Athena

Athena
U okay?



Di kantin Maheswari, Fany kembali bergabung dengan kelima tetangganya.


"The belum masuk juga?" tanya Raga.


"Belum" jawab Fany di sela-sela makannya.


Raga mengangguk. Jawaban Fany memberinya satu kepastian, bahwa Athena masih sakit dan benar-benar sakit. Ia menelpon papanya, meminta izin untuk tidak datang ke kantor siang nanti.


"Mau kemana Lo buru-buru?" tanya Wildan saat Raga sudah menyampirkan tasnya di bahu kanannya.


"Biasalah" jawab Raga ambigu.


"Gue duluan." pamitnya pada teman-temannya.


Eros, Wildan, Darren dan Kevin baru mengetahui jika Raga membantu papanya di kantor. Ia sudah mulai menapaki tangga pertamanya di perusahaan. Minggu sore di hari yang sama mereka berlari pagi di sport center bersama Athena, Eros dan ketiga lainnya menyambangi kediaman Raga.


"Ma, Raga ke rumah The dulu yah" izin Raga pada mamanya, Vania.


Vania mengangguk.


"Hati-hati yah" pesannya.


Raga mencium pipi mamanya sebelum berjalan keluar rumah. Ia akan mampir terlebih dahulu membeli buah untuk Athena.


Raga menghentikan mobilnya di kediaman 03. Run yang melihat kedatangan Raga segera menyambutnya.


"Kak Run" sapa Raga.


"Siang, tuan" sapa Run sopan.


"Saya bukan siapa-siapa kak Run, panggil Raga aja seperti saat di desa" kata Raga.


Run mengangguk.


"Tunggu sebentar yah"


Raga duduk di kursi teras. Ia mengerti betul akan keamanan rumah ini. Meskipun sudah beberapa kali ia menginjakkan kaki di kompleks Arunika, ia selalu mendapatkan hal baru.


Raga berdiri saat mendengar suara langkah kaki mendekat.


"Selamat siang, om" Raga menyapa Renal.


"Selamat datang Raga. Mau besuk Athena yah?"


"Iya, om" jawab Raga.


"Ayo, om antar ke kamarnya" kata Renal.


"Ehh, disini aja om" ucap Raga tak enak.


Renal terkekeh mendengar nada tak enak dari ucapan Raga.


"Santai aja. I know you so much" kata Renal.


Raga seolah lupa dimana ia menginjakkan kakinya. Mereka tentu tidak akan percaya kepada orang-orang baru sebelum memastikan orang-orang itu aman.


"Wah, ada Raga nih kak" ucap Alda ceria.


"Selamat siang, Tante" sapa Raga yang begitu kaku.


"Raga kaku banget. Kayak Daddy nya The dulu" ucap Alda kemudian terkekeh.


Athena juga ikut tersenyum mendengar ucapan mommy nya.


"Daddy nggak kaku yah." Renal menyangkal.


"Gak kaku, tapi dingin" kata Alda.


"Ga, om sama Tante titip The dulu yah. Om kebetulan ada acara sosial sore ini dan mommy nya anak-anak mesti ikut. Nevan juga lagi asyik di rumah si kembar, gak ingin di ganggu. Nggak apa-apa kan?" tanya Renal.


Raga menggaruk belakang kepalanya.


"Kalau butuh sesuatu tekan tombol hijaunya yah. Perawatnya Athena ada di kamar sebelah. Minta mbak Mita yang manggil kalau ada sesuatu" jelas Alda.


Raga mengangguk pasrah.


"The, mommy dan daddy pergi dulu yah. Nggak apa-apa kan?" tanya Alda.


Athena mengangguk.


Alda mencium kening anaknya sebelum keluar.


"Maaf yah jadi repotin kamu" kata Renal.


"Tidak masalah, om" Raga menimpali.


Renal mencium kening anaknya, lalu mengusap kepalanya.


"Bye sayang!"


Raga masih berdiri di samping tiang infus Athena. Ia melihat tangan Athena yang dipasangi infus. Ia lalu menyimpan buah itu di atas nakas.


Raga lalu duduk di sofa single yang baru tadi pagi Renal simpan di dekat tempat tidur anaknya. Hal itu agar memudahkan Alda atau yang lain saat menyuapi Athena, tidak mesti ikut naik ke tempat tidur. Kasihan mbak Mita jika terus diminta membersihkan tempat tidur Athena.


"U okay?" tanya Raga. Pertanyaan yang sangat klasik. Padahal ia sudah melihat tangan Athena yang terpasangi jarum infus.


"I'm okay" jawab Athena.


Raga mengangguk. Ia lalu menggenggam tangan Athena tanpa menyentuh jarum infus yang tertancap pada kulitnya.


"Raga kemana aja?" tanya Athena setelah lama saling diam-diam.


Raga melihat wajah Athena. Kebetulan Athena juga menatapnya.


"Gue bantu-bantu di kantor papa. Sepulang sekolah, gue akan langsung ke kantor papa, hari Sabtu juga ikut papa ke kantor." jawab Raga.


"Bantu-bantu papa Raga atau menghindari Athena?" tanya Athena tanpa melepaskan tatapannya.


"Bantu-bantu papa sekaligus nunggu lo siap dengan keberadaan gue" jawab Raga jujur.


"Nunggunya harus banget ngehindar dari The?"


"Gak gitu, The. Gue sekalian menyiapkan diri jika Lo nggak bisa nerima gue."


"Terus ngapain Raga harus bantu-bantu di kantor papa Raga kalau Raga masih nggak yakin sama usaha Raga sendiri?"


"I'm sorry" ucap Raga. Ia mengelus tangan Athena.


"Dimaafkan" kata Athena.


"Kalau Raga nggak yakin, Raga bisa mundur sekarang. Gak perlu nyiksa diri bantu-bantu papa Raga segala padahal Raga lagi capek habis sekolah."


"Gue akan tetap lakuin itu. Akan tetap bantu-bantu papa, akan tetap berusaha keras agar semesta tahu perjuangan gue buat masuk ke dalam hidup Lo." kata Raga.


"Opa bilang apa ke Raga?" tanya Athena.


"Opa nggak bilang apa-apa. Gue yang mau berusaha sendiri" jawab Raga.


Athena mengangguk.


"Mau baring" ucapnya.


"Udah makan?" tanya Raga.


Athena mengangguk.


"Udah minum obat juga" jawabnya.


"Lain kali jangan sakit lagi The. You make me worried"


"Maaf yah. Lagian Raga juga ngilang"


"Gue nggak ngilang yah" ucap Raga datar.


"Iya iya" kata Athena.


Athena hendak menyusun bantal yang digunakan bersandar pada headbord ranjang, tapi Raga melakukannya lebih dulu. Ia membantu Athena berbaring, menyelimuti sebagian tubuh Athena.


"The ngantuk, Raga gak apa-apa nggak ada teman ceritanya?"


"Iya, Lo tidur gih" Raga mengusap tangan Athena yang tadi digenggamnya.


Tak lama kemudian, Athena benar-benar tertidur. Raga melihat sekitar kamar Athena. Kamar ini begitu luas, luasnya sekitar 12x 10 meter. Athena ternyata suka warna merah. Cat kamarnya berwarna merah ngejreng dipadukan dengan abu-abu. Tapi itu tidak membuat orang-orang merasa ngeri, malah terkesan nyaman karena perpaduan dari lampunya yang entah didapat dari mana. Ada beberapa foto yang tertempel di dinding. Foto Athena sejak kecil hingga perayaan ulang tahunnya di puncak kemarin. Raga bisa melihat itu semua dengan jelas meski ia hanya duduk di sofa. Foto-foto itu di cetak cukup besar.


Raga juga merasakan kantuk, hawa sejuk dari AC benar-benar membuat matanya sangat berat. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, tangannya masih menggenggam tangan Athena.


Aina yang baru mengingat jika anak dan menantunya akan menghadiri acara amal, bergegas ke rumah anaknya untuk menemani cucunya yang sedang sakit. Saat membuka pintu dan berjalan pelan ke tempat tidur sang cucu, ia cukup kaget sekaligus takjub melihat pemandangan di depannya. Yang satu tidur di atas ranjang, yang satu tidur bersandar di sofa dengan tangan yang saling menggenggam. Ia lalu memotret pemandangan langka itu. Ia kembali meninggalkan kamar cucunya dengan langkah yang dibuat sepelan mungkin.