
Jeri yang sedang mengobrol asik dengan Bram, di perusahaan yang di pimpin oleh Bram, salah satu perusahaan di bawah JFB Grub yang sekarang di pimpin langsung oleh Felix. Felix sekaligus sebagai pengendali perusahaan J Grub dan F Grub, sedangkan Bram mendapatkan tugas untuk mengembangkan perusahaab B Grub, sehingga Bram dituntut untuk menjadi seseorang pengusaha yang kreatif dan selalu melahirkan ide ide jenius untuk kemajuan perusahaan yang mereka punya terutama yang mereka pimpim.
Jeri dan Bram sedang membahas tentang kemajuan dan juga pengembangan bisnis yang akan dilakukan oleh Bram ke depannya, sebuah kepakan sayap yang baru sedang di susun oleh Bram untuk diwujudkan oleh Bram ke dalam sebuah ide ide yang akan membawa kemajuan bagi perusahaan B Grub yang dipimpin oleh Bram itu sendiri. Pada saat mereka berdua sedang serius dalam membicarakan masalah perusahaan, tiba tiba ponsel milik Jeri yang hanya bergetar saja, terlihat menyala di atas meja. Jeri dan Bram langsung melihat ke arah ponsel Jeri yang telah bergetar tidak di waktu yang tepat.
Jeri yang semula akan membiarkan saja ponselnya bergetar, membatalkan niatnya saat melihat siapa yang menghubunginya saat ini. Sebuah nama yang kalau panggilannya di abaikan akan mengirim semua anggotanya untuk mencari seseorang yang sedang dihubunginya itu. Jeri tidak ingin hal itu terjadi, dia harus mengangkat panggilan itu segera. Jeri tidak ingin menjadi viral karena dicari cari oleh semua pengawal dan juga anggota dari Asander grub alias anak buah Jero.
"Siapa Bang?" ujar Bram yang sama sekali tidak bisa melihat siapa orang yang menghubungi Jeri pada saat ini.
"Nggak biasanya abang langsung angkat telpon saja seperti sekarang ini, apa lagi kita berdua sedang dalam diskusi hangat yang memang sangat sangat jarang bisa kita lakukan berdua seperti sekarang ini. Moment moment yang sangat jarang kita dapatkan. Sekalinya di dapatkan ponsel loe berbunyi bang" ujar Bram yang kaget melihat Jeri yang langsung akan mengangkat panggilan telpon, walaupun dia sedang terlihat sibuk dan sedang bercerita dengan Bram. Biasanya Jeri tidak akan mengangkat panggilan telpon dari seseorang pada saat dia sedang asik bercerita apalagi masalah perusahaan seperti yang sedang dilakukan oleh Jeri dengan Bram sebentar ini.
"Walah kalau ini nggak gue angkat, bisa jadi ini perusahaan akan ramai di datangi oleh orang berpakaian rapi serba hitam dan kaca mata hitam. Loe pasti tahu siapa orang yang gue maksud kan" ujar Jeri memberitahukan kepada Bram siapa yang menghubunginya dengan memakai bahasa isyarat saja.
"Haha haha haha, kalau kayak gitu cara ngomongnya aku tahu siapa yang nelpon abang tu" ujar Bram yang sudah dapat mengetahui siapa yang telah menghubungi Jeri dan membuat Jeri harus mengangkat panggilan telpon yang masuk ke dalam ponselnya itu.
"Makanya" ujar Jeri
Gara gara Jeri dan Bram masih mengobrol, panggilan telpon dari Jero sudah terputus. Bram hanya bisa geleng geleng kepala saja dengan kelakuan Jero, Jeri dan Tama tiga orang sahabat yang selalu melakukan sesuatu dengan sahabat mereka dan akan selalu menolong sahabat dalam melakukan suatu hal. Persahabatan yang sangat kuat yang sudah terikat di dalam diri Jero, Jeri dan Tama.
"Yah" ujar Jeri yang kaget saat melihat tidak ada lagi panggilan yang dilakukan oleh Jero kepada dirinya. Panggilan itu sudah berakhir seiring dengan berapa lamanya Jeri dan Bram bercerita tetang kebiasaan Jero kalau telpponnya tidak diangkat dalam sekali dering panggilan
"Kenapa Bang?" ujar Bram yang mendengar Jeri mengatakan kata Yah dengan nada yang sedih dan pasrah seperti itu.
"Panggilannya berakhir" ujar Jeri mengatakan hal itu kepada Bram.
"tenang aja bang. Palingan bentar lagi asisten abang masuk ke dalam sini sambil membawa ponsel" ujar Bram yang sama sekali belum sampai ke ujung perkataannya saat mendengar bunyi pintu ruangannya di ketuk oleh seseorang dari arah luar ruangan.
"Masuk" ujar Bram yang mengizinkan seseorang yang mengetuk pintu ruang kerjanya itu untuk masuk ke dalam ruang kerja Bram.
Seorang pria berbaju kemeja dalam warna putih dan di luarnya memakai celana dan jas berwarna hitam tak lupa pula dasi warna senada berjalan masuk ke dalam ruang kerja Bram.
"Nah bener gue kan" ujar Bram saat melihat siapa yang masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Maaf Tuan muda, Tuan muda Jero menghubungi Tuan muda melalui ponsel saya" ujar asisten Jeri memberitahukan kepada Jeri apa alasannya datang menemui Jeri yang sedang bekerja dan membahas suatu hal yang penting dengan Bram di dalam ruang kerja Bram.
"Dasar tu orang emang nggak ada rasa sabar dalam diri dan jiwanya. Kenapa juga dia harus menghubungi asisten gue. Apa salahnya dia menghubungi nomor gue aja lagi, nggak akan ribet kayak gini" ujar Jeri dengan nada sangat luar biasa kesal mendengar siapa yang menghubungi asistennya pada saat ini.
Jeri benar benar nggak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Jero dengan langsung main menghubungi asistennya saja tanpa mengulang kembali utuk menghubungi dirinya satu kali lagi.
"Abang lo memang tipe ngadi ngadi" ujar Jeri yang masih saja kesal dengan kelakuan Jero
"Maaf Tuan muda, panggilan itu sudah tersambung" ujar asisten Jeri yang mengingatkan Jeri kalau panggilannya dengan Jero sudah tersambung.
"Apa?"
Jeri sangat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh asistennya itu, ternyata panggilannya sudah tersambung dengan Jero yang berada di balik layar ponsel itu. Dia tidak menyangka kalau panggilannya ini sudah tersambung dengan Jero.
Bram yang melihat wajah Jeri menjadi setengah panik hanya bisa tersenyum bias saja. Dia tidak menyangka kalau Jeri akan menjadi pucat seperti serakang ini. Padahal sebelumnya Jeri dengan semangatnya memaki maki Jero, dan meluapkan segala kekesalannya terhadap Jero secara gamblang tanpa ada tedeng aling aling sedikitpun.
"Hallo Jero, kenapa loe nggak nelpon ke ponsel gue aja. Kenapa harus ke ponsel asisten gue?" ujar Jeri yang memakai jurus menyalahkan orang terlebih dahulu supaya lebih aman dalam mengatakan apa yang ingin dikatakan dan kesalahannya tadi sedikit tertutupi dan tidak akan diungkit kembali oleh Jero.
"Loe jangan mengalihkan perkataan Jeri. Gue dengar semua yang loe katakan tadi kepada asisten lo dan juga kepada Bram adik gue" ujar Jero sambil menahan senyumnya dan sedikit dalam kondisi marah.
"Haha haha haha haha haha"
Jeri tertawa ngakak mendengar apa yang dikatakan oleh Jero kepada dirinya. Ternyata Jero sudah mengerti dengan taktik yang sedang digunakan oleh Jeri saat menghadapi Jero.
"Jadi nggak mampan lah jurus gue yang ini" ujar Jeri dengan tawa yang masih tersisa di mulutnya pada saat ini.
Dia tidak menyangka kalau Jero akan mendengar apa yang dikatakan oleh dirinya tadi, sehingga Jeri sampai puas sudah mengeluarkan apa yang sedang dirasakan oleh dirinya pada saat ini.
"Nah loe kan udah puas ngata ngatai gue, jadi apapun itu gue nggak akan marah" jawab Jero yang memang sama sekali tidak terseinggung dengan ucapan yang dikatakan oleh Jeri tadi saat Jeri mengajukan protes kenapa Jero harus menghubungi asisten Jeri bukan menghubungi Jeri secara langsung.