
"Siang nanti aku balik ke kota A. Kamu di jemput Min aja nggak apa-apa kan?" tanya Raga.
Pagi ini mengantarkan Athena ke kantor, sebelumnya ia tentu mengantarkan Ayra ke sekolah.
"Iya, nggak apa-apa"
"Jaga kesehatan"
"Iya, kamu juga hati-hati"
Raga mencium kening Athena, sebelum mengizinkan perempuan itu turun dari mobilnya.
Athena melihat hingga mobil Raga tidak terlihat lagi. Ia sadar betul, dirinya menjadi bahan perhatian pagi ini, tapi ia mencoba menghiraukannya dan berjalan seperti biasa memasuki kantor.
"Kamaren dekatin pak CEO ehh dilamar orang lain malah di terima"
Athena dengan jelas mendengar itu.
"Hooh, cantik sih, tapi-"
"Husss, diam. Jangan kencang-kencang ngomongnya, diakan kesayangan pak CEO" ucap yang satunya seolah-olah ia menghentikan temannya untuk melanjutkan perkataannya, kedua orang itu lalu tertawa.
"Gak usah sok cool kalau di luaran sana jadi santapan banyak laki-laki" ucap yang satunya lagi.
Ketiga perempuan itu benar-benar kurang akhlak.
"Kalian kali yang gak usah sibuk mikirin hidup orang." entah darimana datangnya Hana, ia berdiri di samping Athena.
"Udah, Han" kata Athena, ia melingkarkan tangannya di lengan Hana.
"Ehh, temannya datang tuh. Dasar jomblo" sarkas perempuan yang mengenakan rok selutut.
"Hahahaha" tawa kedua temannya yang lain menggema.
"Nenek lampir sih, makanya gak ada yang suka" sahur yang satunya.
"Jomblo gini mah masih mending, daripada jadi simpanan bapak perut buncit" Hana begitu pedas dalam berkata-kata.
"Kayak teman Lo bener aja" ucap yang baju merah.
"Teman gue bener lah." kata Hana sebelum menarik Athena memasuki lift yang datang di waktu yang tepat.
"Dasar nenek lampir" teriak mereka bertiga.
Hana yang mendengarnya hanya terkekeh kecil
"Kamu kenal mereka, Han?" tanya Athena.
"Yah kenal lah, The. Gue dan mereka satu sekolah waktu SMA, terus satu universitas juga, tapi beda fakultas waktu kuliah. Mereka bertiga memang gitu, suka julid, remehin orang." jawab Hana menggebu-gebu.
"Bisa gitu yah?"
"Ya bisa, The. Cuman Lo aja yang paling berhati malaikat diantara makhluk yang gue kenal, Yudha juga sih, meski kadang ngeselin" kata Hana yang diakhiri cengiran lucu.
Athena yang mendengarnya pun terkekeh geli.
"By the way, selamat yah atas lamarannya" ucap Hana.
"Thanks, Han. Belum lamaran resmi kok"
"Resminya kapan nih?"
"Belum tahu. Nunggu waktu luang dulu" jawab Athena sambil membuka pintu ruangan. Ia menunggu Hana dulu memasuki ruangan, kemudian barulah ia menutup pintunya
"Wehh, yang bakal sold out udah datang nih" sambut Yudha.
"Bisa aja sih, Yud" Athena menggelengkan kepalanya heran.
"The, ayo ceritakan gimana cara Raga lamar Lo kemarin" pinta Hana.
"Tapi ceritanya sambil kerja yah"
"Beres, The. Yok cerita"
Athena minum air mineral terlebih dahulu.
"Sebenarnya Raga udah lamar aku beberapa bulan lalu, pas dinner dengan Daddy, mommy dan adik aku. Dia lamar aku di depan keluarga, tapi saat itu aku belum ada jawaban. Lebih tepatnya aku ragu sih, aku bisa nggak sih jadi istri yang baik nantinya, bisa nggak sih dampingi Raga disegala kondisinya. Pokoknya ragu deh, banyak pikiran juga bakalan gimana nantinya."
"Lo gantungin anak orang?" tanya Yudha.
"Kasarnya sih gitu. Sejak SMA, aku dan Raga gak ada kata "jadian". Hubungan kami berjalan gitu-gitu aja. Jadi teman, sahabat, kemana-mana selalu ada dia. Niatnya memang aku nggak mau pacaran sih. Dulu aku beranikan diri buat diantar pulang oleh Raga waktu SMA, ehh orang rumah pada suka, yaudah aku merasa nyaman juga sama dia. Melihat perjalanan kami sejak dulu, barulah aku mengambil keputusan kemarin, memberikan jawaban atas lamaran Raga."
"Noh, Yudha juga sabar kok" kata Athena sambil menunjuk Yudha menggunakan dagunya.
"Ujung-ujungnya gue juga yang kena" ucap Yudha pasrah.
"Sejauh ini, kurang lebih 8 tahun, Raga gak pernah berpaling The?" tanya Hana.
"Never, sih "
"Yakin amat Lo?" tanya Yudha
"Yakin lah. Perlu digaris bawahi, aku dan Raga temenan, sahabatan, apa-apa selalu bersama. Mana ada kesempatan buat dia berpaling" bangga Athena.
"Lagi jaman sih nikah sama teman sendiri" ucap Yudha.
"Iya, makanya kamu dan Hana nikah gih" Athena benar-benar bawel hari ini.
"Semaunya lah" pasrah Yudha.
"Karena hari ini aku lagi bahagia, aku traktir kalian deh" ucap Athena.
Mendengar kata traktiran, Hana berjingkrak senang.
"Sering-sering aja The senangnya" kata Hana
"Ngelunjak bener"
Hana hanya nyengir mendengar lirihan Athena.
✨✨✨
Jam istirahat telah tiba. Jika biasanya mereka akan makan siang di kantin kantor, maka hari ini berbeda. Athena sudah meminta untuk membawa Ayra ke resto AN yang ada di kota ini. Ayra sudah menunggu di meja sudut lantai 3.
"Makan siangnya sama adik aku yah?" tanya Athena pada kedua temannya.
"Oke, The" kata Hana.
Mereka tentu menjadikan Yudha sebagai supir dan menggunakan mobil milik lelaki itu untuk mengantarkan mereka ke resto.
"Harus banget makan di sini?" tanya Yudha tidak enak.
"Iya, The. Cari tempat lain aja, makanan di sini menguras kantong soalnya" saran Hana.
"Nggak apa-apa. Kan aku yang traktir, aku lagi senang lho ini" ucap Athena. Ia berjalan diapit oleh Yudha dan Hana.
"Kontrol deh ekspresi kalian. Beneran, nggak apa-apa. Ayooo" Athena menarik tangan kedua temannya yang terlihat enggan untuk memasuki resto.
"Duduk gih." suruh Athena. Ia mengecup sekilas pipi Ayra saat anak kecil itu mencium punggung tangannya.
Melihat wajah anak kecil di depannya, seketika Hana dan Yudha langsung tersihir. Anak di depannya sangat cantik, meskipun usianya masih belia.
"Halo kakak-kakak" sapa Ayra sambil melambaikan sebelah tangannya.
"Halo, cantik banget sih" Hana terlihat sangat senang. Ia tanpa permisi mencubit pelan pipi Ayra.
"Han, anak orang itu" Yudha mengingatkan.
"Lucu, Yud" ucap Hana.
Athena terkekeh melihat ekspresi kedua temannya.
"Kalian pesan deh" suruh Athena.
"Lo yang bayar yah The? Tanggung jawab kalau gue pesan banyak" entah kemana rasa canggung Hana yang tadi sempat hinggap pada dirinya.
"Tenang saja, kak, akak The punya banyak uang. Kakak pesan yang banyak, kayak Ayra" ucap anak kecil itu yang mengundang tawa ketiga orang dewasa di depannya.
"Baiklah, tuan putri" kata Yudha. Ia mengacak pelan poni Ayra.
"The, Lo kok gak pernah kenalin kita-kita ke adek Lo?" tanya Hana.
"Kasihan adik aku kalau ketemu kalian. Baru ketemu aja pipinya udah jadi korban kegemesan kamu" sahut Athena.
Hana nyengir.
"Maaf yah cantik" ucap Hana.
Ayra mengangguk sambil tersenyum.
"nggak apa-apa, kak" katanya.