
"Kapan hari kamu bilang mau ke suatu tempat" kata Raga.
"Ehh, masih ingat ternyata"
"Ya ingat, The. Ayo, mau kemana? Ini weekend juga kan. Aku free"
"Sekarang banget?" tanya Athena.
Raga mengangguk.
"Aku takut besok-besok bakal sibuk, ini mendekati akhir tahun, biasanya kan ada business trip" jawab Raga.
"Aku siap-siap dulu kalau gitu. Kamu bisa bantu anak-anak bersiap-siap nggak?"
"Ya bisa, The"
Athena mengangguk. Ia lalu berjalan ke dapur, menyiapkan ransum untuk liburan mereka. Ada sebuah tempat yang ingin sekali ia kunjungi, yaitu tempat yang bernama Ars Area. Ia tentu tak lupa menelpon pihak maskapai agar menyiapkan helikopter untuk ia tumpangi menuju tempat tujuannya.
Athena membawa ransum yang cukup, sekarang masih hari Jum'at, ia berencana disana selama dua malam, itu artinya hari Ahad nanti barulah ia dan keluarganya akan kembali ke rumah ini.
"Kamu nggak siap-siap?" tanya Raga.
"Bentar dulu." jawab Athena.
"Disana gak ada minimarket?"
"Nggak ada, Ga"
"Na mana, ma?" Anne menatap mata mamanya.
"Kita liburan yah sayang" Athena mengusap rambut anaknya.
Setelah semuanya siap, barulah Athena ke kamarnya untuk mengganti bajunya.
"Keperluannya anak-anak?" tanya Raga.
Athena menunjuk koper dengan dagunya.
Raga mengangguk mengerti. Ia lalu mengangkat semua barang-barang yang diperlukan ke mobil.
Athena tak lupa memberitahu J jika ia akan pergi selama 2 hari untuk liburan.
"Arahnya kemana ini?" tanya Raga.
"Ke helipad depan aja, Ga. Heli nya udah nunggu kok di sana" jawab Athena.
"Ehh" kaget Raga.
Athena terkekeh.
"Jangan lebay, tolong"
"Iya iya nyonya" pasrah Raga. Seharusnya ia yang mengatur liburan untuk keluarga nya, ini malah kebalik. Selagi istri dan anak-anaknya senang, ini tentu bukan hal yang sulit baginya.
"Selamat sore, nyonya, tuan" sapa seorang pilot yang hanya mengenakan celana pendek selutut dan baju kaos.
"Selamat sore, kapten. Kenalin, suami saya, Raga. Juga kedua kurcaci saya, Anne dan Aidan" Kata Athena ramah.
Pilot tersebut tersenyum dan menyapa 3 anggota keluarga nyonya nya.
"Senang bisa membawa seorang Arunika lagi ke tempat itu." katanya.
"Saya sama senangnya, kapten. Pilot khusus kakek Ares, bisa saya gunakan jasanya kali ini"
"Mari nyonya, tuan." katanya.
Beberapa orang mengangkat perlengkapan yang Athena bawa ke dalam helikopter.
"Kamu duduk di depan aja sama kaptennya. Aku di belakang sama anak-anak" kata Athena.
"Gak repot itu?" khawatir Raga.
Athena menggeleng.
"Kemana helikopter ini akan terbang, kapten?" tanya Raga penasaran.
"Tuan belum tahu?" heran kapten itu.
"Belum, kapten. Hari ini saya menawarkan liburan untuk istri dan anak-anak saya, istri saya begitu excited mendengarnya, dan tadi di mobil malah meminta saya untuk ke helipad." jujur Raga yang diakhiri kekehan kecil.
Kaptennya ikut terkekeh.
"Nyonya ternyata cukup misterius juga, seperti kakeknya" ucap kapten.
"Kakek Ares?" tanya Raga memastikan.
"Tampilannya begitu sederhana, hanya celana selutut, baju kaos dan juga sendal jepit. Orang-orang tidak akan mengira jika beliau adalah seorang Arunika. Penerbangan pertama saya 23 tahun yang lalu adalah ke tempat yang akan kita tuju sekarang, dan penumpang pertama saya adalah Tuan Ares dan istrinya. Saya merasa begitu beruntung bisa menjadi orang yang membawa tuan Ares ke sana, karena tempat ini adalah rahasia." cerita kapten.
"Rahasia? Tidak ada orang yang tahu selain kapten?"
"Saya pikir hanya mendiang tuan Area dan istrinya yang tahu, nyonya Athena, dan sekarang anda dan kedua anak anda. Kami yang ada di pulau ini bukan pengkhianat dan tidak akan menjadi pecundang, hingga rahasia ini tetap menjadi rahasia" kata kapten.
"Bagaimana cara kakek Ares memimpin kalian semua?" tanya Raga heran.
"Tuan tidak memimpin kami. Beliau melangkah bersama kami, berdiri, berjalan di sebelah kami, sejajar dengan kami. Beliau begitu berwibawa dan bijaksana, hingga tidak ada seorang pun yang akan menyalahgunakan kebaikannya."
"Apakah tidak ada yang memberontak diantara mereka?"
"Sejauh ini belum. Jika pun ada, orang-orang Arunika tidak akan pernah turun tangan, karena orang itu akan hilang dengan sendirinya. Ia akan dianggap hilang, meskipun jasadnya masih ada dan hidup"
Raga meringis mendengar nya. Hukuman di masyarakat jauh lebih besar, tidak ada seorang pun yang bisa hidup sendirian di tengah-tengah indahnya saling beramah-tamah.
"Tuan, lihatlah sekitar. Anda terlihat cukup kaku " kapten mencoba mencairkan suasana.
Raga terkekeh mendengarnya. Ia melihat apa yang ada di bawah sana. Hamparan laut, lebatnya hutan dan juga hijaunya lahan perkebunan. Batu besar yang menyerupai jurang berdiri kokoh membelah dua sisi hutan, ditengahnya ada sungai yang airnya mengalir deras.
"Kapan kita akan tiba?" tanya Raga.
"Sebentar lagi, tuan" jawab Kapten.
Helikopter mendarat di helipad yang ada di tengah tanah lapang. Sejauh mata memandang, yang nampak hanya tanah lapang dengan rumput hijaunya, beberapa bagian tanah juga membentuk bukit-bukit kecil, seolah dipahat agar terlihat begitu indah dan sempurna.
"Terima kasih, kapten." ucap Athena.
"Dengan senang hati, nyonya."
"Tolong jemput kami dua hari kemudian."
"Baik, nyonya. Saya pamit"
"Terima kasih, capt"
Kapten terkekeh.
"Sama-sama, tuan. Semoga liburannya menyenangkan" kata Kapten.
Raga melihat sekitarnya, ia bingung mereka akan kemana.
"The?" panggil nya.
"Kenapa, Ga?"
"Kita liburan di sini, camp gitu?" tanya Raga.
Athena tersenyum.
"Perlengkapannya bawa ke sini" katanya sambil berjalan ke sudut helipad. Ia sedang menggendong Aiden dan sebelah tangannya menggandeng tangan kecil Anne.
Satu koper besar dan juga keranjang besar berhasil Raga pindahkan ke sudut helipad.
"Ga, boleh Aidan boleh nggak?" tanya nya.
Raga mengangguk. Ia kemudian mengambil Aidan dari gendongan Athena.
Athena lalu jongkok, menggeser salah satu paving stone dan meletakkan jari manisnya diatas sebuah finger print scanner. Setelah itu ia menggeser lagi paving stone dan ada sebuah alat untuk mendeteksi iris mata.
Raga yang melihatnya hanya bisa mengucapkan berbagai decak kagum dalam benaknya.
Paving tiba-tiba bergeser, hingga nampak sebuah travelator.
"Ayo, Ga" Athena kembali mengambil Aidan dari gendongan Raga, kemudian menggandeng tangan kecil Anne.
"Kamu duluan yang masuk" kata Athena.
Raga terlebih dahulu memasukkan koper dan keranjangnya, sebelum kakinya menyentuh travelator, kemudian di ikuti Athena.
Jarak 5 meter sejak mereka berada di atas travelator, paving stone kembali tersusun rapi. Mereka seolah sedang berada di terowongan. Tapi terowongan ini berbeda, di sisi kirinya adalah lukisan-lukisan dan di sisi kanannya ada tegel keramik berwarna emas.
"The, berapa banyak lagi rahasia yang kamu simpan?" tanya Raga.
"This is the last" jawab Athena.
"Sejak berangkat dari rumah, aku was-was. Sampai di sini pun menjadi lebih terkejut." ucap Raga.
"Maaf, yah"
"Ntik" oceh Anne saat melihat lukisan-lukisan yang ia lewati.
"Iya, cantik yah sayang" Athena mengelus kepala anaknya.