
"Saya saja yang bawa" ujar Bram dengan bersemangat, Bram langsung berjalan cepat menuju bagian sopir.
Pengawal memberikan kunci mobil kepada Bram. Bram masuk ke dalam kursi di pengemudi. Bram siap untuk membawa mobil menuju mansion JFB. Bram kemudian melajukan mobil menuju mansion utama. Dia sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada Jero dan Felix. Kabar gembira yang berhasil membuat Tuan Wijaya menjadi kalang kabut dan berteriak histeris sebelum Bram meninggalkan perusahaannya.
"Selamat Tuan anda berhasil membuat Tuan Wijaya berteriak keras sebelum kita meninggalkan lantai ruangannya" ujar Pengawal yang berada tepat di sebelah Bram.
"Saya juga tidak berpikiran sampai ke sana. Saya kira dia akan teriak saat kita sudah meninggalkan perusahaannya, tapi ternyata, dia sudah tidak sabaran untuk berteriak lebih cepat" ujar Bram menjawab perkataan pengawalnya itu.
Bram membawa mobil dalam kecepatan tinggi. Dia benar benar ingin cepat sampai di mansion utama. Bram benar benar tidak sabaran lagi untuk menyampaikan kabar gembira itu.
"Tuan ada pesan dari Tuan Felix" ujar pengawal yang duduk di kursi belakang kepada Bram.
"Hah tumben." ujar Bram kaget mendengar Felix mengirim pesan.
"Apa pesannya, kenapa tidak ke ponsel saya?" ujar Bram masih menyetir dalam kecepatan tinggi.
Mobil sport baru milik Bram bergerak begitu kencang. Bram benar benar menggeber laju mobilnya. Kondisi jalan mendukung Bram untuk melakukan hal tersebut.
Belum sempat pengawal membacakan isi pesan chat dari Felix. Felix terlebih dahulu sudah menghubungi pengawal tersebut. Felix ingin berbicara langsung dengan Bram.
"Hallo Tuan Felix" ujar pengawal mengangkat telpon dari Felix.
"Loudspeaker, dengarkan ke Bram" ujar Felix memerintahkan pengawal untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Felix.
Pengawal mengaktifkan loudspeaker ponselnya. Dia memegang ponsel itu dan meletakkan di dekat wajah Bram.
"Sudah Tuan" ujar pengawal melaporkan kepada Felix kalau dia sudah mengikuti perintah dari Felix.
"Hallo Bang ada apa? Gue pulang hidup kok Bang. Masih lengkap nggak kurang satupun" ujar Bram mulai menggoda Felix dengan ucapan ucapannya.
"Masa bodok, gue tau dan yakin loe pulang selamat. Tapi bukan itu inti masalahnya sekarang Bram" ujar Felix mulai emosi saat Bram mengajak dirinya bercanda.
Bram bisa mendengar nada serius dari ucapan Felix. Bram tidak lagi akan mengajak Felix bercanda sekarang. Dia akan serius mendengarkan apa yang dikatakan oleh Felix.
"Bram turunkan kecepatan loe ke batas normal. Gue dan Jero masih ingin punya adik satu lagi. Ada denger loe Bram. Selagi mobil itu melaju kencang, gue dan Jero akan mengamuk saat loe sampai di mansion" ujar Felix langsung menyebutkan inti permasalahannya kepada Bram. Felix sangat jengkel dengan gaya membawa mobil Bram saat ini. Felix hanya ingin adiknya kembali dalam keadaan selamat.
"Gue nggak peduli loe berhasil atau tidak melaksanakan tugas yang tadi. Tapi satu hal yang pasti kalau kecepatan masih segitu, maka loe akan kami kembalikan ke negara E." ujar Felix dengan nada final.
Felix kalau sudah mengambil keputusan, maka Bram harus mengikuti. Bram tidak bisa menolak apa yang sudah diputuskan oleh Felix.
"Oke Bang. Laksanakan" ujar Bram yang langsung menurunkan setengah kecepatannya.
Dua orang pengawal berusaha menahan senyuman mereka saat melihat Bram menurunkan kecepatan yang sangat signifikan.
"Oke itu baru anak baik" ujar Felix.
Jero memberikan dua jempolnya untuk Felix. Sebenarnya Jero bisa langsung menghubungi Bram, tetapi Jero ingin melihat apakah Bram mematuhi Felix atau tidak. Ternyata Bram sangat mematuhi Felix.
Felix memantau laju kendaraan Bram, setelah Felix merasa kalau Bram sudah stabil melajukan mobilnya barulah Felix memutus panggilannya dengan Bram.
"Ternyata anda juga takut dengan Tuan Felix Tuan. Bukan hanya kepada Tuan Jero saja" ujar salah seorang pengawal yang menemani Bram.
"Bukan takut, tapi memang harus seperti itu. Dia abang saya, jadi apapun perkataannya harus saya lakukan." ujar Bram menjelaskan kepada para pengawalnya itu.
"Jadi, Tuan Felix akan mengikuti semua perkataan Tuan Jero?" tanya pengawal lagi.
"Yup. Nah di sini yang harus mengikuti dua perintah ya saya. Sedangkan saya nggak bisa memerintah siapapun" ujar Bram lagi.
"Nasib Anak bungsu Tuan" jawab salah seorang pengawal.
"Tuan bisa memerintah kami." ujar Pengawal yang lain.
"Yah nggak asik lah. Besok Saya akan ajukan permintaan kepada ke dua abang itu. Saya mau jadi abang saja agak satu hari" ujar Bram dengan semangat.
"Tuan, saya kan abang ni dari dua adik. Nggak ada enaknya Bang. Adik nggak ada duit Abang yang ngasih. Nah pertanyaan saya, waktu Tuan nggak ada duit siapa yang ngasih?" tanya pengawal yang berada di belakang.
"Jero sama Felix" jawab Bram.
"Nah itu dia Tuan. Makanya nggak asik jadi Abang. Lebih asik jadi adik, kita tinggal minta, abang berikan." ujar pengawal yang tadi menambahkan.
"Bener juga loe. Emang enak jadi adik, Saya apa yang saya minta pasti diberikan oleh Jero dan Felix, mereka berdua bener bener abang paling keren" ujar Bram memuji kedua abangnya itu. Niat Bram untuk menjadi abang sudah dibatalkan. Bram tetap ingin menjadi adik saja.
Tidak butuh waktu lama Bram telah sampai di kawasan mansion JFB Grub. Bram membelokkan mobil masuk ke dalam pagar mansion utama. Bram kemudian memarkir mobilnya di sembarangan tempat, Bram tidak memarkir mobil miliknya di tempat seharusnya, yaitu parkiran khusus mobil Bram. Salah satu Pengawal mengambil alih mobil tersebut dan memindahkannya ke tempat semestinya.
Bram turun bergegas dari dalam mobil. Bram berjalan cepat menuju ruangan dimana Jero dan Felix berada. Dia sudah tidak sabar lagi akan menyampaikan bagaimana dirinya bertemu dengan Tuan Wijaya. Berita yang akan membuat Jero menjadi bahagia dan tersenyum.
RUANGAN MEETING
"Nah gitu ceritanya Bang. Gue langsung berikan Tuan Wijaya bom atom itu, gue sangat yakin sekarang dia sedang ngomong ngomong sendiri kayak orang setengah gila" ujar Bram setelah selesai menceritakan dari dia datang sampai di pulang dari perusahaan Wijaya Grub. Raut wajah Bram memperlihatkan kemenangan yang tidak bisa disembunyikan. Bagi Bram ini adalah kemenangan pertamanya dalam bidang seperti ini.
"Hahahaha hahaha, loe keren Bram. Gue suka gaya loe bekerja. Loe tidak membiarkan musuh loe bergerak untuk melawan. Loe langsung hajar mereka disaat yang tepat" ujar Jero memuji Bram.
Jero sangat suka cara kerja Bram yang langsung menekan target. Tidak seperti Felix yang kadang masih memiliki rasa kasihan di hatinya, walaupun akhirnya dia akan mengeksekusi lebih kejam dari pada Bram.
"Jadi loe memakai nama perusahaan Aleksander untuk menarik saham perusahaan kita yang di sana?" ujar Felix ingin memastikan kembali apa yang di dengernya dari cerita yang disampaikan oleh Bram tadi.
"Bener Bang. Ngapain gue boong. Ngapain juga gue harus omongin masalah calon kakak ipar gue, kalau ada masalah yang lebih pantas di kambing hitamkan" ujar Bram sambil meraih air mineral yang ada di atas meja. Bram meneguk air tersebut. Jero dan Felix melihat hanya bisa geleng geleng kepala saja. Mereka menyadari kalau Bram sudah lama tidak minum. Bram tidak akan mungkin minum di perusahaan Wijaya Grub.
"Biasa aja Bang. Lagian gue dan Bang Felix akan selalu ada mendampingi elo. Jadi, jangan kebanyakan mengucapkan rasa terimakasih Bang. Capek gue dengernya. Lagian kita kakak adik Bang. Nggak ada kata terimakasih ribuan kali kepada adik dan kakak. Masalah sama kita selesaikan Bang. Itu gunanya saudara" ujar Bram sambil mencomot satu onde onde yang baru dibuat oleh pengawal.
"Gue sangat ingat kata kata Mommy sebelum menutup mata untuk selama lamanya. Mommy ngomong, Bram walaupun kamu paling kecil, tapi kamulah penjaga Jero dan Felix. Mommy titip kedua abang kamu itu ke kamu." ujar Bram yang selalu memegang apa yang dikatakan oleh Mommy nya itu sebelum menutup mata untuk selama lamanya. Saat Mommy meninggal memang hanya Bram yang menemani. Bram yang baru beranjak remaja harus melihat wanita yang membawanya dari keterpurukan harus meninggal di depan matanya sendiri. Kehancuran yang berbeda dirasakan oleh Bram saat itu.
Jero dan Felix terdiam. Hal yang sama juga pernah dikatakan oleh Mommy kepada mereka. Mereka berdua pasti akan dijaga dengan baik oleh Bram. Ternyata apa yang dikatakan Mommy benar. Selama ini yang menjaga Jero dan Felix adalah Bram, adik bungsu mereka.
Mereka bertiga kemudian melanjutkan obrolan ringan tentang perusahaan dan yang lain di rasa penting oleh Jero, Felix dan Bram.
"Bang" panggil Bram yang ingat satu hal.
"Apa pake ngagetin orang aja loe" ujar Felix kesal karena Bram tiba tiba berteriak saat mereka asik mengobrol.
Bram membesarkan matanya kepada Felix. Felix membalas membesarkan matanya kepada Bram. Jero hanya diam saja, Jero tidak melarang karena Felix dan Bram memang selalu seperti itu.
"Ada apa Bram?" tanya Jero kepada Bram.
Pertanyaan Jero membuat pandangan pandangan tajam antara Felix dan Bram terputus dan selesai. Mereka berdua kembali bersikap normal seperti biasanya.
"Menurut gue ya Bang, mending mulai hari ini loe bawa pengawal untuk mengawal Vian. Gue rasa nggak hanya satu pengusaha yang sakit hati kepada Juan Aleksander. Makanya Bang saran gue mending mulai besok loe pakai pengawal. Jadi, saat loe ada urusan penting, bisa meninggalkan Vian dalam kondisi nyaman. Loe nya pergi juga jadi nyaman. Gimana Bang?" ujar Bram menyampaikan idenya sambil menatap ke arah Felix dan Jero bergantian.
Jero terlihat berpikir, pendapat Bram ada benarnya juga, dia memang harus membawa minimal dua orang pengawal. Tapi takutnya nanti akan terlihat oleh Vian.
"Untuk apa pengawal Bram. Vian bekerja di rumah sakit milik kita. Untuk apa juga di kasih pengawal" ujar Felix yang otaknya memang lempeng dan selalu berpikiran positif.
"Bang, apa menurut loe rumah sakit kita aman bagi Vian? Tidak sama sekali. Apalagi selama ini kita hanya menaruh lima pengawal di rumah sakit hanya untuk berjaga jaga. Bukan untuk menjaga Vian." lanjut Bram menjelaskan maksudnya meminta Jero untuk membawa pengawal.
"Apalagi dengan kejadian JFB menarik sahamnya dari perusahaan Wijaya. Sudah pasti Wijaya akan sangat marah. Dia akan makin gencar menjadikan Vian sebagai target balas dendamnya."
"Loe pikir deh Bang. Mana ada orang dengan pasrah kehilangan mitra bisnis dengan saham empat puluh persen. Apalagi ini akibat perusahaan itu membuat masalah dengan perusahaan lain. Bukan karena permasalahan antar mereka berdua. Jadi, menurut analisa gue, lebih baik pengawalan ditambah di rumah sakit. Kalau di mansion, gue jamin udah aman dengan orang orang kita di sana. Saat ada sesuatu yang terjadi, mereka bisa membawa Vian kabur. Rumah sakitlah yang riskan" ujar Bram yang memang memiliki analisa lebih jauh dari pada Felix untuk hal seperti ini. Tapi kalau untuk hal hal bisnis maka berikan kepada Felix. Dia jagonya. Jero memiliki dua adik yang multifungsi dan saling melengkapi.
Jero dan Felix terlihat memikirkan apa yang dikatakan oleh Bram barusan. Mereka saling pandang dan mengangguk setuju dengan apa yang dibicarakan oleh Bram tadi.
"Gue setuju dengan apa yang dikatakan Bram tadi, setelah JFB menarik sahamnya dari Wijaya Grub. Mereka pasti tidak menerima dan berpikir untuk membalas kepada Juan Aleksander, karena menurut mereka semua ini terjadi karena Juan Aleksander. Jadi, gue setuju kalau Vian dijaga oleh pengawal tambahan, tapi usahakan yang tidak mencolok" ujar Jero yang ingin Vian aman tetapi Vian merasa tidak diikuti.
"Maksudnya Bang?" tanya Bram yang sedikit kurang paham dengan apa maksud dari Jero.
"Loe tarok suster kita yang hebat beladiri menjadi suster pendamping Vian. Setiap Vian di IGD usahakan salah satu dokternya yang hebat beladiri. Selain itu cleaning service juga yang hebat beladiri." Ujar Jero memberikan pesan kepada Bram untuk memilhkan orang orang seperti itu untuk menjaga Vian.
"Oke Bang, akan gue carikan yang sesuai dengan kriteria abang tadi" ujar Bram yang setuju untuk mencarikan para pengawal Vian.
"Kalau urusan rumah sakit Bang Felix" ujar Bram yang ogah ke rumah sakit itu.
"Paham gue paham" ujar Felix mulai menggoda Bram.
"Gue pulang dulu, kalian selalu hati hati. Loe Bram jaga dan selalu perhatikan JFB Grub dengan baik. Sempat Wijaya Grub mencoba menghajar JFB maka loe, Abng bolehkan bergerak lebih, tapi kalau mereka masih macam macam juga, maka yang akan bergerak adalah Abang berikutnya. Mereka akan tau siapa abang" ujar Jero yang tidak ingin adik adiknya diusik oleh orang lain.
"Tenang aja Bang. Mereka akan gue atasi semuanya. Mereka jual maka gue akan beli lunas tanpa kredit. Pengalaman pahit di negara E mengajarkan gue untuk selalu waspada dan bersiap saat diserang" ujar Bram menjawab dengan tegas.
"Sip.Gue jalan dulu" ujar Jero berdiri dari kursinya.
Jero sudah bisa membayangkan Vian akan marah besok pagi, karena dia pergi terlalu lama meninggalkan Vian di mansion sendirian.
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju luar mansion. Felix dan Bram mengantarkan Jero sampai ke mobil yang telah menunggu di depan teras mansion.
"Hati hati Bang" ujar Felix dan Bram berberengan.
"Oke sip. Kalian berdua juga hati hati." ujar Jero.
Mobil bergerak meninggalkan halaman mansion menuju mansion Juan Aleksander. Pengawal membawa mobil dalam kecepatan tinggi.
"Loe nggak pingin di telpon Felix kan Bro" ujar Jero menyapa pengawal yang melajukan mobil dalam kecepatan tinggi.
"Siap tidak Tuan. Saya lupa" jawab pengawal yang langsung menurunkan kecepatan mobil yang dibawanya menjadi setengah dari kecepatan awal.
Jero mengambil ponsel miliknya. Dia kemudian menghubungi Vian. Tetapi sudah tiga kali panggilan Vian masih belum mengangkat panggilan dari Jero.
"Mungkin Dia sudah tidur" ujar Jero sambil memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku celana.
Vian yang berada di mansion sudah dari tadi tertidur. Vian benar benar mengantuk setelah membaca novel online dengan judul "Kepahitan sebuah cinta". Sehingga tanpa sempat memberikan kabar kepada Jero, Vian sudah tertidur terlebih dahulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
**Mampir ke cerita ku yang lain dong kakak. Di sana masih menunggu krisan dari kakak kakak semua. Mereka berempat membutuhkan dukungan dari kakak kakak semuanya.
Kesetiaan Seorang Istri (tamat)
Kepahitan Sebuah Cinta
My Affairs
It's My Dream**