
Setelah mobil Raga tidak lagi terlihat, Athena kembali berjalan ke rumah Opanya.
Ia ikut duduk di atas karpet di sebelah omanya.
"Mobil Raga parkir dimana tadi? Opa gak lihat mobil depan rumah" tanya Lathief.
"Di depan rumah 03" jawab Athena.
"Kok tadi turunnya lama?" tanya Lathief lagi.
"Iya, soalnya Raga ngambek." jawab Athena polos.
Lathief dan Aina saling bertatapan.
"Lhoo kok Raga ngambek?" tanya Aina.
"Soalnya The mau gantiin uangnya yang dipake buat bayar jajan."
"Terus?"
"Yah Raga ngambek, Oma. Mobilnya diberhentiin, terus masukin kembali uang yang aku kasih ke dalam tasku. Habis itu The tanya gak jawab, The cerita gak di respon" cerita Athena.
"Terus?" Aina penasaran.
"Setelah sampai di depan rumah, Raga bilang gini 'The, jangan bikin gue jadi lelaki pecundang yang biarin teman perempuannya bayar makanannya sendiri. Sekarang yang Lo tahu gue adalah teman Lo, tapi di detik selanjutnya, Lo perlu tahu, gue lelaki yang sedang berjuang untuk bisa bersanding dengan Lo di masa depan' bilang gitu Oma"
Athena bahkan mempraktekkan cara bicara Renal. Lathief menahan bibirnya agar tidak tersenyum melihat ekspresi cucunya saat mempraktekkan cara bicara Renal. Aina sudah tertawa sejak tadi.
"Uhhuk uhhuk" Aina batuk.
Athena dengan cepat mengambil air minum untuk Aina.
"Minum dulu, Oma" Athena membantu Aina untuk minum.
"Sayang banget Oma gak lihat adegannya langsung" kata Aina.
"Kenapa pengen lihat langsung Oma?" tanya Athena heran.
"Pasti terlihat manis sekali. Yang satu wajahnya datar, yang satu terlihat takut" jawab Aina.
"Oma gak tahu sih Raga kalau lagi bete nyeremin, apalagi kalau diam. Amit-amit deh" kata Athena sambil mengetukkan kepalan tangannya di kepala kemudian ke meja sebanyak tiga kali.
"Sayang, laki-laki memang seperti itu. Tidak ingin terlihat lemah." beritahu Lathief.
"Tapi The gak maksud gitu, opa"
Lathief mengangguk. Ia sangat mengenal cucunya.
"Iya, opa tahu. The udah tahu kan, Raga ada ketertarikan pada The."
"Tahu, opa" jawab Athena.
"Kalau di depan teman-teman yang lain, Raga ada nunjukin sikapnya yang menjurus mendekati The?" tanya Lathief.
"Nggak, opa. Kalau lagi sama yang lain, Raga biasa aja. Membiarkan The membayar makanan sendiri." jawab Athena.
"Naah. Itu cara Raga menghargai The dihadapan orang lain, membiarkan Athena membayar makanannya sendiri. Jadi The tidak perlu khawatir orang-orang akan menganggap The lemah." Lathief memberikan pengertian kepada cucunya.
"Tahu nggak sayang, opa dulu juga gitu. Gak biarin Oma bayar apa-apa saat bepergian. Opa bahkan nyita dompet Oma sebelum pergi bersama-sama" cerita Aina.
"Emang iya, opa?" tanya Athena.
Lathief mengangguk.
"Kami para lelaki akan terlihat seperti seorang pecundang saat melihat perempuan membayar sendiri, padahal ada kami bersamanya" jawab Lathief.
"Kalau uang Raga habis buat bayarin jajan Athena gimana? The kalau jajan suka banyak" panik Athena.
Aina dan Lathief tertawa mendengar pertanyaan konyol cucunya.
"Sayang, Raga tidak semiskin itu. Ia adalah putra tunggal di keluarga Perdanakusuma" kata Lathief.
Aina melihat jajanan di depannya. Cucunya ini suka jajan, tapi tetap dihabisin. Yang biki heran malah badannya yang gitu gitu aja.
"Terus tadi Raga bilang apa?" tanya Aina.
"Raga bilang, The, tungguin aku yah" jawab Athena.
"Terus The mengangguk deh" lanjut Athena tanpa beban.
"The ngerti nggak maksud Raga?" tanya Lathief.
"Raga kayaknya minta The buat nunggu, terus nanti di jemput" Jawab Athena.
"Di jemput buat apa?" tanya Aina.
"Di jemput buat ke sekolah, Oma" Jawab Athena polos.
Aina mengusap wajahnya pasrah. Lathief membuang tatapannya agar bisa tertawa. Cucunya ini benar-benar.
"The, jajanannya udah habis" kata Aina setelah berhasil menguasai dirinya untuk tidak mencubit pipi cucunya.
"Iya, lain kali tahu otak-otak nya di banyakin yah. The bersih-bersih dulu sayang" suruh Aina.
Athena mengangguk. Ia berjalan ke lantai dua. Tadi ia meminta mbak yang mengurus kamarnya untuk membawakan beberapa set baju ke rumah omanya.
"Cucu kita kok polos banget yah, pa" heran Aina. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Apa mungkin karena papa terlalu over yah?" Lathief juga bertanya-tanya.
"Kasihan Raga. Dia mesti sabar banget buat hadepin kepolosan cucu kita." kata Aina.
Lathief mengangguk. Mengiyakan ucapan istrinya.
"Raga aman kan ,pa?" tanya Aina sambil mendongak untuk melihat wajah suaminya.
Lathief juga menatap istrinya. Ia mencium kening istrinya.
"Raga aman, ma. Baskoro yang bikin khawatir. Kisahnya dulu agak menantang, ia tidak ingin anaknya merasakan hal yang sama." jawab Lathief.
"Tapi kita gak pernah nantang siapa pun yang ingin masuk ke dalam keluarga kita, pa. Selagi orangnya aman, mama gak mikirin hal yang lain, apalagi menyangkut kebahagiaan anak dan cucu kita" kata Aina.
Lathief mengangguk.
"Mama tenang yah. Kita gak tahu bagaimana hidup ini kedepannya, kita hanya bisa berharap, berusaha dan berdoa. Cucu kita masih 15 tahun, perjalanan nya masih sangat jauh. Raga juga sama." Lathief mengelus rambut istrinya.
"The mau dipeluk juga" kata Athena yang berlari turun dari tangga.
"Jangan lari-lari, The" Lathief berdiri dari duduknya, menangkap tubuh cucunya. Ia takut cucunya tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya dan jatuh terpental.
"Opa nih, suka berlebihan." kata Athena saat pelukan Opanya sudah terlepas.
"Itu artinya opa sayang sama The" kata Aina.
Aina menyisir rambut Athena yang belum terlalu kering. Athena datang sambil membawa sisir di tangannya.
"Suka banget bikin opa panik" omel Lathief.
Ia nyengir.
"Maaf, opa" ucapnya.
"Udah selesai" beritahu Aina.
Athena mengangguk, memegang rambutnya.
"Terima kasih, Oma" ucapnya kemudian mencium pipi omanya.
"uhhh, sayangnya oma" Aina juga mencium pipi Athena sebelum meninggalkan ruang keluarga.
"Opa gak mandi?" tanya Athena. Ia mencari channel cartoon yang sering ditontonnya.
"Opa udah mandi yah" kata Lathief.
Athena mengangguk.
"The kira belum" ucapnya pelan.
"Yaudah, opa disini aja temanin The nonton kartun" pinta Athena kemudian tersenyum manis.
Lathief mencubit pipi cucunya.
"Udah bisa yah godain opa." katanya gemes.
"Opa, jangan dicubit pipinya. Nanti melar" Athena mengusap pipinya.
"Melar seperti bakpau yang The makan tadi" kata Lathief.
"Ehh, kok sama sih yang Raga bilang?"
"Emang Raga bilang apa?"
"Raga bilang, pipinya kayak bakpao" jawab Athena.
"Raga niruin kali ucapan opa" kata Lathief.
"Padahal Raga yang ngomong duluan" ucap Athena.
"Ohh sekarang udah bela Raga nih?" goda Lathief.
"Maa cucunya nih belain Raga daripada papa" teriak Lathief.
"Gak gitu, opaaa" kata Athena.
"Tadi apa?"
"Yah kan memang Raga bilangnya lebih dulu daripada opa" jawab Athena.
Lathief mengelus rambut cucunya.
"Iya iya. Tadi opa hanya bercanda" katanya.