
"Dek, makan dulu yah sebelum main" ajak Athena.
"Iya, kakak" Ayra melangkah menuju ruang makan.
Mereka kembali menyantap makan siang. Udara dingin masih terasa.
Setelah makan, Ayra memimpin Wildan, Darren, Kevin dan Eros menuju tempat mereka biasanya menghabiskan waktunya. Tempatnya kira-kira 1 KM dari kediaman Abraham.
Ada sungai kecil yang airnya terlihat begitu jernih. Di pinggir sungai nya ada sebuah pohon yang sangat lebat, yang dijadikan anak-anak sebagai tempat bernaung.
"Ayraaaaa" seru anak-anak itu senang saat melihat kedatangan teman mereka dari kota.
"Ehh, kakak" mereka tentu tak lupa akan wajah tampan para lelaki dari kota.
"Udah pada besar-besar ternyata. Udah ada yang SMP yah?" tanya Wildan.
"Aku kelas 1 SMA kak" jawab seorang lelaki sambil mengangkat tangannya.
"Wah, keren nih. Pada rajin kan sekolahnya?" tanya Eros.
"Rajin, kak" jawab mereka kompak.
"Ayo semuanya duduk, kita ngemil dulu sebelum main" ajak Darren.
Mereka kemudian duduk melingkar sambil memegang bungkusan Snack.
"Udah jam berapa?" tanya laki-laki tadi kepada salah satu temannya.
Yang ditanya pun melihat jam tangannya.
"Jam 1 lewat" jawabnya.
Lelaki tadi pun berdiri.
"Ayra, kakak-kakak, teman-teman, Didi pulang dulu yah, mau bantu bapak panen kentang. Sore nanti kita ketemu di lapangan" katanya sopan.
"Kak Didi, Ayra mau ikut ketemu pakde" ucap Ayra.
"Yaudah, ayo. Nanti kakak yang anterin pulang" kata Didi. Didi ini adalah teman dari kakaknya Ayra sewaktu masih hidup.
"Kakak juga ikut deh. Cara panen kentang nya masih sama kan yah?" Eros menawarkan diri.
"Ehh, nanti bajunya kakak kotor" kata Didi.
"Nggak apa-apa, ayo" Kevin menimpali.
"Kalian makan aja, kakak-kakak mau bantuin Didi dulu. Nanti sore kita ketemu di lapangan yah" pamit Wildan.
"Iya, kakak" jawab mereka kompak.
Sementara di kediaman Abraham, Athena sedang merintih kesakitan akibat PMS attack.
"Sakit banget hmm?" tanya Raga sambil mengelus dahi Athena.
Athena mengangguk.
"Mules banget rasanya" jawab Athena.
Raga mengelus perut Athena dari luar. Berharap nyerinya bisa sedikit hilang.
"Geli, Ga" Athena terkekeh pelan saat merasakan ciuman Raga pada lehernya.
"Nggak terlalu sakit kan perutnya?" tanya Raga.
Athena mengangguk. Rupanya Raga mencoba cara yang lain untuk mengurangi rasa sakit pada perut Athena.
Raga mencium bibir Athena sekilas dan ikut berbaring di samping gadis itu. Tangannya masih mengelus perut rata Athena.
Kembali ke kebun, baju bersih dan rapi yang dipakai sebelum berangkat, kini sudah penuh dengan debu dan kusut, tak lupa keringat bercucuran di wajah mereka.
"Maaf lho yah dek, jadinya malah bantuin bapak di sini" ucap bapaknya Didi.
"Nggak apa-apa, pak. Kamu senang bisa kembali merasakan suasana panen kentang seperti ini" kata Eros.
Bapaknya terkekeh kecil, kapan lagi ia bisa melihat para eksekutif muda ini bercucuran keringat karena memanen kentang di lahannya.
"Nak Ayra beruntung dikelilingi orang-orang baik seperti kalian."
"Tentu saja pak, Ayra sangat lucu" kata Kevin.
"Tolong dijaga Ayra nya" ucap bapak itu tulus sambil memandang Ayra yang sedang mengusap wajahnya hingga tanah yang mengotori tangannya ikut tertempel di wajahnya.
"Sana main. Pulangnya sebelum gelap" jawab bapaknya Didi.
"Kami pamit, pak. Terima kasih sudah diberi izin untuk memanen kentang di sini" ucap Eros mewakili teman-temannya.
"Bapak yang harusnya mengucapkan terima kasih, dek" kata si bapak.
Mereka lalu berjalan menuju lapangan desa. Rupanya anak-anak sudah menunggu mereka. Permainan bola segera di mulai, para anak perempuan berteriak memberi semangat. Tepuk tangan riuh terdengar.
"Habis ini kita mandi di sungai yah kak" tawar Dedi, salah satu anak yang sudah SMA.
"Boleh, deh." kata Darren.
Mereka kembali ke sungai yang tadi. Mama Didi sudah ada di sana,ia membawa kentang rebus yang taburi gula pasir dan kelapa parut.
Wildan dan Darren yang melihatnya begitu senang.
"Terima kasih, Bu" ucap Darren senang.
"Sama-sama, nak. Ibu tunggal dulu yah" pamit ibu Didi.
"Berenang dulu lah, habis berenang langsung eksekusi, pasti mantap" Wildan sudah lompat turun ke sungai bersama anak laki-laki lainnya.
Eros, Kevin dan Darren tak mau kalah, mereka juga segera melompat ke sungai dan merasakan dinginnya air di desa kenangan.
Suara lirih dan sendok berdenting mengalihkan perhatian para anak-anak perempuan. Akhirnya yang mereka tunggu sudah tiba, mereka berlomba menuju penjual bakso keliling untuk memesan bakso. Hal ini tentu saja menjadi kebiasaan mereka saat Jake dan Abraham masih hidup. Setiap Ayra kembali ke desa, para teman-temannya akan berkumpul dan makan bakso saat sore hari.
"Aman kan bang?" tanya Lupi, anak yang paling besar diantara yang lainnya.
"Aman, dek. Tadi sudah ketemu dengan tuan Jo dan langsung beliau bayar, terus Abang disuruh buat cari kalian" jawab penjual baksonya.
Anak laki-laki menyusul, mereka duduk di atas batu yang sudah disusun memanjang agar bisa menjadi tempat duduk.
"Kakak-kakak nggak pesan?" tanya Ayra.
"Yang bayar siapa nih?" tanya Wildan.
"Ayah sama kakek" jawab Ayra.
"Owalaaah"
"Kakak makan kentang nya dulu deh, kalau gak kenyang, baru pesan baksonya" kata Eros.
Ayra mengangguk mengerti. Ia kembali menyantap baksonya yang hanya diberi perasan jeruk.
"Mantap gilaaa" kata Darren saat merasakan nikmatnya kentang rebus.
"Suasananya hangat banget. Sore-sore gini ngumpul sambil makan di pinggir jalan" Kevin melihat sekelilingnya, nampak wajah ceria terpancar dari anak-anak di depannya.
"Beda jauh lah dengan di kota. Di kota jam segini bisa jadi kita masih di kantor, atau sudah di rumah sambil rebahan karena kelelahan bekerja." Eros menimpali.
"Bang, tolong fotoin kami" Darren memberikan ponselnya pada tukang bakso.
Semuanya melihat ke arah ponsel yang akan mengabadikan momen mereka sore ini dengan senyum manis yang terpancar dari wajahnya.
"Terima kasih, bang" ucap Darren.
"Sama-sama, mas" kata Abang bakso itu sopan.
Gelap hampir menyapa. Satu persatu anak-anak pamit pulang ke rumahnya masing-masing. Didi juga baru saja pamit. Ternyata Didi dan Dedi mengambil tugas untuk menjaga anak-anak desa. Misalnya mengantarkan mereka pulang ke rumah masing-masing saat sore begini.
Ayra sedang digendong belakang oleh Kevin menuju rumah Abraham. Rupanya Athena dan Raga sudah menunggu di teras rumah.
"Kok lama sekali pulangnya?" tanya Athena.
"Maaf, kak. Tadi keasyikan main." jawab Ayra.
"Tapi Ayra nggak kenapa-kenapa kan?"
Ayra menggeleng.
"Ayra baik-baik saja, kak" jawabnya.
"Kalian mandi gih, udah hampir gelap ini, nanti airnya makin dingin. Ehh kalian kenapa bisa kucel begitu?"
"Tadi habis berenang di sungai The" jawab Darren.
Athena hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak heran lagi teman-temannya ini benar-benar luar biasa.