My Affair

My Affair
BAB 112



"Sayang, tadi aku udah ngomong dengan Mommy dan juga Jero untuk menghargai kanu seperti kamu menghargai mereka selama ini. Aku juga sudah mengatakan kau kamu adalah bagian dari keluarga ini, mulai saat ini" ujar Daddy kepada Rina.


Rina menganga tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh Daddy kepada dirinya. Dia tidak menyangka daddy akan melakukan hal itu secepat ini.


"Apakah mereka mau menganggap aku bagian dari keluarga Aleksander sayang?" tanya Rina sambil menatap mesra ke Daddy.


"Meraka pasti mau sayang. Aku sudah pastikan hal itu kepada mereka" ujar Daddy sambil mengusap usap perut Rina.


"Sayang mulai hari ini kamu nggak manggil aku Tuan besar lagi di depan semua maid yang ada di sini. Tapi panggil aku dengan panggilan Daddy." ujar Daddy berkata sambil menatap ke arah Rina.


Rina membulatkan mulutnya. Dia benar benar tidak siap menerima semua berita ini. Berita yang benar benar membuat Rina terkejut setengah mati


"Daddy, jangan kasih aku berita menyenangkan terus menerus Daddy. Bisa pingsan berdiri aku nanti" ujar Rina sambil memegang wajah pria yang sedang dimanfaatkan nya ini.


Daddy dan juga Rina calon istri barunya itu saling bercerita satu dengan yang lainnya. Mereka berdua terus berbagi cerita antara satu dengan yang lainnya.


Sedangkan di kamar atas, di kamar Jero. Mommy dan Jero terlihat masih saling menguatkan. Apalagi Jero, dia terus menggenggam tangan mommynya itu. Mommy tidak menangis, sama sekali tidak, tetapi mommy hanya diam saja. Diam yang nggak akan tau sampai kapan mommy akan diam.


"Mommy, Jero mohon, jangan seperti ini mommy, mommy minimal kuat untuk Jero mommy jangan untuk orang lain. Apa mommy tega melihat Jero juga ikut sedih?" tanya Jero kepada Mommy yang sekarang hanya tinggal mommy seorang yang dimiliki oleh Jero.


"Atau Mommy ingin kita keluar dari mansion ini? Jero sanggup kok mommy kita kembali menjadi susah." ujar Jero kepada Mommy nya itu.


"Jero nggak takut sama sekali kalau harus keluar dari mansion ini Mommy. Jero nggak akan mempermasalahkannya" lanjut Jero sambil menatap ke wajah Mommy tercintanya itu.


Mommy mendengar semua yang dikatakan oleh Jero. Mommy sekarang sangat yakin kalau dia tidak sendirian. Dia masih ada punya anak yang sangat sangat bisa diandalkan oleh Mommy.


"Tidak sayang, kita tidak akan pergi dari sini. Kita akan tetap di sini. Ini semua adalah hak kita sayang" ujar Mommy sambil menatap ke arah Jero.


"Jero satu yang pasti. Mommy tidak akan pergi sebelum di usir oleh Tuan besar pemilik mansion besar ini" ujar Mommy sambil menatap ke wajah anaknya itu.


Anak laki laki yang terpaksa harus cepat dewasa karena permasalahan keluarga yang harus dihadapi oleh Daddy dan mommy nya itu.


"Kamu harus selalu menyemangati mommy ya sayang. Kalau mommy terlihat sudah semakin lemah, kamu harus menguatkan mommy kembali" ujar Mommy selanjutnya kepada Jero.


"Mommy nggak mau kamu nanti tidak lagi menguatkan mommy. Mommy butuh kamu sayang" ujar Mommy sambil memegang tangan Jero.


"Mommy sayang kamu nak. Sangat sayang kamu" lanjut Mommy memeluk Jero.


"Jero juga sangat sayang mommy. Apapun Jero lakukan untuk kita mommy. Jero akan berjuang untuk keluarga kita. Jero janji akan membuat mommy bahagia dan bangga dengan Jero" ujar Jero dalam pelukan mommy nya sambil terisak isak menahan tangis.


"Kita tidur lagi yuk Mommy, besok Jero sekolah" ujar Jero yang sekarang sudah harus memikirkan sekolahnya.


"Sayang, kamu mau nggak janji satu lagi dengan Bunda?" ujar Bunda bertanya kepada Jero yang sudah merebahkan kembali kepalanya ke paha Bunda.


"Kalau kita di usir dari mansion ini, Bunda ingin kau tidak memusuhi Daddy kamu ya" ujar Bunda berkata kepada Jero.


"Bunda kalau untuk hal itu, Jero nggak bisa janji apa apa sama Bunda. Jero takut Jero nggak bisa mengabulkannya" ujar Jero menjawab permintaan bundanya yang Jero sangat yakin sekali tidak akan bisa dikabulkan oleh Jero.


"Sayang, Bunda mohon coba dulu ya, Bunda yakin Jero bisa" ujar Bunda memberikan semangat kepada Jero.


"Jero nggak yakin bisa Bunda" kata Jero sambil menatap ke arah Bunda.


"Baiklah sayang, Bunda hanya berharap itu saja. Bisa atau nggaknya itu


Saat mereka akan berbaring, tiba tiba pintu kamar Jero diketuk dari luar. Jero melihat ke layar monitor CCTV, di sana terlihat Bik Ima dan Pak hans yang sudah berdiri disana.


Jero kemudian membuka pintu kamar untuk mereka berdua.


"Silahkan masuk Pak Hans, Bik Ima" ujar Jero meminta Pak Hans dan Bik Ima untuk masuk ke dalam kamar Jero.


Jero, Pak Hans dan Bik Ima berjalan masuk ke dalam kamar Jero. Mereka berdua duduk di sebuah karpet yang ada di kamar itu. Sedangkan Jero naik ke atas kasur untuk duduk dengan Bundanya.


Mereka berempat kemudian terdiam cukup lama. Tidak ada satupun dari mereka yang terlihat akan memulai percakapan antara satu dengan yang lainnya.


"Ada apa Bik, Pak Hans?" tanya Mommy kepada kedua maid yang sangat baik dan pengertian kepada dirinya itu.


"Apa benar berita yang kami dengar itu Nyonya besar, maaf sebelumnya. kalau maid Rina sedang mengandung anak Tuan besar?" tanya Bik Ima kepada Nyonya besarnya itu.


Mommy menatap lama kearah Bik Ima dan Pak Hans. Mommy tidak tahu dari mana mereka berdua bisa tahu kejadian ini.


"Kalian tahu dari mana?" tanya Mommy kepada mereka berdua.


"Kami tadi dikumpulkan oleh Tuan Besar Nyonya. Tuan besar mengatakan kepada kami kalau, kami harus memanggil Maid Rina dengan sebutan Nyonya besar mulai hari ini" ujar Bik Ima memberitahukan kepada Mommy apa yang disampaikan oleh Tuan besar kepada mereka tadi saat dikumpulkan di ruang keluarga.


"Terus?" ujar Mommy yang penasaran apa lagi yang disampaikan oleh Tuan besar kepada seluruh maid.


"Kata Tuan besar kepada kami. Kami harus melayani Maid Rina dengan sebaik baiknya. Kami tidak boleh mengatakan tidak kepada Maid Rina. Apapun yang diminta oleh Rina harus kami wujudkan" ujar Bik Ima sambil menatap ke arah Nyonya besar.


"Oh lumayan banyak apa yang diminta oleh Tuan besar kepada kalian semua ya" ujar Nyonya besar kepada Bik Ima dan Pak Hans


"Maafkan saya tidak bisa membantu kalian semua. Aku hanya bisa membuat kalian menjadi susah. Tapi aku mohon untuk kalian semua hargailah dia untuk keselamatan kalian bekerja di sini. Aku tidak bisa menolong kalian lagi" ujar Nyonya besar kepada bik Ima dan Pak Hans.


Jero hanya bisa menatap sedih kepada kedua maid nya yang masuk ke dalam kamarnya itu. Kedua maid yang selalu membantu dirinya. Kedua maid yang sama sekali tidak pernah membuat Mommy dan Jero menjadi susah. Jero sekarang tidak bisa berbuat apa apa lagi. Jangankan untuk menolong mereka semua, untuk menolong dirinya dan Mommy saja Jero tidak tahu bagaimana caranya.


Jero kecil berpikir dengan keras. Jero tidak tahu harus melakukan apa apa lagi. Jero kecil sudah dipaksa untuk menjadi dewasa dan bisa menempatkan dirinya. Mommy benar benar tidak tahu harus berkata apa apa lagi. Bagi mommy Jero adalah segala galanya.