
Proses belajar mengajar sudah kembali seperti biasa. Awal semester genap ini, kelas 12 sudah dihadapkan dengan try out ke 2. Tidak ada yang berubah, Athena tetap santai seperti biasa, Fany dan Dwi yang berusaha keras untuk try out kali ini.
"Soalnya luar biasa" kata Audy.
"Ruarrrrr bisa" Dwi meminum jus di depannya.
"Fisika, well done. Jadi penutup" ucap Fany senang.
"Lo kok biasa aja The?" tanya Audy.
"Emang harus gimana ,Dy?"
"Ngeluh kek, frustasi kek" jawab Audy.
"Kenapa harus frustasi karena soal?"
"Kan soalnya ngeselin, The" jawab Dwi.
"Bikin darah naik" sambung Audy.
"The beda kali dengan kita semua. The udah berteman dengan rumus-rumus dan soal-soal, jadi gak bakal ngeselin menurut dia" ucap Fany.
Athena hanya memakan bakso di depannya, ia tidak tahu harus merespon teman-temannya seperti apa. Kenapa juga harus frustasi karena soal? Athena sudah mempelajari itu sejak SMP, saat teman-teman seumurannya masih berhaha-hihi. Athena sudah menempa dirinya sejak dini, disaat anak-anak seumurannya masih asyik dengan boneka Barbie nya.
Lebih baik belajar di awal daripada menyesal dikemudian hari. Wawasan sangat penting untuk kehidupan. Orang-orang melihat ia liburan bersama keluarganya, tapi ia sesekali harus menjawab pertanyaan dari sang mommy atau Daddy nya yang dibuat seperti cerita liburan tapi tetap menggunakan rumus di dalamnya. Dan Athena suka dengan hal itu, dimana pun ia berada, selalu ada hal baru yang ia dapat, pengetahuannya juga bertambah.
Hasil TO sudah bisa diakses masing-masing siswa, bahkan para orang tua siswa juga bisa melihatnya hanya dengan membuka link yang ada di grup sekolah.
"Athena is the one" kata Bastian.
"Sempurna, selalu" kata Audy.
"Raga juga ada peningkatan. 99, sangat hebat" Dwi mengamati perolehan nilai di tab nya.
Fany berada diurutan ketiga, sedangkan Dwi berada diurutan ke empat. Anak Nusa Bangsa yang sempat berada diurutan ke tiga saat TO pertama, terhempas jauh ke urutan 10.
"Gue jadi penasaran sama nilai ulangan semester kita selama ini" kata Fany.
"Sabar shayy, bentar lagi kita semua bakal tahu hasil belajar kita di sekolah" Dwi menepuk pundak Fany.
"Jadi The gimana rasanya menjadi nomor satu untuk yang kedua kalinya?" tanya Irvandi.
Athena tersenyum, tidak mengeluarkan suaranya. Ini bukan hal baru baginya. Ia pernah mengikuti lomba science waktu SMP di negara D, hasilnya sangat memuaskan. Ia keluar sebagai peraih medali emas, identitasnya tentu saja di rahasiakan. Ia juga pernah mengikuti lomba math, dan hasilnya selalu sama. Ia bersyukur DNA Rafa mengalir dalam dirinya, juga pendidikan sejak dini yang Alda dan Renal terapkan sehingga bisa membuatnya seperti sekarang. Tapi ia merasa bersalah saat melihat wajah kecewa temannya yang belajar siang malam agar mendapatkan hasil yang mereka inginkan. Meskipun dirinya juga pernah merasakan belajar lebih dari 8 jam sehari.
"Apaan sih Irvandi? TO ini hanya simulasi UN" kata Athena.
"Tapi nilai TO juga penting The. Universitas Arunika bahkan rela memberikan golden ticket buat peraih nilai TO terbaik" kata Fany.
"Iya, iya" kata Athena.
✨✨✨
"You won" kata Raga.
Mereka berdua sedang berada di AN resto yang terletak di pantai kota A. AN resto mempunyai puluhan cabang di kota A, juga beberapa di luar kota dan negeri.
"Aku sedang tidak bersaing" ucap Athena.
"Kamu juga berhasil, ada peningkatan." puji Athena.
"Tapi masih lebih hebat kamu, The" ucap Raga.
"Mungkin itu hanya kebetulan. Apalagi Daddy kan yang punya sekolah. Gimana kalau Daddy ada main di belakang layar?" pancing Athena. Ia ingin melihat bagaimana respon Raga.
"Kamu seharusnya gak mancing aku lewat jalur ini The. Kita semua tahu, tidak ada seorang pun yang tahu soal TO, selain pembuatnya, dan tentu saja ini rahasia negara. Kita semua bisa lihat soalnya diwaktu itu, baik dewan guru maupun pejabat negara." kata Raga tenang.
"Bapak Argantara Perdanakusuma hebat nih" Athena mencubit pipi Raga.
"Daddy Lo gak bikin sistem sekolah seperti ini tentu bukan tanpa alasan, pasti ada alasan dibalik itu. Daddy Lo pasti mikirin hingga 10 - 20 tahun ke depan" lanjut Raga.
"Iya iya" kata Athena.
"Aku mau coto punya kamu deh The" pinta Raga.
"Udah di kasih sambel?" tanya Athena.
Raga menggeleng.
"Belum aku racik" jawabnya.
Athena lalu meracik Coto punya Raga yang telah ia tukar.
"Rasanya beda kalau kamu yang racik" ucap Raga.
"Enak atau aneh?"
"Enak, The" jawab Raga.
"Aku kira aneh, soalnya gak pake kecap"
"Aneh juga sih rasanya. Aku biasanya pake kecap" jujur Raga.
"Yaudah, siniin punya aku. Kamu makan punya kamu sendiri" Athena hendak menukar kembali mangkuk Coto di depannya. Tapi Raga dengan cepat menahannya.
"Jangan ngambek The. Nanti makanannya marah" ucap Raga.
Athena tidak merespon ucapan Raga. Ia kembali menambahkan sambel juga perasan jeruk pada mangkuk di depannya. Padahal tadi ia sudah memberi beberapa sendok sambel.
"The, jangan banyak-banyak sambelnya" peringat Raga.
Athena hanya diam. Ia membelah ketupat, dan tak sengaja jarinya teriris. Tapi ia diam saja, ia hanya melap nya menggunakan tissue.
"Tangan kamu berdarah lho" kata Raga.
Athena tidak menggubris. Ia memakan Coto yang entah bagaimana rasanya. Sambel dan kuah kacangnya nyaris sama banyaknya.
"Berhenti atau pulang sekarang?" ancam Raga.
Athena mengehentikan makannya. Ia lalu minum air mineral. Kemudian membuka tasnya, ia hendak mengambil ponselnya.
Raga dengan cepat merebut tas Athena. Ia berdiri dan menarik tangan Athena agar mengikutinya.
Athena enggan berjalan, Raga dengan sabar merangkul bahu Athena, seolah memapahnya menuju kasir untuk membayar makanan mereka yang tidak habis.
Raga membuka pintu mobil untuk Athena.
"Masuk" katanya.
Athena duduk di kursi penumpang. Ia membuang tatapannya ke jalan sebelah kiri, asal tidak melihat wajah Raga.
Raga membawa mobilnya seperti biasa, dengan kecepatan sedang. Ia menghentikan mobilnya di apartemen yang pernah ia dan Athena kunjungi.
"Aku mau pulang" ucap Athena.
"Nggak ada yang pulang" kata Raga.
"Aku mau pulang" ulang Athena.
"Aku bilang gak ada yang pulang" Raga juga mengulang kalimatnya.
"Buka kuncinya, aku pulang sendiri"
Raga diam, tentu saja tidak mengabulkan permintaan gadis di sampingnya.
Athena tidak lagi mengulang kalimatnya. Ia membelakangi Raga, menyandarkan kepalanya di jendela mobil.
"Kamu marah karena aku bilang rasa cotonya aneh?" tanya Raga.
Athena hanya diam. Gadis itu benar-benar enggan untuk berbicara.
"The, madep sini" pinta Raga lembut.
Athena masih tidak bergeming.