda membunuh wanita itu?" tanya Jero dengan dingin.


"Siapa kalian yang bertanya kepada saya siapa yang menyuruh saya. Saya rasa wanita itu tidak ada urusannya dengan kalian bertiga." ujar Pria itu dengan berani mengutarakan apa yang ada dipikiannya.


"Sekarang kamu jawab pertanyaan saya, siapa yang sudah menyuruh kamu untuk membunuh wanita itu?" tanya Jero masih dengan nada dingin tetapi belum mengandung kemarahan yang memuncak.


"Saya tidak akan jawab" ujar Pria itu sambil menatap wajah Jero.


"Baiklah kalau tidak akan menjawab. Saya juga tidak akan memaksa Anda untuk menjawab" ujar Jero.


"Felix lakukan" ujar Jero memerintahkan Felix untuk melakukan sesuatu kepada pria itu.


Felix menekan sebuah tombol di meja. Kursi tempat pria itu duduk mulai mengeluarkan senyuman kecil kecil. Pria itu kaget luar biasa, saat kursi yang didudukinya bisa mengeluarkan aliran listrik.


"Sekarang jawab, sebelum kami marah" ujar Bram tak kalah dinginnya dengan Jero.


"Kalian siapa, kenapa kalian membela wanita itu. Sedangkan bos saya membenci dia" ujar pria tersebut.


"Tidak urusan kamu, kami ini siapa. Sekarang kalau kamu masih ingin nyawa kamu masih ada di badan. Jawab pertanyaan kami, siapa yang menyuruh kamu" ujar Bram.


"Saya tidak bisa menjawab, karena nyawa saya dan keluarga saya menajdi taruhannya" ujar pria itu.


"Keluarga Anda sudah kami pindahkan ke kota yang tidak akan bisa yang menyuruh Anda untuk menjangkaunya. Jadi, sekarang semuanya ada di tangan Anda. Anda mau jujur, Anda selamat kalau tidak maka Anda dan keluarga Anda saya pastikan tidak akan ada lagi di dunia ini" ujar Bram menjelaskan aturan mainnya kepada pria itu.


Pria tersebut terlihat berpikir.


'Sepetnya mereka orang baik. Aku lebih baik jujur saja. Aku masih sayang kepada keluarga dan juga nyawa aku sendiri' ujar pria itu dalam hatinya.


Jero, Felix dan Bram yakin pria itu akan mengatakan siapa dalang dibalik kejadian yang akan mengakhiri hidup Vian itu. Mereka hanya tinggal menunggu saja, pria itu pasti akan membuka mulutnya.


"Baiklah Tuan, saya akan mengatakan siapa dalang di balik rencana pembunuhan wanita itu" jawab Pria tersebut.


"Silahkan" jawab Jero dengan nada dingin.


"Yang meminta saya untuk melakukan pembunuhan adalah Tuan Besar Wijaya. Tapi saya tidak tau apa alasannya Tuan" jawab Pria tersebut mengatakan semuanya dengan jujur.


"Apa kamu yakin kalau Tuan Wijaya dalang dibalik semua kejadian ini?" tanya Felix ingin memastikan.


"Benar Tuan" jawab pria tersebut.


"Baiklah terimakasih. Kamu akan diantar pilot kami menuju keluarga kamu. Sekali lagi jangan pernah kamu menerima pekerjaan untuk melenyapkan nyawa seseorang. Di tempat yang baru itu, kamu kami beri ladang untuk kamu kerjakan. Silahkan tanam apapun yang kamu mau" ujar Felix menerangkan kepada pria itu apa yang bisa dilakukannya di tempat tinggalnya yang baru.


Bram membawa pria tersebut ke belakang. Di sana sebuah helicopter sudah menunggu.


"Terimakasih Tuan. Saya berjanji akan menjadi orang baik. Sampaikan terimakasih saya kepada dua Tuan yang lainnya. Saya pasti akan membalas semua kembaikan kalian." ujar Pria tersebut sambil tersenyum ramah, aura kemarahan sudah tidak ada lagi


"satu lagi Tuan, tolong berikan penjagaan ekstra untuk Nona tadi. Saya sangat yakin Wijaya akan mengirimkan sosok pembunuh yang lebih keji dari Saya" ujar Pria tersebut berpesan kepada Bram.


"Baiklah akan saya sampaikan kepada dua Tuan yang lainnya. Sekarang Anda silahkan pergi. Nikmatilah hidup di sana dan berubahlah jadi manusia yang lebih baik lagi" ujar Bram.


"Tuan, bisakah saya mengenal nama kalian bertiga?" tanya Pria tersebut.


"Maaf tidak." jawab Bram sambil tersenyum.


Pria tersebut membalas senyum Bram. Dia naik ke atas helicopter yang telah disediakan. Bram kemudian masuk kembali ke dalam rumah saat helicopter itu telah meninggalkan pekarangan belakang mansion.