Athena

Athena
Aurora



Raga sedang sibuk dengan berkas-berkas di depannya. Ini adalah hari ke tiga Athena dan mamanya pergi meninggalkan rumah.


Mamanya masih cukup baik, Vania mengirimkan segala aktivitas Athena kepada dirinya. Raga hanya tinggal menunggu waktu Clara membuat drama, dan ia akan membongkar semuanya.


Sementara di pulau Athena, The dan Vania sedang dalam perjalanan menuju pusat perbelanjaan yang ada di pulau tersebut. Seperti biasa, hal tak terduga dan beberapa hal lainnya yang sangat menakjubkan mereka lewati. Athena membawa mobilnya sendiri, Vania duduk disebelahnya sambil celingukan memperhatikan sekitarnya.


Athena tiba-tiba menginjak pedal rem nya, saat seorang nenek menghadang jalannya. Hari masih pagi, para warga mungkin sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


Athena turun dari mobil, ia harus memastikan keadaan nenek tersebut.


"Apa ada yang luka nyonya? Maaf, saya kurang berhati-hati dalam berkendara" ucap Athena sopan.


Vania menampakkan wajah herannya, jelas-jelas nenek tersebut sengaja berdiri di tengah jalan yang akan mereka lintasi. Ia tidak habis pikir dengan apa yang ada di dalam pikiran Athena.


"Bukan salah kamu, nak. Nenek yang seharusnya minta maaf" ucap nenek itu pelan. Wajahnya begitu cantik meski kerutan sudah jelas terlihat.


"Ayo, The bantu nenek ke sebrang" Athena hendak memapah nenek tersebut menuju pinggir jalan.


Nenek tersebut menggelengkan kepalanya.


"Nenek butuh bantuan kamu, apakah boleh?" tanya nya.


"Ada masalah apa nek? The pasti akan membantu jika The bisa. Perkenalkan, nama saya Athena, dan ini mama mertua saya, nyonya Vania"


"Nama nenek adalah Amrita Lysanne, kalian bisa memanggilku nenek Rita. Nenek sangat membutuhkan bantuan kalian"


"Apa yang bisa kami bantu nyonya?" tanya Vania.


"Ne nek puuu nya cuucu, oorang tuaa nya mee ningggal bebeee beberapa hari yaang laa lu. See perti nyaa nenek juu gaa aaakan per gi jaaauh. Too long jaa ga cucu saa ya" ucapnya terbata-bata.


"Jangan bilang begitu, nek. The akan membawa nenek ke rumah sakit. Cucu nenek dimana?"


"Dii daa lam" sambil menunjuk sebuah rumah.


Athena dengan cepat berlari memasuki rumah yang ditunjuk oleh nenek Rita, sementara Vania membantu nenek Rita menaiki mobil Athena. Athena cukup kaget saat melihat seorang bayi perempuan yang tergeletak sambil menutup matanya. Air matanya jatuh begitu saja melihat pemandangan di depannya. Ia dengan cepat menggendong bayi itu dan membawanya ke mobil. Mereka harus ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memberikan pertolongan kepada sang nenek.


Athena memberikan bayi tersebut kepada Vania, sedangkan ia mulai menginjak pedal gasnya.


"Nenek, tolong bertahan" Athena melihat nenek Rita melalui kaca.


Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah sakit. Petugas bertindak cepat memberikan pertolongan kepada nenek Rita. Sementara Athena sedang menggendong seorang bayi, dan Vania duduk disebelahnya.


"Maaf, ma. Seharusnya kita sekarang berada di pusat perbelanjaan, tapi Athena malah membawa mama kesini" ucap Athena.


"Nggak apa-apa, sayang. Mama senang berada disini, asalkan sama The" Vania mengelus rambut menantunya.


Bayi yang Athena gendong mulai membuka matanya. Matanya begitu bulat, bulu matanya juga begitu lentik, hidungnya minimalis, tidak terlalu mancung, pipinya begitu chubby. Bayi itu celingukan, seolah bertanya dimana sekarang ia berada.


Athena tersenyum melihatnya.


"Halo bayiii, bayi sekarang ada di rumah sakit. Neneknya lagi sakit" Athena menemani bayi itu berbicara.


HUWAAAAA


Bayi itu tiba-tiba menangis, bersama dengan keluarnya seorang dokter dan dua orang perawat dari bilik tindakan.


"Bagaimana keadaan neneknya dok?" tanya Vania.


"Kita hanya bisa berdoa semoga ia bisa bertahan" jawab dokter itu.


"Silahkan temui pasien, beliau ingin berbicara" kata dokter tersebut sebelum meninggalkan Vania dan Athena.


Athena dan Vania lalu memasuki bilik dimana nenek Rita sedang terbaring lemah dengan alat bantuan pernafasan yang melekat pada hidungnya. Ia menggerakkan tangannya, seolah meminta Athena untuk mendekat.


Athena mendekatkan bayi tersebut kepada nenek Rita. Dengan tangannya yang mulai keriput, nenek Rita mengelus wajah lucu cucunya. Dengan sebelah tangannya ,ia melepaskan alat bantu pernafasan nya, kemudian mencium seluruh permukaan wajah cucunya.


"Tolong telpon seseorang untuk nenek" ucapnya pelan. Ia lalu menyebutkan sederet angka yang ia hapal.


Athena dengan cepat menekan angka yang disebutkan oleh nenek Rita, lalu menelpon nomor tersebut, dan yang paling membuatnya kaget adalah, nomor tersebut ternyata nomornya Okan. Tadi nomornya berganti saat Athena menakan tombol dial.


"Halo, om."


"Seseorang ingin mengobrol dengan om."


Athena memberikan ponselnya kepada nenek Rita.


Sebelum memulai percakapan, nenek Rita seolah menyebut sebuah kode jika itu adalah dirinya. Nenek Rita hanya meminta Okan segera datang ke rumah sakit. Kebetulan Okan sudah tiba di pulau ini tadi malam atas permintaan nenek Rita.


"Maukah kamu menolong nenek tua ini?" tanya nenek Rita dengan suaranya yang makin kecil.


"Ayo nek, gunakan ini, agar nenek bisa bernapas dengan baik" Athena hendak memasangkan kembali alat bantu pernapasan.


Nenek Rita menggeleng.


"Iya, nek. The akan bantu nenek."


"Tolong jaga cucu nenek, rawat dia dengan sepenuh hati." pintanya pada Athena.


Athena melihat ke arah Vania. Ia tentu tidak akan gegabah untuk mengambil keputusan, apalagi sekarang ada Raga yang harus dimintai pendapat terlebih dahulu.


Seolah mengerti tatapan Athena kepadanya, Vania bertanya.


"Kenapa harus menantu saya nyonya?"


"Malam hari sebelum saya terbangun, saya bermimpi melihat dia datang dengan wajahnya yang sangat berseri. Saat itu kondisi saya sedang tidak baik-baik saja, dan ia datang untuk menolong saya" cerita nenek Rita.


"Nenek harus sehat kembali untuk membesarkan cucu nenek" ucap Athena.


Nenek Rita kembali menggelengkan kepalanya.


"Waktunya kian dekat, nak." katanya.


Bersamaan dengan itu, tirai terbuka, Okan telah tiba.


"Maaf, nyonya, saya terlambat" ucapnya.


Nenek Rita mengangguk mengerti.


"Tolong urus semuanya" pintanya lirih.


"Siapa yang akan menjadi wali resmi nona Aurora, nyonya?" tanya Okan.


Nenek Rita melihat Athena dengan tatapan memohon.


"The, om" jawab Athena cepat, ia tidak tega dan tidak mampu melihat wajah putus asa nenek Rita.


Okan melihat Athena dengan tatapan tak percaya.


"Apa kamu yakin, The?"


"The yakin, om" jawabnya.


"Apa nyonya yakin mempercayakan nona Aurora kepada Athena? Jika tidak, saya dengan senang hati akan membawa Aurora pulang untuk istri saya" Okan memberikan opsi lain.


Nenek Rita menggelengkan kepalanya, ia hanya menunjuk Athena.


Okan mengangguk mengerti.


"Tolong tanda tangan, nyonya" katanya.


Athena juga bertanda tangan di sebelah nama nenek Rita.


"Tolong jaga dia dengan baik. Didik dia agar tumbuh menjadi perempuan yang baik seperti dirimu" ucap nenek Rita. Suaranya kian tak terdengar. Nenek tua itu kembali mencium kening cucunya dengan sangat lama, sebelum ia menjadi begitu susah untuk bernapas.


Vania dengan cepat memanggil dokter, Athena membawa Aurora kedalam pelukannya, bayi itu sedang menangis. Okan dengan cepat memasangkan kembali alat bantu pernapasan.


Dokter datang, ia mengecek kondisi nenek Rita yang ternyata sudah tidak bisa ditolong.


"Kami mengucapkan turut berdukacita" ucap dokter itu.


"Bagaimana ini om?" tanya Athena.


"Om yang akan mengurusnya, The. Kamu tenang yah, biar Aurora juga bisa tenang." jawab Okan.


Ia lalu menelpon beberapa orang yang cukup dekat dengan nenek Rita, termasuk tangan kanan nenek Rita. Okan mengenal mereka semua saat nenek Rita menjadi kliennya beberapa bulan yang lalu.