Athena

Athena
Talk



Seperti biasa Athena akan ke kantor jika hari kerja, dan tinggal di rumah saat hari libur. Sekarang masih Sabtu pagi, dan ia sedang sendiri. Ayra kemarin di jemput oleh Aina dan Lathief untuk dibawa ke kota A. Anak itu pergi bersama Tristan untuk menikmati hari liburnya.


Athena membuka ponselnya. Bisa ia tebak, ada pesan masuk dari Raga.


Argantara Perdanakusuma


Selamat pagi!


Jangan lupa sarapan.


Hanya itulah pesan dari Raga. Sejak kepulangan Raga dari kota C beberapa bulan yang lalu,lelaki itu tidak pernah membalas pesannya, tapi selalu mengirimkan pesan, mengingatkan dirinya untuk selalu sarapan, menjaga kesehatan dan beristirahat yang cukup.


Bukan hanya sekali dua kali Athena mencoba membalas pesan Raga, tapi nyaris selalu. Tapi lelaki itu tidak pernah meresponnya sedikit pun. Ponsel Raga seolah diatur untuk mengirimkannya pesan setiap 5 kali sehari di jam yang sama, tapi tidak pernah membalas pesannya. Hal itu tentu membuat Athena sedikit muak dan merasa sedih. Hubungan mereka sudah tidak sehat lagi. Raga tipe lelaki yang cukup kerasa, Athena pun demikian. Raga memang selalu mengirimkan pesan, tapi seolah itu hanya formalitas saja.


^^^Athena MA^^^


^^^Kamu masih marah?^^^


Athena mencoba peruntungannya.


Ting


Argantara Perdanakusuma


Buka pintu


Ponsel Athena jatuh begitu saja setelah membaca pesan Raga. Ia langsung saja berlari turun ke lantai satu rumahnya dan segera membuka pintu rumahnya.


Raga berdiri dengan pakaian santainya. Athena langsung saja menubruk tubuh tinggi nan kokoh itu, memeluknya dengan erat.


"Miss you so damn" ucap Athena sambil mendongak menatap Raga.


Raga mengusap kepala Athena, kemudian mencium kening gadis itu.


"Love you" ucapnya.


Athena menenggelamkan kepalanya di dada bidang Raga. Sudah 3 bulan lebih ia tidak menghirup bau parfum Raga, juga tidak mendengar suara dari lelaki yang sangat dingin ini.


"Udah capek ngambeknya?" tanya Athena.


Raga menggeleng.


Athena mencubit kedua pipi Raga.


"Suka banget lihat aku gundah gulana" ucapnya.


"Bahasanya makin syahdu aja" goda Raga.


"Kamu tunggu bentar, aku bersih-bersih dulu" Athena mendudukkan Raga di sofa ruang keluarga.


Raga bermain ponsel sambil menunggu Athena bersih-bersih. Ini masih terlalu pagi dan ia sudah berada di kediaman gadis itu.


Sebenarnya Raga sudah berada di kota ini sejak 3 hari yang lalu. Ia berangkat bersama Lathief dan Aina saat kedua orang tua itu menjemput Ayra dan Tristan untuk dibawa ke kota A. Raga meminta tolong pada Lathief dan Aina agar tidak memberitahukan Athena tentang kedatangannya ke kota ini.


Athena turun dari tangga hanya dengan baju kaos rumahannya, dan celana kulot selututnya, rambutnya masih tertutup handuk.


"Ayo sarapan dulu" ajak Athena.


Raga mengikuti langkah kaki Athena berjalan ke dapur. Sudah ada bubur ayam yang tersedia dalam mangkuk besar dan juga ayam suwir, bawang goreng, kacang goreng juga daun seledri.


"Lengkap, Ga?" tanya Athena.


"Boleh, deh" jawab Raga.


Athena mengambil bubur ayam untuk Raga terlebih dahulu, kemudian untuk dirinya.


"Jangan terlalu banyak makan sambel, The" tegur Raga.


"Nggak banyak ini" ucap Athena.


Raga mengambil mangkuk bubur Athena, mencicipi nya sedikit.


Athena dengan pasrah hanya mengambil mangkuk bubur yang baru, kemudian mengisinya kembali. Sudah cukup lelaki itu mengabaikan kehadirannya selama ini, Athena tidak akan memancing lagi. Athena bahkan makan tanpa sambel.


Hanya dentingan sendok yang beradu dengan mangkuk yang terdengar. Tidak ada percakapan lagi. Bubur Athena yang tadi, Raga campur dengan buburnya, berharap rasa pedasnya bisa berkurang sedikit.


Setelah sarapan, mereka berdua kembali ke ruang keluarga. Raga duduk di atas sofa, sementara Athena duduk di karpet, persis depan Raga. Raga membuka handuk yang menutupi rambut Athena, kemudian mengeringkan rambut gadisnya dengan cara manual.


"Ngambek hmm?" tanya Raga.


Athena menggeleng.


Raga mencium kening Athena.


"Jaga kesehatan, The" ucapnya.


"Itu cuman sambel lho, Ga"


"Tapi sambelnya kebanyakan The"


"Dari dulu juga gitu, kamu gak protes."


"Makanya sekarang di kurangin"


"Terserah kamu aja" pasrah Athena.


"Kamu kenapa bisa ada di sini? Sejak kapan?" tanya Athena.


"Sejak beberapa hari yang lalu. Aku ada kerjaan, bersamaan dengan Opa yang akan menjemput Ayra, yah sekalian berangkat bersama-sama" jelas Raga.


"Kamu mah enak, ngabarin kalau lagi mau aja, ngehubungin pas mau aja. Aku mah bisanya nunggu kabar saja. Kamu bebas kesana kemari, aku nggak tahu. Kamu kesini aja aku nggak tahu kalau kamu gak ke rumah ini"


Raga ikut duduk di karpet, bersandar pada sofa.


"Seandainya kamu tahu bagaimana rasanya menjadi aku, kamu mungkin gak bakal bilang hal tadi, The. Maaf kalau selama ini aku nggak pernah ngertiin kamu" ucap Raga.


"Bagus kalau sadar diri"


"Aku pulang" pamit Raga.


"Kalau kamu melangkahkan kakimu sekali aja, aku pastiin kamu gak bakal ketemu aku lagi"


Raga yang hendak pergi pun, tidak jadi melangkahkan kakinya.


"Sebenarnya masalah kita ini apa, The?"


"Aku yang seharusnya tanya itu sama kamu. Kamu kenapa? Setelah kehadiran dimana aku nganterin kamu ke apartemen, kamu seolah gak anggap aku ada"


"Aku gak suka yah lihat kamu sama Andika Andika itu" Raga mulai meluapkan amarahnya.


"Rasanya aku pengen langsung habisin Andika aja saat itu." Raga kembali meluapkan amarahnya.


"Ga, Andika itu hanya teman kerja aku, atasan aku di kantor, itupun kita ketemu nya karena nggak sengaja" Athena mencoba melunak. Ia ingat pesan mommy nya, jika para kaum perempuan pun harus mengerti kalau lelaki itu punya rasa cemburu.


Raga hanya diam.


"Kalau kamu cemburu, kamu harusnya bilang, bukan ngilang kayak kemarin. Ga, aku juga manusia, gak bisa baca pikiran kamu. Kalau kamu gak bilang, aku juga pasti gak bakal tahu" Athena mengusap dahi Raga, mencoba menenangkan pria itu.


"Kalau marah, jangan lama-lama yah kayak kemarin." lanjut Athena.


Raga menjadikan bahu kanan Athena sebagai tumpuan kepalanya. Mencoba menenangkan dirinya. Ia bingung dengan dirinya sendiri, kenapa ia bersikap kekanak-kanakan seperti ini.


"Aku gak sebebas mereka, The. Aku gak tahu harus ngomong seperti apa saat sedang marah, cemburu , sedih ataupun senang"


"Kamu punya aku. Kamu bebas buat mengekpresikan apapun di depan aku. Aku akan selalu menjadi pendengar terbaik kamu, menjadi teman cerita kamu. Tolong, Ga, beritahu aku kalau ada hal yang gak kamu suka, setidaknya aku bisa menghindari hal itu"


"Kamu seharusnya menemukan lelaki yang lebih baik daripada aku" ucap Raga.


Athena mengusap kepala Raga.


"Kita sama-sama memperbaiki diri yah. Aku juga tidak sesempurna yang kamu kira. Aku juga manusia. No body's perfect"