
Setelah proses pemakaman selesai, beberapa kerabat nenek Rita dan juga tangan kanannya duduk di ruang keluarga, bersama Okan, Athena, Vania dan Aurora yang sedang dalam pangkuan Athena.
"Terima kasih nona, sudah bersedia menerima amanah dari nyonya" ucap seorang perempuan, dia adalah tangan kanan nenek Rita, namanya Harsha.
"Beberapa bulan belakangan nenek Rita seolah pamit kepada kami, hal itu dipertegas saat Tuan Mc'Clary datang ke tempat ini. Kami tentu menawarkan diri untuk merawat nona Aurora, tapi nenek Rita menolak dengan halus. Ia berkata seorang perempuan cantik dan baik hati yang akan merawat cucuku." ucap seorang lelaki yang terlihat sudah berumur, sama seperti Okan.
Athena mengangguk mengerti. Mungkin nenek Rita juga punya sedikit kelebihan untuk melihat sesuatu yang akan terjadi, meskipun hanya untuk beberapa hal.
Okan membacakan seluruh asset yang ditinggalkan oleh nenek Rita, yaitu sebuah rumah, sebuah perusahaan dan juga sebuah lahan yang ada di desa.
"Hingga di detik-detik terakhir kehidupan beliau, beliau bertanda tangan atas pemberian hak asuh nona Aurora kepada nona Athena" Okan menutup berkasnya.
Semuanya tentu mengangguk paham, dan puas akan hal ini. Agar dikemudian hari tidak terjadi masalah.
Di sampul berkas, ada kalimat "Hiduplah seperti saat aku masih disini, tetap tersenyum, tertawa dan bahagia. Aku juga akan berbahagia diatas sana melihat kalian."
"Nona tidak perlu khawatir, kami semua akan menjaga nama baik nenek Rita. Tapi tolong jaga nona Aurora untuk kami" ucap Harsha.
"Terima kasih. Tentu saya akan merawat Aurora dengan sangat baik" Athena tersenyum.
Athena sekarang mengerti, orang-orang nenek Rita begitu setia dan berpikiran terbuka. Mereka semua sedang bekerja saat nenek Rita menghadapi kematiannya, itulah sebabnya hanya ada nenek Rita dan Aurora yang dia dapati.
Alih-alih melanjutkan perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Athena dan Vania terjebak di rumah nenek Rita hingga hari berganti.
Pagi hari, Athena dan Vania pamit untuk kembali ke kediaman Athena.
"Harsha, aku akan pulang. Apakah aku boleh menjalankan amanahku sekarang? Aku akan membawa Aurora bersamaku"
Harsha mengangguk.
"Tentu saja, nona. Ini gunakan untuk keperluan nona Aurora."
"Mungkin dalam waktu dekat aku harus kembali ke kota A, apakah kamu keberatan jika aku membawa Aurora ikut bersamaku?"
"Tentu saja saya tidak keberatan, nona. Nona adalah orang pilihan nenek Rita untuk menjadi orangtua sambung bagi nona Aurora."
"Baiklah, Harsha. Sebelum saya kembali ke kota A, saya pasti akan datang ke rumah ini untuk pamit lagi" ucap Athena.
Harsha mengangguk. Ia mengantarkan Athena dan juga membawa koper untuk Aurora.
"Om Okan yakin akan langsung pulang?" tanya Athena.
Okan juga sedang bersiap-siap.
"Om yakin, The. Wish you luck sayang" katanya. Ia mencium kening Athena dan juga Aurora.
"Saya pamit, nyonya" katanya kepada Vania.
"Hati-hati, tuan" ucap Vania.
"Sampaikan salam The kepada Tante Indi juga Alan." kata Athena.
Okan mengangguk. Ia melambaikan tangannya saat mobil yang mengantarnya mulai berjalan.
"Kami pamit, Sha"
Harsha mengangguk dan tersenyum.
Athena kembali ke rumahnya tanpa sempat ke pusat perbelanjaan.
"Mama marah yah?" tanya Athena.
Vania menoleh.
"Marah untuk apa?"
"Kerena The udah ambil Aurora tanpa izin dari Raga, mama dan papa. The minta maaf, ma" ucapnya .
Vania menggeleng.
"Sayang, jangan berpikir begitu. Mama tentu saja menerima Aurora, mama akan anggap dia seperti cucu mama sendiri "
"Terima kasih, ma"
"Anaknya lucu gini, kayak boneka hidup" Vania menemani Aurora bercerita, yang dibalas anak itu dengan matanya yang berkedip-kedip lucu.
✨✨✨
Sementara di kota A, Raga kedatangan orang tua Clara dan Clara sendiri.
"Ohh jadi kamu yang hamilin anak saya?" tanya nyonya Devanka.
Raga terkekeh.
"Tante udah tahu yah kalau anak Tante sedang hamil?"
"Jangan kurang ajar, Raga. Kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan anak saya" kata tuan Devan.
"Karena hanya kamu satu-satunya lelaki yang ia kenal di kota ini. Hanya kamu yang selalu bersama Clara"
"Segitu yakinnya om dengan hal ini? Om, saya baik kepada Clara karena ia adalah anak dari sahabat papa saya, om juga yang meminta saya menjaga Clara." kata Raga.
"Tante gak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab atas kehamilan Clara" marah Nyonya Devanka.
Sementara Clara hanya bisa menangis.
"Ayo bilang Clar sama orang tuamu jika bukan saya ayah dari bayi yang ada dalam kandungan kamu "
Clara menggeleng .
"Kamu ayahnya, Ga"
"Lucu banget lo Clar. Gue aja gak pernah ninggalin istri gue di rumah. Gimana caranya lo bisa hamil?" Raga terkekeh.
"Tapi hanya kamu yang selalu sama aku ,Ga"
"Sama bukan berarti saya ayahnya kan? Saya beri kamu opsi, pertama, kamu berkata jujur atau opsi kedua saya akan membuat kamu jujur dengan cara saya sendiri "
Clara hanya bisa menangis.
"Jangan nuduh anak saya yah" marah Nyonya Devanka.
"Saya tidak menuduh, Tante. Saya juga belum bilang apa-apa " kata Raga.
"Tapi berhubung kalian semua ada disini, saya melepaskan tanggung jawab untuk menjaga Clara selama ia ada di kota ini dan urusan pekerjaan yang berhubungan dengan dia akan dilanjutkan oleh orang-orang saya"
"Hei Perdanakusuma, jangan sombong begitu." kata Tuan Devanka.
"Maaf om jika saya lancang. Saya harus menjauhi beberapa hal yang mengancam keselamatan hidup saya dan keluarga saya. Clara sudah bertindak sejauh ini untuk menjadi badai dalam rumah tangga saya."
"Apa yang kau katakan, Raga? Anak saya ini anak baik-baik, tapi kau yang merusaknya " tunjuk Nyonya Devanka.
"Dia yang rusak dirinya sendiri, Tante."
"Berhenti omong kosong, Ga. Tidak ada seorang perempuan yang akan merusak dirinya sendiri " kata Clara.
Raga bertepuk tangan.
"Tapi pengecualian untuk lo Clar. Lo udah rusak diri lo sendiri untuk merusak kehidupan orang lain." Raga berucap sama sarkasnya.
"Jangan asal menuduh anak saya" Nyonya Devanka menampar pipi Raga.
Raga bergeming, ia menatap tiga orang di depannya.
"Kenapa kau ayunkan tanganmu ke wajah anakku?" marah Baskara, ia membuka pintu dengan sedikit dobrakan.
"Saya cukup sabar selama ini. Saya akan membuktikan ucapan saya."
Beberapa menit kemudian, 3 orang lelaki memasuki ruangan Raga. Satu orang diantaranya membuat Clara ketar ketir.
"Yang di tengah adalah orang yang dibayar oleh Clara untuk merusak dirinya sendiri" beritahu Raga.
"Hentikan omong kosong kamu Raga" teriak nyonya Devanka.
"Benar, nyonya, tuan. Beberapa bulan yang lalu kami ketemu di Bar dan Clara meminta saya untuk menghamilinya. Karena keadaan saya sedang terdesak dan butuh uang, saya menerima tawaran Clara. Ia melakukan itu semua untuk menjebak dan merusak rumah tangga tuan Raga" cerita lelaki itu.
"Kamu kalau buat cerita yang bagus sedikit, Ga. Mana ada perempuan yang mau merusak dirinya sendiri?" bantah Clara.
"saya bilang lo orangnya." Raga juga memperlihatkan rekaman CCTV kejadian di bar.
"Karena bukti sudah sangat kuat, maaf Devan jika persahabatan kita akan menjadi renggang. Anak saya sudah sangat baik selama ini, ia menjaga Clara seperti adiknya sendiri, tapi anak kamu menyalah gunakan perhatian kami." ucap Baskara.
Plak
Kini Devanka yang menampar pipi anaknya sendiri.
"Anak muda, menikah lah dengan anak saya" katanya kepada seorang lelaki yang Clara bayar.
"Pa"
"Nggak mau pa"
ucap Nyonya Devanka dan Clara bersamaan.
"Keputusan papa tidak bisa diganggu." kata Devanka tegas.
"Maafkan kami, Baskara. Dan terima kasih" ucap Devanka sebelum membawa keluarganya keluar dari ruangan Raga.
Raga bernapas lega. Masalahnya sudah selesai. Ia sangat merindukan istrinya.
"Cepat telpon mamamu dan tanyakan keberadaan nya" suruh Baskara.
"Iya, pa" Raga dengan cepat mengambil ponselnya.