Athena

Athena
Curcol



Raga sudah kembali beberapa hari yang lalu. Niat Athena kembali ke kota A benar-benar dilarang keras oleh Raga. Raga memberikan waktu selama 3 bulan kepada Athena untuk bersiap-siap, sebelum ia membawa keluarganya menemui keluarga besar Athena.


Seperti biasa, setiap hari Senin hingga Jumat Athena akan berada di kantor. Ia begitu kebal akan omongan orang-orang yang membicarakan kedekatannya dengan Bagas. Ia seolah tidak mendengar ucapan orang-orang itu.


Athena tidak lagi menggunakan motor ke kantor, setiap hari ia akan pergi dan pulang kantor bersama Bagas. Mereka akan berpisah di lobi, Bagas berjalan menuju lift khusus, sedangkan Athena berjalan menuju lift umum khusus karyawan seperti dirinya.


Raga juga kian hari makin posesif. Di jam-jam tertentu ia akan menelpon Athena.


Sebentar lagi jam pulang kantor, Athena segera bersiap-siap, atau Bagas akan mengomel.


"Habis nganterin kakak, aku bakal ke negara T." kata Bagas saat mereka dalam perjalanan pulang.


"Ngapain di sana? Mau repotin mami Angel pasti" tuduh Athena.


"Yeuh, enak saja. Kakak lupa yah, lusa itu hari pembukaan pabrik pangan yang kakak idamkan sejak dulu" Bagas mengingatkan.


"Astagaaa, aku lupa. Thanks yah udah mau kakak repotin" ucap Athena.


"Apa pun buat kakak" Bagas mengelus rambut Athena.


"Hati-hati yah. Salam buat mami dan papi kamu, buat opa Raka dan oma Dina juga." ucap Athena sebelum turun dari mobil.


"Siap, sister" Bagas mencium kening Athena.


Athena melambaikan tangannya saat Bagas sudah kembali mengendarai mobilnya menuju bandara. Setelah mobil Bagas tidak terlihat lagi, Athena memasuki rumahnya.


"Kakak pulang" kata Athena saat memasuki ruang keluarga. Nampak Ayra sedang belajar sambil menonton kartun.


Ayra berdiri dari duduknya, kemudian memeluk pinggang Athena. Athena mengelus rambut Athena yang dikuncir.


"Kangen hmm?" tanya Athena.


Ayra mengangguk. Anak kecil itu tiba beberapa hari yang lalu, dan sudah mulai bersekolah satu hari setelah ia tiba di kota C.


"Iya, kakak juga kangen sama Ayra. Adek lanjut belajar dulu yah, kakak ganti baju dulu" ucap Athena lembut.


"Baik, kakak" kata Ayra. Ia kembali duduk melantai dan belajar.


Athena berjalan ke lantai dua dan memasuki kamarnya. Hari ini terasa cukup melelahkan. Akhir dan awal bulan memang selalu menjadi waktu yang genting.


Setelah membersihkan dirinya, Athena kembali ke lantai satu. Ia tidak lagi melihat keberadaan Ayra. Athena berjalan menuju taman yang berada di samping rumahnya. Bunga mawar hitam bermekaran dan terlihat begitu cantik. Ketimbang mawar berwarna putih, pink dan merah, ia begitu cinta akan warna gelap itu.


"Kakaaaak, sini" teriak Ayra dari depan.


Athena berlari kecil ke arah dimana adiknya berteriak. Ia tersenyum dan segera berlari untuk memeluk sang Oma yang datang bersama opa Lathief.


"Omaaaa" Athena memeluk Aina, ia tak lupa mencium seluruh permukaan wajah perempuan yang disayanginya itu.


Aina terkekeh mendapat serangan bertubi-tubi dari cucunya.


"Cucu Oma makin cantik aja" Aina mengelus rambut cucunya.


"Oma juga" ucap Athena. Ia lalu mencium punggung tangan Lathief.


"Opa sehat?" tanya Athena yang masih memeluk Lathief.


"Sangat sehat." jawab Lathief. Ia mencium kening cucunya.


"Min, tolong yah" ucap Athena.


Min mengangguk. Ia mengerti akan perintah sang nona muda.


"Ayo, masuk. Kok The gak dikasih tahu kalau Oma dan opa bakal kesini?" tanya Athena.


"Biar jadi surprise kakak" Ayra yang menjawab.


Lathief dan Aina duduk di sofa panjang yang berada di ruang keluarga. Kartun kesukaan Ayra pun masih tayang.


✨✨✨


Setelah menidurkan Ayra, Athena kembali ke ruang keluarga, dimana Aina dan Lathief duduk.


"Adiknya udah tidur?" tanya Aina saat menyadari kedatangan cucunya.


"Iya, Oma" jawab Athena. Ia duduk diantara opa dan Oma nya.


"Aman kok opa."


"Itu pabrik dibuat untuk apa?" tanya Lathief lagi.


"Yah biar bisa olah sendiri. Apaan tuh bahan bakunya di olah sama orang lain. Mending olah sendiri"


"Pinter cucu opa" Lathief mengelus rambut cucunya.


"Oma sedih nggak waktu ninggalin negara T demi ikut opa ke kota A?" tanya Athena.


Aina dan Lathief saling menatap, kemudian melihat ke arah cucunya.


"Kenapa hmm?" tanya Aina.


"Beberapa bulan yang lalu Raga melamar aku di depan Daddy, mommy dan Nevan, tapi The belum ada jawaban."


"Hingga kini?" tanya Lathief.


Athena mengangguk.


"The tidak meragukan Raga, sedikit pun tidak pernah. The bingung, The sebenarnya pengen tinggal di rumah papi aja setelah menikah, tapi itu tentu bukan hal yang baik. Raga anak satu-satunya keluarga Perdanakusuma, mama Vania juga begitu mendambakan anak perempuan" cerita Athena.


Aina menepuk pelan bahu cucunya yang bersandar di dadanya.


"Sayang, dengerin Oma. Jika seorang perempuan sudah menikah, ia bukan lagi milik orang tua nya, ia adalah milik suaminya. Ia wajib mengikuti kemana pun suaminya akan membawanya. Oma mengerti akan keinginan The, tapi orang lain belum tentu."


"Udah ngomong sama Raga?" tanya Lathief.


"Udah, opa"


"Terus Raga bilang apa?"


"Raga gak masalah mau tinggal di mana pun. Tapi The yang nggak enak" jawab Athena.


"Yaudah, The pikirin baik-baik akan gimana ke depannya." ucap Lathief.


"Awalnya Oma sedih sih karena jauh dari aba dan umma, tapi lama-kelamaan juga terbiasa. Apalagi opa membuat semuanya lebih mudah. Setiap sebulan sekali Oma bertemu dengan aba dan umma, entah Oma yang terbang ke Negera T atau aba dan umma yang datang ke kota A. Semuanya tergantung dari The dan Raga, gimana caranya agar semuanya seimbang" Aina mencium pelipis cucunya.


"Iya, Oma"


"Udah lama banget gak ketemu, pas ketemu udah minta saran aja bakal gimana nantinya. Cucu opa benar-benar udah besar" Lathief terkekeh kecil.


"Opaaaaa" Athena memeluk Lathief.


"Iya, cucunya sombong sih, sibuk banget sampai gak ada waktu buat pulang" Aina menggoda cucunya.


"Kalau The gak kerja nanti gak bisa seperti opa"


"Pengen banget jadi seperti opa?"


"Iya, opa. Berkuasa dan penuh strategi" jawab Athena antusias.


"Apaan tuh, diminta jadi CEO aja nggak mau, malah pilih jadi karyawan" Lathief mencibir.


Aina terkekeh mendengar ucapan Lathief.


"Selanjutnya apa lagi yang mau dieksekusi?" tanya Aina.


"Pulau mungkin" jawab Athena cepat.


"Ehh buat apa?" tanya Lathief.


"Yah, biar kayak opa. Ada pulaunya, terus bisa healing kesana kemari"


"Opanya terus yang disebut. Omanya kapan nih?" Aina cemburu.


"The juga mau seperti Oma,yang anggun, cantik dan penuh dengan kelembutan"


"Manis bener mulut cucu Oma" Aina mencubit pipi Athena.


Athena terkekeh mendengar ucapan Omanya.


"Terima kasih yah Oma, opa, selalu ada buat Athena" ucap Athena yang mendapat pelukan dari kedua orang yang disayanginya.