Athena

Athena
Meet Oma & Opa



Run sedang memperlihatkan cara menanam kentang. Bekas lahan yang kemarin di panen, kini di tanami kembali. Menggunakan metode dan bibit yang sama, Abraham berharap hasil panennya berhasil seperti yang baru-baru ini.


Hal itu tentu membawa dampak baik bagi petani lainnya, mereka akan menggunakan metode yang sama dengan Abraham. Mereka juga berharap untuk segera mendapatkan bibit yang Abraham tanam. Pasalnya bibitnya terbatas, karena baru dalam tahap penelitian. Setelah berhasil, barulah team laboratorium RelFath bagian pertanian akan memproduksi lebih banyak.


"Kak Run boleh nggak minta tolong?" tanya Run di jalan.


"Minta tolong apa kak?" tanya Kevin.


"Sekitar jam 2 siang nanti, akan ada penyuluhan di balai desa. Kebetulan pak Abraham membawa timnya dari kota. Beliau akan mengadakan penyuluhan tentang pertanian. Tapi untuk laki-laki yah, kasihan kalau The mesti angkat kursi" jelas Run.


"Lo nggak apa-apa sendirian di rumah?" tanya Eros pada Athena.


"Nggak apa-apa" jawab Athena.


"Kebetulan sekali, bibi kakak datang dari kota bersama tim, ia merasa kesepian. The boleh kok berkunjung ke rumah untuk nemenin bibi" kata Run.


"Ehh, nanti ngerepotin kak" kata Athena.


"Temanin gih The, daripada Lo di rumah sendiri. Habis penyuluhan, kami langsung jemput Lo" kata Wildan.


Athena lalu mengangguk.


"Ke balai desanya barengan yah. Kakak tunggu di rumah pak Abraham" beritahu Run.


"Baik, kak" jawab mereka serempak.


Matahari tidak terlalu terik hari ini, makanya tidak terdengar keluhan dari mereka semua.


"Nanti pasti dapat makanan kan disana?" tanya Darren.


"Mana ke tehe bapak" sarkas Kevin.


Athena sibuk keluar masuk sambil membawa makan siang untuk teman-temannya. Seperti biasa mereka akan makan di depan TV diatas bentangan tikar.


Setelah makan, mereka mengambil posisi masing-masing di depan kipas. Sofa seolah menjadi hak milik Athena jika siang begini.


"Jangan sampai tidurnya kebablasan. Ingat, jam 2 kita ada janji bantu-bantu di balai desa" kata Eros.


"Iyaa bapak" respon Raga sendiri.


Wildan, Darren dan Kevin sudah berada di alam mimpi. Raga masih memainkan ponselnya, Athena sedang nonton TV dan Eros sedang menulis laporan.


Jam 2 , mereka sudah berdiri di depan rumah pak Abraham. Athena juga. Hingga pak Abraham keluar bersama 7 orang lainnya, termasuk Run.


"Wah, maaf yah sudah buat kalian nunggu" ucap pak Abraham.


"Tidak masalah, pak" kata Eros.


Abraham mengangguk. Ia melihat ke arah Athena.


"Run, panggil bibimu untuk mengajak The masuk. Anak ini pasti malu" tebak Abraham.


Athena meringis.


"The memang pemalu, pak." kata Kevin yang diikuti tawa dari yang lainnya.


Tak lama, seorang wanita yang sudah tidak muda lagi keluar dari rumah. Diikuti seorang lelaki yang juga terlihat sudah berumur dan Run di belakangnya.


"Orang tua memang selalu merasa kesepian. Athena, maaf yah bapak sampai ngerepotin kamu" kata Abraham.


"Dengan senang hati, pak" jawab Athena. Ia sudah sangat ingin memeluk omanya.


"Wahh, ramai yah" kata Lathief.


"Iya, om." jawab Abraham.


"Ayo masuk, sayang" ucap Aina lembut. Memanggil Athena masuk.


Athena melihat ke arah teman-temannya.


"Kalian semangat yah." katanya.


Wildan menaikkan kedua jari jempolnya.


"Aman, The" kata Eros.


"Ayo, berangkat. Kita naik mobil pick up aja yah supaya ramai"


"Let's go!" seru Darren dan Wildan.


Setelah melihat keadaan sudah aman, Athena segera memeluk tubuh omanya.


"Udah, pelukannya lanjut di dalam" kata Lathief.


Athena merangkul omanya masuk ke rumah Abraham. Mereka memilih duduk di ruang keluarga.


"Sayangnya oma kurusan yah" kata Aina sambil mengelus lengan kecil Athena.


Athena terkekeh.


Lathief tak mau kalah. Sejak tadi ia mencium pipi cucunya.


"Oma dan opa ngapain sih sampai kesini? Kan kasihan, Oma dan opa seharusnya tinggal di rumah, istirahat"


"Namanya lagi kangen berat. Pengen ketemu, yah kesini" kata Lathief.


"Tapi kan, kasihan" ucap Athena.


"Apa sih yang Oma dan opa gak bisa untuk cucunya? Badan masih kuat gini kok" Aina menenangkan cucunya.


"Padahal The kan sering nelpon"


"Nelpon aja. Gak bisa lihat wajahnya" cibir Lathief.


"Ehh, mereka gak pada tahukan kalau yang mereka lihat ini Mr. dan Mrs. Arunika?" panik Athena.


"Ini sudah 13 tahun sejak opa memutuskan untuk tidak terlihat di layar kaca, kamu tenang aja sayang" Lathief mengelus rambut cucunya.


"Syukurlah" ucap Athena.


"Lagian kenapa sih kalau mereka tahu?" tanya Aina.


Athena nyengir.


"Yah jangan sampai oma" kata Athena.


"The ngantuk" katanya. Sekarang memang waktu tidurnya.


"Mau tidur disini apa di kamar?" tanya Aina.


"Disini aja." jawab Athena.


Athena menenggelamkan kepalanya di dada sang Oma, sambil memeluk tubuh tua omanya. Lathief memeluk cucunya dan juga istrinya menggunakan tangannya yang panjang.


"Anak ini benar-benar sudah besar." kata Lathief sambil mencium rambut cucunya.


"Besar apanya? Cucu kita kurusan, pa" Aina memberenggut.


"Pulang nanti kamu mesti masakin dia tiap hari, biar gemuk lagi" ucap Lathief.


"Tentu saja, pa" Aina mengelus pipi cucunya.


Mereka bertiga akhirnya tertidur di sofa bed ruang keluarga. Athena berada diantara opa dan omanya. Benar apa kata orang-orang, sebesar apapun anak atau cucu, ia akan selalu menjadi anak kecil orang tuanya dan opa omanya.


Penyuluhan baru selesai saat hari sudah petang. Mereka sampai di rumah Abraham saat langit sudah dihiasi oleh bintang.


"Kita makan malam bersama, jangan pulang dulu" kata Abraham saat melihat Eros akan berdiri dari duduknya.


"Wah, maaf pak ngerepotin" kata Eros tak enak.


"Tidak masalah. Ayo ke belakang" ajak Eros.


Di belakang, sudah tersedia berbagai macam makanan. Ada ayam goreng, coto, rendang, sup dan juga perkedel kentang. Mejanya dibentuk prasmanan, mereka akan memilih makanan sendiri kemudian mengambil posisi duduk di atas karpet yang dibentang. Karpetnya tentu bukan tikar anyaman seperti di rumah sementara.


"Udah lama gak makan coto" lirih Wildan.


"Pak Abraham baik banget, minta kita makan malamnya disini" kata Kevin.


Setelah makan malam, Eros pamit pulang.


"Maaf yah, ngerepotin sampai selarut ini" ucap Abraham.


"Tidak masalah, pak. Sekalian menyerap ilmu" kata Kevin.


Aina berjalan ke halaman rumah, diikuti Lathief dan Run yang membawa beberapa kantongan.


"Ini buat The dan teman-temannya. Terima kasih yah sudah nemanin Oma" kata Aina.


"Sama-sama, Oma" jawab Athena.


"Bingkisannya banyak sekali, Bu" kata Eros.


Aina terkekeh.


"Kan kalian juga banyak." katanya.


"Terima kasih banyak, Bu" kata Eros.


"Sama-sama, sayang. Di jaga yah teman perempuannya." petuah Aina.


"Siap, ibu" serempak kelima remaja lelaki tersebut.


"Laki-laki memang seharusnya begini. Opa pegang ucapan kalian. Anak perempuan ini harus pulang dalam keadaan baik-baik saja"


"Tentu saja, opa" kata Raga.


Mereka lalu menyusuri gelapnya malam. Masing-masing membawa kantongan, kecuali Athena tentu saja.