
Tiga bus besar berjalan beriringan menuju bandara negara F. Bandara yang dikhususkan untuk penerbangan memakai pesawat pribadi atau pesawat carteran. Perjalanan dari villa menuju bandara menghabiskan waktu kurang lebih satu setengah jam lewat jalan jalur bebas hambatan yang dibayar dengan harga yang lumayan mahal. Pemandangan yang disajikan saat lewat jalur bebas hambatan itu adalah alam pedesaan. Vian sangat menyukai hal hal yang berbau pedesaan seperti yang sekarang tersaji di depan matanya itu. Vian sangat menikmati perjalanannya. Dia selalu menatap lurus ke depan. Kebetulan saat mereka memilih tempat duduk, Vian ingin duduk di bagian depan, jadi dia bisa melihat jalan dan juga pemandangan dengan leluasa. Jero yang sebenarnya tidak suka duduk di bagian situ terpaksa mengikuti keinginan Vian, ternyata kali ini Jero sama sekali tidak menyesal. Dia bisa menyaksikan sesuatu yang sangat jarang disaksikan oleh Jero.
"Pemandangannya bagus sekali sayang" ucap Vian sambil menatap lurus ke depan
"Lihat itu sayang, perkebunan apel. Semua batangnya seperti memerah karena buah apel yang sangat banyak" lanjut Vian menunjuk ke perkebunan apel yang terletak di sebelah kiri
Jero melihat ke arah yang ditunjuk oleh Vian. Dia melihat hamparan pohon apel yang semua berbuah lebat. Perusahaan itu tinggal memetik saja buah buah apel yang sudah masak, dan siap siap untuk mengekspor ke negara luar yang tidak memiliki buah apel dengan jenis yang hanya ada di negara F saja.
"Kalau tau ada kebun pohon apel kayak gini mending kita ke situ kemaren sayang" ujar Vian berkata kepada Jero
"Kamu mau ke sana?" tanya Jero lagi
"Nggak sayang, di negara I juga ada perkebunan apel. Kita ke sana saja besok ya?" ujar Vian yang sudah langsung menyusun apa yang akan dilakukan oleh dirinya saat mereka sampai di negara I.
"Oke, tapi saat Josua dan yang lainnya liburan sayang, kita ikut mereka liburan saja" ujar Jero dengan semangat
Josua, Ryan, Hendri dan Frans yang mendengar langsung saling pandang pandangan.
"Tidak" ujar mereka kompak berempat menolak pasangan yang bucin itu untuk ikut liburan dengan mereka berempat.
"Tuan muda, Nona Muda, kalau Tuan dan Nona ikut itu namanya kami bukan liburan. Tapi kerja sambil liburan" ujar Josua menyuarakan isi hati dirinya dan ketiga rekannya yang lain.
"Benar itu tuan dan nona muda" kata Ryan menyetujui apa yang dikatakan oleh Josua.
"Haha haha haha. Kalian batal liburan" ujar Bram tertawa ngakak mendengar apa yang dikatakan oleh Jero tadi.
"Sayang mana bisa begitu sayang, ya nggak bisalah. Kita nggak boleh ikut mereka liburan selama seminggu. Biarkan mereka berempat pergi tanpa menjaga kita. Kamu ngadi ngadi sayang" kata Vian yang kali ini mendukung pendapay dari Josua dan Ryan.
Vian tidak setuju kalau mereka harus mengganggu liburan Josua dan tiga rekannya yang lain. Padahal dalam perjanjian pertamanya mereka hanya liburan berempat tidak diikuti oleh siapapun.
"Oke oke, kita kaan liburan setelah mereka pulang liburan" ujar Jero yang tidak akan membantah apa yang dikatakan oleh Vian kepada dirinya.
"Terimakasih Nona muda" kata Josua, Ryan, Hendri dan Frans.
Mereka berempat selamat karena Vian tidak setuju dengan ide yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Vian yang memberikan hadiah liburan itu untuk mereka berempat. Jadi, Vian harus komitkan dengan apa yang dikatakan oleh dirinya kemaren saat menyerahkan hadiah liburan untuk keempat pengawal Jero dan pengawal dirinya itu.
Tak terasa tiga bus besar itu sudah sampai di bandara. Bram pergi melakukan chek in kebagian penerbangan khusus pesawat privat jet. Sedangkan pengawal menurunkan semua barang barang milik semua orang. Sebuah mobil untk mengangkat barang barang itu sudah parkir dengan membawa empat gerbong tambahan. Pengawal menyusun semua barang barang ke dalam gerbong tersebut. Mereka menyusun dengan sangat hati hati.
Semua penumpang sudah duduk di ruang tunggu penerbangan pribadi itu. Mereka tinggal menunggu perintah untuk masuk ke dalam pesawat. Semua administrasi penerbangan mereka sudah selesai di urus oleh Bram. Pesawat yang akan mereka tumpangi juga sudah berada di runway, hanya tinggal menunggu perintah saja untuk terbang.
Jero dan Vian terlihat mengobrol dengan sangat asik. Mereka membahas berbagai hal yang bisa mereka bahas. Hal yang sama juga terjadi kepada Jeri dan Greta, mereka berdua juga sibuk bercerita. Sedangkan Tama ya tetap dengan gaya Tama yang selalu sibuk mengobati pasiennya lewat online. Pasien yang melakukan konsultasi dengan Tama. Sedangkan Felix masih sibuk memonitor perusahaan perusahaan yang berada di bawah kendalinya, hal yang sama juga dilakukan oleh Bram yang kali ini tidak ditemani Ivan. Ivan asisten kepercayaannya sekaligus sahabatnya itu harus bekerja menjadi co pilot penerbangan kali ini. Co pilot yang biasa mendampingi Juan sedang sakit, sehingga dinyatakan tidak layak terbang oleh dokter bandara. Hal itu membuat Ivan mengemban tugas yang sudah beberapa bulan tidak dilakukan oleh dirinya, tetapi jam terbang dan spesifikasi Ivan memungkinkan dan mengizinkan dia untuk membawa pesawat dengan badan besar dan lebar itu.
"Ivan mana Bram?" ujar Vian yang tidak melihat keberadaan Ivan
"Jadi co pilot kak" jawab Bram dengan santai
"Oooo" ujar Vian yang baru tahu kalau Ivan juga bisa menjadi seorang pilot.
"Tuan Tuan dan Nona Nona, pesawat sudah siap. Mari silahkan ikuti saya menuju pesawat" ujar pramugari yang menjemput Jero dan yang lainnya.
Mereka semua kemudian berjalan menuju pesawat melewati gerbata. Vian selalu menggenggam tangan Jero. Begitu juga dengan Greta yang sama sekali tidak melepaskan tangan Jeri.
Juan dan Ivan serta empat orang pramugari sudah menunggu para penumpang di jenjang pesawat. Mereka kemudian turun ke landasan untuk menyapa Jero dan yang lainnya.
Jero dan Vian serta yang lainnya kecuali pengawal naik ke dalam pesawat. Mereka duduk di bagian VIP, sedangkan pengawal yang lain duduk di bagian bisnis. Pesawat itu karena milik pribadi hanya menyediakan dua kelas itu saja Vip dan bisnis.
"Selamat pagi para penumpang kami sekalian. Pesawat dengan nama lambung AS 73 akan segera lepas landas. Diharapkan semua penumpang untuk memakai sabuk pengaman masing masing. Penerbangan akan kita lakukan selama lebih kurang lima belas jam dengan sekali transit di bandara negara E. Kita transit selama dua jam."
"Kami dari kru pesawat mengatakan selamat menikmati penerbangan Anda" lanjut Juan memberikan pengumuman
Jero memasangkan sabuk pengaman Vian. Vian yang sudah kelelahan dan sedikit mengantuk berencana untuk tidur saat pesawat sudah lepas landas.
"Sayang nanti aku tidur ya, saat pesawat udah lepas landas" ujar Vian mengatakan apa yang diinginkan oleh dirinya kepada Jero.
"Oke sayang. Aku juga mau istirahat" jawab Jero
Pesawat yang dipiloti oleh Juan kemudian melakukan lepas landas dengan sangat mulus. Semua penumpang ternyata memilih untuk langsung beristirahat. Mereka sama sekali tidak mengacuhkan pramugari yang menawarkan makanan tadi. Mereka semua sudah sarapan dengan sangat kenyang di villa. Makanya mereka langsung tertidur saat pesawat sudah lepas landas.
"Semua penumpang tidur. Kita juga bisa beristirahat" ujar pramugari saat melihat semua penumpang sudah tertidur.
Pesawat terbang dengan mulus tanpa ada rintangan apapun menuju bandara negara E. Mereka akan transit di sana untuk mengisi bahan bakar serta beristirahat.