
"Yakin mau ke rumah yang satunya?" tanya Raga.
Athena mengangguk.
"Mansion terlalu besar, Ga. Ramai juga. Aku pengen hanya ada kita aja, kakak dan dedek" jawab Athena.
"Tapi syaratnya gak boleh dilanggar yah?" Raga memperingati.
"Iya, gak bakalan kecapean. Tetap ada orang-orang laundry dan bersih-bersih tiap pekan"
"Pinter istri aku" Raga mengusap kepala istrinya.
"Pa" panggil Anne.
Raga menoleh. Menatap anaknya yang sedang memegang bola kecil.
"Kenapa kak?"
Anne hanya tertawa dan bertepuk tangan.
Raga dan Athena terkekeh melihat tingkah absurd sang anak.
"Balik sekarang aja? Ini udah sore"
"Iya, balik sekarang aja" jawab Athena.
Mereka berpamitan kepada pelayanan yang ada di rumah, tak lupa juga kepada J.
"Apa perlu saya antar nyonya?" tanya J sopan.
"Tidak perlu, J. Terima kasih." jawab Athena lembut.
J mengangguk mengerti. Ia mengantar Athena hingga di mobil, dan melihat kepergian keluarga Athena hingga keluar dari mansion.
"Gak mau makan di luar aja? Atau take away aja?"
"Kamu pengen makan di luar?" tanya Athena balik.
"Makan di luar aja. Biar kamu gak capek masak sampai rumah" jawab Raga.
"Yaudah, maunya kamu gimana" Athena mengelus rambut pendek Anne yang duduk dipangkuan nya.
"Perut kamu gak kehimpit kan?" tanya Raga.
Athena terkekeh.
"Nggak, Ga. Kakak juga duduknya dipaha aku, bukan di perut. Aman kok perut aku"
Mereka tiba di rumahnya jam 9 malam. Raga memutari kota terlebih dahulu, melihat pemandangan kota saat malam, lampu jalan yang berjejer rapi, tanaman tumbuh subur sepanjang jalan.
"The, musim gugur akan segera datang" Raga memeluk istrinya dari belakang.
Athena sedang berdiri di depan bingkai jendela, melihat tanaman bunganya. Tanaman bunganya sudah menunjukkan jika perkataan suaminya memang benar. Daun-daunnya perlahan gugur.
"Gimana pekerjaan nya?" tanya Athena.
"Aman. Gak muluk-muluk, seperti biasa." jawab Raga. Ia mengeratkan pelukannya, hawa dingin mulai terasa.
"Jendelanya ditutup dulu, udah dingin banget ini" kata Raga. Ia melepaskan pelukannya dan menutup jendela kamar mereka.
"Aku ke kamar kakak dulu" kata Athena. Ia belum sempat mengucapkan selamat malam kepada anaknya yang sudah terlelap saat mereka dalam perjalanan pulang tadi.
Raga menyusul istrinya, mengucapkan juga selamat malam kepada putri pertamanya. Melihat kedekatan Athena dan daddy nya, seolah memompa semangat pada Raga untuk melakukan hal yang sama, lebih dekat dengan putrinya.
Setelah ritual sebelum tidurnya dilaksanakan, mereka kembali ke kamarnya.
Athena menarik selimut, hendak tidur.
"The" Raga memanggil.
"Kenapa, Ga?" tanya Athena.
"Kok aku pengen salad buah yah?" Raga heran dengan dirinya sendiri.
"Heh?"
"Iya, pengen banget. Padahal cuacanya dingin gini. Diberi cream vanila, parutan coklat dan keju. Enak banget kayaknya" Raga membayangkan.
Athena tersenyum.
"Ayo bangun. Aku buatin dulu. Kamu ngidam kayaknya" kata Athena.
Raga mengangguk senang. Ia bangun dan mengikuti istrinya menuju dapur.
"Maaf yah, aku kebanyakan maunya" ucap Raga.
"Namanya juga ngidam, Ga. Nanti anaknya ngeces" kata Athena.
"Aku beruntung sih, kamu yang ngidam. Ngidamnya juga masih mending, gak terlalu absurd dan sensitif. Aku juga makannya normal aja, gak ada perubahan."
Raga menyetujui ucapan istrinya. Dalam beberapa kehamilan, biasanya calon ibu yang tersiksa ingin ini dan itu. Penciuman nya juga bermasalah, kadang mual gak bisa cium parfum, atau aroma menyengat lainnya.
Athena membuat 3 box salad buah secara dadakan. Ia memberikan nya pada Raga 1 box dan menyimpan sisanya ke dalam kulkas.
"Makan gih" ucapnya lembut.
"Kamu gak makan?" tanya nya.
Athena menggeleng.
"Cuaca udah dingin banget, ya kali mau makan salad yang dingin juga. Kamu aja yang makan, aku temanin " Athena duduk di samping suaminya. Ia senang melihat suaminya yang makan dengan lahap.
"Sepengen itu yah?" tanya Athena.
Raga mengangguk.
"Kayak pengen nangis aja seandainya kamu gak buatin aku" jawabnya.
Saat Athena hendak mengambil cup kotak bekas makan Raga, tangannya di tahan oleh Raga.
"Kamu duduk aja. Biar aku yang bersihin dan cuci piring " ucap Raga.
"Tapi, Ga..."
Raga menggelengkan kepalanya tanda tidak mau dibantah. Tangannya dengan lembut mengelus kepala istrinya.
"Tunggu bentar yah" katanya.
Athena mengangguk pasrah. Ia menjadikan tangannya sebagai penyangga kepalanya sambil melihat Raga mencuci piring dan cup kotak yang ia gunakan tadi.
Tidak butuh waktu lama, mereka kembali ke kamar.
"Kamu istirahat dulu. Aku mau sikat gigi dulu "
Athena berjalan ke tempat tidur terlebih dahulu, membaringkan tubuhnya. Ia menatap jam dinding, sudah pukul 11 malam. Udara terasa semakin dingin, ia menarik selimutnya dan mengeratkan pada tubuhnya.
Raga memeluk pinggang istrinya. Ia menelusup kan kepalanya ke pundak sang istri, mencari kehangatan.
"Maaf yah, belakangan ini aku banyak sekali maunya. Maunya banyak, ini itu" ucap Raga pelan.
Athena menoleh sejenak, mencium sekilas kening suaminya.
"Aku suka kalau kamu kayak tadi, minta makanan yang kamu inginkan. Selagi aku bisa, aku pasti buatin kamu. Apalagi kamu makannya lahap sekali"
"Terima kasih, The" Raga mengeratkan pelukannya.
"Sleep tight suamiku " ucap Athena pelan.
"Sweet dream istriku " balas Raga.
Mata mereka terpejam, lalu mereka berlayar ke alam mimpi.
✨✨✨
Ponsel Athena berdering, ia membaca pesan dari Raga. Suaminya mengirimkan foto tahu mercon. Tahu isi kol, bihun dan banyak cabai.
Argantara Perdanakusuma
Kok aku ngiler yah?
^^^Athena M A^^^
^^^Ngidam lagi? Pengen makan yang ini?^^^
Argantara Perdanakusuma
Iya. Tapi kamu gak usah buatin sekarang.
Pulang kantor aku cari dulu, kalau gak dapat nanti aku bilang.
^^^Athena M A^^^
^^^Baiklah.^^^
Athena tersenyum membaca pesan suaminya. Sejak kejadian ia pergi bersama Anne beberapa bulan yang lalu, suaminya berubah banyak. Ia lebih terbuka pada Athena, menutup diri dari orang-orang yang menurutnya tidak penting di luar sana dan Raga lebih hangat kepada semua anggota keluarganya.
"Mama" panggil Anne pada Athena.
"Iya sayang?"
"Cal cal" tunjuknya pada layar televisi yang menayangkan baby shark.
"Iya, baby shark yah."
Kepala kecil Anne mengangguk. Tangan kecilnya sedang berusaha memasukkan stik ke dalam lubang botol yang Athena berikan. Athena sedang mengajarkan sensory play pada anaknya dengan cara tersebut.
7 batang stik sudah berhasil dimasukkan Anne ke dalam botol, sisa 3 kali. Athena tentu saja senang melihatnya, meskipun fokus Anne terbagi, tangannya tetap berhasil memasukkan stik ke dalam botol.
Suara pintu terbuka dari luar, membuat dua perempuan beda generasi itu menoleh.
Anne berjalan menuju papanya, memeluk lutut sang papa.
"Pinter anak papa" Raga mengelus kepala anaknya menggunakan sebelah tangannya yang bebas tanpa bawaan.
Athena mengambil paper bag yang Raga bawa. Aromanya begitu menggugah selera. Suaminya benar-benar mencari tahu isi mercon, tak lupa tahu bulat kesukaan sang istri.
Athena hanya perlu memindahkan nya ke dalam piring dan menyajikan nya. Ia memisahkan tahu bulat buat Anne di piring kecil milik anaknya.
Mereka menyambut malam dengan makan gorengan hasil ngidam Raga.