
Setelah semalam tidur larut malam, Athena baru tersadar saat jam sudah menunjuk angka 9 pagi. Ia segera mencuci wajahnya dan berlari turun ke dapur untuk membuat sarapan.
Athena memilih membuat roti bakar yang diberi potongan daging ditengahnya. Ia tak lupa menyiapkan sambel, mayonaise juga kecap di meja.
Tak lama kemudian, satu persatu temannya ikut terbangun, dan mengambil posisi duduk di kursi meja makan.
"Sorry yah buatnya cuman ini." ucap Athena.
"Padahal nggak bikin juga nggak apa-apa. Kita bisa beli diluar nanti" kata Kevin.
Mereka lalu sarapan dengan ala kadarnya.
"Pada mau kopi nggak? Biar nanti nggak ngantuk pas nge-trip" tawar Athena.
"Boleh deh The" Wildan yang menerima tawaran Athena.
Hari ini mereka memilih untuk mendatangi tempat wisata yang paling terkenal di pulau ini. Sebuah gurun pasir yang membentang indah.
Setelah sarapan sambil briefing singkat, mereka segera bersiap-siap untuk menjelajahi pulau ini. Athena memilih menggunakan celana jeans panjang yang dipadukan dengan kaos hitam, kakinya dibalut sepatu outdoor. Di bahunya tersampil travel bag yang ia isi air mineral, simpel juga ponsel. Rambutnya ia gerai, tapi tetap membawa kunciran.
Mobil Van membawa mereka mendatangi gurun pasir itu. Mobil Van nya di modifikasi sedemikian rupa agar bisa nanjak di daratan tinggi., termasuk bisa melewati segala medan.
Batu-batuan besar dan tersusun rapi mereka lewati, jalannya seolah sengaja dibuat diantara lembah bebatuan yang dipahat sedemikian rupa. Setelah melewati bebatuan itu, nampaklah gurun pasir yang membentang luas membentuk bukit-bukit kecil hingga yang besar.
"What a beautiful view" takjub Wildan.
"Worth it lah ngeluarin kocek banyak" Darren juga menimpali.
"Foto dulu lah" usul Kevin.
Tour guidenya mengabadikan kebersamaan mereka.
"The, foto berdua sama Raga gih" ucap Eros jahil.
Athena terkekeh. Raga menarik Athena agar lebih dekat dengannya, ia merangkul bahu perempuan itu.
"Beuh, best couple of the year" Darren menggoda mereka.
"Udah official nih?" tanya Wildan.
Raga menggeleng.
"Masih nunggu kepastian" jawabnya.
"Wahahahahha, masih digantung ternyata" Tawa Kevin meledak.
"Jangan tertawa, Vin. Lo udah move belum?" tanya Darren sarkas.
"Syalaaan" umpat Kevin.
Mereka berjalan menyusuri gurun pasir, memasuki toko-toko yang berjejer di sana. Athena membeli beberapa gantungan lucu-lucu menurutnya. Ada juga boneka dari kayu yang dipahat.
"Gantungan kunci sebanyak itu mau diapain The?" tanya Kevin.
"Simpan di lemari" jawab The asal.
Ia juga membeli jepitan rambut.
"The, Lo sadar nggak, keranjang Lo hampir penuh?" tanya Wildan.
Athena melihat keranjang yang berukuran sedang ditangannya.
"Sadar kok" jawabnya seadanya.
"Ini udah mau aku bayar" lanjut Athena.
Athena lalu mengantri untuk membayar belanjaannya. Eros, Kevin, Wildan dan Darren menunggu di luar toko. Sementara Raga ikut antri bersama Athena.
"Terima kasih, mbak, mas" ucap kasir itu sopan.
Athena tersenyum, sementara Raga hanya mengangguk.
"Makan ice cream yokk" ajak Darren.
Di sini ada satu kedai ice cream yang sangat terkenal dan paling dicari-cari para wisatawan.
"Boleh. Pasti segar banget, apalagi panas gini" Athena menyetujui.
"Seger" ucap Wildan.
"Enak banget, gurih gitu" Athena juga ikut berkomentar.
"Aku mau lagi deh, dimakan di atas mobil nanti" Athena kembali memesan ice cream untuk perbekalannya di mobil nanti.
Kini Wildan lah yang membayar ice cream mereka.
Van kembali melaju menyusuri hutan belantara yang gelap. Padahal ini masih siang. Setitik cahaya terlihat dari kejauhan, itu berarti mereka akan segera keluar dari hutan belantara ini. Mereka sampai di atas bukit yang melingkar dan ada danau ditengahnya. Setiap bukit masing-masing memiliki ketinggian yang berbeda, Athena dan kawan-kawannya berada di bukit yang paling tinggi.
"Keren" takjub Eros.
Mereka berjejer memegang pada pagar besi yang membatasi mereka dengan jurang bukit. Air danaunya seperti pelangi yang berwarna warni, tapi didominasi oleh warna biru, mungkin karena pantulan cahaya matahari.
"Gue baca di laman pulau ini, air danaunya saat senja akan terlihat lebih cantik, warnanya akan ikut keemasan" jelas Kevin.
"Keren pasti" kata Wildan.
"Kita lihat senjanya di sini nggak apa-apa kan?" tanya Kevin.
"As you wish, bro" ucap kelimanya.
Kevin tertawa mendengar jawaban kompak teman-temannya.
Athena melihat sekelilingnya. Beberapa tahun lalu saat ia menginjakkan kaki di sini, belum ada kedai kecil di sana. Mommy nya harus menyiapkan makanan juga perlengkapan masak yang bisa digunakan di tempat ini. Beberapa tahun lalu, tempat ini adalah rahasia yang paling dijaga oleh keluarga. Kini semua orang bisa menikmati keindahannya meski harus mengeluarkan begitu banyak uang.
"Sambil makan yang hangat-hangat mau nggak?" tanya Athena.
"Boleh" jawab Darren dan Wildan.
Mereka memasuki kedai minimalis yang terlihat begitu modern.
Athena sangat bersyukur, kedai ini menyediakan menu Coto.
"Mbak, pesan Coto, bihunnya dibanyakin yah" ucap Athena.
"Gue juga." ucap kelimanya.
"Makannya di sana boleh nggak?" tanya Athena sambil menunjuk tempat yang pas untuk melihat senja.
"Boleh, nona" jawab Mbak itu sopan.
Athena melihat jelas baju yang dipakai oleh Mbak itu, ternyata ia adalah salah satu orang Arunika yang sedang menyamar sebagai pelayan.
Tempat ini cukup sepi, hanya ada mereka saja juga sopir Van yang merangkap sebagai tour guide, juga pelayan di kedai ini.
"Lo sewa bukit ini, Vin?" tanya Eros.
"Enggaklah. Bisa habis tabungan gue." jawab Kevin.
"Kok sepi ?" Wildan ikut bertanya.
"Kejauhan kali, makanya wisatawan pada pilih yang dekat-dekat aja" jawab Kevin logis.
"Iya sih" ucap Athena.
Mereka menyantap semangkuk coto sambil bercakap-cakap ringan. Hingga cahaya jingga yang mereka tunggu mulai nampak. Athena lalu melihat ke danau, benar, airnya berwarna jingga, ada merah jambu juga.
"Gue lagi berasa di negeri dongeng" ucap Darren takjub.
Ratusan foto diabadikan oleh tour guide mereka, juga puluhan video yang berhasil di rekam.
"Kayaknya kita mesti kesini lagi deh" Eros juga terlihat begitu tercengang.
"Gue mesti nabung lagi buat kesini" kata Wildan.
"Kabarin yah kalau mau kesini lagi, jangan lupain The" ucap The.
"Heh, ngomongnya" Raga menyentil pelan jidat Athena.
"Lo kira kampus Arunika seluas apa The sehingga Lo bisa bebas tanpa kita-kita?" sarkas Kevin.
"Tau nih, kayak mau keluar benua aja" kata Wildan.
Athena terkekeh kecil mendengar ucapan teman-temannya.