My Affair

My Affair
BAB 84



Jero dan Bram membaringkan Vian yang sedang dalam keadaan pingsan itu di atas ranjang besar yang beralaskan sprai berwarna baby pink sesuai dengan warna kesukaan Vian. Jero memberikan minyak angin ke kepala Vian. Seorang bibik yang sudah sangat lama bekerja dengan Mommy membantu menyadarkan Vian dengan cara membau baui bawang putih ke hidung Vian.


Felix dan Jeri kemudian masuk ke dalam kamar Vian. Mereka baru selesai menghubungi dokter dan Greta. Mereka meminta Greta dan Tama untuk datang ke mansion memeriksa keadaan Vian.


"Felix kenapa dokter itu lama sekali Felix. Apa mereka mau abang pecat dari rumah sakit" ujar Jero berteriak dengan sangat kerasnya.


Jero merasa sudah terlalu lama menunggu dokter. Padahal baru beberapa menit yang lalu kejadian ini berlangsung.


"Siap Tuan Jero, saya sudah ada di sini" ujar dokter tampan yang bernama Tama dan juga teman Jero.


"Loe mau gue bunuh Tama, lama sekali." ujar Jero yang mulai mengeluarkan ancamannya.


"Macet Jero. Harusnya loe tadi selain nyuruh gue cepat sampai, loe ngirim helicopter. Loe tau sendirilah jalanan di negara E ini macet kalau sore begini" ujar Tama yang mengobrol dengan Jero tanpa memeriksa Vian.


"Bang, kalau abang bawa dokter Tama ngobrol terus, kapan meriksa kakak ipar Bang" ujar Bram yang heran melihat Jero mengajak Tama mengobrol bukannya meminta Tama untuk langsung memeriksa Vian.


"Tama, loe gue suruh ke sini meriksa calon istri gue. Bukan ngobrol sama gue." ujar Jero emosi dengan Tama yang membawa dia mengobrol.


"Nasib jadi bawahan loe Jero. Tekanan bathin semua orang, untung aja bayarannya tinggi kalau nggak. Yakin gue semua orang kabur" ujar Tama yang memang nggak ada takut takutnya dengan Jero.


Tama sangat berbeda dengan Jeri, kalau Jeri masih ada rasa takut dan segannya kepada Jero. Sedangkan Tama sama sekali tidak ada. Tapi Tama dan Jeri akan selalu ada kalau dibutuhkan oleh Jero kapanpun juga.


"Tama periksa calon istri gue" ujar Jero sekali lagi meminta Tama untuk memeriksa Vian.


"Iya iya Jero, ini gue sedang ngapain kalau nggak meriksa dia. Elo punya mata kan ya? Jadi bisa ngelihat " ujar Tama menjawab perkataan Jero dengan nada lumayan tinggi.


Tama memeriksa keadaan Vian. Dia memeriksa dengan sangat serius. Tama tidak mau melewatkan sedikitpun bukti bukti yang menyatakan kalau Vian sedang sakit.


Saat itulah seorang wanita cantik masuk ke dalam kamar Vian.


"Sayang" panggil Jeri kepada wanita itu.


"Sayang" sapa Greta.


Jeri mencium pipi Greta. Greta melakukan hal yang sama.


Saat Greta sampai, saat itulah pemeriksaan Vian selesai dilakukan oleh Tama.


"Jero, Vian dari segi fisik baik baik saja. Tetapi kelihatannya secara psikologi dan mental sepertinya dia sedikit terguncang" ujar Tama menberikan penjelasan hasil pemeriksaannya terhadap Vian.


"Jadi?" tanya Jero kepada Tama.


"Jadi, lebih baik diserahkan kepada ahlinya yaitu dokter Greta" ujar Tama menatap kepada kekasih sahabatnya itu.


Dahulu waktu kuliah, Tama sempat menaruh perasaan kepada Greta. Tetapi tepat Tama mau mengungkapkan perasaannya kepada Greta, Jeri datang dan mengatakan kalau dia dengan Greta sudah berpacaran. Hari itu dunia dokter Tama runtuh perlahan, sampai sekarang Tama masih mencintai Greta. Tetapi Tama tidak mau merebut Greta dari sahabat terbaiknya. Tama mengikhlaskan Greta untuk Jeri.


"Greta tolong Vian, Greta" ujar Jero kepada kekasih sahabatnya itu.


"Tama tadi sudah mengatakan kalau dari segi fisik dia dalam keadaan Oke. Tetapi berdasarkan kondisi phisikis dan mental dia harus dibantu. Gue yang akan bantu. Loe jangan cemas. Serahin ke gue" ujar Greta sambil menatap ke arah wanita cantik yang tertidur itu.


"Sekarang lebih baik kita semua keluar dulu. biarkan Vian istirahat. Nanti dia akan bangun" ujar Tama mengajak semua yang ada di dalam kamar Vian untuk meninggalkan Vian sendirian di dalam kamarnya ini.


"Dia aja masih belum sadar, gimana gue bisa ninggalin dia" ujar Jero yang tidak mau meninggalkan Vian sendrian di kamarnya.


"Aku pengen nunggu dia sampai bangun dulu" lanjut Jero yang ingin memastikan Vian bangun terlebih dahulu barulah dia keluar dari kamar Vian.


"Jero, di sini yang dokter gue bukan elo. Vian udah sadar, dia hanya butuh istirahat saja." ujar Tama mulai emosi dengan tingkah Jero.


"Dia butuh istirahat. Loe tau kan apa makna istirahat?" ujar Tama selanjutnya.


"Tapi" ujar Jero yang masih tetap dengan sikap keras kepalanya.


"Capek gue ngomong sama loe. Atau loe mau gue bius untuk tidur selama dua puluh empat jam?" ujar Tama yang pernah melakukan hal itu saat Jero hanyut dalam rasa sedih dan kehilangan saat Mommy meninggal dunia.


"Nggak. Gue ikut sama loe keluar. Nggak enak di bius seperti waktu itu. Itu pengalaman terburuk dalam hidup gue. Gue nggak mau ngulangin lagi" ujar Jero sambil menatap Tama yang pernah melakukan hal gila tersebut kepada Jero.


"Makanya ikut aja apa yang diarahin oleh dokter. Jangan loe jadi dokter sendiri. Nggak akan bisa" kata Tama yang kesal dengan Jero yang mau menang sendiri saja terus.


"Kita ke ruang keluarga saja atau ke taman belakang?" tanya Jero yang lebih memilih untuk berada di taman belakang.


Taman yang dibuat oleh Jero serupa dengan taman milik Mommy yang berada di mansion yang dulu itu. Jero membeli semua bunga dan tanaman yang sama dengan mansion dahulu. Semua dipindahkan oleh Jero ke taman belakang itu.


"Taman belakang aja Bang" jawab Felix yang lebih memilih untuk duduk di taman belakang. Felix ingin mengenang Mommy mereka di sana.


"Oke taman belakang" ujar Jero setuju dengan apa yang diminta oleh Felix.


"Bram minta kepala pelayan menghidangkan cemilan dan juga jus jeruk dingin untuk kita di taman belakang." Jero memberikan perintahnya kepada Bram untuk meminta kepala pelayan menghidangkan cemilan dan juga jus untuk mereka.


"Sayang, aku ke taman belakang dulu ya. Duduk sama mereka semua. Nanti, saat kamu bangun dan udah kuat jalan. Kamu ke taman belakang aja ya." ujar Jero berpamitan kepada Vian yang masih setia dengan memejamkan mata indahnya itu.


"Kamu baik baik di sini ya. Aku ke sana dulu" lanjut Jero.


Cup. Sebuah kecupan mendarat di kening Vian. Jero benar benar memperlihatkan betapa cinta dan sayangnya Jero kepada Vian kekasihnya itu.


Semua sahabat Jero menyaksikan semua itu. Mereka baru kembali melihat Jero yang bisa berbagi kasih sayang dengan seorang wanita. Selama ini wanita lah yang selalu mengejar ngejar Jero yang dingin dan kaku itu.


"Semoga Vian membawa kebaikan untuk Jero." ujar Greta.


"Aamiin" jawab Jeri dan Tama serempak.


Mereka semua akhirnya pergi meninggalkan Vian untuk beristirahat sendirian di kamar. Mereka akan menuju taman belakang untuk berbincang bincang.