Athena

Athena
Bimbel



"Katanya kalian sambil ngadain bimbel disini?" tanya Run.


"Iya, kak. Barangkali berguna untuk anak-anak disini" jawab Eros.


"Yah pasti berguna. Tapi waktu istirahat kalian gak terganggu kan? Cuaca disini kadang berubah-ubah, kalau kalian gak atur jadwal istirahat, takutnya malah jatuh sakit."


"Aman, kak. Jadwalnya cuman 2 kali seminggu, di sore hari. Jadi kami masih bisa tetap istirahat sepulang dari kebun pak Abraham" jelas Eros.


Run mengangguk.


"Baguslah. Kalian tunggu sebentar, ada titipan dari pak Abraham" kata Run sebelum berlari memasuki rumah.


Run datang sambil membawa rantang.


"Wah, terima kasih, kak" ucap Athena sopan saat menerima rantang dari Run.


"Sama-sama. Silahkan istirahat" kata Run.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke rumah sementara.


"Yahhh, kita gak makan masakan The siang ini" keluh Wildan.


Athena terkekeh mendengar keluhan Wildan.


"Nanti malam aku masakin kok" katanya menenangkan.


Kevin menjitak kepala Wildan.


"Anak orang itu. Lo kira tukang masak"


Wildan mengelus kepala bagian depannya.


"Gak usah malu-malu Lo pada, Lo pada pasti sama kayak gue kan? Selalu nunggu waktu makan?" tanya Wildan sambil menaik turunkan alisnya.


"Yeuhhh" Darren menginjak kaki Wildan kemudian berlari ke dalam rumah.


"Syalaaan" umpat Wildan.


Raga, Kevin, Eros dan Athena hanya terkekeh mendengar umpatan lirih Wildan.


"The, mandinya nanti dulu yah. Gue udah lapar" kata Raga.


Athena mengangguk. Ia hanya mencuci tangan dan kakinya, kemudian menyiapkan makanan yang tadi dikasih oleh Run. Mie goreng. Dari aromanya, The tahu dan hapal betul, ini buatan omanya. Apa omanya kesini?


"The?" panggil Eros.


Athena masih diam, melamun.


"The" Eros mengacak rambut Athena.


"Hah? Kenapa?" tanya Athena.


"Belum siap? Sini aku bantuin"


Eros benar-benar membantu Athena menyiapkan makan siang. Ia membantu Athena mengangkat rantang ke depan. Rantangnya ada 6 susun, dengan ukuran sedang.


"Mie goreng" seru Kevin senang.


"Lo suka Vin?" tanya Athena.


"Makanan favorit dia tuh" kata Wildan.


"Nanti dehh aku coba buatin. Kan aku gak pernah bikin mie goreng yah"


"Wahh, The baik bener" Kevin takjub akan gadis di depannya.


"Rasanya enak gini." kata Eros.


"Hooh. Enaaaaak banget" Darren ikut berkomentar.


Mereka makan dengan terus mengomentari mie goreng yang rasanya sangat enak dan khas. Athena hanya mendengar ucapan teman-temannya.


Sementara di rumah pak Abraham, Aina sedang mengusap air matanya. Tadi ia melihat cucunya, tapi ia tak bisa memeluknya.


"Sabar, nanti kita buat cara agar The datang kemari" Lathief menenangkan istrinya.


"Cucu kita sudah besar, Pa. Sudah mampu mengimbangi langkah lima orang lelaki." kata Aina.


"Seorang Arunika memang harus seperti itu. Tidak gentar meskipun ia seorang perempuan."


"The pasti makan dengan lahap. Mie goreng kesukaannya sudah bisa ia rasakan" Aina membayangkan Athena sedang makan lahap.


"Kamu juga yang terbaik. Rela menemani aku pergi sejauh ini." kata Aina yang diakhiri senyuman.


Lathief suka melihat senyum istrinya.


Beberapa hari lalu, Aina mengatakan rindu dengan cucunya. Lathief lalu menghubungi Abraham, apakah aman jika ia kesana. Abraham tentu saja khawatir, ia sempat menyarankan agar Lathief mengurungkan niatnya.


Tapi setelah mendengar jika Aina yang memohon untuk mengunjungi cucunya, Abraham jadi kasian. Abraham kemudian ke kota, menjemput orang-orang kepercayaannya untuk menjaga Lathief dan Aina saat mereka datang. Min, Run dan Ram memang sangat ahli, tapi kita tidak bisa menebak keadaan. Abraham lalu membawa 10 orang dari pulau RelFath, dengan alasan orang-orang itu adalah temannya yang akan melakukan penelitian disini.


Aina dan Lathief datang beberapa hari kemudian. Alda sudah merengek agar diizinkan ikut, tapi Lathief benar-benar tidak mengizinkan nya.


Tidak seperti Athena yang menaiki bus dari kota madya ke daerah, Aina dan Lathief menaiki mobil yang bisa membawanya lebih cepat, mobil itu tentu saja disiapkan oleh Abraham.


Dan disinilah ia sekarang, mengintip cucunya di balik jendela yang rupanya sedang sibuk mengajar bocah-bocah kecil. Ia senang saat melihat tawa Athena yang sangat lepas, disampingnya terlihat seorang anak kecil dengan kisaran usia 2 tahun. Anak itu tentu tak ikut belajar, ia hanya ikut dengan kakaknya.


Muridnya Athena ada 5 orang, termasuk kakak dari Ayla. Sementara yang lain masing-masing memegang 7 orang bocah. Bisa dibayangkan betapa ramainya rumah sementara mereka.


"Gurunya masih ngeluh nggak?" tanya Eros.


"Gak lagi kak. Kami udah hapal huruf, terus udah bisa mengeja" jawab salah satunya.


"Bagus. Sebelum kakak pulang nanti, kalian sudah harus bisa membaca yah. Berhitung juga" kata Eros.


Semuanya mengangguk.


Hari sudah sore.


"Masnya nggak datang?" tanya Athena.


"Nggak kak. Tadi kata anaknya, bapaknya lagi sakit" jawab anak yang rambutnya kikis.


"Yah, pada gak makan somai dong" kata Athena.


"Kami jajan di warung pertigaan, kak. Ada permennya"


"Pada mau permen?"


"MAUU" jawab mereka serempak.


Athena berlari masuk ke dalam rumah, mencari permen yang ia beli di pasar. Ia sengaja membeli 2 bungkus besar permen, untuk ia bagikan kepada adik-adik yang menemaninya saat sore begini.


"Kakak kebetulan beli permen waktu ke pasar. Ayo, baris yang rapi." kata Athena.


Anak-anak itu berbaris rapi.


"Raga, bagiin" suruh Athena. Raga ini tidak terlalu dengan anak-anak. Ia hanya akan berinteraksi jika proses bimbel berjalan.


"Gue?" tunjuk Raga pada dirinya.


Athena mengangguk.


"Sana Lo. Anak-anak kadang bisik-bisik kalau mereka takut sama Lo" kata Kevin.


"Yaaah" keluh Raga tapi tetep menerima bungkusan permen dari Athena.


"Habis dapat permen, kalian hati-hati pulangnya yah. Langsung pulang ke rumah, biar orang tuanya gak pada nyariin. Oke?" petuah Eros.


"OKE" jawab semuanya.


Raga lalu membagikan permen pada tiap anak. Ayla tentu saja juga kebagian.


"Sepi dehh" Athena yang duduk di bangku panjang.


"Tenang, ada bang Wildan kok" kata Wildan sambil menyugar rambutnya.


"Wehh, lagi ngalus Lo?" tanya Kevin.


"Lagi mencoba trik barunya dia, Vin" kata Darren.


"Tapi sayang gak berhasil. Soalnya Athena lempeng gitu" Eros ikut menimpali.


"Athena mah udah kebal sama pesona kita" kata Raga.


"Hooh, anak gadis yang satu ini b aja." Wildan mengacak rambut Athena.


"Seru banget kayaknya nge-gosip orang pas depannya" cibir Athena.


"Tuhh, tauu" kompak Wildan dan Darren. Mereka lalu berhi-five.


"Awas yah, aku gak masakin pada tahu rasa" kata Athena lalu berlalu masuk. Ia harus segera membersihkan diri sebelum gelap benar-benar datang, atau ia akan sangat kedinginan jika menunda mandinya.