Athena

Athena
First Day



Setelah semalam memilih untuk menginap di hotel dekat bandara, Athena dan teman-temannya kini berdiri di depan lobi hotel sambil menunggu mobil yang akan membawa mereka ke daerah. Mereka masih berada di ibu kota provinsi, suasananya masih ramai seperti kota A.


Pagi sekali Athena membeli keperluannya selama di desa. Sebuah bus datang menjemput mereka. Bus pariwisata yang pihak sekolah telah siapkan. Hanya dua orang supir yang ada di atas bus. Kelima remaja lelaki yang datang bersama Athena mengangkat barang-barang yang mereka bawa, barang-barang Athena juga.


"Sudah siap?" tanya supir busnya.


"Sudah, pak" Jawab Eros mewakili teman-temannya.


Athena memilih duduk di kursi dekat jendela.


Ponselnya bunyi, telpon dari mommy nya. Ia melihat keadaan, rupanya teman-temannya sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


"Hallo mom" sapanya pada sang mommy.


"I'm okay. Mommy juga jaga kesehatan."


"Ini baru naik bus. Perjalanannya masih lama"


"Baik, mom. Titip salam buat Nevan dan Daddy. Opa, Oma, papa, unty, juga si kembar"


"Miss you too"


Athena melihat layar ponselnya. Panggilan mommy nya sudah terputus. Ini masih terlalu pagi, pukul 07.18 waktu setempat.


Athena kembali menyimpan ponselnya di tas mini yang berada dalam pangkuannya. Ia menepuk jidatnya. Bisa-bisanya ia lupa untuk mengambil uang cash untuk persiapan. Padahal tadi ia sempat belanja di supermarket yang tentu saja menyediakan jasa tarik uang.


"Kenapa The?" tanya Eros.


"Lupa ambil uang" jawabnya.


"Santai. Siapa tahu disana daerahnya cukup berkembang" kata Raga yang rupanya mendengar jawaban Athena.


"Oke" ucap Athena.


"Tidur gih. Istirahat gih!" suruh Eros.


Athena mengangguk. Ia memperbaiki posisinya.


"Gak bawa bantal leher?" tanya Raga.


Athena menggeleng.


"Lupa" jawabnya kemudian meringis tak enak.


Raga mengambil sesuatu dari daypack nya, kemudian meniupnya. Lalu terbentuklah sebuah bantal leher. Ia lalu memberikannya pada Athena.


"Pake gih"


"Kamu pake apa?" tanya Athena.


"Gue laki-laki. Buat Lo aja"


Athena lalu mengambilnya dari tangan Raga.


"Thanks" ucap Athena.


Raga mengangguk. Ia kembali duduk ditempatnya sebelumnya.


Athena kembali memperbaiki posisinya. Perjalanannya masih sangat jauh. Ia mencoba memasuki alam mimpi.


"The, bangun" Wildan mencoba membangunkan Athena.


Athena membuka matanya. Ia diam sejenak, mencoba memperbaiki perasaannya. Setelah sadar sepenuhnya, ia baru bertanya.


"Kenapa?" tanyanya.


"Ayo, makan dulu." ajak Wildan.


Athena mengangguk. Ia mengusap wajahnya dengan tissue basah sebelum berdiri dari duduknya. Ternyata Wildan menunggunya.


"Kok nggak duluan aja?" tanya Athena.


"Ya kali. Bisa-bisa Eros marah-marah" jawab Wildan pasrah.


Mereka duduk di sebuah meja panjang. Masing-masing terdapat 3 kursi disisinya.


"Maaf yah. Banguninnya pasti lama" ucap Athena tak enak.


"Buehhh. Akhirnya The nyadar" kata Kevin.


"Tahu nggak The, tadi Wildan harapan terakhir kami?" tanya Eros.


"Bener?" tanya Athena.


Kelima lelaki itu tertawa.


"Nggak. Tadi baru Eros, terus Wildan" jawab Darren.


"Udah, makan dulu" kata Raga.


Mereka memilih makan coto yang dikombinasikan dengan ketupat.


"The, ikut ambil uang nggak?" tanya Raga.


Athena mengangguk.


"Ikut"


Ternyata ada mesin ATM di sekitar tempat istirahat. Raga meminta Athena terlebih dahulu, kemudian dirinya.


"Lho, nungguin?" tanya Raga.


Athena mengangguk.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Bus berhenti di terminal daerah. Seseorang mendekati sang supir, mereka bercakap.


"Adik-adik, bapak ini yang akan mengantar kalian hingga ke desa" kata pak supir.


"Terima kasih, pak." kata Eros.


Mereka lalu berpindah mobil. Mobil yang tidak punya atap.


"Mau depan atau dibelakang, The?" tanya Kevin.


"Belakang aja" jawab Athena.


Mereka duduk bersila di atas mobil. Barang-barang disusun rapi dibagian depan mobil. Hawa dingin mulai terasa, ini sudah menit ke 45 sejak mobil pick up ini berjalan. Itu artinya, mereka akan tiba sebentar lagi.


Athena melihat jam tangannya. Pukul 3 sore. Mobil berhenti di depan sebuah rumah yang sangat sederhana.


Mereka disambut oleh kepala desa dan para tetua desa.


"Selamat datang di desa kami" sambut pak kades.


"Terima kasih, pak. Mohon bantuannya" kata Eros.


Setelah acara penyambutan, mereka mulai membersihkan rumah yang akan mereka tempati. Rumahnya benar-benar sederhana. Hanya ada ruang tamu sekaligus merangkap sebagai ruang nonton, 3 kamar, dapur dan kamar mandi.


"Ayo, bersih-bersih" kata Athena.


Semuanya mengambil peran masing-masing. Hingga sore menyapa, semuanya selesai. Athena mencoba menyalakan kompor, tapi gak bisa.


"Kompornya gak bisa nyala" Athena mengumumkan pada teman-temannya.


Eros ke dapur. Mengecek kompor.


"Kompornya kenapa?" tanya Wildan.


"Gak tersambung sama tabungnya" jawab Eros.


Semua mata kini memandang ke arah Athena.


Athena mengangkat tangannya membentuk V.


"Aku gak tahu, sorry" katanya tak enak.


Eros lalu memasang tabungnya. Kemudian mencoba menyalakan kompor. Berhasil.


Athena bertepuk tangan. Ini kali pertama ia melihat cara pemasangan tabung.


"Lo bisa masak kan, The?" tanya Darren.


"Aman" kata Athena sambil mengangkat kedua jempolnya.


Athena menyeduh teh dan kopi untuk teman-temannya. Ia lalu mengeluarkan cemilannya.


"Malam nanti kita bertamu ke rumah tetua desa dulu yah" kata Eros.


Semuanya mengangguk menyetujui.


Malamnya, mereka benar-benar mendatangi rumah tetua desa, juga kepala desa. Mereka akan diperkenalkan dengan petani yang akan membimbing mereka pada esok hari.


Sebelum pukul 9 malam, mereka sudah tiba di rumah. Udara terasa sangat dingin. Athena bahkan selalu mengenakan kaos panjang dan tebal sejak tadi.


"Malam ini gak apa-apa yah makan Indomie dulu?" tanya Athena.


Semuanya mengangguk.


Athena lalu memasak untuk dirinya dan teman-temannya. Untung saja ia sempat belajar memasak sebelum masa praktek.


Setelah makan malam, Athena pamit terlebih dahulu untuk istirahat. Tubuhnya benar-benar terasa sangat lelah.