Athena

Athena
Seperti Sebiji Jagung



Pukul 4 sore, Raga, Athena dan Anne sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Rumah sakit Arunika juga ada di bangun di pulau ini. Bangunannya tak tak megah, mewah dan tak kalah luas dari bangunan rumah sakit yang ada di kota C.


Bukan hal yang sulit bagi Athena untuk bertemu dengan dokternya. Ia hanya perlu menghubungi J dan semuanya akan selesai. J tentu tak lupa mengucapkan banyak selamat dan turut bersuka cita atas kehamilan Athena. Meskipun ia baru melihat Athena beberapa bulan belakangan, tapi J tentu mengenalnya jauh sebelum ia bertemu dengan nyonya nya. Tuan Ares bercerita banyak kepada mereka di masa lampau, hingga ceritanya sampai pada generasi sekarang.


J mengantarkan tuan, nyonya nya dan nona kecilnya menuju ruangan dokter Iin. Nama lengkapnya dr. Indiraswati Sp.Og. Seorang dokter perempuan ahli kandungan.


"Selamat datang nyonya" sapanya sopan.


"Selamat datang juga tuan dan nona kecil" sapanya pada Raga dan Anne.


"Tidak usah formal begitu, dokter." Athena tersenyum.


Senyum dokter Iin juga terbit tatkala melihat senyum Athena.


"Silahkan duduk" dokter Iin mempersilahkan pasiennya untuk duduk.


Athena dan Raga mengikuti instruksi dari dokter Iin. Anne yang sedang dalam gendongan Raga hanya bisa pasrah saat papanya duduk.


"Jadi apa yang terjadi nyonya?" tanya dokter Iin.


Athena mengeluarkan 3 jenis testpack dan menyimpannya di atas meja yang menjadi pembatas mereka.


"Satu pekan terakhir saya menggunakan testpack ini dokter, hasilnya sama. Ini sudah bulan kedua saya tidak haid, dokter. Saya pikir saya sedang hamil. Maka dari itu saya datang kemari untuk memastikan nya" Athena menjelaskan.


Dokter Iin meneliti 3 testpack di depannya. Ia mengangguk mengerti.


"Dari cerita nyonya, seperti yang telah dirasakan oleh sebagian orang, telatnya periode menstruasi dijadikan salah satu penentu dari kehamilan seseorang. Untuk yang lebih baik nya lagi, silahkan nyonya berbaring di brankar yang ada di sana"


Athena dan Raga mengikuti langkah dokter Iin menuju brankar yang ada di sudut ruangan. Anne anteng dalam dekapan sang papa.


"Maaf sebelumnya nyonya" ucap dokter Iin sebelum mengangkat baju Athena.


"Tidak masalah, dok" Athena tentu mengerti.


Dokter Iin mengelus sesuatu seperti jel pada permukaan perut Athena. Sebelum mengambil sebuah alat yang memperlihatkan isi rahim Athena.


"Selamat nyonya, anda benar. Ada janin di rahim anda" dokter Iin ikut senang setelah memastikan sendiri kehamilan dari orang nomor 1 pulau ini.


"Mana anak saya dokter?" tanya Raga antusias.


"Anaknya masih sebesar biji jagung, tuan. Titik hitam ini adalah anak anda" dokter Iin menggerakkan kursor nya menunjuk sebuah titik hitam sebesar biji jagung.


"Masih kecil" lirih Raga.


Athena terkekeh mendengar lirihan suaminya. Ia juga mengusap air matanya. Rasanya begitu bahagia saat melihat titik hitam kecilnya. Ia berdoa dalam hatinya, agar janinnya sehat dan tumbuh dengan baik di dalam sana, hingga mereka bertemu nanti.


Raga mengusap kepala istrinya. Ia tentu sama senangnya dengan sang istri.


"Kakak, ayo kenalan sama adek" ucap raga pada Anne. Ia menggerakkan tangan Anne memegang layar di depannya.


"Halo dedek. Ini kakak Ann" Raga menirukan suara anak kecil.


Anne bertepuk tangan, seolah merasa senang.


"Deeee" ocehnya.


Setelah puas melihat sang anak, Raga meminta agar hasilnya di cetak. Dokter Iin tentu saja dengan senang hati melakukannya.


"Apa ada keluhan yang nyonya rasakan selama ini? Janinnya sudah berumur 9 week"


"Kadang merasa lelah, dok." jawab Athena.


"Nafsu makannya aman?"


"Aman, dok."


"Gak pernah mual?"


"Pernah, dok. Tapi hanya beberapa hari, kurang dari sepekan." jawab Athena.


"Wahh, bayinya pintar ini, gak nyusahin mamanya" Dokter Iin tersenyum.


"Saya beri resep untuk vitamin yah, nyonya. Nyonya bisa meminta tuan J untuk menebusnya di apotik depan. Pola makannya di jaga, makan makanan yang sehat. Sayur dan buah sangat disarankan untuk ibu hamil. Jangan terlalu kelelahan juga, nyonya."


"Baik, dokter. Terima kasih banyak" ucap Raga dan Athena bersamaan.


"Dengan senat hati, tuan, nyonya. Silahkan datang jika ada keluhan. Sebaiknya nyonya kontrol setiap bulan "


"Baik, dokter. Sekali lagi terima kasih, kami pamit"


"Baik, nyonya. Sampai jumpa kembali " dokter Iin mengantar pasiennya hingga di depan pintu ruangannya. Setelah Athena dan keluarganya sudab tidak terlihat lagi, barulah ia kembali ke dalam ruangan nya.


Sejak tadi Raga tidak berhenti tersenyum. Pipi Anne bahkan menjadi korban kesenangannya.


"Senyum terus sih" tegur Athena.


Raga menoleh ke arah istrinya.


"Aku lagi senang. Senang sekaliiii, pake banget pula" kata Raga.


"Bedalah, The"


"Kakak udah mau punya adik yah sayang yah" Athena memainkan pipi Anne yang sedang dalam pangkuannya.


"Deee?" kepala Anne miring.


"Iya, dedek. Nanti kakak punya dedek"


Anne bertepuk tangan sambil mengoceh.


"The?" panggil Raga.


"Iya, Ga?"


"Gak pengen makan apa-apa?" tanya Raga.


Athena menggeleng.


"Nggak, sih"


"Aku pengen makan rujak deh" ucap Raga.


"Ehh, kamu ngidam?" Athena kaget.


Raga meringis.


"Nggak tahu juga sih. Tapi rasanya pengen banget makan rujak, apalagi pake sambel kacang. Enak banget kayaknya" Raga berucap tentu saja sambil membayangkan.


"Yaudah, kita cari dulu. Ntar kamu sedih lagi" kata Athena.


"Kamu gak apa-apa kita keliling dulu? Gak capek kan?"


Athena tersenyum.


"Nggak, Ga. Mumpung belum malam, yah ayo. Sekalian jalan-jalan yah, kak." Athena meminta persetujuan Anne.


Bayi itu hanya tertawa.


Saat melewati jalanan yang terdapat beberapa penjual berjejer, Anne berteriak.


"Papaaaaa"


Raga menginjak pedal gasnya. Ia menoleh ke arah anaknya.


"Kenapa sayang?" tanya Raga.


Anne menepuk kaca mobil disampingnya. Athena lalu membukanya. Tangan Anne keluar, menunjuk balon yang sedang melayang-layang.


"Mau balon yah?" tanya Athena.


Anne mengangguk semangat.


"Ga, anaknya mau balon" kata Athena.


Raga mencubit sekilas pipi Anne.


"Udah pinter jajan" katanya sebelum membuka pintu mobilnya dan keluar untuk membelikan anaknya balon.


Raga kembali dengan 3 balon ditangannya.


"Ehh, banyak banget belinya" tegur Athena.


"Yah biarin lah. Hitung-hitung hadiah karena Anne udah bisa minta jajan" ngawur Raga.


"Tapi ukurannya itu besar lho Ga"


"Ya kan taruh di belakang. Kakak, ntar aja yah mainnya, sampai rumah" kata Raga.


Anne tertawa dan bertepuk tangan. Ia memutar kepalanya melihat tiga balon di belakang. Satu balon berbentuk sapi, lumba-lumba dan pesawat.


"Putar gih badannya. Kasihan lehernya nanti kecapean nengok belakang terus" ucap Raga.


Athena memutar badan Anne menghadap ke belakang, agar bayi itu bebas melihat balon yang papa nya belikan.


"Ga, itu kayaknya penjual rujak" kata Athena.


Raga mengangguk. Ia menghentikan mobilnya di dekat gerobak penjual rujak.


"Daeng, rujaknya 3 porsi, di bungkus" ucap Raga sopan.


"Baik, pak" penjual rujaknya dengan senang hati melayani Raga sebagai pembeli.


"Terima kasih, daeng" ucap Raga sebelum membayar nya.


"Tunggu dulu kembaliannya, pak" teriaknya saat Raga sudah berjalan.


"Untuk bapak saja" Raga tersenyum.