
Sementara di bawah sana, di lantai dasar rumah sakit, Vania dan Baskara sedang jalan terburu-buru menuju lift. Tapi entah apa yang bisa menyebabkan pandangan Vania menoleh ke sebuah antrian yang sangat ia hapal. Anaknya sedang duduk di salah satu kursi antrian bersama dengan seorang perempuan tapi bukan menantunya. Terlebih lagi perempuan itu adalah orang yang ia kenal.
"Ma, ayo, liftnya udah terbuka" panggil Baskara.
Vania menoleh.
"Sebentar, pa." Vania melepaskan tangan suaminya yang melingkari lengannya.
Dengan perlahan ia berjalan menuju anaknya, Baskara yang melihatnya pun dengan cepat mengikuti sang istri.
"What are you doing here?" desis Vania di samping telinga Raga, posisinya sekarang sedang berada di belakang Raga. Ia berusaha menahan amarahnya.
Raga membatu. Ia perlahan menoleh ke samping dan mendapati wajah mamanya yang menahan amarahnya.
"Tante" sapa Clara ramah.
"Raga, ayo ikut mama" kata Vania, tanpa menghiraukan sapaan Clara.
"Vania belum selesai ma" kata Raga pelan.
"Ikut sekarang atau kamu akan menyesal selama hidupmu" Vania berucap sama pelannya dengan Raga.
Baskara menghela napasnya kasar, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya.
Dengan perlahan Raga berdiri dari duduknya dan mengikuti langkah mamanya menuju taman rumah sakit yang sedang sepi, karena hari sudah menjelang malam.
"Ad..."
PLAK!
Belum sempat Raga menyelesaikan ucapannya, sebuah tamparan lebih dulu mendarat di pipinya.
"Ma" Baskara mencoba menyandarkan istrinya.
"Shut up, Pa. Biarin mama mendidik anak mama dengan cara mama sendiri. Biarin mama menghukum anak mama yang entah kenapa menjadi pecundang hari ini" kata Vania tegas.
Raga mengusap pipinya, ini adalah tamparan pertama yang ia dapatkan selama hidupnya di dunia, dan yang lebih menyakitkan lagi karena Vania adalah pelakunya. Itu berarti kesalahannya sangat fatal.
"Kamu tahu apa kesalahan mu, Argantara?" cerca Vania.
"Ma, ini nggak seperti yang mama pikirkan" ucap Raga cepat.
"Emang kamu tahu apa yang mama pikirkan?" tanya Vania.
"Ma, Raga hanya menemani Clara untuk kontrol kandungan. Bukan Raga yang hamilin Clara ma" Raga mencoba menjelaskan situasinya.
Vania bertepuk tangan. Dengan sangat cepat ia kembali menampar pipi anaknya.
"Ma" Baskara memegang bahu istrinya.
"Anak papa sudah begitu hebat sekarang, membantu temannya yang sedang hamil, seolah ia punya tanggung jawab penuh terhadap wanita itu. Kecuali jika anak papa ini memang ayah dari bayi yang ia kandung" Vania begitu lemas. Seolah tenaganya habis untuk menampar anaknya.
"Nggak gitu, ma. Clara hanya punya kita di sini, orang tuanya jauh. Om Devanka juga menitipkan Clara pada kita. Clara sedang dalam masa sulit, ia hamil tanpa sepengetahuan orang tuanya, dan lelaki yang menghamilinya hilang entah kemana" cerita Raga.
"Sekali lagi kamu sebut nama perempuan itu, mama sendiri yang akan menghalangi jalanmu ketemu istrimu" amarah Vania kembali muncul.
"Raga, Clara ini orang lain, isn't your priority. Sekarang kamu punya tanggung jawab, yang perlu kamu prioritaskan lebih dari segalanya, termasuk kami orang tuamu. Dan orang yang seharusnya kamu prioritaskan sekarang sedang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit" ucap Baskara.
Mendengar ucapan papanya, tubuh Raga kembali tegang.
"Pa?" Raga seolah menanyakan kepastian informasi yang papanya sampaikan tadi.
"Mama rasanya malu untuk bertemu Athena. Menantu mama sedang terbaring sakit, sementara anak mama malah asyik duduk berdua bersama perempuan lain yang sedang hamil di depan poli. Entah bagaimana cara mama untuk menampakkan wajah di depan Athena dan keluarganya" Vania tentu merasa kecewa juga sangat malu.
Baskara memeluk istrinya.
"Sudah sudah. Mama tarik napas dulu, hembuskan. Tenangkan pikiran mama. Mama mau lihat anak mama kan?"
Vania mengangguk.
"Ayo, kita lihat sama-sama. The pasti nungguin kita" kata Baskara.
Sebelum pergi meninggalkan anaknya, Baskara mengucapkan,
"Rapikan penampilanmu, papa akan bilang jika kamu sedang dalam perjalanan kemari."
Raga mengangguk mengerti. Pandangannya mengikuti langkah mama dan papanya.
✨✨✨
Pintu ruang perawatan Athena terbuka, nampak Vania dan Baskara memasuki ruangan. Baskara tentu saja lebih dulu menyapa keluarga Athena, sementara Vania dengan cepat memeluk menantunya yang sedang duduk bersandar di atas brankar.
Athena mengusap kepala bagian Vania yang sedang memeluknya sambil menangis.
"Mama kenapa?" tanya Athena lembut.
Vania menggelengkan kepalanya, enggan untuk menjawab. Ia hanya memuaskan dirinya memeluk menantunya sembari mengucapkan maaf dalam hatinya.
Dengan mata sembabnya Vania tersenyum. Ia mengelus kedua pipi menantunya dengan penuh kasih sayang. Barulah setelahnya ia mengusap air matanya sendiri.
"Are you okay, ma?" tanya Athena lembut.
"Mama baik-baik saja, sayang." jawabnya. Ia ikut duduk diatas brankar bersama menantunya.
"Kakak sekarang banyak yang sayang" celetuk Ayra yang membuat orang-orang di sana terkekeh.
"Iya dong. Nanti kalau Ayra sudah besar, sudah menikah, mamanya akan bertambah lagi" Alda mengusap rambut anaknya dengan sangat lembut.
"Mama lihat Raga?" tanya Athena.
"Tadi bersamaan berangkatnya, mungkin masih terjebak macet. Jalanan begitu padat" jawab Vania.
"Raga nginap di rumah mama yah?"
Vania mengangguk.
"Tadi The telpon Raga, tapi nggak diangkat-angkat, terus The telpon oma deh, kan rumahnya lebih dekat" cerita Athena.
"Bandel benar anak mama. Maafin anak mama yah?"
Athena tersenyum.
Raga datang bersamaan dengan makan malam yang dipesan oleh Mika. Seperti yang lalu-lalu, mereka makan bersama di ruang perawatan Athena. Bedanya kini, Athena tetap duduk di ranjang pasien bersama Raga yang menyuapinya.
Raga lebih banyak diam kali ini. Tadi ia menyapa semua orang, dan meminta maaf pada istrinya.
"Kamu gak istirahat yang cukup yah?" tebak Raga.
Athena hanya meringis merasa bersalah.
"Aku temanin anak-anak piknik, sekalian liburan" jawab Athena.
"Jangan bikin aku khawatir, The" ucap Raga.
"Emang kamu khawatirin aku?"
"Mana ada suami yang nggak mengkhawatirkan istrinya?" tanya Raga balik.
"Ada kali, jangan-jangan kamu lagi orangnya heheh"
Raga mencubit pelan pipi istrinya.
"Masih bisa ketawa yah" katanya.
Selepas makan malam, Aina dan Lathief pamit lebih dulu, bersama Mika dan Ivana.
"Cepat sembuh yah cucunya oma" Aina mencium kening Athena.
Athena mengangguk sambil tersenyum. Hal yang sama juga Lathief, Mika dan Ivana lakukan pada Athena.
"Hati-hati yah di jalan. Oma dan opa langsung istirahat, sejak tadi nungguin The bangun dulu"
"Iya, bawel" Lathief mengacak-acak rambut cucunya.
Mereka tentu tak lupa pamit pada sang besan.
Menjelang larut malam, Alda, Renal, Ayra dan Baskara juga pulang. Vania kekeuh ingin menjaga Athena.
"Padahal ada Raga lho jeng yang jagain" kata Alda.
"Aku juga mau ikut jagain, jeng." ucap Vania.
Alda mengangguk mengerti.
"Sayang, mama pulang yah." Alda menciumi permukaan wajah anaknya.
"Kak, Daddy pulang yah. Nggak apa-apa kan daddy tinggal?" tanya Renal.
"Nggak apa-apa, dad."
"Oke deh cintanya daddy" Renal mencium puncak kepala anaknya dengan penuh cinta dan kasih sayang.
"Drama daddy daughter nya di skip dulu deh, pasiennya butuh istirahat itu" ucap Alda.
Athena dan Renal terkekeh, yang lain pun ikut tertawa geli.
"Papa pulang yah. Ma, anaknya jangan diuyel-uyel" peringat Baskara.
"Kayak adonan aja diuyel-uyel" cibir Vania.
Setelah para kerabatnya pulang, Vania ikut tidur di ranjang pasien bersama Athena. Sementara Raga tidur di tempat tidur lain yang ada dalam ruang perawatan.