Athena

Athena
Undangan Lunch



Athena terlihat sibuk memasak bersama Aina. Aina membuat sup kentang, ayam rica-rica, tahu juga tempe goreng. Tak lupa sambel buatan Athena.


"Raga bilang apa waktu kamu ajak dia makan siang di sini?" tanya Aina.


"Gak bilang apa. Cuman nanyain jamnya" jawab Athena.


Aina mengangguk. Semuanya udah selesai.


"The mandi dulu deh" kata Aina.


Athena mengangguk. Ia kembali ke rumahnya untuk membersihkan dirinya. Renal, Alda, Nevan, Mika, Ivana dan juga si kembar Arvin dan Arion sedang ke puncak. Athena akan menyusul bersama Lathief dan Aina besok pagi.


Argantara Perdanakusuma


Aku udah di depan rumah kamu.


^^^Athena AM^^^


^^^Just a moment^^^


Athena mengambil ponselnya kemudian berlari kecil agar lebih cepat sampai ke depan.


"Yang lain mana?" tanya Raga.


"Mommy, daddy dan Nevan di puncak. Papa, mama Ivana juga si kembar" jawab Athena.


"Kamu gak ikut?" tanya Raga.


Athena menggeleng, kemudian mengangguk.


"Aku berangkatnya sama opa dan Oma, besok pagi" jawab Athena.


"Mau aku anterin?" tawar Raga.


"Nggak usah, Ga. Ada banyak supir di sini" tolak Athena halus.


Mereka sudah sampai di halaman rumah Lathief.


"Ayo, masuk" ajak Athena.


Raga mengikuti langkah Athena. Hingga sepasang suami istri menyambut mereka.


"Selamat datang di kediaman kami, Perdanakusuma" sambut Lathief.


"Selamat siang Mr. dan Mrs. Arunika" sapa Raga formal.


Aina mencubit pinggang Lathief.


"Ini sedang di rumah yah, gak boleh ada yang ngomong formal." omel Aina.


Lathief terkekeh, Raga juga tersenyum kecil.


"Panggil saya opa Lathief"


Raga menyalami Lathief dan Aina secara bergantian.


"Panggilnya Oma Aina yah" kata Aina.


"Iya Oma, opa" ucap Raga.


"Kalau aku di panggil The" kata Athena mengikuti opa dan omanya.


Semuanya terkekeh mendengar ucapan Athena. Lathief mengacak rambut cucunya.


"Ada-ada aja nih cucunya opa" kata Lathief.


"Ayo, langsung ke meja makan aja." ajak Aina.


Lathief duduk di kursi ujung, di sebelah kanannya ada Aina, diseblah Aina ada Athena. Raga duduk disisi kiri Lathief.


"Suka makan sambel kan?" tanya Aina.


Mereka makan siang diiringi obrolan ringan.


"Papa kamu masih sakit?" tanya Lathief.


"Udah sehat, opa. Kemarin papa hanya kelelahan" jawab Raga.


"Syukurlah" ucap Lathief.


Setelah makan, Lathief mengajak Raga ke taman belakang. Raga selalu dibuat tercengang setiap memasuki kediaman yang ada di kompleks ini. Di kediaman 05 ini tidak ada lapangan basket seperti di kediaman Mika, tapi tanaman bunga yang berjejer rapi sesuai jenis dan warnanya. Di sudut taman ada kolam renang besar dan juga kursi malas yang berjejer di sisinya. Di bagian belakang rumah ini juga ada paviliun, di rumah Mika juga ada. Paviliunnya berada di sudut lain. Halaman rumah di kompleks ini tidak main-main. Benar-benar luas.


"Kenal Athena sejak kapan?" tanya Lathief.


"Sejak enam bulan lalu, opa" jawab Raga.


"Athena orangnya gimana?"


"The orangnya lempeng, gak neko-neko juga, kadang gemesin"


Lathief terkekeh mendengar jawaban jujur dari remaja lelaki di depannya ini.


"Dia itu anak istimewa. Sangat istimewa bagi saya dan tentu saja keluarga saya. Athena adalah permata kami" kata Lathief.


"Athena bahkan gak pernah ngeluh kepada kami. Saya gak tahu bagaimana semesta dan orang-orangnya memperlakukan cucu saya di luar sana, tapi saya bisa memastikan cucu saya memperlakukan mereka dengan sangat baik."


Raga menyetujui ucapan Lathief barusan. Athena memang sebaik itu.


"Opa sudah berhasil mendidik Athena. Athena dikenal sangat baik dimana pun kakinya berpijak" kata Raga.


"Bukan opa yang berhasil mendidiknya, tapi ia yang berhasil mengendalikan dirinya" ucap Lathief.


Raga terdiam. Benar. Diri kita adalah pemegang kuasa atas diri kita sendiri. Bukan orang lain.


"Selain kamu siapa lagi yang tahu jika Athena adalah seorang Arunika?" tanya Lathief.


"Hanya saya, opa" jawab Raga.


"Kamu tidak percaya dengan keluarga kamu?"


"Bukan tidak percaya, opa. Opa tentu saja tahu saya tertarik dengan Athena, jika papa tahu orang yang sedang saya perjuangkan adalah seorang Arunika, papa pasti tidak akan menyetujuinya."


"Kenapa Baskara bersikap seperti itu?"


"Papa dulu memperjuangkan mama dengan segala usaha dan upayanya. Mama adalah anak dari seorang pengusaha terkenal di negara D, sedangkan papa bukan siapa-siapa. Papa tetap berjuang, menjalankan bisnisnya dengan jatuh bangun agar bisa bersanding dengan mama. Mama saat itu dalam keadaan 'tidak dikenal' oleh publik. Papa butuh waktu 7 tahun untuk mengembangkan bisnisnya, dan barulah orang tua mama setuju. Papa sudah memiliki status sosial, sehingga bukan hal yang sulit bagi kakek saya untuk menerima papa. Papa tentu tidak ingin saya merasakan jatuh bangun seperti yang pernah beliau lalui. Mungkin itu adalah alasan kenapa papa menyarankan kepada saya untuk mencari yang kelasnya menengah seperti kami" cerita Raga.


Lathief mengangguk mengerti.


"Tentu setiap orang tua tidak ingin melihat anaknya berjuang berdarah-darah seperti apa yang telah mereka rasakan. Saya juga melakukan hal yang sama untuk anak-anak saya." kata Lathief.


"Jika ingin mundur, mundur sekarang sebelum cucu saya terbiasa akan kehadiranmu. Jika ingin berjuang, maka berjuanglah. Tapi kamu harus tahu, kami tak pernah memandang seseorang dari status sosial juga ekonominya. Renal juga dulu merasa begitu rendah saat melamar Alda, ia merasa tidak percaya diri untuk menikahi seorang Arunika. Setahu saya, sejak menikah sampai sekarang Alda tak pernah lagi menggunakan uang yang selalu saya beri, Athena pun sama, segala kebutuhan anak-anak dan istrinya pure dari hasil kerja Renal sendiri. Dan saya menghargai itu. Menantu saya benar-benar bekerja sangat keras, meskipun saya tidak memintanya."


"Saya akan berjuang, opa" kata Raga tegas.


"Kamu tidak perlu membuktikan dirimu kepada orang lain. Kualitas diri akan terlihat sendiri, akan berkilau sendiri, bahkan orang buta pun bisa merasakannya. Seandainya pun kamu tidak punya semua itu, tapi cucu saya ingin hidup bersamamu, tentu dengan senang hati kami menerima kamu demi kebahagiaan Athena" kata Lathief.


"Saya ini laki-laki, opa. Tentu saya akan memiliki segalanya sebelum meminta cucu opa." yakin Raga.


Lathief menepuk pundak Raga. Seolah memberinya semangat.


"Saya suka semangatmu, anak muda" kata Lathief.


Dari pintu yang menghubungkan antara ruang keluarga dan taman, terlihat Athena dan Aina masing-masing membawa nampan di tangannya.


"Panas-panas gini enaknya makan puding, minum jus juga. Atau Raga mau yang lain?" tanya Aina.


"Nggak, Oma. Raga suka jus jeruk, dan itu sudah ada di atas nampan" tunjuk Raga pada nampan yang Athena bawa.


"Wah, Athena hebat nih tahu kesukaan Raga" ucap Aina heboh.


Lathief terkekeh kecil melihat kehebohan istrinya.