
"Yang bakal ujian udah belajar belum?" tanya Athena.
"Malah di ingatkan" kata Nevan pelan.
"Nekat banget ujian dekatan hari" Raga menimpali.
"Ya mau gimana, bang. Pengen cepat-cepat wisuda sama si kembar" jawab Nevan.
"Iya, nanti wisudanya bertiga. Opa pasti bangga banget" ucap Arion.
"Opa bangga terus ngadain syukuran 7 hari 7 malam" sambung Nevan.
"Mau lanjut S2 nih?" tanya Athena.
"Rencananya."
"Aku belum bisa kak, mesti koas dulu" ucap Arvin.
"Jalanin aja. Arvin pasti bisa. Terus nanti namanya dr. Arvin bla bla bla" kata Raga.
"Ayra gak tidur Van?" tanya Athena pada adiknya. Pasalnya sekarang anak kecil itu kembali tertidur sambil memeluk pinggang kakaknya yang duduk.
"Semalam aku cek kamarnya, Ayra tidur kok" jawab Nevan.
"Dia kadang bangun tengah malam, Van" Athena mengingatkan.
"Ehh, emang iya?" tanya Arvin heran.
Arion dan Raga pun baru tahu akan hal ini.
"Iya. Kalau dia bangun pasti cari orang yang bisa ia peluk" jawab Athena.
"Aku nggak tahu kak" kata Nevan.
"Iya, ini makanya kakak bilang. Perhatikan lagi yah adiknya" Athena mengelus kepala Ayra.
✨✨✨
Hari sudah sangat sore, barulah keempat orang adik Athena pamit untuk pulang.
"Sepi lagi deh" ucap Raga.
"Ya mau gimana Ga, udah pada besar, masing-masing punya kesibukan. Aku mau masak deh" kata Athena.
"Udah bisa jalannya?" tanya Raga.
"Bisa kok, pelan-pelan aja" jawab Athena.
Athena berjalan keluar kamar untuk memasak makan malam. Mungkin mereka akan makan dengan sedikit terlambat karena ia baru akan memulai aksinya di dapur.
"Gak usah masak banyak ,The. Sup aja udah cukup" kata Raga.
"Iya, Ga. Ini rencananya juga cuma mau buat sup aja" Athena tersenyum pada suaminya.
Raga mengelus rambut istrinya, sebelum melangkah menuju ruang nonton sambil menunggu istrinya selesai memasak. Ia memandang sekitarnya, ada banyak foto yang tertempel pada dinding, foto dari mendiang orang tua Rafa, foto Rafa sejak kecil hingga dewasa bersama teman-temannya, juga foto Athena, dari ia bayi hingga kemarin menikah dengan Raga.
Tidak butuh waktu lama ,Athena sudah selesai dengan acara memasaknya. Dua piring sup kentang yang dicampur bihun terhidang di meja makan, juga semangkuk nasi hangat.
"Mommy dan daddy pulang kapan?" tanya Raga.
"Besok, mungkin" jawab Athena.
"Gimana thesis kamu?"
"Udah selesai. Ini juga sisa nunggu jadwal ujian. Maunya dalam waktu dekat aja, biar bisa wisuda bareng adik-adik"
"Wah, keren nih. Opa mesti buat acara, 4 orang cucunya wisuda dalam waktu bersamaan" ucap Athena.
"Kamu gak pengen lanjut kuliah?" tanya Raga.
"Nggak, kemarin aja udah cukup. Athena Mahendra Arunika sudah cukup panjang, gak perlu lah di tambah ekor lagi nantinya" jawab Athena ngawur.
Raga terkekeh mendengar ucapan ngawur istrinya.
Beberapa orang menganggap gelar adalah hal penting, untuk menambah suku kata di belakang nama agar terlihat semakin sempurna. Mereka lupa jika proses adalah yang paling penting.
Keesokan harinya, Renal dan Alda benar-benar sudah tiba di kediaman 03. Ayra tentu saja menyambut kedatangan mommy nya dengan penuh kebahagiaan. Athena juga sedang duduk di gasebo taman belakang, ia melihat Wiyu, Zoya dan Wipo yang sedang bermain di kandang mereka.
"Mereka udah pada tua" kata Renal. Ia duduk di samping putrinya.
"Daddy masih muda dong. Ayra kan masih kecil, berarti daddy nya masih muda" jawab Renal bangga.
Raga terkekeh mendengar jawaban mertuanya.
"Ayra mah masih kecil, nih lihat kakak, kakak udah besar, udah punya suami, berarti daddy sudah tua" ucap Athena.
"Sudah tua tapi masih tampan" sambung Renal.
Nevan sedang belajar di kamarnya. Ia mesti menguasai segala materi nya sebelum besok berhadapan dengan para penguji. Dua hari berturut-turut ia akan di uji oleh para profesor di kampusnya.
Hingga hari Selasa siang, Athena, Alda dan Ivana sibuk di dapur. Mereka memasak untuk makan siang bersama hari ini sebagai rasa syukur untuk keberhasilan Nevan.
"Mom" Nevan memeluk Alda yang sedang menyusun makanan di meja.
Alda mencium kedua pipi anaknya.
"Congratulation tuan Nevan Maheswari SM, S.Psi " ucap Alda.
"Panjang amat ekor namanya" kata Nevan.
Semuanya terkekeh mendengar perkataan Nevan.
"Selamat adiknya kakak The" Athena juga memeluk adiknya, diikuti oleh Ivana.
"Sana gih bersih-bersih dulu" suruh Alda.
Nevan beranjak dari dapur menuju kamarnya. Satu persatu laki-laki di keluarga mereka pulang dari kesibukannya. Arion jangan ditanya, sejak tadi ia hanya rebahan di sofa, menemani Ayra belajar.
"Pengangguran enak banget rebahan" kata Nevan pedas.
"Kamu juga soon to be pengangguran, brother" Arion menepuk pelan bahu adiknya.
"Kedua tuan muda sedang cosplay jadi pengangguran" kata Lathief.
"Bentar lagi juga sibuk jadi eksekutif muda" Mika menimpali.
"Akhirnya bisa nikmatin masa tua dengan bahagia" ucap Renal.
"Hooh, bakal tenang kita. Mau liburan yah liburan, gak pusing lagi mikir kerjaan" Mika tentu saja setuju.
"Tahu gitu aku gak usah buru-buru buat selesaikan kuliah ku" lirih Nevan.
"Santai bro. Kita akan menikmati masa menjadi eksekutif muda incaran para mertua" Arion menepuk pelan pundak Nevan.
"Rupanya cucu opa akan segera membawa menantu ke kompleks ini" kata Lathief senang.
Semuanya tertawa pelan mendengar ucapan Lathief.
Makan siang sudah dihidangkan, semuanya kini berada di meja makan untuk menyantap hasil masakan para perempuan Arunika di sertai dengan obrolan ringan.
"Adek kenapa sayang?" tanya Ivana pada Ayra yang terlihat tidak mood untuk makan.
"Nggak kenapa-kenapa mama." jawab anak itu.
Ivana mengangguk mengerti. Sementara Lathief dan Aina saling bertatapan. Ia tahu cucunya menjadi bahan perhatian di sekolahnya karena ia hanya diantar Min menggunakan sepeda motor, itupun atas permintaan Ayra sendiri. Teman-temannya kadang mengejeknya, namanya juga usia kanak-kanak.
Setelah makan siang bersama, Raga dan Athena pamit pulang lebih dulu. Mumpung Raga pulang cepat, mereka berencana untuk ke kediaman Baskara, mengunjungi sang mertua.
"Ini, titip buat Vania. Sampaikan salam mommy yah" Alda memberikan paper bag kepada Athena saat ia tahu anaknya akan ke rumah mertuanya.
"Siap, mom. Nanti The bilangin. The pamit yah" ucap Athena dan segera meninggalkan kediaman 03.
"Mau nginap di sana?" tanya Athena pada Raga.
"Terserah kamu aja. Mau nginap apa gimana, aku ikut aja" jawab Raga.
"Kamu maunya gimana, Ga?"
"Nggak apa-apa emang kalau nginap?"
"Yah nggak apa-apa. Kan rumah kamu juga disana"
"Yaudah, kita nginap." jawab Raga.
Sebisa mungkin Athena membagi waktunya. Untuk dirinya, untuk suaminya, untuk keluarganya dan untuk keluarga mertuanya. Bukankah menikah adalah menyatukan dua keluarga besar?