
Kemarin setelah makan siang, Abraham dengan berbaik hati meminjamkan sebuah motor kepada keenam anak remaja itu. Mereka tentu saja sempat menolak, tapi Abraham memberi penjelasan jika mobil angkutan umum hanya ada dua di desa ini. Motor itu akan sangat berguna untuk mereka. Abraham juga tak lupa memberitahu letak pasar.
"Wil, hati-hati bawa motornya. Lo lagi boncengin anak orang itu" peringat Eros.
"Siap, bapak Eros" hormat Wildan.
Athena sudah siap dengan celana selututnya juga baju panjang dan tebalnya. Hari masih pagi, udara masih terasa begitu dingin. Raga, Darren dan Kevin bahkan masih tidur di depan TV dengan selimut yang melilit tubuhnya.
"The, jangan lupa catat pengeluarannya. Atau ingat-ingat aja, sampai sini baru laporan." Eros mengingatkan Athena.
"Aman" kata Athena.
Motor melaju dengan kecepatan sedang. Jalanan beton yang sudah retak mereka lewati. Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di sebuah pasar tradisional.
Athena mendatangi pedagang satu hingga yang lain, membeli semua kebutuhan dirinya dan teman-temannya.
"Yang lain pada suka makan cake nggak?" tanya Athena.
"Kalau gue suka. Apalagi sore-sore sambil minum kopi." jawab Wildan.
Athena mengangguk. Ia membeli bahan kue. Ia melihat panci besar di dapur rumah yang mereka tinggali, juga sebuah oven kecil. Ia hanya perlu membeli mixer yang jika digunakan menggunakan kekuatan tangan untuk mencampur semua bahan kue. Tidak ada mixer listrik. Sebenarnya ia bisa saja membelinya menggunakan uang pribadinya, tapi itu tidak mungkin. Eros akan mengomelinya.
"Pulang yuk" ajak Athena.
Tangan Wildan sudah penuh dengan belanjaan Athena. Wildan menyusunnya di bagian depan motor.
"Belum pada bangun?" tanya Athena saat melihat hanya Eros yang duduk sambil nonton TV.
"Belum. Udaranya dingin gini, bikin betah nutup mata." jawab Eros.
Athena mengangguk. Ia berlalu ke dapur. Pagi tadi seorang ibu-ibu datang membawa sebaskom kentang ke rumah sementaranya. Ia akan mengolah kentang itu menjadi perkedel. Athena juga membuat telur dadar yang dicampur dengan daun bawang yang cukup banyak, mumpung gratis. Yah, disebelah rumah yang mereka tinggali, ada tanaman daun bawang juga daun sup. Athena juga membuat tumis kangkung. Ada hal lain lagi yang membuat Athena bersyukur, ada rice cooker di dalam rumah itu. Jadi Athena tidak perlu menanak nasi menggunakan panci.
"Udah bangun?" tanya Athena saat melihat Raga berjalan dengan mata yang masih redup.
"Udah bangun, The. Ini udah jalan" jawab Raga kemudian memasuki kamar mandi yang berada di samping dapur.
Athena melanjutkan acara masaknya. Setelah jadi, ia lalu membawanya ke depan TV. Eros membentang tikar yang terbuat dari anyaman.
Wildan membangunkan Kevin dan Darren. Mereka akan sarapan sekaligus makan siang bersama.
Athena melihat ekspresi temannya saat suapan pertama mereka sudah sampai di dalam mulut.
"Kenapa The?" tanya Kevin saat melihat Athena belum makan.
"Gak asin kan?" tanya Athena.
Semuanya menggeleng.
"Enak kok" kata Wildan.
"Serius?" tanya Athena.
"Serius, The. Suwerrr" kata Darren sambil mengangkat tangannya membentuk huruf V.
"Makan, The" suruh Eros.
Athena lalu makan. Rasanya lumayan, tidak buruk. Hasil belajarnya selama sebulan belakangan benar-benar berguna.
Rupanya semuanya benar-benar kelaparan, nasi dan juga lauknya benar-benar habis.
"Gue kata juga apa, masakan Lo enak, sampai piringnya bersih gini" kata Wildan.
"Thanks" ucap Athena. Ia hendak mengangkat piring untuk di cuci, tapi dilarang oleh Raga.
"Lo diam, The. Sejak tadi Lo udah bangun pagi buat ke pasar dan masakin kita semua. Lo istirahat gih" suruh Raga.
"Ehh, gak apa-apa" tolak Athena.
"Awas, The. Raga orangnya galak, Lo mending jauh-jauh deh, nanti Lo di makan Raga." suruh Darren.
Raga menggantikan Athena mengangkat piring kotor. Eros menggulung kembali tikar yang tadi dibentang, kemudian menyapu rumah. Terlihat Kevin yang sedang membuka laptopnya, mungkin sedang mengerjakan sesuatu.
Athena keluar dari kamarnya sambil membawa buku. Ia mencatat pengeluarannya tadi, kemudian memperlihatkan nya pada teman-temannya.
"Lo beli bahan kue?" tanya Raga.
Athena mengangguk.
"Tenang, aku pakai uangku sendiri kok" katanya.
"Bahan-bahan kuenya agak mahal. Takut uang kelompok gak cukup." jawab Athena.
"Tadi habis berapa untuk bahan kuenya?" tanya Darren.
"120 ribu" jawab Eros sambil melihat catatan Athena.
Darren mengeluarkan uang 20 ribu selembar, Wildan juga. Kevin juga ikut, Raga dan Eros juga.
"Kita ckck aja. Masing-masing 20 rebu, selesai" kata Darren.
"The, ini uang Lo" Darren mendorong uang di meja ke arah Athena.
"Padahal aku gak masalah lho" kata Athena.
"The, kita ini tim." Kevin mengingatkan.
Athena mengangguk. Dengan berat hati ia mengambil 5 lembar uang dua puluhan di depannya.
"Aku mau bikin kue kering deh" Athena berdiri dari duduknya.
Baru hendak berjalan, kupingnya di tarik.
"Gue bilang istirahat, malah mau ke dapur lagi" pelakunya ternyata Raga.
"Kayak bapak lagi marahin anaknya aja" kata Wildan.
"Bener Wil" Darren mengiyakan.
Athena mengusap telinganya. Tadi Raga tidak benar-benar menariknya dengan kencang.
"Ini tuh masih pagi, liat masih jam 10 pagi" kata Athena sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Raga. Raga melihat layar ponsel Athena, benar masih pagi. Tapi hal lain membuatnya tertarik, wallpaper Athena adalah foto seorang anak perempuan mengenakan pakaian sekolah TK British dan seorang lelaki dewasa yang wajahnya tertutup oleh jam. Raga hanya melihatnya sekilas karena Athena dengan cepat menarik ponselnya.
"Kalian main gih, aku buat kue dulu" kata Athena.
Ia kembali berkutat di dapur. Sayang sekali tidak ada lemari pendingin disini. Ia bisa membuat puding untuk teman-temannya.
Athena membuat dua jenis kue kering, rasa coklat dan vanila. Juga bolu coklat kukus.
Karena alat dan bahannya terbatas, tentu hasilnya juga tidak banyak. Kue keringnya hanya jadi sekaleng biskuit yang mereka makan semalam. Kue bolu coklatnya juga hanya ada satu loyang.
Athena membuat teh dan juga kopi. Rupanya Kevin tidak suka kopi, ia lebih memilih minum teh. Jadi tim kopi hanya Eros, Raga, Darren dan Wildan.
"Wildan, tolong bantu bawa" teriak Athena dari dapur.
"Diri Lo Wil, The manggil tuh" suruh Kevin.
Wildan ke dapur, membantu Athena mengangkat kopi dan teh. Sementara Athena membawa bolu coklat kukus hasil perangnya di dapur hari ini.
"Pasti enak" tebak tebak Darren. Apalagi saat melihat parutan keju diatasnya.
"Kalian makan gih" suruh Athena.
Raga dengan cepat mengambil sepotong bolu kukus itu. Setet habis, ia kembali mengambil. Melihat Raga yang begitu lahap, Kevin menjadi penasaran. Ia ikut mengambil sepotong kue.
"Enak banget" seru Kevin.
Eros, Darren dan Wildan berlomba untuk mengambil kemudian memakannya.
"Lo udah The?" tanya Raga.
"Kalian makan gih"
Wildan mengambil sepotong untuk Athena.
"Makan sendiri apa disuap sama bang Wildan nih?" tanya Wildan.
"Apa sih, Wil?" Athena mengambil kue dari tangan Wildan, kemudian memakannya.
"Jadi The sama Wildan nih?" tanya Eros.
"Nggaklah, Athena hanya untuk Darren" kata Darren.
"Dan pada akhirnya Athena akan memilih gue" kata Kevin.
"Tapi takdirnya sama gue" sambung Raga.
"Keren banget dramanya" kata Athena.